gbr-google-edit

DIRIKAN HARAPAN ‘YU PATMI

 

Manusia terbaik adalah seorang mukmin yang berilmu. Yaitu jika dibutuhkan, maka ia berguna bagi sesamanya. Namun , jika tidak sedang dibutuhkan, ia dapat mengurus dan mengendalikan kebutuhan dirinya sendiri – (Rasulullah SAW)

***

Saya tak mengenalnya. Tak pernah ikut aksinya. Tapi saya tahu apa yang dilawanya. Saat mana Pabrik Semen itu ingin berdiri. Menghapus tanah yang selama ini menghidupi saudara-saudaranya. Yu Patmi dengan berani menyemen kakinya untuk menyatakan protes. Solidaritasnya membentang melebihi kepentingan dirinya sendiri. Tuhan ingin Yu Patmi pulang untuk jadi tauladan. Bahwa melawan itu bukan milik orang berpendidikan dan tak hanya bisa dilakukan oleh buruh atau mahasiswa semata.

Yu Patmi menghidupkan keyakinan lama tentang perjuangan. Yang tidak didasarkan  pada manifesto semata. Yang tidak dimotivasi oleh keyakinan agama melulu. Melainkan kesadaran atas sebuah masa depan. Dimana kehidupan yang tidak dirawat dengan penghormatan pada alam akan jadi hidup yang bersandar pada kerakusan semata Demi untuk keyakinan itulah dirinya datang ke Ibu Kota: protes di depan istana. Tuhan mencintainya dengan menjemputnya segera.

gbr-google.com

Yu Patmi kini ingin mendirikan musholla. Jika pabrik berdiri dengan motif pembangunan. Musholla berdiri diatas keyakinan sederhana: kebenaran itu tak bisa dimusnahkan. Melalui Musholla Yu Patmi ingin memberi pesan: manusia itu jangan tamak dan penguasa itu tak selamanya berkuasa. Musholla berdiri tidak dengan menggusur, tidak musti membasmi sawah dan tidak pula menganiaya warganya. Musholla itu untuk mengingatkan manusia pada tapal batas hidupnya.

Musholla itu jadi cermin kemilau sebuah jejak. Kalau kebenaran itu diperjuangkan bukan karena akan menang. Kebenaran itu diperjuangkan karena kandunganya yang benar. Sedari awal perjuangan Yu Patmi bersama ibu-ibu lainya telah jadi tauladan sempurna tentang politik. Tidak untuk berebut, bukan untuk mencaci serta tidak untuk dipilih. Puncak harapan Yu Patmi adalah musholla, yang tumbuh dengan kesadaran agama yang sederhana: Iman itu bukan hanya bicara tapi mengubah kenyataan yang ada. Musholla ini dibangun untuk ingatkan kita semua:

Bahwa ambisi membangun itu jangan sesekali menganiaya hak rakyat kecil. Diingatkan oleh Yu Patmi dalam aksi menyemen kaki: pembangunan yang sepertinya ingin meraih kemajuan telah membelenggu kaki rakyatnya sendiri. Sindiran itu tak pernah mengusik sama sekali istana hingga pejabatnya. Putusan untuk dirikan pabrik seperti keyakinan yang tak bisa digugat. Yu Patmi tak pernah kecewa tapi Tuhan menyayanginya. Dibawa Yu Patmi pada rumah yang sesungguhnya, dimana para utusan Tuhan hingga pejuang kemanusiaan akan tinggal bersamanya.

gbr-google.com

Tuhan cinta yu Patmi. Bukan karena kefasihan dalam doa, tidak karena jadi pengurus organisasi agama tapi sikapnya yang begitu berani. Bersama dengan yang lain menyalakan api kesadaran. Bersama dengan yang lain mengingatkan pemodal dan penguasa. Bahwasanya tindakan memeras alam itu akan berakibat bahaya. Pola pembangunan yang membabi buta itu dapat mewariskan persoalan di masa depan. Tuhan menjemputnya ketika yu Patmi tengah berada di medan juang. Tuhan menginginkan yu Patmi jadi tauladan, contoh dan keyakinan tentang perjuangan.

Kini melalui alam yang beda Yu Patmi datang bawa pesan. Dirikan Musholla di sekitar kediamanya. Jadikan tempat itu ibadah bagi semua. Tempat manusia mengadukan keluhanya. Tempat dimana manusia memanjatkan harapanya. Biarlah protes itu tak ditanggapi, demonstrasi tak diindahkan sama sekali tapi harapan Yu Patmi pantas untuk kita penuhi. Harapanya adalah berdirinya Musholla sebagai pengingat kalau manusia itu hidupnya bukan untuk merugikan kepentingan yang lain tapi memberi manfaat bagi sesama. Musholla itu bisa jadi tempat untuk mengadu saat tak ada tempat lain untuk bertanya, bicara dan berharap.

Ajakan ini mulia bukan karena kita akan diberi banyak pahala. Atau kita akan diajak terbang ke surga. Ajakan ini mulia karena yang mengajaknya adalah almarhum Yu Patmi. Memandangnya saya jadi malu sendiri: perempuan tua yang tak goyah oleh tekanan, teguh dengan keyakinan dan tak pernah takut oleh apapun yang mengancam. Sukar bagi saya meniru tindakanya, sulit untuk saya bisa melanjutkan jejaknya tapi mungkin harapanya itu bisa saya, kita dan anda semua mewujudkanya. Musholla sederhana yang pasti banyak malaikat akan bertandang kesana.

Berdiri tidak karena maksud syiar agama semata. Berdiri karena niatan pejuang perempuan yang tuntutanya hari ini tak pernah mampu dikabulkan oleh negara. Jangan sia-siakan perjuangan Yu Patmi dengan mengabaikan pesanya. Jika kamu tak bisa berdiri protes bersamanya, kalau kamu tak berani menentang pabrik seperti dirinya: setidaknya kamu bisa membantu apa yang jadi harapanya saat ini. Berdirinya Musholla yang bisa menghimpun ketulusan, harapan dan perjuangan itu ada maknanya. Bergabunglah bersama mendirikan Musholla ini.

 

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika

Artikel Terbaru