Suluh Pergerakan

Lelaki Yang Berpusaran Dua Di Kepalanya

Oleh: Melki AS (Pegiat Social Movement Institute)

“Tak semua perjuangan itu mendapatkan hasil seperti yang dinginkan. Kita sadar bahwa ekspektasi kita mungkin tidak berbanding lurus dengan harapan. Akan tetapi melawan kekuasaan yang tiran, dan kekaisaran modal yang kejam, haruslah terus kita lakukan walau tak semulus yang dibayangkan. Api perjuangan kita akan selalu menyala. Dan suatu saat kita yakin bahwa api tersebut akan membakar semua pejabat dan elit kita yang brengsek dan bangsat ini”. Demikian teriak seorang demonstran dengan pengeras suara yang ada di tangannya.

“Meskipun taruhannya besar tapi kita tidak boleh takut. Kita tidak boleh diam karena diam adalah pengkhianatan. Jangan mau di bungkam. Terus teguhkan keyakinan meski bukan tidak mungkin kita yang bergerak melakukan tuntutan akan mendapat ganjaran pemukulan atau bahkan di penjara tanpa alasan yang pasti. Kita sudah tidak heran. Bahwa negeri yang kaya akan sumber daya alam ini gemar melakukan tindakan represif. Demi melanggengkan penjarahan besar-besaran yang dilakukan bangsa asing”.

Berulangkali kalimat itu diucapkan Malik, salah seorang koordinator aksi demonstrasi tersebut memaki pejabat pemerintah serta elit negara yang barusan mengeluarkan kebijakan penanggulangan kemiskinan dengan dana pinjaman luar negeri. Dan ini yang membuat para mahasiswa dan elemen gerakan rakyat lainnya menjadi geram dengan putusan pemerintah. Menurut mereka pinjaman hutang luar negeri akan semakin memperparah kondisi ekonomi bangsa ini yang memang sudah terpuruk. Bahkan tidak mungkin di ambang resesi alias bangkrut.

“Bangsa kita ini kaya tapi sayang kekayaan itu bukan untuk kita, bukan untuk kesejahteraan kita. Tapi justru untuk kesejahteraan bangsa asing yang dianggap elit dan pejabat negeri ini sebagai bangsa yang unggul. Kita juga tidak heran dengan tindakan aparat negara. Mereka memang senang berkomplot dengan penguasa. Biar kantong-kantong dompetnya terisi. Tak peduli bahkan kalau harus melepaskan timah panas dan tajam ke dada rakyat dan kemudian banyak yang tersungkur meregang nyawa. Inilah pelacuran yang sesungguhnya. Dan kita dipaksa untuk menyaksikan bagaimana pejabat dan elit negara ini melacurkan kepercayaan dan mandat rakyat demi menjadi pebisnis di dalamnya. Negara ini sudah terjual, kawan-kawan. Negara kita sudah habis terjual. Tidak ada harapan lagi. Tidak ada harapan lagi untuk kita hidup bersama dan sejahtera di negeri ini. Selain kalau kita berani berteriak lantang menolak dan menggagalkan upaya mereka yang berkuasa. NKRI itu bulshit. Karena bukan NKRI yang harga mati, tapi kita, rakyat yang benar-benar mati diterkam pejabat elit nasional yang kehilangan nasionalismenya. Kita yang benar-benar akan mati diterjang peluru aparat. Maka itu tetap satukan barisan dalam satu komando. Kita jaga warisan pendahulu ini dengan bersama. Kalau dahulu mereka berjuang berdarah-darah, hari ini kita berjanji bahwa warisan ini akan kita pertahankan walau harus berdarah-darah pula”.

“Yakinlah, perjuangan kita ini adalah amalan yang akan diberikan Tuhan kepada kita. Vox Populi Vox Dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Dan jalanan ini jadi saksinya bagaimana rakyat sudah muak atas pembodohan yang dilakukan oleh elit negara. Kalau negara membiarkan sekolompok badut lucu dan bodoh tersebut membuat kebijakan, maka hari ini kita katakan Tuhan ijinkan kami melakukan pemberontakan. Terus lawan kawan-kawan. Teruslah melawan, Kita bukan pengecut. Kita juga tidak takut dengan aparat yang brutal itu. Tadahkan dada ita kalau memang aparat tega mengorbankan rakyatnya demi kepentingan para elit-elit busuk di senayan sana. Terus lawan. Hidup Rakyat”.

Orasi tersebut menjadi pamungkas dari aksi yang dilakukan sekelompok mahasiswa dan masyarakat di titik nol kilometer Jogja. Mereka menuntut agar negara mengevaluasi setiap persoalan yang ada yang dianggap sangat tidak berpihak pada masyarakat kecil. Dan saat itu, Malik menjadi orang terdepan yang melayangkan orasi pamungkas dalam mengkritisi kebijakan negara serta menyuarakan aspirasi masyarakat kelas menengah kebawah yang di wakilinya. Hari itu, Malik berorasi dengan berapi-api dalam sebuah demonstrasi besar. Ia menentang kebijakan pemerintah yang menurutnya begitu hina karena telah melacurkan diri untuk kepentingan bangsa lain. Orasi Malik yang berapi-api tersebut disambut dengan teriakan dan tepukan yang bergema. Sambil massa menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan membakar ban di tengah jalan. Asap hitam membumbung. Terlihat polisi yang berjaga dilokasi demonstrasi hanya melongo saja. Dalam hati mungkin mereka geram karena Malik tak segan-segan membuka dan membicarakan aib mereka dalam orasi tersebut. Akan tetapi karena banyak media yang hadir, polisi-polisi tersebut mungkin segan untuk merampas pengeras suara dari massa aksi yang biasa dilakukannya saat ada demonstrasi lainnya.

Setelah selesai aksi, massa akhirnya membubarkan diri. Dan Malik pun ikut membubarkan diri dan pulang ke kos-nya. Selain panas dan lelah, ia masih ada beberapa hal yang harus dilakukan. Yaitu mempacking beberapa buku dan majalah, dan mengirimkan ke pembeli yang sudah memesan. Maklum, sebagai anak kos-kos-an, dengan menjual buku dan majalah setidaknya ia bisa mendapat keuntungan sedikit yang hal tersebut untuk di belikannya buku lagi untuk bacaan pribadinya. Dan alhamdulillah ia punya segudang buku yang menemani hari-harinya. Ia mengasah intelektualnya dengan tidak saja ikut aksi tapi juga di barengi dengan kebiasaan membaca dan berdiskusi. Teman-temannya sering mengejeknya dengan sebutan ‘kutu busuk’. Yang maksudnya secara intelektual bagus akan tetapi kisah asmaranya nyaris tak terdengar. Makanya dianggap sudah membusuk. Semua karena kecintaannya pada bacaan dan diskusi serta aksi. Sehingga jarang terpikirkan untuk mengejar perempuan untuk dipacari dan sebagainya. Bahkan orang-orang menganggapnya aneh. Tak jarang ia disindir sebagai homo, dianggap terlalu dingin dengan para perempuan dan sebagainya. Tapi Malik tidak pernah ambil pusing dari apa yang di ucapkan teman-temannya. Ia menganggap semuanya adalah bercandaan semata. Karena apapun yang terjadi, justru ia yang kerap di mintai untuk mencarikan solusi. Termasuk bahkan membantu teman-temannya dalam membuatkan surat cinta untuk perempuan yang sedang di taksir-nya.

Begitu Malik menjalani hari-hariya. Termasuk setelah ia sudah tidak berkuliah lagi. Cuma bedanya ia tidak segesit dahulu. Karena ia harus bekerja ekstra agar bisa hidup dan bertahan di kota pelajar ini. Orang tuanya sudah meninggal semua. Terakhir ibunya. Dan seluruh saudaranya pun sudah menikah dan punya anak. Jadi mereka sibuk dengan keluarganya masing-masing. Makanya Malik harus melakukan semuanya sendiri sekarang ini. Karena itu ia terlihat tidak seperti dulu, sewaktu masih menjadi mahasiswa. Aksi dan sebagainya tetap dilakoninya, Cuma tidak seintens dulu. Akan tetapi kemarahannya pada sebuah sistem tetap membara. Apalagi kalau sistem atau kebijakan tersebut tidak berpihak pada kepentingan masyarakat kecil. Darah yang mengalir di ubun-ubunnya seolah mendidih. Bagi Malik, pilihan kita hari ini hanya ada dua. Melawan atau tertindas. Dan ia selalu menekankan pada dirinya sendiri atau teman-temannya bahwa melakukan perlawanan itu sangat mulia. Justru menurutnya hal yang paling buruk adalah ketika kita tahu ada persoalan atau kejahatan yang berefek bagi rakyat, akan tetapi kita hanya diam dan tidak melakukan apapun, maka kita menjadi orang yang paling jahat diantara penjahat lainnya. Diamnya orang baik adalah masalah terbesar hari ini. Makanya rakyat harus terus di provokasi. Propaganda tentang kebenaran harus di tanamkan dan di doktrinkan ke dalam pikiran rakyat agar mereka mau tergerak untuk melakukan perlawanan bersama. Begitu Malik mengawal dirinya dalam medan perjuangan melawan ketidakadilan. Kalau keadilan dan kebenaran sudah di tegakkan, maka keberanian tidak di perlukan lagi. Malik selalu menggenggam kalimat itu dalam dirinya. Begitupun ketika ia diminta untuk memberi pelatihan pada gerakan mahasiswa dan sebagainya.

….

Malik kecil memang sudah di duga akan punya sifat yang berbeda dari orang lain. Terutama orang dari kampung halamannya, di bibir samudera hindia sebelah barat pulau sumatera. Karena sejak lahir, orang-orang sudah menyangka kalau si anak tersebut akan nakal kemudian harinya. Perilaku aneh yang dilakukannya memang jauh dari kebiasaan. Hal itu karena ia lahir dan dihadirkan Tuhan dengan dua pusar di kepalanya. Begitu kata nenek dan datuknya dulu. Makanya mengapa kemudian orangtuanya memberi nama Al Maliki. Dan dipanggil dengan sebutan Malik. Nama ini sesungguhnya dipilih dengan tujuan agar kelak si anak dapat menjadi orang yang bertanggungjawab dan dapat di percaya dari setiap hal yang dilakukannya. Tentunya harapan ini tidak main-main. Dan juga bukan sebuah lelucon dimana anak-anak di desa diberi nama dengan tradisi ke-Islam-an. Karena memang mayoritas semua masyarakat di desa tersebut beragama Islam.

Sejak kecil Malik memang suka melakukan apa yang dilarang orang tuanya. Kerap ia pergi berenang ke sungai dengan teman-teman. Bahkan tak jarang pergi sendirian saja. Maghrib baru pulang ke rumah. Di hari minggu, ketika sekolah libur, ia sering ke pantai untuk sekedar ikut mendorong kapal nelayan yang barusan pulang dari tengah laut. Bersama dengan orang dewasa lainnya, ia mendorong kapal nelayan tersebut dan kemudian mendapat jatah beberapa ikan laut segar sebagai upahnya. Dan biasanya, ikan tersebut tidak akan sampai di rumah karena di tengah perjalanan pulang pasti selalu ada yang menawarnya. Dari uang tersebutlah ia gemar membeli buku-buku, mulai komik dan sebagainya. Ia membaca semuanya. Termasuk buku yang tidak bergambar sekalipun. Karena pada mnasa kanak-kanak, kebiasaan anak-anak hanya tertarik dengan buku yang ada gambarnya saja. Berbeda dengan Malik. Ia memang senang buku bergambar. Tapi ia juga membaca buku yang itu untuk dikonsumsi oleh otak orang dewasa. Bahkan Malik kecil sudah membaca biografi dari Habibi, teknokrat yang pernah menjadi presiden. Ia juga membaca Soemitro Djojohadikusumo, begawan ekonomi Indonesia serta Hans Bague Jassin atau yang biasa di sebut HB Jassin, seorang paus satra Indonesia. Semua sudah dibacanya sejak kelas empat Sekolah Dasar. Apalagi buku-buku roman seperti Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Robohnya Surau Kami, dan lain-lain.

Malik lahir menjelang subuh berkumandang. Jeritan emaknya di kesunyian malam itu membangunkan seluruh anggota keluarga. Beberapa bergegas memanggil mantri desa. Ada yang mengusapinya dengan air panas. Ada juga yang menempelkan botol-botol berisi air panas ke sekitar perut. Ada yang mengambil kain-kain panjang, baskom berisi air dan sebagainya. Dan setelah mantri datang, tangisan pertama Malik pun pecah seiring dengan kumandang adzan subuh.

Sedari kecil sewaktu sekolah dasar Malik memang terbilang bandel. Ia bahkan sudah berani membolos sejak kelas empat. Walaupun sebenarnya bolos itu terus berakhir derita bagi dirinya. Karena saat malamnya  pasti kemudian ia akan di omelin emaknya yang juga seorang guru. Dan besoknya di sekolah juga akan di omelin lagi untuk dijadikan contoh kepada murid yang lainnya agar tidak meniru perbuatan yang sama. Akan tetapi, meskipun suka membolos, Malik termasuk murid yang berprestasi. Di setiap kenaikan kelas ia selalu mendapat rangking. Kalau tidak yang ke -dua, maka pasti yang ke-tiga. Semua nilai ujiannya terbilang bagus. Bahkan ia sering menjadi perwakilan dari sekolah hanya untuk ikut berbagai lomba membaca, menulis, berhitung maupun bercerita untuk tingkat sekolah dasar. Beberapa di menangkannya. Piala menjadi kebanggan keluarga. Tapi tidak bagi Malik. Baginya itu biasa saja. Dan selalu begitu sampai ia menamatkan sekolah tersebut. Sementara di sekolah meengah pertama dan atas ia tak pernah menyabet juara lagi. Hanya masuk dalam kategori sepuluh besar saja. Tapi kebiasaan membolos tetap saja.

Setelah selesai ujian dan dinyatakan lulus, ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke tanah Jawa. Dan hal tersebut memang sudah menjadi pembicaraan antara ia dengan bapaknya sebelum meninggal yang menginginkan ia bisa keluar kandang dan mencari pengalaman di luar. Pilihan yaitu Jogja, kota pelajar dan budaya. Di Jogjalah ia menempah dirinya dengan beragam pengalaman dengan menjadi aktivis, belajar jurnalistik dan lain-lain. Dan dari semua itu ia mempunyai soft skil yang bisa dimanfaatkannya untuk mengisi aktivitasnya sehari-hari. Tak heran ia kerap menulis, mempublikasikannya ke media seperti majalah, koran dan sebagainya. Dan juga ia kerap terlibat dalam aksi massa dan demostrasi. Baik itu di dalam i ternal kampusnya maupun aksi yang bersifat nasional. Selepas itu ia kemudian harus menjalani hidupnya secara mandiri. Walaupun semenjak kuliah ia sudah belajar mandiri dengan berjualan buku, majalah, menjadi pembicara, menulis di koran dan sebagainya yang bisa memberinya keuntungan untuk dipergunakannya lagi sesuai kebutuhan. Kini ia lebih banyak bekerja dengan langsung terjun ke masyarakat.

Malik kemudian bergabung dengan rekannya yang lain dalam sebuah lembaga pegiat hak asasi manusia. Karena memang beliau tidak dapat melepaskan diri dari pengalaman yang membesarkannya. Ia kerap terlibat dalam berbagai aksi, protes maupun advokasi dan pembelaan di masyarakat, buruh, tani dan lainnya. Ia juga bekerja di salah satu kantor atau instansi pemerintah yang membutuhkan tenaga fasilitator ke masyarakat untuk menyampaikan program. Karena berhubungan dengan masyarakat, makanya ia setuju untuk berada di dalamnya karena ia bisa sekalian meberikan banyak pemahaman bagi masyarakat terkait banyak hal yang terjadi.

Orang-orang dikantor tempatnya bekerja melihatnya masih dengan pandangan miring dan sinis. Hal itu karena background nya yang seorang aktivis, terlihat ikut aksi, menulis protes dan sebagainya. Tapi itu biasa bagi Malik. Ia tak pernah khawatir. Karena baginya kalau seandainya instansi tempatnya bekerja ingin mendepaknya, maka ia mempersilahkan. Malik meyakini bahwa ketika ia dibutuhkan maka ia akan dimintai lagi untuk terus bekerja. Semiring apapun pandangan dari orang-orang dinas. Setidaknya ia memberikan kontribusi yang melebihi pekerja lainnya. Ia bisa menuliskan laporan yang dijadikan contoh bagi yang lain. Ia juga menuliskan program tersebut ke media-media lokal. Makanya ia tetap dipuji walau selalu ada yang membenci. Dan itu sudah dilakoninya sejak masih menjadi mahasiswa.

Setelah bekerja, aktivitas Malik dalam aksi-aksi jalan sudah tidak se-intens dahulu lagi. Tapi sesekali ia tetap terlibat. Malik kemudian mencoba menuliskan berbagai pengalaman, pandangan, kajian kritisnya menjadi sebuah buku. Ia juga menulis puisi bersama dengan rekan kerjanya. Hal yang unik yang diyakini Malik bahwa semua orang punya potensi yang berbeda. Hanya saja mungkin hal tersebut belum terasah. Dan setelah di asah berulang kali, ia melihat hasilnya. Rekan kerjanya yang tadinya tidak bisa menulis apapun, kini sudah bisa membuat puisi yang ditulis bersama dengannya. Yang awalnya sangat kesulitan dan banyak alasan untuk tidak mau, akhirnya toh berhasil juga. Mereka akhirnya menerbitkan karya bersama sebuah buku puisi. Dan lambat laun secara perlahan perempuan rekan kerja Malik tersebut mulai menaruh perhatian pada dunia sosial yang ada. Bersamaan dengan Malik yang juga diam-diam menaruh perhatian padanya, yang tanpa disadari oleh sang perempuan rekan kerjanya tersebut. Hanya saja Malik tidak bisa mengutarakannya secara gamblang. Karena ada beberapa alasan yang serius. Pertama karena perempuan tersebut sudah mempunyai pacar, dan kedua karena Malik sudah terlanjur berlabuh pada seorang guru PAUD.

Tapi kini perempuan rekan kerjanya tersebut sudah berpisah dengan sang pacarnya. Perlakuan kekerasan yang sering dialaminya membuat ia akhirnya memutuskan untuk meningalkan lelaki bangsat tersebut. Perempuan itu kemudian menceritakan semuanya pada Malik. Karena ia memang sudah dekat dengannya. Dan Malik tidak bisa berbuat banyak. Meskipun ia tahu kalau dirinya masih mengharapkan bisa terus bersama dengan perempuan tersebut. Entah mengapa hati malik seolah terkunci di ruang hati perempuan rekan kerjanya tersebut. Akan tetapi ia juga tak bisa untuk melakukan tindakan nekat. Karena hal tersebut akan membuat banyak hal menjadi hancur. Harga diri, keyakinan, bahkan persahabatan dengan kawan-kawan lainnya juga bisa turut hancur. Malik bimbang. Ia dilema, antara mencintai perempuan yang memang sudah di taksir-nya dahulu akan tetapi saat itu perempuan tersebut masih punya pacar atau melanjutkan hubungan dengan guru PAUD yang sekarang ini. Malik mendapati dirinya terperangkap dalam penjara yang dahulu tidak dihiraukannya, yaitu cinta. Fisiknya berjalan bersama guru PAUD, akan tetapi hatinya terkunci pada rekan kerjanya.

Makanya tidak heran dalam buku puisi tersebut, Malik, menyelipkan beberapa bait kata sendu dalam ribuan baris bait kata yang bernada marah.

dan aku ternyata tlah jatuh cinta, padamu,

kusadari itu meski masih dalam diam,

tapi tak samar,

keinginan untuk selalu berada di dekatmu,

membuatku was-was bila tak mendengar kabarmu.

aku bersedia melakukan apapun,

asalkan bisa melihatmu tersenyum.

asalkan bisa membuatmu tertawa,

asalkan bisa membuatmu berhenti bersedih dan menangis.

biarlah aku mencintaimu diam-diam,

sembari memberimu petunjuk untuk membaca tanda rasa,

sembari memberiku kekuataan untuk bertahan dengan fakta,

bahwa hati ini tlah terpaku dalam hatimu,

yang kutahu bukan hanya karena raga,

tapi jauh meresap di dalam jiwa.

Puisi tersebut sangat jelas mengugkapkan perasaan Malik pada rekan kerjanya tersebut. Diberinya judul puisi itu ‘Aku Mencintaimu Diam-Diam’ hanya karena ia tidak ingin ada yang terluka. Dan kalaupun harus terluka, maka biarlah itu terjadi padanya. bukan pada sang guru PAUD dan bukan juga pada rekan kerjanya. Dan pada judul besar buku puisi tersebut memang tertulis “Nyanyi Sunyi Seorang Pelacur”, akan tetapi sesungguhnya terselip pula makna berbeda, yakni “Nyanyi Sunyi Seorang Aktivis” di dalamnya.

Malik merenungkan kembali perbincangan para emak-emak di desanya tentang lelaki yang memiliki pusaran dua di kepalanya. Orang Jawa menyebutnya Unyeng-Unyeng. Bahwa yang dimaksud dengan ‘nakal’ tersebut bukanlah dilihat dari prilaku pada tindakan yang dilakukan saja. Akan tetapi bisa jauh sampai ke dalam jiwa. Dan Malik merasakan bahwa dirinya memang terlalu liar. Bahkan aneh. Ia yang seorang aktivis seharusnya mampu dan bisa melewati persoalan yang sepele seperti ini. Tidak boleh terlalu lama mengambang, berpetualang dan sebagainya. Karena ada hidup dan penghidupan yag harus di semainya untuk masa depan yang lain. Tapi kenyataan ternyata berkata lain. Pusaran dua di kepalanya seolah menunjukkan bahwa ada dua arah yang menyertai jalannya. Sama seperti pilihan idiologinya. Tapi hal tersebut sudah di ditandainya. Cuma persoalan wanita saja yang membuat perasaannya terbelah dan menimbulkan keragu-raguan. Tapi apapaun yang terjadi, Malik, harus menentukan pilihannya. Ia tidak bisa berkelana terus seperti ini. Karenanya ia harus segera menemukan jalan untuk bisa pulang. Dan pulang tak melulu soal rumah atau kampung halaman. Termasuk juga pasangan.

Kini Malik menyadari, disamping ada perjuangan sosial yang dilakukannya, ia tak bisa melupakan bahwa ia juga harus berjuang pada kelanjutan hidupnya sebagai pertanggungjawaban untuk regenerasi kedepan. Dan ternyata itu termasuk salah satu hal yang juga krusial untuk dimenangkannya. Siapapun dan apapun pilihannya. Ke kiri atau ke kanan. Ke timur atau ke barat. Selalu ada dua pilihan yang membayanginya. Sama seperti dua pusaran yang ada di kepalanya.

Malik terus memikirkan tentang itu. Ia tidak ingin ada yang terluka, tapi juga tidak ingin dirinya terluka juga. Ia ingin semuanya berjalan baik. Kenyataan harus di terimanya. Ia harus belajar untuk mencintai yang sudah ada pada dirinya. Dan ia juga perlu belajar untuk keluar dari ruangan yang dimana hatinya terkurung.

Apakah hal tersebut mamou dilaluinya. Wallahualam.

Sekian.

Jogja, 5 Oktober 2020