Sexy Killers | Watchdoc

Sexy Killers, Bisnis Haram di Seputar Politisi, Pejabat, & Istana

Siapa boleh tinggal di tanah ibu ini?
Tentu saja siapa yang sanggup membayar hukum
Dan membeli surat ijin dagang anakku -Kepada Ibuku, Wiji Thukul  

Saya selalu terperanjat tiap menyaksikan karya Watchdoc. Provokatif, segar dan mengejutkan. Kita tidak dihibur tapi dimintai pertanggung jawaban. Pada persoalan sosial yang mustinya kita tahu, kita terlibat dan seharusnya ikut melawan. Film karya Watchdoc seperti “GAMBAR” realis yang bertutur pada kita tentang kekuasaan yang kotor. Menghina kedaulatan, merampas hak milik hingga merusak tatanan sosial. Kali ini Watchdog membongkar bara bisnis batu bara yang melibatkan banyak politisi.

Inilah bisnis yang mengotori apa saja. Tambang batu bara seperti kisah Charles Dickens tentang kota industri yang keji. Dirusaknya alam dengan melubangi bumi kemudian membiarkanya begitu saja. Film ini menceritakan ada ratusan lubang yang merupakan imbas dari tambang batu bara. Ini lubang yang raksasa, mirip danau, yang mustinya direklamasi. Tapi perusahaan tampaknya kurang peduli pada itu semua. Tambang itu dibiarkan memiliki jejak lubang seolah itu hal yang pantas dikenang.

Di Kalimantan lubang itu telah menelan sawah, rumah bahkan anak sekolah. Seorang petani yang berusaha mencegat truk tambang harus dibui selama tiga bulan. Ia petani transmigran yang berasal dari Bali dan selama ini tempat tinggalnya dikenal sebagai lumbung padi. Sungguh mengejutkan dan luar biasa: tempat dimana penghasil pangan disulap jadi tambang batu bara. Perubahan yang pastinya lebih bawa banyak mudharat.

Film ini seperti kebanyakan karya Watchdoc menelusuri perjalanan Batu Bara. Dibawa dari Kalimantan untuk PLTU di Jawa. Itulah perjalanan tragis karena Batu Bara yang diangkut kapal ikut pula merusak terumbu karang. Jangkar kapal dibuang seenaknya bahkan Batu Bara tercecer sehingga merusak populasi ikan. Kini yang harus berkorban adalah nelayan. Mereka yang jalan hidupnya selalu membalik waktu: saat kita tidur mereka berlayar. Nasib mereka kini dibalik oleh tongkang-kapal angkut- Batu Bara.

Saya menyukai Watchdoc karena sering menampilkan ironi. Pidato pak Jokowi seperti jadi pemukul karena ambisinya menjadikan Jawa, terutama di Batang, sebagai PLTU terbesar di Asia. Ambisi pembangunan yang pastinya menelan korban warga sekitar. Petani yang tanahnya belum jelas ganti ruginya sudah dipagari sawahnya oleh seng. Ratapan seorang petani membuat film ini bernada pedih. Para petani itu hanya jadi tumbal dari ambisi segelintir pengusaha yang mengatas namakan kepentingan negara.

Eksploitasi dilakukan dengan sadis karena keinginan untuk mengalirkan listrik pada semua tempat. Batu Bara adalah bahan murah meskipun membahayakan lingkungan. Secara cemerlang film ini memuat tragedi yang dialami warga di sekitar PLTU. Banyak warga terkena penyakit yang diakibatkan oleh uap hasil pembakaran batu bara. Di Palu contohnya warga musti menelan kerugian akibat tempat tinggalnya dekat dengan pembangkit. Seorang warga bahkan sampai dirawat di Jakarta karena parahnya penyakit yang diderita.

Tak hanya warga tapi juga pepohonan sekitar. Watchdoc meliput hingga ke Bali. Salah satu PLTU-yang letaknya di Buleleng- dekat dengan kebun kelapa. Tak ingin penduduk tanahnya dibeli oleh pemerintah warga ini bertahan. Tapi resikonya keji: kebun kelapanya rusak, populasi kelapa berkurang. Bahkan warga yang memilih tinggal di sekitar pembangkit musti menyediakan diri badanya untuk ditimpa penyakit apa saja: pernapasan hingga kanker. Rekaman gambar Watchdoc membuat kita marah, kesal dan kecewa.

Semua kehidupan rakyat kecil terancam oleh Batu Bara, petani hingga nelayan. Tambangnya telah menciptakan kubangan maut, perjalanan membawanya merusak habitat laut dan ketika beroperasi mencemari lingkungan. Tapi inilah bisnis termurah dan mendatangkan laba raksasa. Dikuasai oleh dua kubu yang sekarang berlaga di pilres: Jokowi dan Prabowo. Dua-duanya punya hubungan dengan bisnis tambang Batu Bara.

Para penguasa bisnis Batu Bara hanya berfikir untung saja. Tak ada upaya sedikitpun untuk mengeliminir dampak lingkungan yang diakibatkan oleh operasi perusahaanya. Di beberapa negara sudah banyak upaya misalnya untuk Tangkap-Simpan Karbon (CCS) walau memang itu investasi yang mahal. Tapi jika tak ada usaha untuk mengantisipasi kerusakan lingkungan; kita akan hadapi situasi yang sekarang terjadi di China: negara ini membakar hampir setengah batu bara dunia dan itu mengotori udara yang membawa akibat 1,2 juta kematian penduduk per tahun.

Film itu memuat pejabat yang bicara dengan enteng, ringan dan gampang. Jokowi dengan ringan mengatakan kalau semua itu jangan dikuatirkan, Prabowo dalam debat Pilpres- kemaren- malah mengambil sikap sama dengan Jokowi untuk isu tambang. Luhut juga tak merasa bersalah punya tambang batu bara yang memakan banyak tanah warga. Bahkan Gurbenur Kaltim Isran Noor mengomentari warganya yang tewas karena bekas galian tambang sebagai takdir. Konyol, ironis dan memalukan!

Bisnis menjijikkan inilah yang jadi pelumas sistem politik hari ini. Dua kubu yang kini bertarung berlumur Batu Bara: usaha yang menghabisi rakyat sekitar secara keji dan sistematis. Film ini menyulut kesadaran kita kalau praktek politik sekarang ini didasarkan oleh akumulasi najis yang didasarkan oleh operasi perusahaan yang bengis. Kalau untuk nyala listrik saja kita musti melukai rakyat kecil mungkin waktunya kita curiga atas pidato pembangunan hari-hari ini.

Kita bukan hanya ditipu oleh mithos kemakmuran yang berdengung dimana-mana tapi juga kita dibenamkan oleh logika sesat yang diucapkan berulang-ulang. Bahwasanya pembangkit listrik yang akan menyiram semua kawasan itu bisa membawa kemakmuran untuk semua rakyat. Rakyat mana yang dimaksud dan rakyat siapa yang diuntungkan oleh semua ini.

Mungkin kemakmuran bagi rakyat yang bernama Jokowi, Prabowo, Luhut, Sandiaga Uno, Yusuf Kalla, Eric Thohir dan anda bisa menambah nama yang hari-hari ini sedang berlaga untuk berebut tahta. Mereka yang hendak berkuasa dengan modal tanah rakyat yang dirampas, kesehatan rakyat yang terus menurun dan pendapatan rakyat yang merosot . Film ini harusnya membuat kita sadar kalau kita ditawan oleh bandit resmi yang beroperasi dengan keji.

Tontonlah…….

(RI)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika