Suluh Pergerakan

Rudal Palestina Adalah Kita

Dalam memandang genosida Palestina para elit negara bicara dalam bahasa resmi Eropa sedang masyarakat dunia berbicara dalam bahasa jalanan. Kita semua bisa lihat dengan mata telanjang peran negara-negara Arab/Teluk yang tega membiarkan saudara-saudaranya tewas dihujani rudal. Begitu pun sikap negara-negara Barat dan sekutu mereka lainnya. 

Betapa nasionalisme sempit telah menghimpit langkah mereka yang serba “hati-hati” berdiplomasi pada orientasi serba keuntungan pribadi semata. Berbanding terbalik dengan masyarakat dunia yang begitu progresif. Mereka berbondong-bondong turun ke jalan, mengambil inisiatif tindakan-tindakan kecil perlawanan dan, memboikot produk-produk yang mendukung Zionis.

Senin (6/11) di Pelabuhan Tacoma Washington sekelompok demonstran pro-Palestina dari organisasi Arab Resource and Organizing Center (AROC) menghadang kapal barang yang diduga kuat memuat senjata, amunisi dan perlengkapan perang untuk menyokong Israel. Seolah virus yang mudah menjalar, di hari yang sama seruan resmi terbit dari Organisasi Pekerja Pelabuhan Barcelona (OEPB) melarang kapal-kapal beraktivitas di dermaganya yang memuat segala macam logistik alat perang dan menyerukan gencatan senjata di jalur Gaza. 

Sehari sebelumnya Minggu (5/11) Di Turki, gerombolan demonstran yang tidak puas dengan sikap Erdogan berkonvoi dari Stadion Olimpiade Ataturk Istanbul menuju kota Adana menyerbu Pangkalan Udara Incirilk milik Amerika yang selama ini mendukung penuh negara penjajah Israel. Para demonstran mengepung sambil menyerukan gencatan senjata segera yang membuat pasukan Amerika cukup ketakutan sehingga tembakan gas air mata berhamburan ke arah demonstran. Di hari Ahad yang sama, pelataran Monas dipenuhi dua juta lebih masyarakat dari berbagai elemen, agama, ras, ideologi bersatu membela Palestina. Sebelum aksi bela Palestina ini terlaksana bahkan lebih cepat dari keputusan MUI (Majelis Ulama Indonesia) memboikot produk-produk Israel, netizen dan rakyat Indonesia sudah lebih dahulu menyebarkan pamflet ajakan boikot yang telah memusingkan waralaba-waralaba, perusahaan dan pengusaha yang selama ini mendukung Zionis.

Hingga hari ini, hampir di seluruh penjuru dunia, demonstrasi besar masih sering terjadi. Mereka konsisten mendukung Palestina dan mengutuk kebiadapan kolonialisme Israel. Media sosial telah membantu banyak menyalurkan perkembangan terkini tentang Gaza. Meski beberapa platform tertentu mendukung pendudukan, seperti perusahaan-perusahaan media milik Mark Zuckerberg dan TikTok sangat ketat menyeleksi konten-konten sesuai narasi milik Israel. Tapi itu semua, tidak menyurutkan warga dunia untuk saling terhubung, menguatkan, dan saling mengakses kondisi Gaza dan Palestina terkini. 

Setiap penjajahan pasti menyisakan banyak kesulitan. Taktik Israel memblokade listrik, air, dan jaringan internet pasca 7 Oktober dibalas oleh masyarakat dunia bahu-membahu menolong Gaza dengan berbagai aksi filantropi. Bantuan kemanusiaan tidak mudah tersalurkan akibat sikap otoritas Mesir yang berat membuka gerbang perbatasan Rafah. Tapi karena desakan masyarakat internasional begitu masif akhirnya pintu penjara raksasa di dunia itu pun kini terbuka.

Tangan-tangan kecil warga dunia tidak bisa disepelekan. Jika kekuatan otoritas negara dan seabrek lembaganya masih “pikir-pikir” membantu Palestina, maka, kepedulian-kepedulian sederhana masyarakat yang terkumpul menumpuk adalah yang paling terasa bagi Gaza. Oleh karena itu jangan pernah ragu lagi dengan keajaiban kita.

Keberpihakan masyakat dunia sulit untuk tidak mendukung Gaza dan Palestina. Bagaimana mungkin mereka tidak akan mendukung sebuah wilayah yang telah dijajah hampir 75 tahun lebih oleh pendudukan Israel? Sekali pun segala upaya Israel menyebarkan berita yang menyudutkan Hamas dengan tuduhan gerakan teroris yang keji (membuat berita palsu pemenggalan anak bayi dan pembunuhan perempuan), sekali lagi, tidak menyurutkan warga dunia membela Gaza dan Palestina.

Merujuk pada pernyataan organisasi anarkis Fauda Palestina, Kamis (16/11). Kelompok perlawanan di Palestina hari ini tercatat ada 15 dan, bukan hanya Hamas (meski Hamas yang paling kuat dan besar). Fauda tak sepemahan dengan ideologi Hamas tapi bukan berarti mereka netral dalam pendudukan ini. Jangankan kita yang berada di luar Palestina, semua 15 kelompok perlawanan yang ada di Palestina yang berbeda pemikiran tersebut, untuk soal penjajahan, tidak ada kamus netral untuk tidak mendukung upaya Hamas dan kelompok lainnya melawan kebiadapan Zionis.

Netanyahu dalam beberapa kesempatannya berbicara di berbagai media, resmi mengeluarkan daftar kelompok teroris di Palestina. Hamas tentu saja dan 15 kelompok yang kini ada. Citra Hamas sedang masif, terstruktur, dan terpola dibuat buruk oleh media Barat. Singkatnya, semua perlawanan terhadap Zionis dianggap teroris oleh mereka. 

Cap teroris bagi Hamas resmi digunakan oleh negara-negara sekutu seperti; Amerika, Kanada, Prancis, Inggris, Australia, dan Jepang. Tak terkecuali Uni Eropa dan Mesir. 

Peristiwa Al-Nakba 1948 tintanya masih basah di buku sejarah Palestina. Yang kering hanyalah hati mereka yang ingin menghapuskannya dari ingatan dunia. Karena Al-Nakba, sudah memberi pukulan telak ke muka para pemimpin-pemimpin negara Arab. Perasaan warga Arab saat itu begitu geram dengan para pemimpinya masuk ke arena konflik Israel-Palestina yang justru dengan kepentingan negatif.

The Arabs: A History (2011), buku tebal karangan Eugene Rogan yang mendapat banyak sanjungan dan ironis itu, mendiskripsikan bencana Al- Nakba pada satu bab padat. Fakta yang ia tulis seperti sayatan-sayatan yang begitu perih. Khususnya bagi bangsa Arab. Hampir seluruh negara-negara Arab yang bertetangga dengan Palestina berkontribusi memperburuk keadaan rakyat Palestina. Kudeta politik berdarah, pembunuhan penguasa-penguasa negara, intrik politik busuk, dan mengotori masjid Al-Aqsa dengan darah pun tak terelakan.    

Dalam suasana Al-Nakba tersebut kehendak para pemimpin Arab membantu Palestina bukan lah upaya memperbesar bala bantuan militer yang unggul sehingga kemungkinan kemenangan itu akan datang. Yang terjadi kemudian ialah pertikaian di antara mereka sendiri. Mereka pergi berperang ke Palestina saling menjegal satu sama lain. Di era ini pula yang tak boleh kita abaikan ialah sebuah faktor penting pasca Perang Dunia II: kolonialisme Eropa yang bercokol pada bangsa Arab baru saja meninggalkan tanah Arab serta melahirkan penguasa-penguasa baru dan lama yang berbentuk kerajaan, otokrasi, dan yang bersifat pragmatis.

Empat negara mandat pasca Al-Nakba saat itu: Transyordania, Mesir, Suriah dan Lebanon adalah catatan sejarah kelam bangsa Arab. Mereka dipercaya untuk bisa membantu Palestina alih-alih melahirkan bencana-bencana baru di kemudian hari.

Kepentingan-kepentingan negara-negara mandat di atas diceritakan oleh Rogan dalam nuansa novel di atas dokumen sejarah. Yordania (Transyordania) yang dipimpin oleh Raja Abdullah mendukung Resolusi Partisi PBB karena ambisinya untuk mencaplok wilayah Arab Palestina (Tepi Barat) demi memperluas wilayah negaranya yang tak pernah puas dengan pemberian kolonialisme Inggris. Presiden Suriah Syukri al-Quwwatli, ingin membendung gerakan monarki Arab yang di antaranya ialah Raja Abdullah Yordania dan ingin membangun Suriah Raya, gabungan Suriah dan Transyordania. Raja Farouq Mesir bersaing dengan Yordania menjadi negara monarki terkuat dan tergerak untuk menguasai wilayah Palestina.

“Suriah, Mesir, dan Arab Saudi diam-diam berusaha menghalangi ambisi Yordania dan tindakan mereka benar-benar merusak misi perang itu. Meskipun Raja Abdullah sebagai komandan pasukan Arab, komandan setiap tentara Arab menolak untuk bertemu dengannya, apalagi menerima perintahnya.” Tulis Rogan.      

Negara-negara Arab/Teluk melirik konflik Palestina dengan pertimbangan keamanan monarkinya, otokrasinya, hubungan dagang kekayaan minyak-gas, dan nafsu merebut kepemimpinan atas bangsa Arab. Sangat jauh dari semangat Islam yang mereka anut dalam mengajarkan tujuan ukhrawi, persaudaraan, persatuan, yang tercermin di dalam saf-saf ibadah salat yang mereka gerakan setiap harinya.

Tidak adanya persatuan di antara pemimpin negara-negara Arab dan kepentingan pribadi masing-masing turut melemahkan gerakan kemerdekaan Palestina. Sebaliknya, para aktor seperti David Ben-Gurion (pemimpin Zionis awal), Abraham Stern (pendiri kelompok ekstrimis Geng Stern), Menachem Begin dan Yitzhak Shamir (pemimpin kelompok teroris Irgun-Lehi) begitu agresif mendirikan negara Israel dengan memadukan berbagai gerakan senjata, diplomasi, intimidasi, dan terorisme.

Saat Al-Nakba itu terjadi, intelektual Arab Constantine Zurayk menerbitkan tulisan mengenai Al-Nakba berjudul, Ma’nat al-Nakba (Makna Bencana). Zurayk mengingatkan ini bukan bencana biasa, tetapi bencana besar yang tidak boleh disepelekan, karena kegagalan bangsa Arab ini akan berdampak pada perpecahan bangsa Arab di kemudian hari, tidak begitu berbeda dengan situasi di era kolonial yang baru saja mereka tinggalkan. Zurayk menawarkan konsep “Prusia Arab” melalui kekuatan senjata demi mencapai persatuan yang diinginkan.

Persatuan pemimpin Arab yang tersendat-sendat berbeda dengan persatuan masyarakat Arab dan dunia untuk menghadapi tantangan zaman modern kemerdekaan Palestina. Tak perlu muluk-muluk mengharapkan pasokan senjata canggih jika ingin melihat niat tulus para pemimpin Arab/Teluk, OKI, dan negara lainnya untuk menolong saudara-saudara mereka di Palestina. Cukup dengan mengembargo Israel, maka, peluru itu, sudah melesat bersarang di tubuh Zionis. 

Sabtu (11/11) Liga Arab dan KTT OKI Luar Biasa telah digulir. Mereka merilis resolusi-resolusi yang ditawarkan. Dalam 31 poin resolusi tersebut desakan gencatan senjata dan menyeret Israel ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) dikeluarkan. Mereka juga memberi mandat kepada 7 negara: Arab Saudi, Yordania, Mesir, Qatar, Turki, Indonesia, Nigeria dan negara-negara Islam lainnya yang tertarik.

Seperti kita tahu Kemenlu Indonesia telah membantu mengeluarkan 2 keluarga relawan Indonesia dari Gaza dengan penuh suasana dramatik dan perjuangan. Presiden Jokowi mengutuk keras tindakan Israel tapi juga masih mengimpor barang-barang dari negara Zionis. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia masih melakukan kegiatan perdagangan Internasional dengan Israel saat gempuran Zionis itu sedang berlangsung di Gaza. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan, impor Indonesia dari Israel pada bulan lalu tercatat sebesar US$2,53 juta atau setara Rp40,22 miliar (katadatacoid, Rabu/15/11). 

Dan Turki, Azerbaijan, Kazakhstan hingga hari ini adalah negara Muslim yang masih memasok minyak ke Israel.

Kini, solidaritas-solidaritas kepala negara berupa donasi yang menggebu-gebu, pernyataan resmi mengutuk, ceremonial-ceremonial seperti perhelatan KTT OKI dlsb., hanyalah hiburan sesaat atas sebuah jeritan dan tangisan rakyat Palestina. Jika negara-negara itu berniat sungguh-sungguh, yang dibutuhkan saat ini bukanlah “hadiah mainan” yang kadaluarsanya bertahan pendek. Yang mereka bisa lakukan sebenarnya bisa lebih dari itu. Jika hanya sekadar pernyataan mengutuk dan menyeret Israel ke pengadilan Internasional, PBB juga sudah mengutuk. Sudah menyerukan gencatan senjata. Sudah mengeluarkan resolusi-resolusi cantik. Akan tetapi, untuk kesekian kalinya, Israel masih bebas melanggar semuanya. 

Sebelum peristiwa serangan taufan Hamas 7 Oktober, sederet pemimpin Arab dan Muslim menjalin/menjajaki serangkaian hubungan diplomatik dengan Israel. Hingga tulisan ini dibuat, kita masih bisa mengakses di pencarian googlemisalnya, terdapat beberapa tajuk berita dan sesi foto momen perjumpaan para pemimpin Arab duduk bersama Netanyahu. Kesepakatan mereka (menjijikan) telah dihaluskan dengan istilah “normalisasi”. Apakah semua ini tak menyisakan beberapa pengertian mengapa kita tak perlu kaget jika Hamas melakukan aksi heroik tersebut.

Atau jika negara-negara Arab itu ingin terlibat dan berdampak langsung menolong saudara-saudaranya digenosida oleh Israel mengapa mereka tidak blockade saja minyak, gas, dan jalur-jalur (darat maupun laut) yang menyokong mesin perang Israel untuk membunuh orang-orang di Gaza? Bukan kah minyak dan gas adalah bahan bakar untuk mesin-mesin pesawat tempur, tank, listrik, yang digunakan Israel melancarkan genosida di Gaza?

Lain hal dengan negara-negara Arab/Teluk yang pemimpinya menyatakan solidaritas serba tanggung, serba tidak taktis, terkesan sekadar gimmick dan tak begitu berdampak. Negara-negara Barat seperti Inggris, Prancis, Kanada mengambil posisi yang sangat terang, blak-blakkan dan tak kalah memalukan di konflik Israel-Palestina. Mereka yang mengaku sebagai jangkar bangsa besar, sebagai rujukan utama demokrasi, berbudaya lagi beradab itu melumrahkan pembantaian massal yang terjadi di Gaza dengan menggenggam sikap denial dalam satu kata kunci seragam: Semua ulah teroris Hamas.

Investasi yang jorok adalah ide busuk para sekutu: Amerika Serikat, negara-negara Barat, dan PBB (Persatuan Bangsa-bangsa) menggunakan standar ganda terhadap Israel. Perang Rusia-Ukraina sebagai bukti bahwa sekutu itu begitu mudah memberi stempel pelanggar HAM kepada negara lawan mereka. Sebaliknya, negara kawan mereka akan dilindungi bahkan disokong secara besar-besaran baik berupa pasukan, dana, maupun senjata.

Contoh lain dari cara-cara kotor selain standar ganda mereka ialah stigmatisasi terhadap militant pembebasan Palestina. Sebelum menuju solusi klasik resolusi-resolusi perdamaian, Israel dan Amerika Serikat beserta negara-negara sekutunya telah menggunakan kanal-kanal media sebagai alat tempur mempropagandakan berita-berita palsu. Dan pada akhirnya, berapa puluh lagi resolusi-resolusi PBB yang disusun seperti sungguh-sungguh namun juga membiarkannya untuk dilanggar oleh Zionis?

Peristiwa serangan taufan di perbatasan Gaza-Israel 7 Oktober 2023 yang menjebol tembok raksasa Zionis seakan membuka mata dunia; bahwa tembok keras pertahanan, militer paling kuat di dunia, dan senjata tercanggih yang dimiliki Israel ternyata tak sekuat yang kita bayangkan. Hamas, salah satu organisasi militant pembebasan Palestina yang markasnya berada di dalam terowongan (seolah mengupgrade kembali strategi Perang Parit/Khandaq yang diinisiasi sahabat Nabi Saw. Salman al-Farisi), menyusun strategi, mendengarkan arahan kepemimpinan yang semuanya dikontrol di dalam topeng keffiyeh. Sebagaimana filsafat tempur topeng-topeng Zapatista, “Semakin kamu tersembunyi, maka lawan semakin sulit memerangi”.

Meski tak bisa dipungkiri, dampak dari serangan taufan 7 Oktober tersebut begitu tragis. Menurut United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) tercatat hingga 15 November 2023 korban jiwa Palestina di jalur Gaza mencapai 11.261 orang. Belasan ribu masyarakat sipil yang tewas tersebut banyak diakibatkan oleh serangan rudal Zionis. Lebih dari separuh jumlah korban ialah bayi dan anak-anak. Korban sipil lainnya meliputi perempuan, lansia, pekerja medis, jurnalis, rumah sakit yang berisi pasien dan pengungsi, kamp pengungsian yang di sana ada manusia, ambulan yang sedang mengangkut pasien adalah korban dari kebiadapan Zionis. 

Inilah sebuah konsekuensi di luar perhitungan dan nalar kemanusiaan. Namun, bagaimanakah sikap kita seharusnya? apakah kita juga mudah latah mengentengkan telunjuk ke arah Hamas sebagai dalang dari semuanya?

Tindakan keji Zionis ini bahkan sulit tergambar pada dongeng apa pun dan sepertinya belum ada terjadi di mana pun, terkecuali di Gaza. Jangankan manusia, iblis pun sulit ada di dalam imajinasi kita yang tega melakukan pembunuhan bersenjatakan rudal yang menyasar bayi/anak-anak yang bahkan belum memiliki otot buat melempar batu ke wajah tentara IDF.

Kisah perempuan Palestina macam Laila Khaled yang membajak pesawat dua kali (Agustus 1969 dan September 1970) selain sulit terjadi lagi juga tidak mudah dilakukan oleh siapa pun saat ini. Kepada wartawan Free Arab Voice, Ibrahim Alloush, Laila mengatakan tujuan pokoknya membajak pesawat, “Pada saat itu, bangsa Palestina hanya dihargai sebatas pengungsi. Padahal, kami adalah sebuah bangsa.” Dan tujuan keduanya ialah membebaskan tahanan politik Palestina di penjara Israel. 

Aksi Laila mungkin terlalu berisiko untuk kita tiru. Tapi, ada banyak cara-cara yang bisa kita lakukan untuk menyerang Zionis. Demonstrasi dan tekanan massa adalah cara umum. Boikot produk-produk pendukung mereka cukup baik karena hal ini bukan hanya bisa mengguncang ekonomi Israel tapi juga bermanfaat bagi mereka yang masih menerapkan konsumerisme buta. 

Dan, sebagaimana yang sudah pernah terjadi di Pelabuhan Washington, saat orang-orang mampu mencegat kapal pengangkut senjata. Seperti organisasi buruh pelabuhan Barcelona yang melarang kapal pemuat logistik perang berkeliaran di perairannya. Atau, rakyat Turki yang mengepung pangkalan Militer Amerika. Selain itu, kamu bisa membayangkan sendiri, aksi-aksi kecil macam apa dampaknya bisa menggoyang kepongahan Zionis.

Jika para pemimpin negara masih menimbang untung rugi dalam diplomasi mereka yang didikte oleh negara adidaya, maka perlawanan kita didikte oleh hati nurani yang bergetar. Agama pun kini harus mengakui, bahwa yang menggerakan dunia untuk Palestina bukan lah sekadar wahyu dan ayat-ayat Tuhan, tapi juga keputusan kemanusiaan. Itu lah senjata terakhir manusia.


Penulis: Nalar Naluri

1 komentar untuk “Rudal Palestina Adalah Kita”

  1. Ping-kembali: sleeping music

Komentar ditutup.