Suluh Pergerakan

SADISME DI KOTA PENDIDIKAN

[Duka untuk Agnesia Mercyliano Cantika Pranana Dewi]

***

Berita itu sangat menyakitkan: anak gadis-di Jogjakarta- berumur 10 tahun diperkosa lalu mayatnya dibuang (30 September 2018) Mungkin ini berita kriminal biasa. Kejahatan yang hilir-mudik mengisi acara televisi. Kita membacanya kemudian melupakanya. Lebih-lebih polisi sudah menangkap sang pelaku. Tetangga gadis itu sendiri yang habis pesta miras. Kisah kejahatan selalu berakhir dengan tertangkapnya sang pelaku.

Tapi kisah itu hanya sebuah pintu pembuka. Kisah itu jadi petunjuk kalau rasa kemanusiaan kita telah terlelap. Hingga seorang anak gadis yang pantasnya dilindungi dengan mudah dianiaya. Sampai seorang gadis yang harusnya memintal hari dengan gembira musti jadi sasaran pembunuhan sadis. Kita seperti tersudut dalam suasana gelap karena kehilangan kepedulian dan empati. Pelakunya tak hanya pria bangsat itu tapi kita semuanya.

Membiarkan seorang gadis cilik berada di samping orang buas. Orang yang kita biarkan tumbuh dengan naluri sadis dan kita ciptakan kesempatan untuk menjadi monster. Ia tak hanya membunuh tapi memproklamirkan sebuah kekejaman yang harusnya tak mungkin dilakukan manusia. Ia mengenal gadis kecil itu dan gadis itu percaya padanya: dianggap sebagai kakak, sebagai tetangga, sebagai orang yang tidak bahaya.

Kini pada siapa kita kemudian punya percaya? Pada sekitar yang ternyata menyimpan monster atau pada sekeliling kita yang bisa memproduksi sebuah kekejaman. Cerita itu dipupuk dengan dramatik: mereka pesta miras hingga mabuk lalu dengan keji membunuh. Apa yang mendasari kisah ini bukan hanya kekejaman tapi kesempatan untuk beringas memang sudah disusun lama. Kita bisa bertanya mengapa pesta miras itu bisa terjadi dan dibiarkan saja?

Tuduhan itu bisa kemana-mana tapi kita secara berangsur-angsur percaya kalau lingkungan bukan tempat berlindung. Tiap orang sepertinya punya urusan sendiri, tak ingin diganggu dan sulit untuk saling percaya. Dihadapkan pada sebuah kondisi dimana seorang gadis kecil yang harusnya kita awasi bersama jadi mudah untuk dikorbankan. Saya sulit bayangkan rasa kehilangan kita pada gadis yang harusnya punya hari depan dan mengisi hari dengan harapan.

Mau kita katakan apa pada anak-anak hari ini? Harus hati-hati dengan orang asing, waspada dengan tetangga dekat atau jangan mudah percaya pada siapapun. Kalau itu yang kita kerjakan tentu kita meletakkan prinsip curiga diatas segalanya. Prinsip yang membuat anak akan mudah mengidap prasangka, curiga pada yang asing serta berbeda.

Jelas ini suasana kacau karena anak melihat hidup dengan cemas, kuatir dan bahaya. Tumbuh lah suatu lapisan anak yang memandang hidup dengan aroma kecurigaan pada apa yang baru dan beda. Mereka hidup bukan untuk menyambut tantangan tapi bersembunyi dalam sangkar sembari memantau apa saja yang mencurigakan. Mereka bukan lagi anak tapi manusia yang dikalungi oleh kecemasan.

Pembunuhan ini merusak hari depan anak. Sang pembunuh memang sudah ditangkap tapi warisan pelakunya bisa muncul dari mana saja. Kita menciptakan monster yang bergentayangan kemana-mana tanpa menyadari kalau anak-anak kehilangan masa bebas dan bermainya. Kita bukan hanya memasang ranjau tapi sudah menciptakan dinamit yang bisa meledak kapanpun. Belakangan bahkan muncul berita pemerkosaan pada anak yang terjadi di tempat pengungsian. Tragis dan keji!

Pemerintah sebaiknya punya strategi mengatasi ini. Sebab tragedi ini tak hanya menghantam Jogja sebagai kota nyaman tapi juga menerkam pendidikan. Macam sekolah apa yang melahirkan monster ini? Tak adakah orang terdidik yang bisa melihat gejala bahaya? Seolah-olah kejahatan ini seperti gempa: tak bisa dideteksi datangnya dan muncul secara tiba-tiba. Baiknya pemerintah terutama aparat setempat mulai memastikan bahwa tindakan yang berindikasi gangguan sebaiknya segera diatasi. Pesta miras ini bukan di gua atau diatas gunung melainkan rumah yang punya tetangga kiri-kanan.

Lembaga pendidikan juga sebaiknya berbenah. Bukan mengajarkan soal akhlak yang mulia saja tapi bagaimana empati pada mereka yang lemah, pantas dilindungi dan perlu dibela. Sehingga setiap melihat seorang anak yang muncul bukan keinginan untuk men-dogma tapi melindungi dan menjamin rasa amanya. Tiap sekolah baiknya memastikan bukan hanya rasa aman tapi juga perlindungan pada lingkungan dimana anak tumbuh.

Jelas ada kecurigaan pada suasana sosial masyarakat yang kepedulianya melemah. Tak adakah indikasi munculnya seorang monster yang mengancam. Karena monster itu bukan manusia luar angkasa yang turun begitu saja. Ia manusia yang tumbuh, mekar dan punya relasi dengan sekitar. Sehingga niat busuk dan perangai jahanam itu bukan sekedar nafsu setan yang muncul seketika, tapi proses alamiah yang akarnya sudah lama ada.

Pesta miras hanya perantara. Kegiatan gila ini bisa muncul karena banyak sebab. Kita bisa mengusutnya hingga pada semua unsur pendukung: budaya, ekonomi, sosial dll. Tapi yang kita tahu pesta ini lolos dari pengawasan, lepas dari pantauan dan tak membuat sekitarnya curiga. Bahan bakar pesta miras itu telah memancing naluri monster itu bangkit.

Jujur kita malu pada gadis kecil yang mustinya kita lindungi. Sangkar perlindungan itu koyak karena di sekitarnya telah bangkit monster yang dibiarkan gentayangan kemana-mana. Monster itu memang akan diadili, dihukum dan diberi sanksi. Tapi tidakkah masyarakat paham kalau mereka semualah yang telah membibit monster ini: dibiarkan tumbuh, membesar dan memangsa. Kita sesungguhnya yang telah menciptakan monster jahanam itu.

Rohaniawan, elit politik hingga pendidik harusnya malu dan mulai berkaca pada tanggung jawabnya: kenapa ajaran etika yang disuarakan dimana-mana tak mampu menghalangi perbuatan terkutuk ini? Tak bisakah pengetahuan itu mampu meramu perangai seseorang sehingga tidak berada dalam tindakan yang gelap dan keji? Dan tidak mungkinkah ada kebijakan yang bisa memastikan tentang perlindungan seorang anak dari sentuhan iblis yang kini bisa muncul dari mana saja?

Jogja mustinya berduka karena tindakan keji yang mencoreng atribut ‘istimewanya’. Kita yang selalu menganggap beradab, terdidik dan modern ini ternyata menyimpan warga yang buas yang mampu melukai seorang anak yang harusnya kita jaga.

Semoga Tuhan memberi keadilan dan pastinya ampunan pada kita semua yang membiarkan ini semua terjadi. Amiin.