Suluh Pergerakan

Wabah, Kuasa, dan Ancaman Kematian

Membaca Kisah Surati dan Plikemboh pada Bagian Ketujuh Buku “Anak Semua Bangsa” Karya Pramoedya Ananta Toer

***

Oleh: Yoshi Fajar Kresno Murti[1]

Dengan cara apalagi kita membebaskan diri sekaligus melawan untuk tetap melata ketika setiap tubuh di setiap jengkal planet ini diancam oleh virus kematian? Apa yang tersisa dari cita-cita (ke)hidup(an) yang berdaulat ketika ketakutan akan kematian disebar dan ditularkan terus-menerus setiap saat, di tengah sistem kehidupan yang sesungguhnya sudah menakutkan dan saling menghisap?

Dua pertanyaan ini biarlah dijawab penjelasannya oleh para filsuf. Saya memilih jalan memutar untuk membuka kisah dari sebuah bacaan “kitab suci” bagian ketujuh, yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, dengan Judul “Anak Semua Bangsa” (Hal. 187 – 229, Cetakan 13, September 2011). Pada bagian ketujuh buku tersebut dituliskan kembali oleh Minke, sebuah kisah gadis desa bernama Surati dan Plikemboh—nama lokal dari Frits Homerus Vlekkenbaaij, Si Tuan Besar Kuasa, penguasa Pabrik Gula Tulangan di dekat Surabaya. Ini secuil kisah tentang penyebaran virus yang bernama cacar di Jawa, di awal abad 20.

Cerita dimulai dengan kedatangan Si Tuan Besar Kuasa Plikemboh, demikian penduduk Tulangan menyebut namanya yang panjang, “Frits Homerus Vlekkenbaaij,” ketika ia mulai menjadi Kepala Administratur Pabrik Gula Tulangan yang baru. Sebuah jabatan tertinggi di seluruh Tulangan, bahkan di Pulau Jawa, melebihi kuasa residen dan seorang raja kecil, karena gajinya melebihi seorang Gubernur Jenderal (Hal. 187). Plikemboh, “peli yang aboh”, kemaluan (laki-laki) yang memar akibat digigit serangga. Demikianlah adanya perawakan Si Tuan Besar Kuasa memang benar-benar seperti Plikemboh—besar, menggelembung, meraksasa, tapi jauh dari kekar. Konteks kedatangan Plikemboh berbareng dengan wabah virus cacar yang menyebar di seluruh Tulangan, dan seluruh Jawa. Sebagai metafora, mungkin mirip dengan konteks kedatangan calon Si Tuan Besar Kuasa Omnibus Law yang berbareng dengan merebaknya pandemi Covid-19 di saat sekarang ini,… #eh.

Dalam waktu singkat, Plikemboh segera menjadi penguasa sebenar-benarnya di seantero Tulangan. Selain karena kedudukannya paling atas di dalam sistem pabrik gula, ia juga  didukung oleh penguasaan akan database, arsip, dan juga kerja blusukan langsung ke bawah yang dilakukan Plikemboh. Dia membaca semua keadaan Tulangan, bahkan sebelum ia datang. Tak mengherankan, jika dalam waktu cepat Plikemboh tahu keberadaan gadis kecil bernama Surati, bahkan tahu posisi dan nomor rumah Sastro Kassier, pegawainya sekaligus ayah Surati—gadis pribumi yang diincar nafsunya. Dan dengan tipu muslihatnya, dibikinlah skenario supaya Surati bisa dimiliki sebagai gundiknya. Skenario tersebut berjalan, salah satunya karena didukung oleh keberadaan Sastro Kassier—ayah Surati dengan watak Inlander, budak, dan penjilat kekuasaan, sehingga keputusan yang diambil memerangkapkan anaknya sendiri ke dalam jebakan Plikemboh. Tak ada jalan lain bagi Surati untuk masuk perangkap, dan tak ada pilihan bagi tubuhnya untuk diserahkan kepada sang ancaman kematian, Plikemboh.

Ketika tak ada pilihan bagi tubuh Surati untuk menyerahkan diri terhadap sang ancaman kematian (Plikemboh), pikiran dan (ketiadaan) harapannya memutuskan untuk membangun tubuhnya sebagai sumber ancaman kematian itu sendiri. Surati pergi ke desa yang statusnya terisolasi virus cacar, demi untuk membangun tubuhnya yang diharapkan terinfeksi virus cacar tersebut—sebagai ancaman balik bagi sang ancaman kematian. Di sinilah, kehebatan Pramoedya Ananta Toer sebagai pengarang memang benar-benar menakjubkan di dalam melukiskan kepergian Sunarti ke desa terisolir wabah cacar. Gambaran desa di Jawa (Timur) yang berpagar keliling desa berupa rumpunan Pring/Bambu Ori, dan dipatroli dengan ketat oleh tentara kompeni, dilompati dengan susah payah oleh Surati, supaya tubuhnya terkena virus cacar ketika ia masuk desa tersebut. Desa terisolasi cacar tersebut memang ada di sekitar Tulangan, dijaga Tentara Kompeni dan dibiarkan penduduknya yang sudah terinveksi virus cacar ditahan di dalam desa supaya meninggal, dan akan dibakar seluruh isinya 4 hari kemudian. Desa tersebut tidak sekedar di-lockdown, tetapi dibumihanguskan supaya virus tidak menyebar ke area pabrik gula, sebagai pusat produksi (kuasa).

“… Pabrik Gula besar tak boleh tumpas karena cacar. Modal harus tetap hidup dan berkembang. Orang boleh mati.” (Hal. 228).

Setelah terinfeksi virus cacar, Surati datang untuk menyerahkan tubuhnya kepada Plikemboh. Tak pelak lagi, Plikemboh akhirnya mati tak lama setelah ia terinfeksi cacar yang dibawa tubuh Surati, dan Surati justru selamat karena antibodi tubuhnya berhasil mengatasi virus cacar tersebut. Sang ancaman kematian, Tuan Besar Kuasa Plikemboh, mati terkena virus cacar, sebagaimana tubuh Surati tak punya pilihan ketika harus menyerahkan diri pada sang ancaman kematian. Bedanya, Plikemboh berkuasa atas semua Pegawai Pabrik Gula, mesin, data, arsip, dan segala pengetahuan yang disediakan sistem pabrik gula. Sedangkan, Surati tak punya kuasa apapun, tetapi ia berkehendak penuh atas tubuhnya—sebagai pengetahuan, sebagai arsip, sekaligus sebagai posisi yang diambil. Surati melakukan pembalikan, bukan dengan (nalar) kuasa, juga bukan dengan (nalar) ancaman, seperti yang dilakukan Plikemboh selama hidupnya. Tetapi, Surati bergerak sebagai survivor. Penyintas.

Bagi Surati, ancaman kematian bukanlah datang dari wabah cacar, tetapi dari Si Tuan Besar Kuasa Plikemboh, dan dari sang ayah Sastro Kassier yang gila kuasa. Juga pada keberadaan pabrik gula, sebuah sistem yang bekerja menggerogoti kehidupan bersama, berkebalikan dengan virus yang tidak tampak—perwujudan fisik pabrik gula terasakan dalam skala gigantis. Seperti yang tersisa dalam gambaran kalimat di paragraf akhir kisah ini:

“Juga kerupawanan Surati jatuh untuk selama-lamanya. Dan Pabrik Gula Tulangan tetap megah mengawasi dan memerintah seluruh Tulangan: manusia, hewan, dan tumbuhan.”(Hal. 229).

Ada maupun tidak ada wabah cacar, Pabrik Gula Tulangan (harus) tetap berjalan. Sistemnya memang bergoncang dengan kematian Plikemboh dan mungkin ditambah dengan kematian yang banyak dari pegawai-pegawai pabrik tersebut. Namun sumber daya dari sistem segera bekerja menjaganya:

“… Letnan Dokter Mortsinger juga ditarik ke Tulangan dengan semua prajurit kesehatan Dinas Penumpasan Wabah dari Bandung. Pencacaran diadakan di Tulangan, juga di mana-mana. Tetapi kepungan Kompeni atas Tulangan ketat tanpa ampun. Orang tak bisa keluar masuk. Bahkan orang tak diperkenankan keluar dari rumah. Bantuan makanan didatangkan dan dibagi-bagi. Setiap hari orang menguburkan para korban.” (Hal. 228).

Dalam situasi wabah, sistem(ekonomi)-lah yang dijaga, bukan orangnya. Orang-orang dilindungi dan diselamatkan untuk menjaga sistem berjalan. Selainnya, diserahkan pada seleksi alam. Mungkin wabah telah menyebabkan ada pergantian orang-orang yang menggerakkan sistem, mengubah peta kekuatan, tetapi momen ini bisa juga menjadi momen bagi sistem untuk meremajakan dirinya. Relasi-relasi berubah, cara berkomunikasi juga akan berubah, bahasa negosiasi dan koalisi juga berubah.

Di dalam praktik keseharian, wabah sesungguhnya mempunyai tafsir (dan efek) yang unik dan berbeda-beda di setiap tempat, kasus, ruang, dan momen. Meskipun begitu, yang jauh berbahaya justru ketika semua pihak berbicara ramai berkubu-kubu, mengenai wabah beserta tafsiran-tafsirannya, yang dilandasi oleh nalar ketakutan, nalar mengambil keuntungan (ekonomi politik), dan nalar kuasa. Di situlah nalar sistem yang menghisap direproduksi di dalam tubuh-tubuh. Tubuh menjadi sistem itu sendiri. Saling mengontrol, membaca, dan mematikan. Tubuh adalah representasi dari ketakutan, watak Inlander, budak, sekaligus hasrat kuasa yang kompleks.

Meskipun begitu, dalam situasi keseharian pula, relasi-relasi di luar nalar humanisme terjadi di dalam konteks wabah yang meluas. Bahasa-bahasa baru terucapkan, hasrat-hasrat baru ditemukenali kembali, relasi-relasi intim dibangun. Seperti kisah Surati, ketiadaan pilihan dan kehancuran harapan, menumbuhkan kehendak penuh atas tubuhnya—sebagai pengetahuan, sebagai arsip, sekaligus sebagai posisi yang diambil. Itulah, tubuh penyintas. Tubuh yang membaca bahwa ancaman kematian bukan di mahkluk yang bernama: virus.



[1] Arsitek ugahari, tukang kebun, dan pustakawan di Rumah Baca Cimot.