Suluh Pergerakan

SEDIKIT HAL TENTANG PETER KASENDA

Oleh Ari Wijayanto – [Pegiat Social Movement Institute]

***

(1) Mengenal Peter Kasenda

Sebelumnya, saya memang berencana membuat ulasan buku Peter Kasenda tentang Sarwo Edhi. Buku ini penting karena repetisi sejarah penghancuran atas sebagian kaum intelektual progresif Indonesia. Tapi belum sempat buku tersebut di ulas, kabar mengejutkan datang dari Peter Kasenda; Sang Sejarahwan tersebut ditemukan meninggal di rumahnya. Ini tentu menjadi kabar yang mengagetkan, tidak saja bagi kalangan sejarahwan, tetapi termasuk bagi kami semua yang pernah membaca karya-karya nya. Terutama kami dari Social Movement Institute (SMI) yang selama ini sering berkomunikasi, berkegiatan bareng dan atau sekedar ngobrol-ngobrol santai dengan nya.

Peter adalah orang yang hangat, supel dan banyak bisa nya kalau diajak diskusi kemana-mana. Ia tidak mempermasalahkan tempat diskusinya. Ia juga tidak mempermasalahkan peserta diskusinya. Selama ia punya waktu, maka ia akan selalu hadir dan membagi ilmu dan pengalamannya kepada semua orang. Peter adalah sejarahwan yang bersahaja. Dan oleh karenanya ia sangat disukai oleh anak-anak muda. Peter menulis banyak buku. Diantaranya serial tentang Soekarno, Soeharto, Aidit, Sarwo Edhi dan lain-lain. Pengetahuan Peter tentang sejarah tidak hanya seputar Indonbesia, Soekarno, dan tokoh-tokoh lainnya. Tapi jauh melintas sampai ke Asia. Ia piawai menceritakan sejarah asia tenggara. Bahkan jejaring dan permainan politik hari ini pun ia mengerti; Ia tahu seluk beluk PDIP, Ia tahu jejaring kelompok Surya Paloh, bahkan Ia tahu siapa cukong dari web dan majalah Historia. Itulah Peter Kasenda. Orang yang sederhana tapi pengetahuannya luar biasa. Peter Kasenda layak mendapat apresiasi dan penghormatan atas dedikasi ilmu dan pengalamannya.

Sebagai apresiasi dan penghormatan terakhir (15/9/2018), kami membuat diskusi kecil yang bertajuk ‘Mengenang Hidup & Warisan PETER KASENDA’. Karena kami tahu bahwa diluar sana mungkin masih banyak lagi orang yang mengenal Peter Kasenda, baik secara pribadi ataupun ide dan gagasan yang telah dituangkannya dalam banyak buku. Hadir dalam diskusi ini ialah JJ Rizal (Sejarahwan dan Penerbit Buku Sejarah Komunitas Bambu – Kobam), Wildan Sena Utama (Sejarahwan UGM – Penulis Buku Sejarah Konferensi Asia Afrika) dan Eko Prasetyo (Aktivis Senior dan Penulis Buku).

JJ Rizal bercerita bahwa Kobam menerbitkan beberapa dari buku Peter Kasenda. Mulai dari Soekarno Muda, Hari-Hari Terakhir Soekarno, Kematian DN Aidit dan Kehancuran PKI, Hari-Hari Terakhir Soeharto, Soekarno, Marxisme dan Leninisme dan banyak lagi. Tidak hanya soal buku, JJ Rizal juga dekat secara pribadi dengan Peter. Mereka satu almamater di Universitas Indonesia. Dan – Kobam – menjadi tempat bagi mereka untuk berkumpul bersama. Rizal bercerita bahwa dulu ia menganggap tulisan Peter tentang Soekarno terdapat banyak pengulangan. Tetapi hari ini disadari bahwa hal tersebut bukanlah pengulangan akan tetapi bentuk penegasan yang kokoh dari Peter tentang sejarah. Bahwa sejarah itu harus di tegaskan terus dan berulang dalam banyak kesempatan. Rizal juga mengenang bahwa Peter adalah sosok yang menyenangkan, ceria dan asyik diajak berdiskusi. Dua hal yang paling disenanginya adalah kalau dicarikan baju yang besar dan sepatu yang besar sesuai ukurannya. Karena memang badan dan kakinya besar. ‘Makanya kadang kalau pulang dari luar negeri, saya selalu bawakan hal yang disenanginya tersebut’.

Wildan Sena mengungkapkan bahwa beliau banyak berterimakasih dengan Peter Kasenda karena berkat buku-bukunya tersebut bisa menjadi referensi untuk penulisan sejarah yang digelutinya. Beberapa buku Peter menjadi referensi dan informasi untuk menunjang penulisannya. Cuma memang ada kelemahan sedikit dari Peter karena belakangan ada sumber dalam bukunya yang tidak disebutkannya referensinya. Menurut Wildan hal ini bukan kesengajaan, akan tetapi mungkin karena kelupaan. Ini kerap dialami oleh para sejarahwan yang sudah tua. Tapi, meninggalnya Peter membuat Wildan agak sedikit kehilangan. Karena menurutnya ada beberapa hal yang belum ditulis oleh Peter Kasenda, terutama tentang politik kebudayan Soekarno. ‘Hal tersebut belum pernah ditulis oleh orang atau sejarahwan lainnya dan Peter Kasenda sebenarnya adalah orang yang tepat untuk menuliskannya’.

Sementara itu Eko Prasetyo mengenang Peter dengan hal lainnya. Menurutnya, Peter orang yang sangat baik dan tidak neko-neko. Peter sangat disiplin dengan waktu. Ia akan datang sebelum acara mulai. Dan ia akan datang dengan sendirinya tanpa perlu di jemput dan sebagainya. Peter juga sangat terbuka dalam berkomunikasi. Ia orang yang akan selalu hadir bila ada kesempatan. ‘Peter adalah orang yang sangat mencintai anak muda. Karena baginya masa depan bangsa ini milik anak muda. Makanya ia selalu meluangkan waktu untuk berdiskusi atau ceramah bersama anak muda. Peter tidak pernah menolak kalau ia berkesempatan. Dan itulah baiknya Peter, dia selalu yakin pada anak muda. Tulisan-tulisan Peter sangat mengangumkan. Bahkan beliau bisa melukiskan tokoh-tokoh yang sudah tiada tersebut dengan sangat indah. Tokoh tersebut seakan hidup dan hadir berbicara dengan kita. Itu kekuatan Peter yang menurut saya sangat mengagumkan. Kami seringkali mengajaknya diskusi kemana-mana. Dan beliau selalu bersedia. Terakhir kami mengajaknya untuk berdiskusi kembali. Tapi sayang, sebelum terealisasi, Peter sudah dipanggil Tuhan’. [M]

 

(2) Ulas Buku – Sarwo Edhi dan Tragedi 1965

Kalau kita mau jujur pada sejarah, mungkin seluruh anak bangsa ini akan hidup rukun. Karena tidak akan ada yang namanya gontok-gontokan hanya karena peristiwa masa lalu, terutama tentang Tragedi 65, PKI dan sebagainya. Tapi hal tersebut sepertinya susah untuk tercapai. Karena peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu tersebut terlanjur menjadi luka yang berkepanjangan. Dan luka tersebut kerap dikibas dengan kepentingan segelintir kelompok atau golongan untuk menunjukkan eksistensi tendensius sepihak.

Peristiwa yang dikenal hari ini dengan istilah Gerakan 30 September (G30S), kemudian disematkan dengan embel-embel PKI untuk menunjukkan sebagai biang keladi. Soekarno menyebut peristiwa tersebut sebagai Gestok. Dimana pada 53 tahun silam, bermula dari adanya info bohong (hoak) yang mengabarkan bahwa akan ada kudeta terhadap Soekarno (coup d’etat) yang direncanakan oleh Dewan Jenderal. Dikabarkan bahwa pada tanggal 5 Oktober 1965 akan ada pamer kekuatan dan parade senjata oleh militer. Buntut dari hoak tersebut akhirnya mengubah relasi ekonomi atas kekuasaan. Termasuk beralihnya kekuasan dari Soekarno ke Soeharto. Inilah yang kemudian menjadikan sejarah bangsa ini berputar haluan. Pembantaian terjadi secara massal dan luas hampir di seluruh Indonesia terhadap sejumlah anggota, pengikut serta partisan dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dituduh untuk melakukan kudeta serta menjadi arsitek pembunuhan sejumlah Jenderal secara sadis.

Tapi apakah peristiwa itu benar adanya? Hal tersebut sampai hari ini masih berselimut bayang-bayang. Sebagian meyakini bahwa peristiwa itu (G30S/PKI) benar. Dan sebagian lagi menganggap hal tersebut adalah kebohongan besar dalam sejarah Indonesia oleh Soeharto dan Orde Baru nya. Karena justru narasi sejarah pasca Soeharto tumbang mengungkapkan fakta dan realita yang berkebalikan dengan yang pernah dipropagandakan sebelumnya. Bahkan banyak kalangan intelektual dan akademisi semakin menyangsikan peristiwa 65. Santer kabar bahwa sesungguhnya peristiwa 65 adalah rekayasa militer sendiri dalam rangka menjatuhkan Soekarno dan menjadikan PKI sebagai tumbalnya. Hal tersebut karena hubungan Soekarno dan Aidit yang akrab. Bahkan PKI dibawah komando DN Aidit sangat mendukung suksesi Soekarno. Dan PKI saat itu sebagai partai besar yang bukan tidak mungkin menjadi yang terbesar dari seluruh partai yang ada di Indonesia sebelum akhirnya PKI ‘dihabisi’ oleh militer yang khawatir. Dan pengungkapan kebenaran atas peristiwa tersebut sampai hari ini masih berselimut bayang-bayang. Terutama tentang keterlibatan sejumlah elit militer dalam pembantaian massal tersebut seakan jauh panggang dari api.

Pada buku “Sarwo Edhie Dan Tragedi 1965” Peter Kasenda mengulas beberapa fragmen dari muasal peristiwa tersebut. Pertama, tentang asal usul ketegangan yang berpuncak pada meletusnya peristiwa G30S. Kedua, tentang skenario membawa isu G30S ke permukaan publik dan propagandanya. Ketiga, tentang respon terhadap hadirnya isu G30S. Keempat, subjek yang berperan atas berdirinya struktur kekuasaan orde baru. Kelima, tentang keuntungan dari adanya peristiwa G30S, mereka yang diuntungkan serta kroni lainnya yang menikmati kue keberuntungan dari meletusnya isu hoak yang berdampak pada jatuhnya kekuasaan Soekarno.

Tragedi berdarah pada 1965 memunculkan sejumlah nama dengan catatan berbau ironi. Soekarno tumbang dari kekuasaannya, Bintang Mahaputra DN Aidit dicopot, kemudian ditembak mati, lalu Soeharto naik menjadi Presiden. Dan yang tak kalah penting juga ialah munculnya sosok baru yaitu Sarwo Edhie Wibowo.  Sarwo Edhi terkenal kemudian karena kiprahnya memberantas PKI. Dan hal tersebut membawanya ke panggung kekuasaan. Peristiwa ’65 berhasil menaikkan dua orang, Soeharto dan Sarwo Edhi ke panggung kekuasaan dan menjatuhkan dua orang pula, Soekarno dan Aidit dari panggung kekuasaan.

Merunut kembali benang sejarah yang ada, berhembusnya isu ataupun hoax tersebut diawali oleh ajakan Soekarno pada  Kongres Luar Biasa VII PKI yang berlangsung pada tanggal 25-30 April 1962. Keputusan kongres menghasilkan strategi “Kawan Berkoalisi” yang meliputui 5 garis perjuangan. Diantaranya (1) PKI berjuang untuk memperoleh kekuasaan; (2) Kekuasaan baru yang akan dibentuk adalah koalisi nasional; (3) PKI menghendaki semua pemerintah koalisi nasional akan memenuhi kepentingan kelas-kelas antiimperialis dan antifeodal;(5) Untuk mencapai tujuan (perolehan kekuasaan) dengan perubahan-perubahan demokratis atau melalui jalur parlementer. Konsekuensi dari ajakan ini ialah PKI secara legal memiliki koalisi politik.

Persekutuan antara Soekarno dan PKI ini timbul sebagai respon terhadap lobi politik yang dilakukan oleh dedengkot PSI dan Masyumi bersama Amerika (AS). Pada tahun 1949, dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI) Soemitro Djojohadikusumo, berkunjung ke School of Advanced International International Studies. Disana Soemitro menyampaikan visi ekonominya tentang “Akses Bebas Terhadap Sumber Daya Indonesia Dan Insentif Yang Cukup Bagi Investasi Korporat Asing”. Kepada pejabat Rockfeller Foundation bahwa “Harapannya Adalah Mengorganisir Departemen Ekonomi UI Seiring Dengan Garis Kebijakan AS Dalam Kaitannya Dengan Riset Dan Organisasi”.  Tokoh lain yang menyampaikan gagasan serupa yakni Soejatmoko yang pada saat berada di New York dengan legowo menyampaikan bahwa “Indonesia Yang Terbuka Terhadap Kerja Sama Yang Saling Menguntungkan Dengan Barat”.

Respon Rockfeller Foundation dan Ford Foundation atas undangan invetasi menyediakan beasiswa terhadap sekitar 900 mahasisiwa/mahasiswi yang diantaranya Soebroto, Ali Wardhana, Ali Budiarjo, Miriam Budirarjo, Widjojo Nitisastro dan Emil Salim untuk didoktrin di beberapa universitas terbaik di AS seperti MIT, Cornell, Berkeley, dan Harvard. Inilah yang menjadi tanda awal ketegangan yang terjadi pra G30S. Karena disatu pihak ingin berpijak pada visi ekonomi berdikari, tapi di lain pihak menginginkan keterbukaan perusahaan multinasional untuk menancapkan kekuasaannya di Indonesia. Soemitro Djojohadikusumo tak berbeda dengan Mangkunegara IV di Surakarta pada tahun 1853-1881. Oleh karena itu peristiwa Gestok/G30S dilatarbelakangi  bukan pertentangan sistem kepercayaan(teistik vs ateistik) seperti yang kita dengar riaknya. Polemik atau ketegangan yang timbul justru dari persoalan ideologi dan sistem ekonomi.

Isu G30S mengemuka ketika kolonel Untung dan Sjam Kamaruzaman menginformasikan adanya Dewan Jendral yang akan melakukan kudeta pada tanggal 5 Januari 1965. Kemudian, isu itu direspon dari 2 faksi yang selalu bersitegang yakni TNI AD, terlebih khusus Kemal Idris, Soeharto, Sarwo Edhie, dan Yoga Sugama. Sebaliknya pada faksi lain terdapat  DN Aidit  dan Njoto dari PKI.

Akar dari ketegangan ini timbul dari kedekatan antara Soekarno dengan DN.Aidit dan menguatnya posisi militer ketika Soekarno melakukan konfrontasi dengan Malaysia. Implikasi konfrontasi itu, banyak para birokrat militer menguasai perusahaan hasil nasionalisasi yang diperjuangkan oleh SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia). Dari ketegangan itu Jendral AH. Nasution berinisiatif untuk mendukung Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959, yang kita kenal hingga sampai saat ini dengan istilah Demokrasi Terpimpin. Dukungan militer timbul sebab di masa itu PKI menguasai floating mass di Indonesia. PKI bahkan memenangkan pemilu legislatif 1955 di Yogyakarta. Tapi PKI tetap berada segaris dengan Soekarno karena kekhawatiran terhadap menguatnya militer di tiap cabang produksi hingga distribusi ekonomi Indonesia pada saat itu.

Di mata Peter, nama Sarwo Edhie yang mencuat setelah peristiwa ’65 terjadi karena statusnya sebagai Komandan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD). Tugas utama Sarwo Edhie adalah penumpasan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Keberhasilan Sarwo Edhie dalam menumpas PKI membuat namanya membubung tinggi. Padahal dilihat dari kemampuan militer, Sarwo Edhie bukan orang hebat. Dia pernah memimpin sebuah pasukan saat revolusi fisik. Tapi, akibat kepemimpinannya, anak buahnya sampai menangis dan minta pulang. Alhasil Sarwo Edhie turun pangkat. Dia juga bukan orang yang cocok menjadi Komandan RPKAD. Demikian yang pernah diungkap langsung oleh Peter Kasenda dalam diskusi tentang Sarwo Edhi 12 Nov 2015.

Karena terkait pada peristiwa berdarah 65 itulah Sarwo Edhi tidak mendapatkan gelar pahlawan. Keberhasilannya menumpas PKI dan prestasi militernya yang cemerlang tidak seta merta menjadikan ia pahlawan. Karena buntut dari peristiwa berdara tahun 65 tersebut , Sarwo Edhi dianggap melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang berat.(*)