Suluh Pergerakan

Mengapa Kita Wajib Nonton Film Bad Genius?

“Bertindaklah seolah yang Anda lakukan membuat perubahan. Demikianlah adanya” (William James)

Ada lima alasan kenapa kita musti nonton film ini. Bukan karena film ini bagus atau populer tapi memang ini film yang istimewa. Menyoal pendidikan yang langka sekali dijadikan bahan cerita. Paling legendaris adalah Laskar Pelangi tapi paling tajam adalah film Hanung pertama: Catatan akhir Sekolah. Dua film yang lumayan inspiratif tapi kurang mengupas dengan berani soal seputar pendidikan. Bad Genius mengangkat topik sederhana tapi melalui bahasa gambar yang lebih tragis: akses, metode dan pendidik. Saranku ini seperti film wajib ditonton untuk kalian yang jengkel dengan sistem pendidikan terutama sekolah. Jika kusebut ada lima kelebihan film Bad Genius.

Pertama, Bad Genius menguak tentang diskriminasi pendidikan. Para pejabat pendidikan yang membeda-bedakan murid bukan berdasar kemampuan tapi kasta sosial. Mereka yang merupakan anak-anak kaya tetap mulia hidup di sekolah. Dilindungi oleh pejabat sekolah, punya banyak teman dan bisa memenuhi keinginan. Jika tak percaya lihat saja sekolah hari-hari ini: anak orang-orang kaya selalu punya banyak kesempatan ketimbang yang miskin. Sedari awal mereka punya modal untuk memenuhi semua keinginan: memperoleh nilai bagus, punya teman yang disuruh dan bisa punya banyak akal jika ketahuan curang. Uang itu kedudukanya mulia dimana-mana terutama di sekolah. Bad Genius menegaskan itu sekali lagi.

Kedua, Bad Genius memastikan bahwa orang miskin baru dihargai kalau pintar. Bahkan pintar sekali. Sangat genius. Dimana-mana itulah yang terjadi. Kalau anda miskin kok bodoh, apalagi sangat bodoh dan paling bodoh maka sekolah bisa seperti zona merah. Anda bisa diidentifikasi sebagai penyebar virus bermasalah. Begitu pula kalau anda miskin tapi pintar maka banyak orang akan coba memanfaatkan. Orang miskin semua tahu pasti punya banyak keinginan terutama uang. Guna memenuhi kebutuhan itulah orang kaya yang pandir bisa memberinya pekerjaan dengan memerankan orang miskin untuk jadi pelayan. Melayani kebutuhan orang kaya untuk tampak pintar, cemerlang dan bisa menyelesaikan semua soal pelajaran. Bad Genius menampilkan itu dengan caranya yang vulgar.

Ketiga, Bad Genius memastikan betapa sistem ujian itu brutal, kejam, tak manusiawi dan kurang menghargai beragam kemampuan siswa. Sekolah hanya punya sistem peragaan kecerdasan tunggal yakni kemampuan menjawab soal ujian. Seolah ujian itu kriteria yang bisa memastikan apakah anak berada di posisi yang bodoh, pintar atau cerdas sekali. Ujian seperti alat penyeleksi yang sahih dimana setiap siswa akan mengetahui kemampuanya, dipastikan urutan ke berapa dan dimudahkan untuk melanjutkan pendidikan ke strata berikutnya. Semua upaya belajar dalam bentuk apa saja akan berakhir di hari ujian. Ujian seperti zona paling akhir untuk memastikan kemampuan siswa. Bad Genius melukiskanya dengan menarik.

Keempat, Bad Genius menganggap kegiatan menyontek itu patriotik, penuh taktik dan sangat heroik. Anda akan disuguhi berbagai model cara meyontek yang simpel sampai yang canggih. Seolah inilah kegiatan dimana anak-anak itu bisa belajar akan arti pendidikan dan hidup yang sebenarnya. Perlu banyak taktik, bisa melibatkan sebanyak-banyaknya orang dan sarat dengan pertimbangan matang. Meyontek bukan pekerjaan haram tapi satu-satunya kegiatan yang membuat anak merasa merdeka karena mampu menaklukkan sistem yang selama ini mendominasinya. Meyontek seperti aktivitas yang menggairahkan bahkan melebihi kegiatan belajar sekalipun.

Kelima, Bad Genius memastikan bahwa siswa bukan guru yang jadi subyek pembelajar. Para siswa yang percaya kalau meyontek itu kegiatan yang patut dilakukan di tengah sistem sekolah yang hanya punya jalan tunggal untuk dianggap pintar. Meyontek itu seperti senjata perlawanan anak sekolah. Melalui meyontek anak-anak itu melawan bukan hanya guru, pengawas tapi juga sistem pendidikan yang belakangan tidak menghargai potensi unik mereka. Meyontek seperti sebuah sikap pemberontakan yang jauh lebih menusuk ketimbang membolos. Dalam kegiatan meyontek semua ketrampilan dikuasai dengan mahir: belajar memanipulasi, memastikan akurasi bahkan bagaimana mengatasi segala pengawasan yang dilakukan oleh sekolah.

Banyak hikmah yang dapat dipetik dari film ini. Setidaknya kalau ada guru, orang tua atau pejabat pendidikan yang menontonya. Film ini hanya mengulang kembali kritik lama tentang sekolah yang selamanya bisa menjadi ruang hampa bagi peserta didik jika kemampuan anak diukur dengan indikator tunggal. Sekolah bukan sebuah rutinitas dimana guru memegang peran dominan dan sekolah juga bukan alat ukur loyalitas dimana pejabat pendidikan seenak-enaknya gonta ganti kurikulum. Sekolah selamanya adalah upaya untuk mempertahankan siswa agar menjadi dirinya sendiri, dihargai potensinya dan diberi akses yang leluasa untuk mengekspresikannya. Sekolah itu ladang untuk meraih pengalaman ketimbang ajang untuk memastikan kita bisa mengalahkan siapa.

Mumpung semua sedang belajar di rumah, bekerja di rumah dan nonton dari rumah maka Bad Genius bisa jadi pilihan menu anda menghindar dari pendemi. Tentu ini bukan promosi apalagi resensi tapi hanya mengajak anda untuk mengingat kembali betapa sekolah yang kini bangunanya tak ada penghuninya pernah coba kita taklukkan dengan cara kita, dengan metode kita dan melalui kerja sama diantara teman kita. Meyontek salah satunya. Kadang memang sekolah itu menjemukan tapi lebih banyak dirindukan ketika kita tahu bagaimana cara untuk mengendalikan pembelajaran. Sebuah film yang menjanjikan untuk anda yang punya kemampuan biasa-biasa saja tapi tetap merasa diri istimewa. Lebih baik tonton sekarang juga sebelum Corona mencengkram kita! (EP)