Ilustrasi | Uncyclopedia - Explore Wikis

Puasa Bisakah Merubah Bangsa Ini?

“Ya Allah, karuniakanlah kepadaku di bulan ini pemahaman dan kecerdasan. Jauhkan aku dari kebodohan dan kejahilan. Anugerahkan padaku bagian dari setiap kebaikan yang Engkau turunkan di bulan ini. Wahai Yang Maha Dermawan dari segala dermawan” -Doa harian Ramadhan

“Aku takut kenyang dan melupakan orang yang lapar” -Nabi Yusuf

“Ya Allah buatlah aku lelah dalam membagi-bagikan harta Mu, bukan lelah karena mencari harta Mu” -Doa

“Bila kita terlalu banyak bicara, kita takkan mampu mendengarkan isyarat gaib yang datang kepada kita” -Sayyid Haidar Amuli

Bulan puasa akan kita jalani sebentar lagi. Niscaya akan ada banyak kegiatan keagamaan. Mulai dari jamaah tarawih hingga buka bersama. Televisi juga akan menayangkan para ustadz yang ceramah tentang apa saja yang dikaitkan dengan puasa. Sudah barang tentu puasa akan disambut secara antusias oleh pusat belanja dan pusat makanan, mulai dari ajakan untuk menyiapkan baju lebaran hingga menu makanan berbuka. Sepertinya bulan puasa dipadati oleh kegiatan ritual yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kita pasti akan menyaksikan acara pengajian yang dipadati oleh massa. Televisi pasti akan menyajikan siraman rohani dengan para ustadz yang sudah populer di mana-mana. Bahkan acara menjelang buka dan sahur dipadati oleh pesan-pesan agama. Disajikan bisa melalui ceramah atau lewat acara yang mengundang tawa. Masjid dengan gagah menyajikan rangkaian menu acara yang mengundang ummat Islam untuk terlibat di dalamnya. Pada bulan suci Ramadhan, negeri ini akan dipadati oleh pesan kebaikan.

Pesan yang hampir tiap tahun kita jalani. Ibadah suci Ramadhan yang bertujuan untuk mendidik dan menempa keimanan. Melalui puasa kita dituntut untuk tunduk pada kebenaran, bersikap rendah hati pada siapa saja, dan menahan hawa nafsu begitu rupa. Ramadhan itu bukan hanya melahirkan kepribadian yang saleh, tapi juga sosok yang sabar, rendah hati, dan lembut terhadap siapa saja. Gunanya menahan lapar dan dahaga tak lain untuk melatih kita agar tidak rakus, tidak sewenang-wenang, dan tidak merasa benar sendirian. Puasa mendidik jiwa agar bisa rendah hati, empati, dan peduli pada yang tak berdaya dan lemah.

Lulusan Ramadhan mustinya luar biasa: orang jadi lebih sabar, orang jadi lebih rendah hati dan orang jadi lebih hati-hati. Dalam hal apa saja: bekerja, menyatakan pendapat, bahkan menanggapi berita. Karena puasa kita tak jadi berpahala bahkan tak punya artinya kalau kita masih bersikap sesukanya: marah terhadap apa saja dan gampang melempar fitnah pada siapa pun. Maka puasa itu selalu berhias pesan mulia: dituntut seorang yang berpuasa untuk berbuat baik pada siapa saja dalam bentuk apa saja. Karena itu bulan suci. Bulan yang dihiasi oleh perangai yang suci.

Kini waktunya kita untuk bertanya pada diri kita sendiri

Apakah puasa itu telah mengubah diri kita dan lebih jauh ummat Islam di sini? Setidaknya melalui puasa ummat Islam lebih peka pada sesamanya, tidak gampang marah pada yang berbeda dan tidak gampang percaya pada informasi yang belum tentu kebenaranya. Apakah memang puasa membuat ummat Islam lebih baik dari yang sebelumnya? Lebih menyukai amal kebaikan pada siapa saja yang ditemui, lebih gampang untuk berkurban bagi kepentingan sesamanya, bahkan dengan yakin akan hidup sederhana apa adanya karena memang menganggap harta berlimpah itu bukan tujuan hidupnya. Benarkah puasa yang kita jalani puluhan tahun mampu menampilkan kepribadian semacam itu?

Apa memang puasa ini telah mengubah mereka yang dipanggil dengan sebutan ulama? Mereka yang punya pengetahuan agama lebih, punya akhlak yang lebih luhur, dan bisa jadi panutan bagi siapa saja. Mereka yang hari ini memenuhi masjid dengan ceramahnya, memadati stasiun televisi dengan dakwahnya dan menghiasi media sosial lewat nasehatnya.

Apa benar mereka -kaum ulama- hari ini bisa berperan sebagai pelindung bagi yang minoritas, bagi yang lemah, dan bagi yang teraniaya? Apa memang -kaum ulama- bisa berperan sebagai pembela mereka yang digusur tanahnya, dilukai HAM-nya, dan dinodai kepercayaannya? Kurasa yang bisa menjawab adalah mereka yang menyebut dirinya Ulama!

Apa puasa juga merubah sikap dan perangai politisi, pejabat dan penguasa. Biasakah puasa ini membuat mereka menahan diri dari melempar cacian, melempar tuduhan, dan melempar prasangka? Mampukah puasa itu membuat mereka hidup sederhana, apa adanya, dan tidak ingin mencuri uang negara sama sekali?

Bisakah puasa ini menuntun mereka untuk menjadi tauladan, bukan bahan olok-olokan apalagi bahan ejekan warga negaranya sendiri? Mampukah puasa ini membuat mereka menyatukan pandangan, menyatukan langkah, dan menyatukan solidaritas walau pilihan politik atau sangkar politiknya berbeda? Bisakah puasa ini membuat mereka berkata lebih jujur, lebih tulus, dan lebih beradab? Puasa ini mampukah membuat para pejabat publik menunaikan amanahnya?

Bagi masjid yang jadi pusat kegiatan keagamaan mampukah puasa ini menampilkan acara yang bisa diikuti oleh semua kalangan bahkan yang berbeda agama? Bisakah pesan keagamaan itu didengarkan oleh siapa saja termasuk yang beda keyakinan? Kalau itu memang pesan kebaikan bisakah itu diutarakan dalam bahasa yang sopan, indah, dan sejuk?

Jika puasa itu memberi kebaikan, mampukah masjid menjadi tempat berlindung bagi yang miskin, terpinggirkan, dan mereka yang teraniaya oleh pembangunan? Akankah masjid menjadi pusat pengetahuan dalam puasa ini sehingga jamaah bukan saja bisa lebih banyak gunakan akal tapi juga dapat meredam emosi yang menggebu-gebu? Benarkah masjid memang menjadi rumah Allah dalam makna yang sebenarnya? Memberi kedamaian untuk yang bertamu, untuk yang tinggal di sekitarnya, dan untuk siapa saja yang melewatinya?

Puasa ini apa memang mampu mengubah sekolah sehingga bisa menerbitkan siswa yang santun, beradab, dan toleran pada yang berbeda? Akankah puasa ini dapat membuat iklim sekolah menjadi tempat yang melatih kerja sama, kepedulian, bahkan kepekaan pada siapa saja termasuk yang beda agama?

Akankah puasa ini mengantarkan siswa untuk lebih mampu menahan diri dari sikap merasa benar sendiri apalagi meremehkan mereka yang punya keyakinan beda? Bisakah puasa ini membuat siswa itu terlatih untuk memahami perbedaan, mengakui keragaman, dan tidak gampang tersesat dalam keyakinan buta untuk merasa paling benar sendiri? Puasa ini bisakah mengajar mereka untuk lebih rendah diri?

Aku bisa melanjutkan pertanyaan ini pada siapa saja dengan pertanyaan apa saja. Tapi jujur aku kuatir puasa ini tak bisa merubah kita sama sekali. Bisakah kamu merasakan mereka yang miskin, terlantar, dan teraniaya itu makin terangkat harkatnya melalui bulan puasa? Kita bisa lihat kesenjangan sosial, pengangguran, dan kemiskinan belum bisa diatasi dengan mudah dan cepat. Pasti ada peran pemerintah, tapi yang lebih sulit dihindarkan adalah tanggung jawab mereka yang sudah menjalani puasa. Apa benar mereka lebih peka, lebih peduli, dan lebih simpati pada yang miskin dengan latihan lapar dan haus itu?

Aku bisa saja menyatakan jawaban pada semua pertanyaan yang kuutarakan sendiri. Tapi jujur aku ingin para ustadz yang suka ceramah di mana-mana itu menjawab dengan benar: apa yang telah diubah oleh mereka dengan ceramah yang materinya bersumber pada isi Al Qur’an itu? Mengapa ada jamaah yang masih mencuri uang rakyat dengan tanpa malu dan tanpa perlu meminta maaf pada rakyat semuanya? Mengapa ada jamaah yang gampang sekali menganiaya mereka yang berbeda agama dan keyakinannya? Mengapa ada jamaah yang mudah sekali menghasut, menipu, bahkan menggunakan dalih agama untuk kepentingan dirinya sendiri?

Bisa saja kalian berdalih dengan memakai ayat mana saja. Tapi sebenarnya aku ingin katakan apa kamu tidak malu membawakan pesan agama yang tidak engkau jalani sendiri? mengatakan kita harus berbuat adil padahal kalian sendiri dengan mudah memihak kepentingan yang berbeda dengan kepentingan ummatmu yang ada di mana-mana?

Mengatakan kita musti bersikap jujur, santun, dan sederhana tapi dirimu sendiri gampang sekali melontarkan fitnah, menyatakan pendapat yang menyakitkan bahkan memberikan kabar berita bohong yang berbahaya? Ada apa dengan dirimu yang selama ini mengaku sebagai ulama bahkan menyatakan diri di mana-mana sebagai pewaris para nabi?

Nabi siapa yang mencaci maki orang yang berbeda keyakinannya? Nabi siapa yang dengan mudah melontarkan pernyataan fitnah kepada para jamaah? Bahkan nabi siapa yang hidup berkalung kemewahan sambil ke sana ke mari menyatakan dukungan politiknya?

Jujurlah, nabi siapa yang melakukan tindakan politik tanpa penghormatan pada nilai kemanusiaan dan tanpa kerendahan hati untuk menyatakan bahwa dirinya sebenarnya bukan siapa-siapa? Nabi tak pernah sombong, nabi tak pernah mencaci maki, dan nabi selalu mampu menahan diri. Jadi siapa yang kalian tiru tindakannya selama ini? Akankah Puasa ini mengubah perangai kalian dan maukah kalian menerima kritikan ini?

Puasa ini kuajak kalian semua dan diriku sendiri untuk mengubah segalanya. Kebiasaan congkak kita untuk merasa benar sendiri. Kebiasaan buruk kita untuk merasa lebih istimewa. Keyakinan kita bahwa kita boleh menghakimi siapa saja.

Kuajak kita untuk menahan diri sejenak. Menahan untuk tak komentar yang menyakitkan. Menahan untuk tak mengobarkan perseteruan. Menahan untuk tidak mengatasnamakan agama hanya untuk mengadili seseorang yang belum tentu punya kesalahan seperti yang kita duga. Menahan diri utamanya untuk tidak merasa paling tahu dan paling paham dengan isi kitab suci.

Sekali lagi marilah bulan puasa yang datang menghampiri kita disambut dengan pertanyaan pada diri kita dan bangsa ini: apa yang telah berubah dari ummat Islam yang sudah menjalani bulan suci ini? Apakah bangsa ini moralnya lebih baik, tak ada yang mencuri, tak ada yang memfitnah, tak ada yang berseteru, dan tak ada prasangka buruk di antara sesama? Apa benar bangsa ini sudah menjalani ibadah puasa?

Biarkan pertanyaan ini kita jawab sendiri dan kuharap kalian bisa jujur menjawabnya. Ingatlah bulan Ramadhan akan datang memeluk kita lagi. Mustinya kita malu jika Ramadhan ini hanya mengubah pendapatan kita bukan mengubah diri kita apalagi bangsa ini. Baiknya kita malu kalau Ramadhan ini hanya upaya untuk menyelamatkan kepentingan dan kedudukan kita, tapi mengorbankan fitrah suci diri kita sendiri.

Ya Allah, anugerahkan padaku di bulan ini rasa sayang kepada anak-anak yatim, memberi makan kepada orang-orang yang lapar, menebarkan salam, dan persahabatan dengan mereka yang dimuliakan. Demi kemurahan-Mu, Wahai Tumpuan para pengharap.(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini