Demonstrasi mahasiswa | Liputan6.com

Terima Kasih Mahasiswa: Kita Tak Bisa Hanya ‘Kerja, Kerja, Kerja’, Tapi Juga Harus ‘Demo, Demo, Demo’!

“Aku tak mengajarkan kekerasan, tapi kalau kakiku diinjak aku wajib membalasnya” -Martin Luther King

“Jika dunia tidak selaras denganmu, bangkit dan tantang dia!” Iqbal

Patut kami sampaikan ucapan terima kasih atas segala yang telah kalian lakukan. Memprotes Senayan yang dengan mudahnya melahirkan UU yang penuh perkara. Meminta pemerintah untuk tak memperlakukan berbagai UU yang berpotensi membawa petaka. Tak lama setelah protes terjadi, pemerintah dan DPR sepakat menunda 4 RUU yang memang bermasalah itu. Hanya soal UU KPK, Presiden -hingga detik tulisan ini disusun- tak ingin mencabutnya.

Terima kasih mahasiswa di semua tempat yang rela meninggalkan bangku kuliahnya. Berdiri di atas terik matahari menyuarakan apa yang selama ini jadi keluhan rakyat; Berkorban menerima siraman water cannon yang rasanya perih dan baunya tak karuan; Berani mengatakan apa yang selama ini jadi keluhan dan pandangan rakyat kecil di mana-mana; Bertaruh badan untuk dipukuli, ditendangi, hingga di penjara untuk nilai kemanusiaan yang ada di akal budi.

Terima kasih mahasiswa, karena solidaritasnya yang luar bisa. Dari kampus mana-mana, kalian menyatakan apa yang jadi keresahan rakyat selama ini. Rakyat miskin yang akan dikriminalisasi oleh RUU KUHP maupun mengecilnya wewenang KPK oleh UU KPK yang baru. Kemarahan kalian pada anggota Parlemen hari ini sama dengan kejengkelan rakyat karena kinerjanya. Menyusun UU dengan cara diam-diam serta menyetujuinya dalam waktu singkat. Itulah perbuatan durjana yang tak bisa dibiarkan begitu saja.

Terima kasih mahasiswa, karena kalian membawa bukti yang langka. Nurani bangsa yang tak mudah dibunuh oleh uang dan jabatan. Nilai kemanusiaan yang tak bisa dihabisi oleh tekanan dan sanksi. Ibarat pasukan kalian telah mempertebal keyakinan kami kalau kebenaran itu tak bisa dipelihara dengan kompromi apalagi lobby. Sebagaimana yang terlihat selama ini dan dipentaskan dengan luar biasa oleh senayan dan istana.

Terima kasih mahasiswa, karena kalian memberitahu kami apa arti menjadi terpelajar. Seorang yang adil sejak dalam pikiran dan tindakan. Nyaris kami dulu menduga kerja mahasiswa hanya kuliah dan pulang saja. Sebagaimana tugas wakil rakyat kita yang hanya rapat dan janji melulu. Kini kalian memberitahu pada semua orang bahwa kuliah itu bukan mengantar jadi sarjana, tapi juga melawan apa yang tak sesuai dengan logika dan etika.

Terima kasih mahasiswa, karena kalian memperjuangkan apa yang selama ini hanya mampu dinyatakan dalam bentuk tulisan. Melalui mahasiswa keresahan itu mencuat dalam gelombang massa yang terbit dari berbagai kota. Hanya mahasiswa yang berani menegur wakil rakyatnya, kemudian mengepung kantornya, lalu mengingatkan akan tugas mulianya. Tanpa demonstrasi mahasiwa, wakil rakyat bisa dengan mudah mengetok semua RUU yang isinya malah berbahaya.

Terima kasih mahasiswa, karena kalian mengembalikan kampus pada tugas pokoknya. Bukan untuk melahirkan sarjana atau membuat acara wisuda, tapi mengukuhkan peran kritisnya. Tidak hanya diisi oleh training wirausaha, tapi demonstrasi yang membuat anak muda jadi pemberani. Walaupun Rektor ada yang melarang aksi, tapi lebih banyak yang percaya kalau aksi itu bisa membawa perubahan pada apa saja. Kalian membuat kuliah tidak pada tujuan meraih IP yang tinggi, melainkan pengalaman untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran yang bobotnya lebih dari IP tinggi.

Andai mahasiswa diam saja, pasti komentar istana tak ada yang membalasnya. Bayangkan seorang pemuka istana bilang KPK hambat investasi, hingga kalau mencari pimpinan KPK yang ideal lebih baik cari di surga saja. Mulutnya itu seperti belum pernah kenal aksara dan buku. Otaknya seperti diracuni oleh virus Orba yang memang pernah jadi tuannya. Pernyataanya itu tak pantas keluar dari mulut pejabat tinggi negara. Beruntung mahasiswa bergerak dari banyak kota sehingga mampu membungkam mulut-mulut yang komentar sekenanya.

Jika mahasiswa tak bergerak akan muncul pendukung revisi KPK yang tak jelas asal-muasalnya. Kaum bayaran yang diberi upah untuk aksi yang sudah dipesan lebih dulu. Mereka yang bersedia melakukan apa aja asalkan dibayar sesuai dengan ketentuan. Hanya mahasiswa yang berani melawan tukang adu domba yang kini mulai marak di media sosial mana saja. Kaum yang jadi pendukung rezim sembari melempar fitnah ke sana ke mari, KPK dihuni Taliban hingga mahasiswa hendak ganti pemerintahan. Melalui aksi mahasiswa kita semua tahu di mana posisi kita selama ini, bersama mereka atau berada di sisi mahasiswa.

Andai mahasiswa diam, pasti senayan akan begitu mudah meluncurkan paket UU yang kandungannya bahaya. Terampil sekali mereka memotongi wewenang KPK bahkan memilih pimpinan yang jelas-jelas melanggar norma. Tanpa malu, seorang anggota parlemen bangga karena mengusulkan revisi UU KPK, bahkan tegas-tegas dirinya mengutuk serikat pekerja KPK yang dikenal kritis dan bersih. Mau jadi apa negeri ini kalau wakil rakyatnya bernafsu membasmi peran progresif KPK? Seolah KPK itu petugas yang menganggu kerja para wakil rakyatnya sendiri.

Andai mahasiswa tak bergerak sama sekali, niscaya partai politik merasa bangga. Hampir semua kekuatan partai politik sepakat untuk hal apa aja, seperti merevisi UU KPK, memilih pimpinan KPK yang bermasalah, hingga berani merumuskan pasal yang kandungannya bahaya. Pasti partai politik yang kini menggurita kekuasaannya akan merasa aman-aman saja kalau tidak ada kritik apalagi tekanan mahasiswa untuk mengubah proyek legislasinya.

Terima kasih mahasiswa, karena kalian mengingatkan kami semua bahwa ada nilai yang musti kita rawat bersama: keadilan, keberanian, dan keberpihakan. Biarkan istana dan senayan tahu diri bahwa apapun keputusan mereka jika tanpa mendengar usulan dan masukan rakyat pasti akan bawa petaka. Hari ini kami semua belajar, negeri ini tak bisa dibangun hanya dengan ‘kerja, kerja, kerja,’ tapi juga ‘demo, demo, demo’.

Terbukti demo-lah yang membuat istana dan senayan menunda RUU yang akan membawa petaka bagi rakyatnya. Demo nyatanya masih mujarab dan punya kekuatan luar biasa dibanding ‘kerja, kerja, kerja’!

Terima kasih, terima kasih, terima kasih, mahasiswa!(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika