Orang-orang Oetimu | Eko Prasetyo

Orang-Orang Oetimu, Menolak Lupa Bau Bacin di Pedusunan

Jika Anda pernah hidup di Republik ini, pasti pernah menemui mereka. Minimal menjadi salah satu di antara mereka. Kalau Anda aparat, yang musti dijaga tak hanya keamanan tapi juga pikiran. Jangan sampai pikiran rakyat diracuni oleh paham komunis apalagi sparatis. Jika Anda seorang pastor, yang dijaga selain Iman juga kepercayaan. Percaya kalau aparat semua punya maksud baik walau perangainya yang kita saksikan tak baik sama sekali. Tapi jika Anda rakyat, siap-siap saja ditipu oleh keduanya: kalau tidak pastor ya aparat!

Cerita mengenai itu didaratkan pada alam NTT, tepatnya pada dusun kecil yang bernama Oetimu. Dusun yang penduduknya percaya sekaligus takut dengan aparat apa saja: polisi apalagi tentara. Seorang polisi bernama Sersan Ipi punya kesukaan memukuli siapa saja jika hatinya sedang kecut. Pria yang dilahirkan oleh seorang perempuan yang dianggap gila tapi berubah rupawan saat mandi di sungai Oetimu. Ipi dibesarkan oleh pria yang dipanggil Am Siki. Laki-laki sakti yang punya kemahiran bercerita.

Am Siki bisa memecahkan perkara apa saja. Dan mampu bercerita jorok dengan cara jenaka. Misalnya, kesukaan tentara Jepang memperkosa kuda. Ada ironi, konyol, tapi mengejek. Hanya, Am Siki percaya kalau kematiannya pasti karena pohon lontar. Orang tuanya begitu dan begitu pula kakek neneknya. Penduduk punya kisah harum tentang Am Siki yang mengalahkan pasukan Jepang. Bukan dengan pemberontakan massal, tapi tangannya sendiri.

Am Siki saksi hidup kolonialisme yang tampil terus-menerus: orang Portugis, orang Belanda, orang Jepang dan orang Jawa. Orang-orang kolonial itu punya ciri yang sama: tak mau belajar bahasa  penduduk lokal dan memaksa penduduk belajar bahasa mereka. Sudah begitu, mereka tak suka penduduk yang tinggal di pegunungan. Dianggap bahaya atau sulit diawasi, maka hunian mereka suka dibakar serta dipaksa untuk tinggal di tempat yang dapat dikendalikan.

Gaya tutur yang lincah, runtut, dan provokatif membuat novel Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi bukan hanya enak dibaca, tapi juga mengajak kita melihat masa muram Republik. Terutama pada saat Orde Baru berkuasa yang secara beringas menindas semua yang dicurigai. Penindasan itu berlangsung kejam tak hanya karena berkuasanya senjata, tapi juga aroma kecurigaan pada siapa saja. Mustahil orang bisa sabar dengan keadaan ini terutama mahasiswa.

Maria salah satunya. Aktivis perempuan yang mengingatkan saya pada sejumlah kawan di masa lalu. Kritis, tak percaya dengan agama, dan sinis pada situasi. Romo Yosef yang digambarkan sebagai pastor yang tampan dan penyabar. Didengarkan semua omelan Maria dengan rasa tertarik, penasaran, dan jatuh hati. Kobaran asmara itu meletup di ruang gereja yang biasanya dikenal suci dan tak kenal kata maksiat sama sekali. Secara berani novel ini bercerita tentang kemunafikan gereja yang diperankan para pastornya.

Campuran asmara, politik, dan suasana Oetimu yang beraroma timur menciptakan ledakan kisah yang membuat saya sering terperangah. Balutan kisahnya seperti menyadarkan pada kita kalau kekuasaan yang busuk bisa mengalir pada udara bacin di pedusunan. Mereka yang mengaku diri sebagai pastor di bawah tahta gereja yang kerapkali meniupkan bau persekongkolan. Meski gereja pula yang melindungi orang-orang yang dihantam duka.

Untungnya, tak banyak aparat suka baca novel. Setidaknya karya ini lolos, dibaca, dan kita bisa tertawa. Pada aparat yang akhir hidupnya tragis, pada aparat yang kerap memperkosa lalu imponten burungnya, pada aparat yang dicaci maki oleh Maria, pada aparat yang dilukai burungnya oleh segelas kaca. Benar-benar novel yang bisa membuat kita merasa punya keberanian.

Pantas jika novel ini kita baca hari ini. Saat semua persoalan kemanusiaan mustahil bisa dipecahkan. Ketika rakyat biasa sering jadi bulan-bulanan. Terlebih ketika politik hanya berada di antara retorika, akal busuk, dan persekongkolan. Bagi saya, novel ini seperti puisi Wiji Thukul yang bersemangat, berani, dan menantang kita untuk bercerita. Saat novel ini saya tuntaskan, seolah penulis bertanya pada pembaca tentang sikap politiknya: pendukung serdadu atau penentang aparat.

Pastor berada di tengah pusaran karena memang itulah jagat politik hari ini: agama berselingkuh dengan kepentingan nista dan rohaniawannya jadi boneka penguasa. Tragis, keji, dan sadis. Kita diajari untuk membenci hal yang ditiupkan aparat berulang-ulang dan kita harus percaya pada kebohongan patrorik yang dikatakan dengan cara menjemukan.

Saya tidak kuatir novel ini tak dibaca, tapi saya cemas kalau Felix -sang penulis- mengubah minat sastranya. Penulis yang piawai meracik cerita realis dengan sindiran gaya aktivis. Kemahirannya menghidupkan sang tokoh dalam gaya yang unik, konyol, dan jenaka membuat novel ini jadi harapan baru. Harapan pada kisah kelam penguasa diktator yang dulu pernah singgah dan rasanya bertahan hingga hari ini.

Kita beruntung punya Felix. Yang tak mau memilih cerita asmara yang berakhir jadi keluarga bahagia, atau kemiskinan yang dikalahkan oleh tekad baja, atau imaginasi tentang manusia yang berubah jadi kera atau kisah kemanusiaan yang berulang sudut ceritanya. Felix memilih untuk membuat momen tentang menolak lupa, terutama pada brengseknya aparat yang telah banyak buat rakyat susah.

Makasih, Felix, kamu telah berani menuliskannya!(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika