Suluh Pergerakan

Hisam

Rape Culture dan Kapitalisme Pendidikan

Kedua, penilaian yang berlebihan (overvalueing) terhadap individu. Biasanya terjadi pada lingkungan dengan ciri bahwa soal-soal kepercayaan atau sesuatu yang bersifat internal dan privat, justru berasal atau dipengaruhi dari tindakan eksternal. Padahal, bukankah seharusnya sebaliknya? Jadi yang hakiki justru dibaca dari tampilan luar. Lingkungan yang sarat tampilan ini membuat simbol-simbol, kode-kode, dibaca mawut. “Pakai pakaian ini ah, biar jadi beriman”. Kira-kira seperti itu gambarannya. Karena kerangka berpikir yang mawut tersebut, ketika publik melihat sebuah tampilan, maka citra dari tampilan itulah yang akan dibaca dan dilekatkan. Karena mawutnya simbol-simbol tersebut, ranah-ranah yang sebenarnya privat, dapat dicopot sedemikian rupa sehingga menjadi konsumsi publik, yang bersinergi bersama gelombang populisme dan ketokohan.

Tokoh-tokoh populis bisa ditandai dengan penandaan tampilan yang tampaknya lebih meyakinkan publik. Soal apa yang terjadi di balik tampilan itu, tidak ada yang tahu. Namun, seiring dengan bergeraknya visualitas dan teknologi dengan modal sosial dan ekonomi, lambat laun menjadi tokoh populis sedemikian tentu seolah-olah akan meningkatkan modal kultural dan simboliknya. Menurut saya, salah satu contoh nyatanya adalah “hukum” kapitalisasi Instagram. Yang ingin mendapatkan pundi-pundi dari Instagram (bahkan pundi-pundi pada kehidupan nyata sehari-hari) tentu harus meningkatkan citra yang tampil. Celakanya, seiring dengan hal itu, terjadi pula pelekatan nilai pada tokoh, termasuk overvalueing. Karena sudah kadung lekat dengan citra-citra tertentu, individu-individu semacam ini dipaksa terus menerus untuk menggunakan pseudo-ego-nya. Yang bukan tidak mungkin, akan meledaklah represi libidinalnya suatu saat nanti.

Sampai titik ini, kita memahami bahwa ada alur rumit dari sebuah penciptaan pelaku pelecehan seksual. Demikian pula menurut Zizek. Dalam kapitalisme hari ini, kompetisi tidak hanya berlaku satu arah, tetapi multi-arah. Setiap korporasi, kelompok, individu, pemikiran, ideologi, kepercayaan, identitas, dan lain-lain turut dalam kompetisi ini. Tampilannya bisa macam-macam, namun benang merahnya, mereka yang bergerak dengan nalar kapitalis, merangkai sebab-akibat, simbol-simbol sedemikian rupa untuk mengamankan modalnya.

Tampilan-tampilan hasil rangkaian ini menghipnotis massa populer. Di lain pihak, setiap individu dalam lingkungan yang demikian juga berkompetisi satu sama lain, untuk “diterima” dalam sebuah lingkup simbolik tertentu. Entah itu diterima karena benang merah identitas, ideologi, atau bahkan sesimpel penampilan, adalah wajar bagi manusia mendambakan “diterima” oleh lingkungannya.

“Diterima” adalah dorongan libidinal mendasar selain bertahan (survive) dan bereproduksi. Namun, karena gempuran kompetisi ini, mekanisme defensif membuat si individu mengelabui dirinya sendiri, menisbikan kontrol dirinya sendiri. Ditambah dengan kapitalisme yang mengalienasi individu dari sumber produksi dan kapasitasnya (baca: sumber dayanya), hasilnya, individu dengan ego-ter-represi yang mencari rasionalitas bahwa aksi yang didasari oleh dorongan libidonya itu adalah ’normal’ dan ‘benar’, dengan merujuk pada dogma-dogma; tokoh-tokoh yang diyakini oleh lingkungan sosialnya, plus masyarakat yang mengagung-agungkan si individu dengan ego-ter-represi ini.

Di sinilah kita masuk pada spiral tanpa akhir, pada ranah ketiga; gagalnya norma sosial.

Sampai di sini, kita hafal bahwa dogma dan tokoh adalah agen-agen penghipnotis “kenormalan” dan “kebenaran” tersebut—yang bisa jadi ada, dibuat, karena dan oleh dorongan libido dari individu lain dengan ego-ter-represi. Pada individu yang sehat, terjadi internalisasi norma sosial yang setelah adanya pembacaan bolak-balik antara teks dan konteks. Itulah individu yang berpikir, yang mengalami kesadaran. Pada pembentukan dan multiplikasi pseudoego-pseudoego, normalisasi hasrat libidinal membuat internalisasi norma yang jauh dari norma sosial. Jika pun mungkin, internalisasi norma sosial berlaku akontekstual.

Dengan kata lain, norma sosial yang seharusnya menjadi mediasi realitas dan individu, justru dikaitkan dengan hal-hal di luar realitas, misalnya pada paska-kematian. Ketika ada seorang tokoh yang sebenarnya ego-ter-represi, mencaplok sebuah dogma dengan tujuan ‘glorifikasi-aku’ yang lebih besar, dalam komunitas akontekstual pengikut tokoh tersebut juga akan memutilasi dogma sebelum mencaploknya untuk tujuan yang sama. Mudahnya, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Di sinilah, terjadi pembentukan identitias artifisial pada individu (secara massal dan berulang). Superego by default. 

Menariknya, tidak semua dogma alias hasil mutilasi dari norma sosial ini bertampilan monster. Justru, dalam lingkungan kapitalis, “yang menjual” adalah dogma puitis dari ideal yang jauh. Utopia. Gambaran ideal. Gambaran surgawi. Dalam lingkungan semacam ini, kebohongan umum jauh lebih bisa diterima daripada kebenaran, yang pada akhirnya memupuk perkembangan superego-superego menjadi semakin tumbuh besar dan menyebar luas.

Yang demikian, bukankah sering kita jumpai dalam masyarakat konsumeris yang lebih sering merasa khawatir seperti masyarakat kita hari ini? “Daftarkanlah anak Anda pada sekolah A—dengan izinNyamenjadi insan yang gilang-gemilang seperti zaman keemasan –PS: uang pendaftaran sekian”. Celakanya, serigala berbulu domba ini dianggap sebagai domba betulan. Tidak pernah; strategi dan tujuan dibaca bolak-balik. Orang tua, anak, dan institusi pendidikan mabuk mimpi. Dan, norma-norma yang seharusnya berposisi memediasi realitas, justru merepresi realitas dan membesar-besarkan ideal yang jauh.


Zizek menjelaskan, bahwa superego terbentuk dalam lingkungan sosial yang selalu merasa bersalah (shared-guilt-society), bahkan fetis terhadap rasa bersalah tersebut. Shared-guilt-society “menyembah” rasa bersalah dengan justru fanatik menjadi anti-salah. Di sinilah benih-benih trauma disebarkan. Justru karena tidak mungkin ada manusia yang sempurna benar dan lurus, rasa bersalah semakin membesar dan nyata. Banyak usaha-usaha yang kemudian dilakukan untuk menebus rasa bersalah ini. Analoginya mirip seperti asuransi. Tidak ada seorang pun yang bisa menjamin keamanan dan kehidupan manusia, tetapi justru karena ketakutan akan ketidakamanan dan kematian, banyak orang berbondong-bondong membuka rekening asuransi.

Pada bagian selanjutnya, Zizek menjabarkan bahwa super-ego juga berhubungan dengan perilaku sadisme. Menurut Zizek, perilaku sadisme terjadi ketika norma sosial dibajak menjadi norma milik individu. Individu ini, merepresentasikan diri sebagai simbol dari tatanan sosial. Sebagai superego, ia merepresentasikan diri sebagai simbol dari tatanan ideal. Dia adalah hukum itu sendiri. Karena ia adalah hukum, maka ia bisa bertindak lebih jauh daripada norma-norma yang ada. Dalam pandangan si superego ini, orang-orang, tindakan-tindakan, langsung dikelompokkan sesuai dengan tatanan dirinya, dan ia berhak melakukan intervensi terhadap mereka. Sebenarnya, super-ego dan hero, sama-sama berada pada titik kritis tersebut. Yang membedakan, super-ego bergerak di ranah moral dengan tindakan di luar etika, sedangkan hero, pahlawan, bergerak di ranah imoral dengan tindakan di dalam jalur etika. Sementara etika berada pada ranah publik, moral berada sewajarnya pada ranah privat. Penandaan-penandaan lewat mekanisme bahasa, misalnya hubungan sebab-akibat, pengenalan gramatikal, pemisahan makna dan kata, dan semacamnya dapat membantu mengenali perbedaan-perbedaan di atas, termasuk mengenali super-ego dan benih sadistik.

dan Kapitalisme Pendidikan

Kenyataan pahit yang harus kita telan selain bobroknya sistem pelayanan kesehatan kita hari ini, yang sebenarnya pula sudah banyak dinalar dan dirasa masyarakat bersama, adalah bobroknya pula sistem pendidikan.

Mengutip catatan lama dari Sasai Shiraishi:
“Sekolah sempat hancur pada 1965 telah dibangun-kembali dengan menggunakan retorika kosong yang mengagungkan nilai (keluarga), meskipun sesungguhnya tanpa tujuan yang jelas.

Tulisan Shiraishi yang menghubungkan maskulinitas “bapak negara” yang dimultiplikasi via keluarga dan sekolah, mungkin baik pula kita tilik kembali untuk melihat hubungan langsung kekerasan seksual dan kapitalisme pendidikan.

Bagaimanapun, sejak tahun 1965, di negara ini, seluruh lini pendidikan ditujukan untuk menyokong paradigma pembangunan. Sejak itu pula, pendidikan tidak lagi merupakan mekanisme sosial, melainkan mekanisme kapitalis. Segala capaian pendidikan diukur berdasarkan produk dan progress, yang diukur linear terhadap permintaan pasar. Tentu, dalam dunia pendidikan permintaan pasar bukan berarti langsung dan terang-terangan seperti hitung-hitungan jumlah mahasiswa pendaftar pada tahun ajaran baru, melainkan hitung-hitungan yang lebih kompleks meliputi valuasi akreditasi dan peringkat institusi.Pada kondisi yang demikian, bukankah tokoh-tokoh dan dogma-dogma yang terjadi?

Kembali ke kasus-kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang melibatkan kampus, bukankah, penandaan korps-alumni sering diperjelas, jauh melebihi perihal kasus itu sendiri? Artinya, sentimen korps dapat membentuk identitas baru yang mungkin palsu, yang dapat dipergunakan untuk memisahkan fakta-fakta, dan membentuk narasi baru sesuai dengan kepentingan yang bermaksud mencari “selamat”?

Tulisan di sini masih belum selesai. Kapitalisme pendidikan mungkin memproduksi superego-superego. Tapi bukan berarti kekerasan seksual terutama terhadap perempuan akan terjadi dan menjamur. Masih ada bagian 2 Zizek yang menjelaskan mekanisme objektifikasi terhadap perempuan yang justru bersemayam dibalik ilmu pengetahuan. Untuk hal ini, sila tunggu pembacaan berikutnya. Sampai ketemu!  J

——–

1. Slavoj Zizek: adalah kritikus ideologi. Yang menyebabkan pemikiran Zizek tidak berada dalam kurungan ideologi tertentu, melainkan terus menerus bergerak mengantisipasi pembatasan pemikiran. Tanpa pembacaan terhadap teks-teksnya secara bolak-balik, lintas-ilmu, lintas-media, kadang-kadang Zizek disalah-artikan, dikucilkan, dibenci. Namun, seperti vevo mengutip, justru itulah yang menyebabkan “superstar communist” ini dipanggil “the most dangerous philosopher in the West”.

2. Maria Adriani berlatar belakang pendidikan arsitektur dan tata kota (sangat idealis dan utopis), pernah menjadi dosen (masih tersisa hasrat untuk membikin pemahaman), dan sekarang menjadi konsultan, periset, dan pegiat kritik pendidikan via Sekolah (Bukan) Arsitektur. Sangat suka dengan fusion, ia juga seorang introvert yang ketika baterai sosialnya habis, kemudian “lari” ke K-Pop di kamar kerja yang dipenuhi buku-buku kiri. Sebagai seorang penggemar Ranciere, anehnya, kebetulan ia memiliki buku-buku Zizek lebih banyak. Lho?