Aksi Greenpeace hadang kapal pengangkut batu bara di Karimunjawa | Viva.co.id

Sisi Lain Karimunjawa yang Jarang Didengar

“Hanya orang yang mampu mencintai dengan kuat yang dapat menderita duka yang dalam” -Leo Tolstoy

Anda pasti pernah menyaksikan film Sexy Killers. Tentang bisnis haram Batu Bara. Diolah dengan cara keji kemudian diantar oleh kapal tongkang yang bawa pencemaran. Salah satu tempat yang jadi persinggahan adalah Karimunjawa. Saya sekeluarga datang ke pulau itu. Tujuanya sederhana: ingin menikmati alam. Hanya, saya ternyata tak hanya menemukan keindahan.

Saya mendapat cerita tentang pulau yang pinggiran pantainya telah dibeli oleh banyak orang luar. Investasi yang ditanam pasti besar untuk mendapat laba dari bisnis yang sekarang sedang moncer: wisata. Hampir di setiap rumah muncul bisnis penginapan dari yang murah hingga mahal. Kecilnya pulau itu membuat semua penduduk saling kenal satu sama lain.

Ikanbya sangat nikmat. Dibakar atau digoreng rasanya mengejutkan. Tapi Karimunjawa harus mendapat semua bahan-bahan masak ikan dari luar. Jepara kota yang menjadi pemasoknya. Melalui kapal besi, kiriman bahan-bahan makan menempuh perjalanan 4-5 jam. Jika jarang naik kapal, rasanya seperti orang mabuk yang kehilangan rasa. Saya berkali-kali musti masuk toilet.

Seorang penjual jagung cerita tentang harga makan yang mahal. Semuanya musti dikirim. Hasil panenan padi tak cukup untuk memberi makan warga dan wisatawan. Supir taksi Jepara mengatakan pernah ada ombak yang besar sehingga pengiriman lambat. Kapal dari Semarang musti didatangkan untuk mengatasi itu semua. Karimunjawa seperti negeri ini: tergantung apa saja dari luar.

Tapi uniknya di Karimunjawa adalah rasa aman. Kunci motor digantung di motor begitu saja. Tak ada yang mencuri. Lebih banyak orang tertukar motor. Kalau ada kunci motor dikantongi, itu berarti motor sewa. Polisi, kata pemandu di sana, tak banyak kerjaan. Bahkan urusan karcis saya dibantu oleh aparat. Rasanya semua orang bisa menjadi pemandu wisata.

Waktu saya tanya tentang tongkang batu bara, mereka punya banyak cerita sedih. Tongkang bisa hilang kalau angin bergerak kencang. Bahkan awak kapalnya sering mencari makan ke luar. Tidak membeli tetapi menukarnya dengan solar. Mirip dengan kisah buruh di mana-mana: sengsara dan tak terlindungi dengan pekerjaan yang beresiko.

Datanglah ke Bukit Cinta. Itulah tempat eksotik saat kita melihat pelataran pantai yang luas. Tercekam oleh rasa haru, bangga, dan fantastis, kita semua dapat melihat bagaimana teater alam itu dipentaskan. Saya membeli topi hasil karya tangan anak yang berasal dari Yogyakarta. Bahannya dari Semarang dan dijual dengan harga yang bisa terjangkau.

Tak mahal dan juga tak murah. Karimunjawa memang dipadati oleh wisatawa lokal dan asing. Hanya, cerita wisata asing tak sedap: lebih banyak yang bersikap seenaknya, lebih suka berpetualang, tak muda diatur, dan selalu cari yang murah. Katanya uang Rp1 juta bisa dihabiskan lebih dari sepekan. Rasanya bangga jadi orang Indonesia di sana: lebih mau diatur, lebih pemurah, dan lebih dihargai.

Mungkin itu yang membuat warga di sana bersimpati pada siapa saja. Seseorang cerita kepada saya kebiasaan warga: mengatasi masalah saat itu juga, tak ingin berurusan dengan hukum yang ribet, dan beragama dengan cara menghormati siapa saja. Katanya, dulu ada golongan konservatif hendak mendirikan pondok dan mereka melarang karena kesukaan kelompok ini adalah menghujat apa saja.

Mungkin kebiasaan nelayan yang tak sesuai pandangan mereka. Sholat tak bisa tepat waktu, kadang suka berjoged, dan selalu gembira. Agama di pandangan mereka bisa berupa larangan untuk tidak melakukan ritual yang tak sesuai keyakinan mereka, jangan terlampau suka berjoged, dan tidak mabuk-mabukan. Kenikmatan itulah yang dikecam dan itu yang membuat cerita mengenai Karimunjawa menjadi lebih komplit.

Seorang pemandu wisata cerita pada saya tentang keluarga saleh yang ingin wisata pantai. Tak bisa berenang tapi juga tak mau dipegang untuk ditolong. Tanganya dilarang bersentuhan. Sang pemandu dengan bijak pakai kaus tangan. Hormati yang punya kepercayaan dan sambut dengan hangat keyakinan yang beda.

Begitu pula ketika keluarga itu tanya tentang musholla. Di pinggir pantai ada tempat yang biasa dipakai untuk ibadah. Bapak itu tanya apa pemandu bisa jamin kalau tempat itu bersih dan ibadahnya diterima. Sang pemandu cerita itu dengan tersenyum. Ia tak bisa memastikan tapi ia yakin ibadah di pantai itu sangat meyentuh.

Sebuah kisah yang ada di mana-mana, himpunan orang yang percaya pada keyakinan yang unggul. Merasa orang lain tak mengerti, tak paham, dan musti diberitahu. Keyakinan berdiri di atas rasa percaya diri yang luar biasa: mereka benar dan pasti benar. Seakan kebenaran itu yang jadi kekuatan utamanya dan itu perlu dinyatakan pada siapa saja.

Beruntung Karimunjawa bisa menangkal sementara peredaran keyakinan itu. Tapi tak mampu mengalahkan desakan modal yang terus berdatangan. Keyakinan atas laba, bisnis wisata, dan keinginan untuk memuaskan rasa gembira siapa yang datang ke sana. Karimunjawa pasti punya kearifan untuk menangkal itu semua dan rasanya kita perlu datang ke sana.

Membiarkan alam membimbing kita, lalu meyentuh kita dengan rasa takjub dan terpesona. Berikan kesempatan sekali dalam hidup agar alam dapat meyentuh kita dengan rasa yang menggugah, menginspirasi, dan mengajak kita untuk tak percaya dengan emosi dan akal. Biarkan hari-harimu digugah oleh deburan ombak, hembusan angin, dan rasakan nikmatnya sunset. Hidup sesekali tak harus diisi denga kerja-kerja dan kerja!(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika