Suluh Pergerakan

Puasa, Corona dan ORMAS Agama

Dunia adalah penjara dan kita semua penghuninya; galilah sebuah lubang dalam penjara dan marilah kita keluar! (Rumi)

Kita cenderung meminta kepada Tuhan seolah-olah sedang memesan makanan di sebuah restoran (Syekh Ragip Frager)

***

Saya akan memulai dengan sebuah cerita:

Dulu hidup seorang istri yang selalu melafalkan basmallah dalam setiap tindakan: ketika menyajikan makanan, saat meninggalkan rumah hingga mengunjungi kerabat selalu meluncur ucapan bismillahirrahmanirrahim. Suaminya kesal dan bosan mendengar ucapan istrinya. Menurutnya sang istri hanya melakukan kebiasaan naif. Istrinya terlalu percaya pada takhayul. Suaminya ingin memberinya pelajaran.

Suatu hari diserahkan sekantung uang pada istrinya sambil berkata “aku  ingin menanam uang ini sebagai tabungan untuk investasi. Tolong ambil dan simpan uang itu, aku akan mengambilnya lagi besok”. Sang istri kemudian menyimpan uang dalam brankas dan mengucapkan basmallah ketika memasukkan uang itu, menutup brankas hingga saat menggantungkan kunci di lehernya. Malam itu diam-diam sang suami mengambil kunci dari leher istrinya-waktu istrinya terlelap- dan membuka brankas lalu melempar uang ke dalam sumur. Suami yakin kebiasaan istrinya akan hilang.

Esok harinya suaminya meminta uang itu ke istri. Tak lama kemudian istri melangkah menuju tempat brankas. Sang istri memutar kunci brankas sambil mengucap basmallah, membuka pintu brankas membaca basmallah dan saat tanganya menggapai ke dalam mengucapkan basmallah dan dikeluarkan sekantung uang yang basah kuyup meneteskan air. Suaminya terkejut dan langsung jatuh pingsan.

Cerita itu saya angkat bukan untuk meyakinkan akan kekuatan basmallah tapi itulah Iman. Melampaui apa yang dianggap logis dan melompati apa yang disebut kelaziman. Iman itu meletupkan tindakan yang beresiko tapi memastikan keterlibatan Allah dalam segala upaya. Maka jalan terang Iman biasanya bukan sebuah perjalanan yang datar tapi loncatan kesadaran yang memahat keyakinan seseorang untuk bertindak atas nama Tuhan. Manusia bukan makhluk yang berdiri bebas, independen dan rasional semata.

Corona memberi bukti yang meyakinkan. Betapa manusia tak mampu memprediksi dengan pasti kedatangan virus yang gelombangnya menyapu ribuan nyawa. Seorang anak yang baru berusia setahun dan belum kenal dosa bisa tertempel Corona. Begitu pula seorang menteri yang makanya penuh vitamin dan kesehatanya terjaga ikut tertular Corona. Corona bertandang pada tubuh manusia tanpa mengenal usia, kelas sosial dan jabatan. Virus itu seperti dikirim dari neraka untuk memusnahkan daya tahan tubuh manusia.

Corona bukan hanya menyerang tubuh tapi membunuh banyak usaha. Pabrik ditutup, transportasi berhenti hingga mobilitas orang dibatasi. Corona mengucilkan manusia satu sama lain bahkan mendorong manusia curiga satu sama lain. Malah yang paling tragis manusia yang tewas karena Corona harus dimakamkan dengan cara yang berbeda: ditangani oleh petugas khusus, dijauhkan dari kerumunan dan dibungkus oleh plastik segala. Singkatnya manusia yang tewas karena Corona diperlakukan bukan sebagaimana umumnya.

Berhadapan dengan keganasan virus itu tiap negara punya cara yang berbeda dengan hasil yang beda. Amerika yang dikenal sebagai negara gagah dalam segala hal seperti kena kutukan: jumlah kematian yang tinggi, malah penguasanya percaya dengan teori konspirasi dan kebingungan menyalahkan sana sini. Berbeda dengan Singapura yang tampak percaya diri, mampu menekan angka korban meski muncul gejala baru yang tak mudah diantisipasi. Sedangkan kita yang kewalahan mulai optimis mampu menekan angka kematian tapi muncul kekuatiran pada penyebaranya yang meluas ke segala propinsi.

Virus itu menguras bukan hanya ketahanan ekonomi tapi batas psikologis masyarakat. Yang mulai cemas, panik dan sulit optimis. Polisi mulai menangkapi siapa saja yang dianggap buat keonaran meski malah menimbulkan kekuatiran akan matinya demokrasi. Lalu parlemen dengan gegabah membahas RUU bermasalah sehingga muncul tuduhan menyelinapkan agenda gelap dalam situasi darurat. Bahkan kepala daerah ada yang mulai mempopulerkan diri dengan menumpang pemberantasan corona. Ringkasnya naluri srigala menjalar di sebagian elite.

Iman yang meyentuh, mengubah dan menginspirasi malah tumbuh diantara rakyat. Secara berani mereka membantu tenaga medis mendapatkan APD, mendirikan dapur pangan untuk membantu yang kesusahan hingga menyediakan rumah pribadinya untuk isolasi. Rakyat yang selama ini hanya dikategorikan dalam sederet angka dalam pemilu, jamaah dalam pengajian akbar hingga nomor bantuan sosial nyatanya mampu saling menolong. Iman yang mekar dalam semangat berkurban memang butuh dukungan.

Terutama tempat peribadatan yang sekarang kosong tanpa kegiatan. Baiknya masjid jadi pusat solidaritas kemanusiaan. Infak, shodaqoh dan zakat dalam Islam sebaiknya jadi panggilan utama masjid ketimbang memberitahu buka dan sahur. Pengeras suara masjid baiknya tak lagi memberitahu orang kapan sahur dengan berulang-ulang tapi ajakan keras untuk membantu warga sekitar yang mengalami kesusahan. Takmir bekerja bukan untuk sekedar melarang warga luar untuk sholat tapi meminta siapa saja yang mengaku beriman untuk berkurban bagi kepentingan yang membutuhkan.

Fungsi maksimal organisasi keagamaan saat ini jadi mendesak dengan memanfaatkan pranata yang dimilikinya. Sekolah keagamaan yang libur dapat mulai memanfaatkan ruanganya untuk menampung yang kesulitan: terusir dari kontrakkan atau kost-kostan karena tak mampu bayar. Atau malah secara berani menggratiskan semua biaya sekolah selama Corona dengan mempertimbangan kesulitan yang dialami orang tua siswa. Minimal inilah waktunya organisasi keagamaan untuk berkorban.

Peran kritisnya diharapkan terutama dalam menekan pemerintah agar tak sesukanya menangkap aktivis. Ormas keagamaan musti memerintahkan penguasa untuk hanya fokus pada penanganan corona. Jangan diganggu oleh kepentingan nista bahas aturan yang sejak awal dipermasalahkan atau membuat aturan yang melindungi nafsu mendahulukan kepentingan diri sendiri. Sebagai ormas keagamaan baiknya kini memerankan diri seperti pemerintah: melindungi ummat, mensejahterakan ummat dan berkurban elite-nya untuk kepentingan ummat.

Yang ini tak ada sama sekali di negara lainnya. Memiliki ormas keagamaan yang besar, punya tempat peribadatan yang ada di mana saja bahkan mampu membangun layanan publik: sekolah hingga rumah sakit. Segala kekayaan atau asset organisasi waktunya dikerahkan untuk melayani ummat yang kesusahan, melindunginya dari resesi ekonomi serta mendukung rakyat yang membantu sesamanya. Iman yang tak lagi berurusan dengan retorika tapi keberpihakan yang nyata. Iman yang menyala karena meniupkan harapan bukan menambah kepanikan. (EP)