LIBUR CORONA

Saya ingin cerita Corona dengan cara berbeda:

Saya akhirnya pulang ke rumah. Tempat yang dulu saya singgahi hanya untuk sementara. Pintu rumah itu saya ingat sekali warnanya. Batas di mana saya datang dan pergi. Berangkat di awal fajar dan pulang kadang di tengah malam. Ruangan tamu itu tak lebar tapi cukup untuk menampung tas rangsel yang selalu saya bawa ke mana-mana. Rumah itu bukan tempat tinggal tapi pemberhentian sementara.

Corona mengubah segalanya. Rumah itu jadi satu-satunya tempat teraman. Di tengah ancaman virus yang merajalela. Di saat angka kematian dan positif Corona seperti berkejaran. Tak hanya di sini, tapi pada banyak negara situasinya sama. Hanya rumah tempat teraman yang bisa menangkal masuknya virus. Tak disangka saya musti kembali mempercayai fungsi rumah. Tempat pertahanan terakhir dari petaka Corona yang kini merayap pada banyak negara.

Di rumah semuanya berkumpul: anak dan istri. Pada hari biasa mustahil kami bisa tinggal bersama agak lama. Anak yang besar tinggal di asrama dan anak terkecil sibuk dengan kegiatan sekolahnya. Istri saya juga sibuk dengan urusan sekolahnya. Kami bertemu tapi sejenak dan kami bicara tapi tak lama. Corona telah menciptakan kehangatan kembali rasa hidup berkeluarga. Corona memangkas semua rasa egois untuk kembali utuh sebagai manusia.

Sebagai manusia kita tidak terlahir sendiri. Tumbuh bersama asuhan orang tua. Dibesarkan melalui pendidikan dan lingkungan. Adalah pendidikan yang mekar bukan karena pelajaran tapi tauladan dan apa yang terjadi di sekitar. Hanya lewat Corona muncul pemahaman kalau belajar bukan hanya di sekolah saja. Pengetahuan sumbernya bukan dari guru dan kelas. Corona menciptakan kesadaran kalau belajar itu bisa dimulai dan dijalankan dari rumah saja.

Rumah ternyata mampu melakukan apa saja: belajar, bekerja, dan berdoa. Tak musti di masjid saya bertemu Tuhan. Lantai rumah itu saat dihamparkan sajadah seperti cahaya. Kening itu tunduk diatas lantai yang dulu untuk membelinya saya musti hutang ke sana kemari. Tak terasa saya dipayungi oleh atap sederhana yang kadang bocor tapi nyaman rasanya. Rumah yang sederhana itu jadi megah hingga pantas untuk memanjat doa di dalamnya.

Doa bahwa saya musti bersyukur. Atas nikmat sederhana tapi kerap saya abaikan. Rumah yang dulu jadi angan-angan kini mampu saya bangun. Rumah yang dulu sering ditinggal begitu saja kini musti dirawat. Begitu pula keluarga yang dulu kita bangun itu waktunya untuk dijaga. Disiram dengan pertemuan yang hangat, pembicaraan yang akrab dan gurauan yang lama tak terlontar. Saya seperti menyaksikan diri kembali muda.

Kembali menjadi anak muda yang menikah pertama kalinya. Punya anak lalu bekerja dengan seadanya. Kumpulkan uang sedikit demi sedikit. Lantas punya rumah dan bangga atas pencapaian itu semua. Corona telah membuat saya kembali pada titik kenangan masa lalu. Kenangan untuk percaya kalau kita semua itu bisa mendapat apa yang kita ingin. Ikhtiar itu pasti, tapi rahmat Tuhan yang bisa mendekatkannya. Musibah ini memberi makna bagi kehidupan.

Hidup itu tak sepenuhnya beraroma kemajuan, kecepatan, apalagi menjangkau mana saja. Saatnya kita berhenti sejenak dan diam beberapa waktu. Bukan untuk melompat ke arah yang lebih tinggi tapi menikmati apa yang sudah kita miliki. Saya jadi akrab dengan tetangga: berbincang, saling menyapa dan ingin mengetahui apa yang mereka lakukan selama ini. Kami tiba-tiba merekat oleh waktu yang longgar. Didekatkan satu sama lain untuk percaya bahwa kita semua selama ini meninggalkan pelabuhan yang mustinya dirawat. Saya lalu percaya memang pelabuhan itu butuh benteng yang kuat. Setidaknya agar kami semua selamat.

Benteng itu tak lain adalah menahan air bah informasi. Berita tentang Corona yang mula-mula untuk penjelasan tapi lama kelamaan membikin kepanikan. Saya memilih untuk membaca buku dengan mendengar musik. Rasanya hidup seperti kegiatan berjalan kaki setapak demi setapak. Saya mulai mendengar suara fantasi yang selama ini terpendam dan terseret oleh narasi yang saya susun sendiri. Hidup ada kalanya penting untuk keluar dari realitas sehari-hari.

 Melihat jendela kehidupan melalui cakrawala imaginasi. Rasanya seperti naik kuda bersama Don Qouijote serta merasakan hidup sebagai ksatria. Rumah bukan lagi tempat berteduh tapi ruang di mana semua penulis, pemusik, dan penyair berhamburan keluar. Kotak pandora buku-buku yang selama ini hanya disimpan itu waktunya untuk dibuka lagi. Lembar demi lembar itu bisa jadi sangkar untuk menjalani hari-hari yang rasanya menarik untuk dinikmati.

Tapi pasti tak semua merasakan seperti yang saya alami. Para pekerja informal yang memang musti keluar rumah. Hidup di jalanan karena memang itulah sandaran pendapatan. Seorang tetangga saya tetap berangkat tengah malam untuk ke pasar. Berjualan tempe dari dini hari sampai siang hari. Badai corona memang bahaya tapi jauh lebih bahaya kalau dirinya kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Persis di samping rumah saya seorang pengemudi online tetap menjalani kegiatanya.

Rasanya perih melihat itu semua. Kita butuh pemerintah tapi semua tahu pemerintah tanganya terbatas. Bukan sekedar karena terbatas dananya tapi juga tak siap sepertinya. Sisi inilah saya percaya banyak yang bisa menolongnya. Walau kecaman tentang publik yang gampang terprovokasi, gampang dibelah dan saling menyalahkan, tapi ‘mereka’ sandaran terakhirnya. Tempat di mana masyarakat bisa saling tolong, bantu, dan lindungi bersama.

Dari sudut rumah saya melihat tetangga saling bincang. Mungkin tentang Corona atau bisa jadi urusan lainnya. Di samping tempat mereka berdiri dulu ada tembok runtuh. Tembok yang melindungi perumahan dari soal keamanan. Tembok itu berdiri lagi karena gotong royong warga. Mereka memberi iuran untuk memperbaikinya. Tak lama kemudian WA saya membunyikan pesan gembira: mahasiswa membagi sanitizer dan masker gratis pada para pekerja informal.

Nyala lilin itu hidup. Bukan teriakan revolusi tapi tindakan sederhana yang berarti. Saya ingat novel karya John Steinbeck: Dataran Tortilla. Kisah sederhana tapi menggetarkan. Tentang para penganggur tapi suka berbuat baik dengan sesama kawannya. Rajutan kisah itu yang membuat saya sadar bahwa bukan heroisme megah yang kita tunggu tapi perbuatan simpel, meyentuh, dan membantu. Kumpulan perbuatan itulah yang saya saksikan hari-hari ini.

Relawan yang membuat situs tentang Corona. Anak-anak muda yang membuat komik untuk mengisi waktu di rumah. Hingga pembelajaran yang dilakukan melalui media online. Hampir semua ingin berbuat. Dan itu kebanyakan dilakukan dalam rumah. Dari ruangan mana saja ternyata semua dapat dicipta: situs, komik hingga memanjatkan doa. Corona nyatanya bisa membuat kita jadi manusia berbeda. (EP)