Aksi demonstrasi mahasiswa di depan Gedung DPR | Suara.com

Surat dari Bunda untuk Anakku yang Turun ke Jalan

“Orang baik saling menolong, bahkan tanpa menyadari bahwa mereka melakukannya, sedangkan orang jahat saling menentang secara sengaja” -pepatah China

“Jadilah debu, maka mereka akan melemparkanmu ke udara. Jadilah batu mereka akan melemparkanmu ke kaca” -Iqbal

Nak, kulihat dirimu ada di jalanan. Terkejut, kuatir, dan takut kami menyaksikannya. Bapakmu geram karena merasa tak seharusnya kamu melakukannya. Adikmu cemas melihat mukamu yang tampak berdarah. Bunda diam-diam berdoa memohon semoga Allah menjagamu. Sebab, Bunda percaya yang kamu lakukan itu bukan hal yang keliru.

Bunda dengar kalian kecewa dengan wakil rakyat yang mengamputasi KPK, lembaga yang menurut bunda jadi harapan keadilan rakyat di negeri ini. Namun ternyata, mereka mengkhianati amanah rakyat yang memilihnya. Dulu Bunda seperti kamu: berbaris, bergandeng tangan, dan menyambut semprotan gas air mata yang luar biasa perihnya. Bunda tak menyangka kamu mengalami hal yang sama.

Bunda pikir waktu bisa mengubah segalanya. Tuntutan kami dulu adalah jatuhnya Orba. Bunda tak mau anak-anak bunda hidup di bawah tekanan senjata dan pentungan. Hancur hati bunda melihat kawan-kawanmu dipukuli oleh aparat yang dulu juga melakukan hal yang sama. Kenapa mereka masih saja keji pada anak anak muda yang -karena perjuanganya- sesungguhnya mengubah banyak hidup mereka.

Bunda mau berkata, Polisi bisa mandiri tak di bawah ABRI itu karena suara tuntutan mahasiswa. Parlemen bisa punya gaji tinggi dan wewenang luar biasa karena desakan mahasiswa. Bahkan Presiden bisa dipilih langsung oleh rakyat dan berasal dari mana saja karena mahasiswa yang menginginkannya. Nyaris semua perubahan baik di negeri ini karena aksi yang dilakukan oleh mahasiswa.

Bunda percaya Allah selalu melindungi kalian. Buktinya, tekad hati kalian untuk aksi tak bisa dihalang-halangi. Katamu Rektor sudah menulis surat melarang mahasiswa aksi dan kalian tak mempedulikannya sama sekali. Syukurlah, Allah meyentuh hati beberapa dosen sehingga ada yang melakukan perbuatan mulia: meminta kuliahnya dipindah di jalanan karena itulah penerapan pengetahuan yang sebenarnya. Berikan salam hormat bunda untuk dosenmu yang luar biasa itu.

Bunda dulu percaya pada gurumu di TK yang luar biasa baiknya. Digandeng tanganmu dengan ikatan percaya. Tersimpan di dompet bunda fotomu waktu kecil yang bahagia dan gembira. Tak bunda sangka, ada dosen yang menyuntikkan rasa keberanian padamu. Pasti dosen itu anak guru TK-mu dulu karena mereka sama-sama mulia hatinya: ingin anak didiknya tak berdiam diri melihat ketidakadilan yang ada.

Bunda menangis, nak, karena kamu merawat mimpi bunda. Mimpi tentang negeri yang adil dan sejahtera. Mimpi yang dulu hanya bunda baca melalui karya Sukarno hingga Tan Malaka. Saat kamu lahir, bunda diam-diam memanjat doa semoga anakku tumbuh menjadi ksatria yang bisa membela yang lemah dan berani menentang kejahatan yang berbentuk apa saja.

Bunda menangis, nak, karena banyak petani dipukuli tentara dan digusur tanahnya. Bunda prihatin mengapa kesenjangan sosial tak bisa diatasi. Bunda kecewa mengapa pemimpin yang kita anggap seperti diri kita sendiri ternyata tak mau mendengarkan kita. Bunda gembira karena kalian berani menyuarakan apa yang selama ini menjadi luka hati bunda.

Biarlah bapakmu nanti bunda beritahu. Bapakmu terlalu lama mapan dengan posisinya. Dulu dirinya pejuang demokrasi sebagaimana kamu hari ini. Tapi usia, pergaulan, dan kepentingan membuat dirinya banyak berubah. Tak punya nyali seperti waktu muda dan tak punya keberanian sebagaimana dulu yang membuat bunda jatuh cinta padanya. Bunda percaya bapakmu takut melihat kejujuran yang terlihat dari dalam dirimu.

Bunda memang kuatir kamu luka, tapi bunda lebih kuatir kalau ketidakadilan meraja lela. Kulepas dirimu, nak, di jalanan yang pasti bahaya. Bunda yakin kamu tak sendiri karena banyak anak-anak muda yang tersentuh nuraninya untuk bicara. Masih Bunda hapal lagu Darah Juang yang kalian nyanyikan berulang-ulang. Kepalan tangan bunda lemah tapi hati bunda sekeras kepalan tangan kalian hari ini.

Jangan takut, nak, jangan khawatir. Ingatlah foto bunda yang masih terpasang di meja. Rasa bangga karena memiliki anak yang tak hanya bisa kuliah saja. Rasa gembira karena punya anak yang tidak hanya mengurus soal dirinya saja. Ingin kupeluk kamu, nak, karena tetap memegang mimpi yang bunda dan bapakmu perjuangkan dulu. Kalaulah pukulan dan tendangan diarahkan padamu oleh aparat keamanan, jangan lupa bunda juga merasakan sakitnya.

Beranilah, nak, karena itulah harga diri anak muda. Jangan takut, nak, karena kamu membela yang benar. Tak usah kuatir dengan masa depanmu karena yang kauselamatkan adalah masa depan negeri ini. Salam bunda untuk teman-temanmu yang ada di jalanan: katakan pada mereka kalau kami bangga punya anak-anak muda yang tak pernah takut menyuarakan kebenaran dan berani berkorban untuk kepentingan kemanusiaan.

Terimakasih, nak, titip pesan dari bunda, jangan lupa tolonglah temanmu yang luka, jangan lupa berdoalah selalu, dan ingatlah bunda akan mendukung mimpi kalian. Mimpi untuk negeri yang dulu bunda dan bapakmu ikut perjuangkan.

Salam sayang, cinta, Bunda untuk kalian.(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika