HMI saat berdemonstrasi | Pelita Karawang

Harusnya Anak HMI Baca Novel Ini

“Manusia adalah makhluk yang gampang percaya dan harus mempercayai sesuatu: apabila tidak ada alasan yang bagus untuk percaya, dia akan puas dengan alasan yang buruk” -Betrand Russell

Saya dulu kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII). Kampus tempat lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hingga sekarang inilah organisasi mahasiswa yang berpengaruh di sana. Tak ada pimpinan lembaga UII kecuali yang berasal dari HMI. Ibarat gerakan, maka HMI telah melampaui semua periode kekuasaan. Kini banyak alumninya duduk menjadi apa saja: pejabat dan penjahat. Dan novel ini bercerita tentang pendirinya: Lafran Pane.

Saya mengenal nama itu sejak kuliah. Pria yang menjadi pemrakarsa lahirnya HMI. Dihormati oleh siapa saja dan pernah duduk sebagai Dewan Pertimbangan Agung (DPA) di masa Soeharto. Kehidupanya tak banyak saya kenal. Beruntung ada novel berjudul Merdeka Sejak Hati karya Ahmad Fuadi yang mengisahkannya dengan simpatik dan indah. Saya seperti menjumpai pria yang selalu disebut pada tiap latihan training HMI. Pria yang ternyata punya masa lalu yang kaya.

Kakak kandungnya seorang pujangga angkatan 45 yang sudah jadi legenda: Sanusi Pane dan Armijn Pane. Teryata bapaknya, Sutan Pangurabaan, orang Siporok yang berada di kaki gunung Sibualbuali, menamakan Lafran Pane dari nama peraih nobel. Singkatnya, sejarah keluarganya memang sudah populer dan terkenal sebagai golongan terpelajar.

Tapi Lafran Pane bukan anak yang sedari kecil patuh. Ia seorang anak yang merasa kecewa karena bapaknya nikah lagi. Bahkan pernikahan itu terjadi saat ibunya masih hidup. Kematian ibunya memukul jiwanya dan membentuk kepribadian sebagai pemberontak. Hanya bersama neneknya, Lafran dipelihara dengan kasih sayang yang luar biasa.

Hanya Lafran memang bukan anak penurut dan gampang percaya. Lebih memilih berpetualang dan tak begitu menyukai sekolah. Sering bolos lalu menghabiskan waktu untuk bermain. Kebiasaan kacau itu bisa bertahan lama dan bahkan ketika dirinya tinggal di Medan bersama kakaknya. Lafran menolak untuk tunduk dan taat.

Alur cerita novel ini seperti urutan tangga: teratur dan tertib. Dituturkan melalui Lafran Pane dan puteranya Iqbal. Begitulah kisah ini terlampau manis: anak bengal, kemudian sadar, dan memutuskan untuk berubah. Tak hanya berubah, tapi merintis organisasi mahasiswa Islam yang sampai sekarang banyak pengikutnya: HMI. Lafran dianugerahi usia panjang. Tahun 1991 meninggal, persis setahun setelah saya kuliah di UII.

Hanya, sebagai novel kisahnya tak terlampau dalam serta meyentuh. A Fuadi kurang mengangkat sisi dilematis ketika HMI musti menerima azas tunggal dan bagaimana konflik melanda tubuh organisasi ini. Babak menentukan sebagai aktivis HMI baik ketika berdiri, tumbuh, dan berkembang kurang disentuh banyak oleh novel ini. Kekuatan novel ini malah cerita Lafran waktu masih remaja dan bocah.

Agak bengal, ikut tinju. hingga tak cocok dengan saudara kandungnya. Pada sisi ini, kisah novel ini berjalan lembut, kaya, dan penuh kejutan. Tetapi saat merintis HMI kisah itu jadi lebih tertib, alurnya terlalu rapi, dan kita jadi tak melihat bagaimana dilema, tantangan, dan kegelisahan seorang aktivis. Padahal itulah masa Indonesia yang genting: jatuhnya Orde Lama dan bangkitnya Orde Baru.

Periode penting lahirnya HMI saat Indonesia sedang diguncang pencarian identitas. Jika membaca ucapan terimakasih, sepertinya penulis banyak mewawancarai anggota HMI saat itu dan tak meluaskan narsum pada kelompok yang keberatan atau mengkritik HMI. Meski ada kisah tentang mereka yang tak mendukung pendirian HMI, tapi cerita ini hanya seperti ‘bumbu’.

Novel ini persis seperti buku sejarah lainya: menampilkan sisi yang nyaris sempurna dari seorang Lafran Pane. Pribadi yang sederhana dalam hidup, tak terobsesi dengan jabatan, bahkan karir yang digemarinya hanya dosen. Tauladan yang militan ini kelak diwariskan pada kadernya, yang sangat saya hormati dan muncul dalam novel ini yakni Said Tuhuleley. Terus terang, saya trenyuh menyaksikan beberapa adegan di dalamnya.

Bukan saja menampilkan ketenangan, kesabaran, tapi juga kesederhanaan Lafran Pane. Mungkin tampilan cerita ini mengkritik para aktivis HMI yang mapan dan punya jabatan. Didirikan organisasi ini oleh seorang yang pikirannya sederhana dengan perangai yang santun. Kini organisasi HMI melahirkan banyak orang yang tampaknya melupakan jejak indah yang ditegakkan oleh Lafran Pane.

Membaca novel ini memang kita bisa diajak untuk merenungi perjalanan hidup seorang Lafran Pane. Bukan sosok aktivis yang pasti mahir berdebat, tegas dalam ambil sikap, dan punya pendirian yang tak gampang goyah. Tak banyak dibuka tabir bagaimana Lafran berhadapan dengan aktivis komunis atau nasionalis. Sikap penulis yang saya rasa patut disesalkan.

Karena kita bisa melihat secara lebih manusiawi seorang Lafran Pane. Terutama bagaimana dirinya ketika akhirnya mau menjabat sebagai DPA. Pada rezim diktator Soeharto yang pasti bagi Lafran jadi pengalaman dramatik yang sayangnya, sekali lagi, tak banyak dihidupkan dalam cerita ini. Rasanya kita seperti membaca novel tiga menara yang penuh motivasi, ajaran kebajikan dengan tokohnya yang serupa dengan nabi.

Sebuah novel, bagi saya punya kekuatan cerita yang utuh: dilema, keraguan, hingga gejolak suasana yang dapat membawa pembaca dalam lorong kehidupan para pelaku di dalamnya. Tokoh yang diangkat sangat menarik yakni Lafran Pane. Yang mengalami babak kehidupan yang kaya, indah, dan pasti punya renungan reflektif. Lagi-lagi si penulis tak ingin beringsut jauh dari pesan novel motivasi: berbuat baiklah pada siapa saja.

Hanya dua novel yang saya baca dari Anwar Fuadi, Tiga Menara dan kisah ini. Saya merasa keduanya punya kemiripan, tak saja pada inti pesan, tapi cara membawakan kisahnya. Sang  tokoh tampil dari masa kecil yang penuh petualangan kemudian hidup di masa dewasa dengan meraih kemenangan. Mungkin ramuan inilah yang membuat novel A Fuadi digemari.

Seperti sebuah ceramah tapi rasanya kurang greget. Seakan tokoh hidup dalam ruang sendiri lalu memerankan diri dengan sebaik mungkin sehingga realitas sekitarnya jadi mendukung peran tokoh utama. Kader kader HMI mungkin waktunya membaca novel ini, bukan belajar tentang keyakinan seorang aktivis, tapi hidup dengan akhlak yang mulia.

Bagaimanapun novel ini indah covernya, lancar dalam bercerita, dan kita, yang paling menyenangkan, bahagia akhirnya.(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika