‘LAMPORAN’ KENDENG

Djoko Supriyanto – [Pegiat Social Movement Institute]

***

Kendeng selalu membawa kerinduan magis yang membahagiakan. Sejak pertama kali berkunjung ke bibir utara pulau Jawa itu, ada panggilan yang selalu berulang untuk segera kembali lagi. Di tanah yang dipagari pegunungan serupa naga tidur, terhampar persawahan sejauh mata memandang. Pohon-pohon padi diikat pematang berseling dengan pohon kapuk randu yang kokoh menyangga angkasa. Warna hijau dan semburat emas terhampar memenuhi bumi dengan puluhan petani yang tekun mengolah tanah dengan sejuta cinta. Angin gunung membelai wajah legam, menyeka keringat yang menganak sungai membasah badan.

Akhir pekan yang lalu, kami kembali memenuhi panggilan rindu itu. Mas Gunretno mengirim sepucuk undangan prosesi agung LAMPORAN. Sebentuk ritus pengusiran hama yang biasa merusak tanaman dan sumber kehidupan. Maka, bersama mas Yoshi Fajar Kresno Murti, mbak Maria Adriani, mbak Sylvania Hutagalung dan bung Frans dari Bandung, sabtu siang itu kami bergegas memacu kendaraan agar sampai Kendeng sebelum prosesi dimulai. Selepas magrib kami tiba di Sukolilo dan bersama mas Joko Prianto yang sudah menunggu, segera berangkat ke desa Brati, tempat dimana titik mula perjalanan itu akan dimulai.

Sesampai di Brati, kami mendapati makam keramat Manggolo Seto sudah menjadi lautan manusia. Para petani dan warga desa, tua muda, besar dan kecil menyemut duduk dengan takzim mendengarkan wejangan para pembicara. Petuah dan pesan perjuangan digemakan dalam semangat membela ibu bumi, untuk Kendeng Lestari. Tak lama berselang, prosesi Lamporan dimulai. Obor-obor yang sudah tergenggam disulut, nyala apinya lancip bergoyang menusuk malam. Massa berbaris dan berjalan perlahan menuju titik pemberhentian di Monumen dan Langgar Yu Patmi desa Larangan, hampir sekira 10 kilometer di depan. Kaki-kaki beringsut dan dijejakkan, bergerak mengular membelah desa dan persawahan. Di sepanjang perjalanan, gending-gending dilantunkan serupa doa…

Ibu bumi wis maringi, ibu bumi dilarani, ibu bumi sing ngadili…

Syair-syair itu terus dinyanyikan serupa mantra. Mengingatkan asal mula perjuangan sedulur Kendeng menolak pendirian pabrik semen yang lancung oleh muslihat culas. Maka perjalanan panjang malam itu lebih mirip ritus peribadatan kepada sang pencipta. Dalam suka duka perjuangan, petani-petani ini menderaskan doa pada penguasa langit, memohon pertolongan dalam melindungi bumi titipan-NYA. Sepanjang jalan, kami bersua dengan banyak teman seperjuangan dari Rembang, Blora, Grobogan dan Kudus bahkan semarang. Sahabat yang selama ini terpisah jarak, menyatu pada iringan jalan. Obrolan-obrolan ringan dan tegur sapa memupus kerinduan. Dan kami menyaksikan master dokumenter JMPPK, om Nopet begitu sigap mematri momen sakral ini ke dalam kamera. Foto-foto aerial di sini adalah jepretan drone yang dioperasikan anak muda tangguh tersebut.

Sekitar 3 jam kemudian kami sampai di monumen Yu Patmi. Di sebidang tanah yang dipenuhi pohon jati, berdiri kokoh tugu batu yang menjadi penanda monumen yang dipersembahkan untuk mendiang Yu Patmi, salah satu Kartini Kendeng yang menjemput ajal saat melakukan aksi cor semen di jakarta. Di sebelah monumen ini, sebuah bakal bangunan baru terlihat mulai mewujud. Inilah yang nantinya akan menjadi Langgar Yu Patmi.

Tak lama berselang, puncak acara Lamporan dimulai. Semua yang hadir di tempat itu berjalan beriringan mengelilingi monumen dan bakal langgar. Dengan obor tergenggam, mereka mulai beringsut membentuk cincin melingkar. Tiga orang tetua secara bergantian merapalkan mantra purba. Baris kalimat jawa tua yang tak pernah aku dengar sebelumnya. Di setiap ujungnya, massa akan menyambutnya dengan pekikan kencang. Mirip dengan hardikan untuk mengusir apapun yang jahat dan tak diinginkan. Semua yang mengganggu dan merusak kehidupan Kendeng dihalau dengan sapuan doa. Wereng, tikus, keong, ulat, dan kejahatan yang maujud dalam bentuk pabrik semen, adalah hama malam itu kami bakar dengan api-api oncor. Ya, pabrik semen saat ini adalah hama paling mematikan bagi petani kendeng. Karena “hama” yang satu ini bukan hanya memusnahkan tanaman dan hasil bumi, lebih dari itu, pabrik semen telah menjadi hama yang akan menghapus semua kehidupan yang dilahirkan oleh pegunungan Kendeng. Atas hadirnya hama raksasa itu, sedulur-sedulur Kendeng telah mengadakan Lamporan tiada akhir dalam 10 tahun terakhir. Lamporan yang menuntut banyak pengorbanan darah dan air mata, jiwa dan raga. Lamporan malam itu ditutup dengan Brokohan. Kami menyantap makanan yang telah dilabur doa bersama-sama. Guyup rukun satu hati satu rasa demi Kendeng Lestari.

Keesokan harinya, kegiatan diisi dengan rembugan teknis pembangunan Langgar Yu Patmi. Mas juragan Ugahari, Yoshi, bersama lik Rosyad, Lik Bambang dan Lik Radi menenggelamkan diri dalam obrolan serius berkaitan dengan detail pembangunan Langgar. Saat selesai nanti, langgar ini diharapkan menjadi landmark yang menggenapi keberadaan monumen Yu Patmi. Di sinilah nanti Tuhan disembah dan diagungkan, doa-doa didereskan untuk kebaikan dan kelestarian alam. Api perjuangan dijaga dan diteruskan. Langgar dua lantai ini juga akan menjadi markas sekaligus pusat perjuangan baru sedulur-sedulur kendeng dan JM-PPK. Langgar dua lantai yang dibangun dengan gotong royong, dibagun dengan jahitan kayu dan bambu yang selama ini tumbuh dari punggung gunung Kendeng. Bagian bawahnya akan menjadi ruang pertemuan sekaligus “pusat komando” JM-PPK. Sedang bagian atas adalah tempat dimana Tuhan dipuja. Mas Herno Joyo begitu merindukan saat Langgar ini selesai dibangun agar segera tiba.

Memasuki bulan ke 5, pembangunan langgar ini masih membutuhkan banyak sumbangan dana operasional. Maka bersama ini kami mengetuk hati teman-teman dan para dermawan untuk berbagi demi selesainya pembangunan langgar ini. Donasi bisa dikirim ke: Rekening BRI no. 5947-01-01-315953-2 a/n Suparmi. Info/Kontak: Giyem – 08152 2804 3373 & Parmi – 0853 7512 3272.

Maka demikianlah akhir pekan kami di Kendeng. Matahari menggelincir dan kami harus kembali ke Yogyakarta. Kunjungan sesaat yang tak pernah mampu menghapus rindu. Mungkin karena hati dan cinta kami telah tertanam di sana. Pada tanah-tanah subur yang menumbuhkan padi dan aneka wulu wetu. Pada gunung dan hutannya serta air yang tersimpan dalam kendi tanah untuk kemudian kami reguk dalam dahaga. Kendeng adalah tanah pusaka yang selalu memanggil untuk kembali, terlebih saat kelestariannya terancam oleh rakusnya setan berwujud pabrik semen.

Kami pasti akan kembali, setiap rindu itu membajak hati..