Suluh Pergerakan

Surat Untuk Wakil Rakyat

Dalam perjuangan demi cita-cita, kita berhadapan dengan penipu, pengiri dan orang yang tidak cakap. Orang yang teguh tidak akan peduli kepada mereka dan tidak menyia-nyiakan waktu hanya untuk memperhitungkan mereka (Ennio Amaral)

Apa pun yang tak mampu kamu lakukan, uangmu dapat melakukannya untukmu (Karl Marx)

***

Surat ini saya tulis bukan untuk anda baca. Karena saya yakin anda memang tak bisa membaca. Baik itu membaca situasi apalagi membaca suara hati. Rasanya heran kenapa dulu kami pilih kalian duduk sebagai wakil kami. Kurasa bukan kesadaran yang menggerakkan kami tapi godaan setan yang berhasil menjebak tangan ini. Memilihmu untuk duduk di senayan dengan gaji yang luar biasa besarnya. Kini kami berdoa semoga Tuhan mengampuni dosa kami karena memilih kalian.

Melihat kalian saat ini rasanya malu dan mual. Bertahan tetap membahas RUU Omnibus Law yang terang-terangan bermasalah. Kupikir mata kalian tak buta melihat demonstrasi yang berlangsung sebelumnya. Memprotes kandungan isi RUU yang telah melukai keadilan banyak para pekerja. Mereka yang kini jadi korban PHK karena wabah keji ini. Dan kalian dengan santainya tetap membahas RUU Omnibus Law meski banyak pihak meminta untuk menundanya. Pantas jika kami bertanya terbuat dari bahan dasar apa sebenarnya kalian ini.

Jika memang manusia pastinya punya hati. Mudah tersentuh ketika melihat tragedi dan gampang empati menyaksikan bencana. Mungkin kalian berada di tempat yang berbeda dengan kami: tak menyaksikan berita kematian karena Corona dan tak melihat betapa rakyat miskin terampas hidupnya. Duka itu menerjang di banyak negara dan kalian seperti tak mendengarnya sama sekali. Bisa jadi memang kalian hidup di zaman yang berbeda: kami berada dalam situasi darurat dan kalian berada di masa Orde Baru. Masa terbusuk yang menghasilkan wakil rakyat penipu dan penjarah kekayaan negara.

Tidakkah kalian mendengar berita gemilang dari negara tetangga. India memotong gaji Presiden hingga wakilnya untuk membantu rakyat yang terhempas hidupnya. Nyaris semua negara yang dipimpin perempuan mampu menekan angka kematian karena Corona: Eslandia, Taiwan, Finlandia, Islandia, Denmark, Selandia Baru hingga Jerman (Kompas 15/4) Para pemimpin perempuan itu sejak awal tak meremehkan resiko, tegas dan memberi keteladanan. Sehingga jika ada pemimpin perempuan-di parlemen utamanya-tak mampu menyamai mereka tentu kita pantas bertanya: mengapa dan kenapa?

Tapi rasanya  percuma juga kalau bertanya. Menyaksikan tindakan kalian selama ini sudah membuat kami tak perlu lagi bertanya. Tentang apa yang kalian fikirkan dan yang kalian lakukan. Seolah tindakan itu bukan berkaca pada apa yang dialami oleh rakyat tapi menimbang apa yang bisa kalian dapatkan. Sejak awal menjadi politisi bukan untuk mengabdi apalagi melayani tapi mencari pendapatan yang luar biasa besarnya. Itu yang membuat tak ada yang patut diperbandingkan antara kalian dengan politisi negara lainnya. Memang kalian spesies yang berbeda!

Misalnya dalam urusan korupsi yang jadi soal bersama kalian bisa mengambil tindakan yang berbeda sama sekali. Sejarah memberi bukti yang luar biasa: saat banyak negara berantas korupsi malah kalian rumuskan UU yang melemahkan KPK. Saksikan hasil ciptaan revisi UU KPK: ketua KPK ternyata lebih suka jadi koki dan memperagakan nasi gorengnya ketimbang jumlah koruptor yang ditangkapnya. Hampir tak terdengar jubir KPK melakukan penangkapan pekan-pekan ini. Hasil revisi itu telah menciptakan situasi yang tak ada duanya: koruptor hilang sama sekali. Tak ada yang ditangkap bahkan tak ada berita pencurian uang negara lagi.

Berita tentang korupsi lenyap begitu saja. Bahkan KPK tak lagi menangkap pejabat. Kini hasrat yang sama bangkit. Membahas RUU Omnibus Law di tengah situasi ekonomi yang porak poranda. Baiknya kalian bertanya pada diri sendiri: RUU ini untuk kepentingan siapa dan apa manfaatnya. Nyaris ribuan pabrik tutup karena Corona dan lebih banyak lagi pekerja yang mengalami PHK. IMF katakan dunia masuk dalam resesi ekonomi terberat sepanjang abad. Investasi apa yang bisa diundang kalau keadaan tak pasti dan aturan apa yang menjamin orang untuk tetap tanam modal di sini. Terus terang kalian itu sadar atau tidak?!

Mustinya kalian sadar dengan hak yang selama ini diterima. Mengacu Surat Menteri Keuangan No S-520/MK.02/2015 diperoleh data: gaji tiap bulan anggota parlemen merangkap ketua sekitar Rp 80.327.413, anggota merangkap wakil ketua Rp 74.847.613 dan anggota Rp 66.141.813. Dibanding dengan upah minimum regional di Jakarta Rp 4.276.349 tentu gaji parlemen belasan kali lipat lebih banyak. Bahkan ada Perpres Nomor 68 tahun 2010 tentang Pemberian Fasilitas Uang Muka bagi Pejabat dimana negara memberi layanan istimewa untuk para elitenya. Termasuk di sini anggota DPR, pejabat lembaga negara hingga pejabat di tingkat Daerah. Menyaksikan itu semua kami jadi maklum kenapa Corona tak bisa diatasi dengan segera. Kalian memang tak punya kecemasan yang sama. Payung pelindung kalian lebih kokoh ketimbang yang kami miliki.

Payung itu diantaranya Perppu Nomor 1 tahun 2020 tentang pemberian hak imunitas dari gugatan perdata dan tuntutan pidana bagi pihak-pihak yang melaksanakan Perppu. Selama untuk penanganan Corona pejabat dibebaskan dari tuntutan hukum. Hak istimewa yang luar biasa. Perisai ini bisa bahaya kalau semua aparat dengan sesukanya mencari keuntungan pribadi dalam proyek melawan Corona. Soalnya ada budget sebesar Rp 405 triliun dan sialnya kita tak punya pengalaman mengelola uang dengan amanah. Lebih sering untuk disalah-gunakan. Bahkan muncul surat yang kemudian membuat staf khusus Presiden musti minta maaf kemana-mana. Yang muda saja tergoda memanfaatkan posisinya apalagi yang sudah lama berkuasa. Corona bukan diatasi malah digunakan untuk menyelundupkan kepentingan nista.

Sebelum aku bicara lebih banyak mungkin survai yang dilakukan Forum Ekonomi Dunia perlu kalian ketahui. Menurut survai penghambat utama investasi Indonesia itu masalah korupsi. Yang lebih mencemaskan lagi menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) kemudahan investasi itu tak berkontribusi pada pengurangan kemiskinan (Kompas: 17/4). Jadi jika kalian nekat bahas RUU Omnibus Law itu sama dengan menampar otak kalian sendiri. Dasar pertimbangan ilmiah apa dan untuk kepentingan siapa sehingga pembahasanya harus saat ini juga. Malah bisa dibilang revisi UU KPK yang sudah dilakukan itu menciptakan hambatan besar investasi. Benarlah dugaan kami kalau kalian hidup di dunia yang berbeda!

Mungkin bagi rakyat Corona itu menghantam hidup mereka tapi siapa tahu itu tak memukul kehidupanmu hari ini. Bertahan membahas RUU yang tak urgen sama sekali. Ibaratnya rakyat hampir tenggelam sedang kalian memikirkan bagaimana menciptakan kolam renang yang disukai oleh siapapun yang melihatnya. Setidaknya apa yang kalian lakukan seperti ajakan bertepuk tangan di tengah orang kehilangan kedua tanganya. Mungkin bukan puisi atau doa yang bisa mengubah kalian tapi pujian berlebihan yang bisa memabukkan. Masihkah kalian merasa ada hubungan antara apa yang kalian lakukan dengan apa yang dialami oleh rakyat sehari-hari?

Parlemen dan elite bisa memerintah karena ada rakyat yang selama ini percaya begitu rupa. Percaya bahwa elite yang berkuasa memang bisa diandalkan mengatasi segala masalah yang ada. Berkat Corona kita jadi sadar kalau kemampuan elite yang kita miliki ternyata tak seberapa. Dibanding negara lainnya kita kalah segalanya. Lebih memalukan lagi jika sebagai wakil rakyat punya agenda yang berbeda. Bertahan membahas RUU yang dikutuk sana sini. Jika itu tetap kalian lakukan mungkin waktunya untuk berkaca: lihatlah wajah kalian dan bertanya apa memang muka ini pantas menyebut diri sebagai wakil dari rakyat yang kini sedang bertarung hidup dan mati melawan Corona?

Waktunya surat ini kami akhiri. Meski Corona menghantam dengan luar biasa tapi kami percaya doa dan pengetahuan bisa mengatasinya. Walau Corona menyantap nyawa begitu banyak tapi kami tahu bagaimana cara mencegahnya. Ibaratnya Corona itu virus yang bisa diatasi dengan mematuhi semua protokol yang ada. Sebaliknya kalian yang tak mau mendapat masukan, tak pedulikan semua saran dan tak peduli pada keadaan lebih bahaya ketimbang Corona. Jika Corona dapat dicegah dengan jaga jarak mungkin kalian musti dihadapi dengan tetap merawat keyakinan. Bahwa kebenaran yang diacuhkan mungkin menjadi petanda awal rakyat untuk bangkit dan melawan!! (EP)