Deddy Corbuzier | Dream.co.id

Semoga Deddy Corbuzier Bisa Mengubah Nama Acaranya

Memakai kaca mata hitam dengan dibimbing langsung oleh Gus Miftah, Deddy Corbuzier memutuskan masuk Islam. Masjid Al Mbejaji Kompleks Ponpes Ora Aji hari itu jadi saksi bersejarah (Jumat 21/6/2019), tokoh tenar yang namanya dikenal di mana-mana menjadi Mualaf.  Kapolda DIY Irjen Ahmad Dofiri beserta sejumlah masyarakat menyaksikan peristiwa istimewa ini.

Terus terang, saya jarang menyaksikan acara Deddy. Sekali waktu, Deddy mewancarai sahabat saya, Pak Sosilo Toer. Walau sebentar melihat acara itu, tapi saya senang melihat teman saya bisa masuk tivi segala. Melihat Deddy mewancarai, saya tak terpesona tapi juga tak menilai acaranya buruk. Ia seperti penyiar lainya: lebih suka lempar joke, kemudian tertawa, dan kelewat percaya diri.

Hanya saja, Deddy orang terkenal. Kalau dirinya jalan di pasar, saya rasa akan ada banyak orang minta foto. Bagi orang Indonesia atau orang mana saja berfoto dengan tokoh ternama pasti bisa buat bangga. Deddy Corbuzier tahu kekuatan dirinya. Ia bintang yang bisa menghadirkan nara sumber siapa saja. Acaranya Hitam Putih bertahan begitu lama. Sekali lagi, saya nonton acara itu baru sekali!

Kini orang Islam pasti bangga punya mualaf seperti Deddy Corbuzier. Sebentar ia akan tampak belajar mengaji, sholat, dan nanti mungkin umroh dan puncaknya naik haji. Deddy nanti tak hanya muncul di acara Hitam Putih, tapi juga bulan Ramadan. Bisa jadi pengajian akan mengundangnya. Topik paling mudah, gampang, dan disukai adalah kenapa Deddy Corbuzier memilih menjadi muslim.

Saya rasa itu pasti akan menambah semangat orang Islam untuk meyakini kebenaran ajaran agamanya. Membayangkan saja membuat kita bisa terharu: Deddy yang hidupnya pasti suka ria kini beragama Islam. Tentu ia bisa bercerita banyak kenapa memilih Islam sebagai agamanya kali ini. Mungkin hidayah dan itu jawaban yang sulit diselidiki atau bisa jadi ini memang kesadaran. Semuanya terserah Deddy.

Deddy bisa menjadi penceramah kali ini. Modalnya sangat cukup: terkenal di mana-mana dan berani bicara apa saja. Ia tak perlu belajar banyak karena apa yang selama ini dikatakannya juga tak perlu ditempuh dengan belajar. Deddy sudah jadi idola, nadi apa yang dikatakannya pasti akan didengar oleh siapa saja. Layak baginya untuk berdakwah.

Terutama pada ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas warga. Ajaran yang memang pintu masuknya sederhana saja: membaca syahadat. Memastikan hanya Allah yang patut disembah dan mengakui Muhammad adalah utusan-Nya. Deddy pasti tahu itulah kalimat Tauhid.

Musuhnya adalah syirik. Nyaris semua surah pertama Al-Qur’an yang turun di Mekkah adalah penyadaran atas apa itu syirik. Di antaranya kecaman atas kekayaan yang berlebihan, sikap sombong yang begitu rupa, hingga kutukan pada mereka yang menganiaya orang miskin dan anak yatim. Islam memerintahkan solidaritas pada yang lemah. Syirik itu di antaranya adalah menuhankan kehidupan dunia.

Saya tak tahu ajaran apa yang memikat hati Deddy Corbuzier. Abu Dzar dulu terpikat ajaran Islam karena semangat egaliternya. Ali menantu Rasulullah hidup dengan berkalang kemiskinan karena itulah yang membuatnya menjauh dari godaan dunia. Dan Umar menuangkan Islam dalam ajaran lugasnya pada keadilan. Pesona itulah yang membuat mereka menjadi muslim. Deddy apa mendengar cerita itu semua?

Setelah masuk Islam yang dikunjungi Deddy bukan asrama anak yatim atau korban penggusuran, tapi KH Ma’ruf Amin. Ia ulama, calon wakil Presiden, dan tokoh NU yang akan duduk di posisi tertinggi. Mungkin Deddy ingin dapat petuah, mungkin ingin dapat saran, atau mungkin melobby untuk acaranya Hitam Putih.

Saya tak tahu dan tak ingin tahu. Karena dalam Islam tak boleh kita hakimi seseorang begitu saja. Deddy Corbuzier mungkin bisa belajar banyak dari semangat ajaran semacam itu: tak boleh merasa paling benar dan jangan juga merasa paling bisa segalanya. Acara yang diasuhnya namanya hitam putih tapi realitas tak selalu hitam dan putih.

Kenyataan tak mudah diduga dan tak bisa dinilai begitu saja. Hidup Deddy Corbuzier pasti tahu tentang itu semua. Bahwa apa yang dulu kita puja begitu rupa toh akhirnya tak berarti apa-apa. Apalagi kalau itu menyangkut tahta. 32 tahun Soeharto berkuasa tapi sekarang ini tak banyak orang yang ingin dihubungkan dengan dirinya. Dunia tak hitam putih dan itu Deddy pasti tahu.

Semoga Deddy bisa mengubah nama acaranya karena memang Islam itu bukan perkara hitam dan putih semata. Islam itu lebih luas, lebih kaya, dan lebih beragam. Anjuran yang tepat -jika mau didengarkan oleh Deddy- sentuhlah Islam dengan amal kebaikan yang sederhana. Jauhi kemewahan lalu melangkahlah lebih cepat pada ummat Islam yang sedang membutuhkan.

Mereka itulah yang miskin, tertinggal, digusur, dan dianiaya hak kemanusiaannya. Karena sejak awal Islam itu misinya lugas: membebaskan bukan menguasai, membela bukan menghakimi, dan melindungi bukan mendominasi. Siapa tahu itulah yang membuat Deddy Corbuzier masuk Islam. Semoga saja kali ini saya benar menduganya. (*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika