Avengers Money | Following The Nerd

Mengapa Anda Tak Perlu Menonton Avengers: Endgame

“Hidup terus berlanjut. Apakah hidup itu bermanfaat, tergantung kamu menyikapinya” -Captain America

Saya menonton film ini. Di minggu pertama. Tiketnya beli lewat Go-Pay. Duduk di kursi belakang. Menemani anak saya yang sejak dulu gemar film ini. Kesan saya: menghibur, dramatik, dengan adegan yang luar biasa. Tapi memang itulah resep jagat Marvel. Kita diberi santapan cerita yang bisa buat sedih sekaligus kita diyakinkan kalau hidup itu memang butuh super hero. Dan Super Hero tak perlu bisa segalanya. Ia bisa kehilangan, bisa mati, dan bisa putus asa. Tapi super hero tetap menang pada akhirnya.

Yang saya takjub, memang penonton seperti saya dan yang lain, rela antri jam berapa saja demi menyaksikan adegan tim Avengers. Saya nonton karena nemani anak dan ingin tahu kelanjutan kisah sebelumnya. Dan mungkin penonton lain punya alasan yang tak sama. Tapi semua penonton siang hari itu merupakan ‘korban’ dari pertarungan para Avengers dan Thanos. Mereka seperti umat yang menunggu perhitungan akhir dari Thanos yang sudah melenyapkan sebagian pahlawan, dan punggawa Avengers yang pasti tak mau menyerah.

Kisah ini telah menjerat banyak warga dunia untuk terlibat di dalamnya. Jeratan yang menyenangkan karena mereka seperti berada dalam kampung yang sama dengan anggota Avengers maupun Thanos. Mereka seolah sudah hidup bertetangga lama dengan aksi para Avengers sehingga mau tahu bagaimana nasib semua super hero: Captaian Amerika apa masih memimpin? Bagaimana nasib Iron Man yang terdampar di angkasa luar? Atau Thor yang palunya ternyata tak berdaya di hadapan Thanos? Hulk apa tetap seperti dulu?

Film ini seperti ketukan pintu pada semua pecandu film agar menjenguk kabar terbaru para Avengers. Seakan hidup bisa jadi beruntung sekali karena pernah bertemu dengan Spiderman hingga Doctor Strange. Para penonton siang itu bagai pasukan yang ingin turut bertempur. Hingga ketika film usai, saya melihat ada yang puas, ada yang nangis, ada yang tersenyum, dan ada yang melangkahkan kakinya mirip Thanos. Sombong dan percaya diri. Wajar kalau semua resensi film Avengers: Endgame seperti pemujaan pada karya sinema yang nyaris sempurna.

Ada yang mengatakan ini kisah epik yang luar biasa. Bahkan para pemain, menurut berita, dilaporkan menangis setelah menyaksikan film ini. Mereka seperti keluarga sakinah yang merasa berat untuk mengakhiri kisah ini. Penonton yang membaca turut terenyuh, prihatin, dan mungkin juga merasakan hal sama. Bahwa anggota Avengers telah menemani bagian hidup mereka dan ketika kisah itu mau dirampungkan ada rasa kehilangan. Apakah itu konyol?

Bagi pecandu jagat Marvel tak ada hal konyol. Berapa pun uang tiket diminta, mereka akan iklhas memberikannya. Satu-persatu super hero itu menyita uang kita tanpa rasa kehilangan sama sekali. Spiderman yang bergonta-ganti peran telah menelan uang jajan kita, uang makan kita, atau mungkin saja uang cicilan motor kita. Hal yang sama dilakukan oleh Iron Man yang kisahnya telah menguras saku kita berangsur-angsur. Kita tak merasa kehilangan karena kita dipuaskan.

Rasa puas karena cerita yang disusun mewakili apa yang kita rindukan. Kejahatan sebesar apapun pasti musnah. Tapi kejahatan juga motif yang tak selalu buram. Thanos seperti kaum fundamentalis yang melihat dunia dalam situasi yang suram. Dirinya punya alasan pembenar kalau pemusnahan separuh populasi adalah jawaban tepat untuk hadapi krisis. Anggota Avengers tak selamanya bisa menahan serangan itu karena dirinya juga percaya kalau lawan kali ini berdiri di atas kerakusan dan kebencian yang diorganisir begitu rupa. Kita mempercayai itulah kisah hidup dunia hari ini. Kita ingin menjadi saksi atas itu semua.

Sehingga jadwal film ini -kita tak memprotesnya- mirip dengan jam ibadah: ada yang diputar sehabis subuh, sebelum dhuhur, usai ashar, hingga saat kita mustinya tahajjud. Avengers: Endgame secara mahir memanfaatkan panjangnya jam tayang itu dengan memaksa para pecandunya untuk duduk selama kurang lebih 3 jam. Sungguh ini industri hiburan yang sudah mirip dengan risalah kebaikan. Tiap orang dikawal untuk menjadi penganutnya dengan menjadikan sang super hero punya kepribadian mirip dengan para penonton.

Bisnis itulah yang dimainkan oleh Marvel. Laba itulah tujuan utamanya. Dalam sepekan, perolehan film ini mencapai sekitar Rp17 triliun. Upah para pemain juga mencapai ratusan miliar. Gaji Iron Man saja mencapai Rp35,6 milliar. Pipa pendapatan itu disumbang oleh negara semacam Indonesia yang populasi penonton film ini sangat besar. Lihat saja antrian ada di mana-mana sebelum film ini ditayangkan atau ketika ditayangkan. Kita bukan seperti melihat barisan manusia, tapi deretan konsumen yang mudah dikendalikan, diarahkan, dan dieksploitasi. Kitalah sebenarnya korban Thanos. Dilenyapkan kesadaran kita sebagai manusia yang kritis.

Tapi kita nyaman menikmati itu semuanya. Karena film ini membentuk status individu. Film ini menempatkan diri sebagai pengenal kelas sosial. Bagi yang hapal, paham, dan mengenal jagat marvel, film ini seperti penasbihan baru. Rasanya pekan ini tiap ngobrol tanpa mencantumkan kisah film ini kita seperti hidup di planet yang lain. Marvel telah menghimpun kesadaran kita bukan lagi sebagai warga sebuah negara, tapi pendukung utama bisnis Marvel. Bayangkan Marvel tidak hanya sebagai produsen film, tetapi pengawal risalah kebenaran yang dipolakan melalui para utusannya.

Yang berubah bukan cara kita memahami kebenaran, tapi cara kita melihat kenyataan. Marvel mendidik kita begitu lama, aktif, dan terus-terusan. Super hero itu sudah menjadi ‘guru’ bagi anak-anak dan orang dewasa. Panduan hidup mereka telah jadi kiblat cara bergaul dan berinteraksi. Bahkan masalah yang kita hadapi rasanya musti diselesaikan dengan cara super hero: bertarung habis-habisan tanpa peduli jatuhnya korban. Marvel sebenarnya punya niat untuk membentuk tatanan baru.

Jadi jika anda belum menonton film ini itulah cara ‘pemberontakan’ terbaik. Kita bisa membangkang, tidak patuh, dan tak harus percaya. Pada Marve yang telah menciptakan narasi yang semu tapi berbahaya. Bukan pada Iman tapi rasa imaginasi yang sudah dijajah begitu rupa. Jika anda memilih untuk tidur, ngaji, atau nongkrong ketimbang antri karcis Avangers: Endgame, maka putusan itu luar biasa. Anda telah mengalahkan para jagoan Avengers dan Thanos, serta yang lebih penting lagi tak menambah laba Walt Disney.

Ingatlah, Walt Disney telah membeli Marvel dan kalau Anda menonton semua karya mereka maka Anda pun sudah dibeli oleh mereka. Tapi siapa yang mau percaya dengan logika ini?(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika