Menikmati Tangga yang Salah karya Eric Barker | bookreviews.roseannasunley.com

Menikmati Tangga yang Salah

“Ingatlah, perilaku yang buruk itu kuat dalam jangka pendek, tetapi perilaku yang baik akan menang dalam jangka panjang” -Eric Barker

“Kualitas dari suatu masyarakat itu lebih penting daripada tempat Anda di masyarakat” Ruut Veenhoven

Sampai sekarang saya masih suka dengan buku motivasi. Ringan, unik, dan mengejutkan. Contoh yang diambil kadang membuat saya ternganga. Kesimpulan yang ditulis sering membuat saya ketawa. Terutama kalau tesisnya melawan arus pendapat umum. Apalagi kalau pandangannya membuat kita curiga pada apa yang selama ini jadi dogma. Mendaki Tangga yang Salah karya Eric Barker mengantarkan suasana yang campur aduk: konyol, mengejutkan, dan inspiratif.

Dibuka dengan cerita balap sepeda. Race Across America merupakan lomba balap sepeda sepanjang 3000 mill dalam waktu 12 hari. Sungguh balap sepeda yang mencengangkan karena tak ada waktu untuk istirahat. Pembalap boleh tidur atau istirahat tapi akibatnya didahului pembalap lain. Sudah ada yang meninggal di arena balap yang keji ini. Tapi itu semua tak berlaku bagi Jure Robbic yang memenangkan lomba ini berulang kali.

Dalam artikel yang dimuat New York Times, Don Coyle mengungkap kelebihan Jure Robbic adalah ketidak warasannya. Robbic itu saat bersepeda menanggalkan semua akal sehatnya. Ia benar-benar kehilangan kewarasan. Tapi apa memang itu resep orang jika ingin sukses? Menggandakan kekuatan sehingga melebihi kemampuan otak normalnya atau petualangan yang melampaui kemampuan fisiknya? Diseret Anda oleh temuan-temuan yang mengasyikkan pada buku ini.

Soal anak pintar sekolah. Ternyata penelitian membuktikan kalau anak pandai di sekolah lebih bisa diharapkan hidup lebih baik, karirnya konsisten, dan mudah beradaptasi. Tetapi kalau pertanyaannya: berapa banyak anak pintar itu yang mengubah dan mengesankan dunia? Jawabanya ternyata NOL! Kata risetnya, “Para lulusan terbaik cenderung tidak menjadi visioner di masa depan. . . . biasanya mereka tinggal dalam sistem, bukan mengguncang sistem.”

Mengapa? Karena sekolah mengajarkan kepatuhan bukan petualangan. Pakai istilah dalam buku ini pendidikan telah menyaring semua orang. Saringan itu yang membuat kita kehilangan manusia eksentrik. Wajar kalau model eksentrik ini yang biasanya mendorong perubahan dan secara menyolok itu muncul kalau mereka terobsesi pada proyek yang jadi mimpinya. Mau bukti?

“. . . Sebanyak 58 anggota dari 400 orang kaya menurut Forbes memiliki kekayaan US$4,8 milliar. Kekayaan ini melebihi 16,7% dari kekayaan rata-rata 400 orang yang hanya punya kekayaan US$1,8 milliar. Siapa yang paling kaya ini? Rata-rata mereka putus sekolah dan menghindari sekolah.”

Ini bukan hal baru pastinya, tapi menambah keyakinan kita yang tak suka sekolah. Hanya apa orang  seperti itu musti tak bisa cocok dengan lingkungan? Jawabanya lingkungan apa dulu? Buku ini menganjurkan kita untuk memilih kolam yang tepat. Para obsesif itu sebaiknya hidup di lingkungan yang mempercayai ide-ide liarnya bukan sebagai keanehan tapi kebaikan. Maka kebaikan penting jadi norma ketimbang curiga dan ketidakpercayaan.

Lagi-lagi buku ini memperkaya contoh. Disebutlah contoh negeri yang paling tak bahagia. Namanya Moldova, mantan Republik Uni Soviet. Negeri yang rakyatnya tak saling percaya satu sama lain. Penduduknya egois, mustahil mengajak orang untuk bertindak demi kepentingan kelompok. Mereka melihat ‘orang berbuat curang’ dan berhasil, maka konsep curanglah yang kemudian dipupuk. Curang jadi norma sosial yang diterima.

Robert Axelord yang seorang peneliti bilang, “Pada awalnya, tidak bersikap baik mungkin menjanjikan, tetapi dalam jangka panjang itu dapat menghancurkan lingkungan yang ia butuhkan untuk keberhasilannya.” Persis pada kesimpulan seperti inilah sebaiknya politisi dan elit kita membaca: jangan buat ekosistem isinya ketidakpercayaan yang dibesarkan, bukan penghormatan terhadap tatanan.

Mengapa kita butuh menjadi baik? Adam Grant sangat populer dengan risetnya orang baik yang diberinya julukan para ‘pemberi’. Ternyata para pemberi adalah orang paling sukses. Bahkan di riset lainnya pemberi yang biasanya ramah lebih panjang usianya. Tapi bagaimana menjadi pemberi? Melalui insetif keyakinan keagamaan atau kesadaran individual?

Lingkungan musti dipertahankan untuk tetap mendorong orang saling percaya satu sama lain. Riset Terman membuktikan: lebih seribu orang dari orang muda sampai meninggal, menyimpulkan bahwa orang-orang yang mengitari kita seringkali menentukan akan menjadi seperti apakah diri kita. Jadi kita musti penting untuk memperhatikan orang-orang sekitar kita? Bagaimana kalau sekitar kita tak seperti yang diinginkan?

Optimislah! Pasti kamu bosan dengan pendapat ini. Walaupun riset menunjukkan orang optimis biasanya lebih sehat, selalu berhasil dalam negosiasi karena kepercayaan diri dan biasanya mereka lebih beruntung. Apa yang membedakan orang optimis dan pesimis? Buku ini berikan data riset Seligman yang ketika orang dihadapkan musibah maka kaum pesimis dan optimis berbeda.

Yang pesimis bilang kalau peristiwa buruk terjadi maka itu bisa bertahan selamanya, disebabkan oleh semua orang yang bukan dirinya dan merasa dirinya tak mampu. Lalu orang optimis menganggap semua masalah sulit itu sementara, pasti ada jalan keluar dan meyakini kalau diri kita mampu mengatasinya. Gaya penjelasan dalam melihat kenyataan akan mempengaruhi kita dalam berhadapan dengan masalah.

Contoh populernya adalah Frankl yang berhasil hidup di tengah tahanan keji Nazi. Katanya kita harus hidup lebih besar daripada diri kita sendiri, sehingga kita rela untuk mengorbankan dan bertahan dalam segala kondisi. Kalimatnya yang suka saya kutip, “Segala sesuatu yang memiliki terang haruslah mengalami pembakaran.” Nah pembakaran itulah yang membuat kita mahir menciptakan kisah fiksi tentang diri sendiri.

Beda dengan orang optimis yang memang lebih akurat dan realistis, tapi bisa berakhir dengan depresi. Psikolog Shelley Taylor bilang, “Benak yang sehat menceritakan dusta yang menyimpang kepada diri  sendiri”. Masing-masing kita ternyata perlu memiliki kisah fiktifnya sendiri. Tapi kepada siapa kita cerita itu semua? Buku ini seperti kitab para aktivis: mari kita berjejaring.

Itulah Abraham Lincoln yang habiskan 75% waktunya untuk bertemu dengan orang lain. Ia suka bilang, “Jika Anda ingin membuat seseorang bergabung dengan perjuangan Anda, pertama-tama yakinkan dia bahwa Anda adalah teman yang tulus.” Kuncinya lagi-lagi bertemanlah dengan sebanyak-banyak orang melalui sikap yang optimis dan hangat.

Deretan buku ini bukan berisi petuah tapi keyakinan yang didasarkan atas penelitian yang unik. Kalau Anda suka baca buku motivasi pasti tak lagi asing dengan sejumlah penulis yang kini populer dan sering jadi kutipan buku ini. Bahkan di beberapa bab akhir buku ini menyorot suasana hidup masyarakat yang mulai berbahaya. Tak lagi hangat dalam keluarga, selalu merasa tamak dengan apa yang ingin dimiliki, dan percaya pada informasi yang tak akurat sama sekali.

Masyarakat yang diistilahkan oleh Ralph Waldo Emmerson, “Kita selalu bersiap untuk hidup, tetapi tidak pernah benar-benar menjalani hidup.” Ukuran kesuksesan kita pada hidup jadi sangat terbatas: uang, ketenaran, dan kepemilikan lebih. Padahal itu semua konyol, palsu dan hanya terbatas pada ukuran harta saja. Kita memerlukan hal yang melampaui itu semua. Berpalinglah penulis pada pemenang nobel Herbert Simon.

Itulah yang dinamai dengan ‘memaksimalkan’ dan ‘memuaskan’. Memaksimalkan adalah menjelajahi semua pilihan, menimbangnya dan berusaha mendapatkan yang terbaik. Sedang ‘memuaskan’ memikirkan apa yang Anda butuhkan dan memilih pilihan pertama yang memenuhi kebutuhan itu. Kata sang penulis ‘memuaskan’ adalah hidup dengan cukup baik.

Memaksimalkan membuat kita selalu tidak merasa puas, dituntut untuk lebih dan biasanya kita sering menyesal. Beda dengan memuaskan yang membuat kita jadi membatasi diri, jadi mudah untuk menerima dan merencanakan segala sesuatunya dengan lebih bijak.

Menyantap buku ini seperti mendapatkan siraman rohani. Kudapan yang nikmat sembari dikunyah dan kita bisa mendapatkan aneka rasa yang meriah: kecut, manis, dan pedas. Ternyata buku ini membuat kita jadi merasa beruntung atas pemahaman segar, baru, dan jenaka yang kita dapatkan. Tawaran hidup bahagia tanpa tekanan yang bahaya! “Ketika Anda ingin membuat seseorang bergabung dengan perjuangan Anda, pertama-tama yakinkan dia bahwa Anda adalah teman yang tulus.”(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini