Suluh Pergerakan

Kitaro Yang Menikam dengan Musiknya di Tengah Pandemi

Oleh Nalar Naluri

Tiga bulan sudah, Sinar tak pernah menyeduh teh manis di pagi hari untuk suaminya, Ragi. Kini, setiap pukul 05:00, saat langit masih menyimpan sisa-sisa gelap, Sinar sudah harus menyusuri gang-gang sempit, yang di sana terkadang masih banyak pria terjaga semalaman, baik terjaga karena pengaruh mabuk alkohol maupun mabuk pengajian.

Sinar harus terus berjalan di trotoar yang meneror, yang di sana telah khusyuk mata copet berjejer, mengantre, siap memangsa para korban yang lengah. Beruntunglah, Ragi selalu sigap mengantar istrinya Sinar berangkat kerja hingga ke halte bus.

Seperti biasanya, setelah selesai mengantar istrinya menyusuri gang, setapak, hingga ke mulut halte yang kusam itu, rutinitas Ragi selanjutnya memanaskan mesin honda C 70-nya. Yang berwarna karat bercampur hitam kekuning-kuningan muda akibat luntur oleh usia. Setelah oli mesin mengalir dengan kekentalan stabil, barulah Ragi meletakkan keranjang paket di sadel motornya. Dia pun menuju kantornya, sebuah gudang paket, milik seorang mualaf, pengusaha keturunan Cina yang karismatik, Haji Gengis Ismet.

Sejak Ragi diterima sebagai pekerja Haji Gengis di pergudangan jasa pengiriman paket antar kota antar propinsi, Sinar tampaknya harus mengambil keputusan mendesak. Gaji dan pesangon yang diterima suaminya sebesar empat juta lima ratus ribu rupiah, masih jauh dari harapan. Bahkan untuk sekadar membayar kredit motor pun tak cukup, dan motor itulah yang kini digunakan suaminya untuk operasional kerja di pergudangan pengiriman paket Haji Gengis.

Untuk alasan itulah Sinar memilih menjadi buruh di pabrik SIOSIO. Perusahan elektrnoik asal Korea, di Tanggerang. Saat masuk di perusahaan itu, Sinar harus melalui tahapan pendaftaran dua kali. Ditahap awal, ia mendaftar kerja lewat perusahaan pelatihan tenaga kerja yang dikelola oleh CV. JAWARA, sebuah perusahaan penyerap calon tenaga kerja yang dikelola oleh ormas bela diri yang berbasis di Banten. Hanya lewat pintu itu calon tenaga kerja bisa diterima secara terbuka dan mulus di perusahaan SIOSIO.

Waktu pun terus berjalan, satu bulan belakangan setelah dua bulan bekerja di pabrik SIOSIO, Sinar terlibat dalam Serikat Organisasi Buruh Sindikalis Indonesia (SOBSI). Dia merasa penting untuk memasuki pengalaman ini. Berbagai orasi, pendidikan, dan pelatihan sudah ia tempuh. Dan terbukti semuanya dirasa wajib harus diikuti, apalagi ini menyangkut peraturan di perusahan yang banyak merugikan hak-hak pekerja. Terutama berkaitan dengan hak cuti, keselamatan kerja, pesangon lembur dan hak-hak lainnya.

Alasan tersebutlah mendorong Sinar meluangkan waktunya untuk terlibat dalam organisasi SOBSI, yang programnya lebih banyak menggelar tausiyah alternatif yang menyasar buruh-buruh―yang tadinya acuh atas permainan licik pemilik perusahaan dalam menerapkan sistem kerja. Tujuan organisasi ini, ya, sedikit utopis, merebut alat produksi dan mengorganisirnya secara kolektif.

Tibalah saat-saat yang sudah ditunggu-tunggu oleh para buruh. Siang itu Ibukota dikepung oleh demonstrasi besar. Terlihat berbagai element turun ke jalan. Mulai dari pelajar, mahasiswa, buruh, tani, hingga ormas-ormas keagamaan. Di sela-sela kebisingan orasi dan yel-yel berkumandang, terlihat sepasang suami istri yang juga terlibat dalam barisan massa sedang asyik menepi di bahu trotoar.

“Bang. Aku hanya ingin melukis hidupku dengan warna pilihanku: yang aku sukai; sayangi; cintai; dan percayai. Semoga Abang bisa memahaminya, dan berharap kita bisa melangkah bersama, merebut hak kita yang selama ini dirampok.” Kata Sinar saat bersama sang suami yang sedang asyik menyantap nasi Padang, yang dibungkus daun pisang menguning di bahu trotoar.

Ketika itu di Senayan. Demonstrasi besar sedang berjalan, dilakukan oleh banyak kelompok, menuntut Undang-undang Kerja yang timpang.

Ragi yang kini telah berseragam bak milisi itu menyeruput teh panasnya dari sedotan, dan berwadah plastik bening. Baret putihnya ia copot dan ia jadikan kipas untuk mengipasi wajah istrinya yang bercucur keringat di tengah matahari terik. Kemudian kacamata hitamnya ia copot, ia letakkan disaku depan baju milisinya, sambil melirik ke arah sang istri, ia melihat bentuk wajah sang istri semakin tirus, hitam, sedikit berotot karena begitu sering dijemur dan dilatih untuk berorasi.

“InshaAllah kau akan baik-baik saja sayang. Selama kau berjuang untuk kemaslahatan ummat, dan tahu mana yang bathil dan mana yang hak, maka lakukanlah sayang. Setidaknya, itu pesan Imam Besar yang kami yakini.”

Ragi mencubit butiran nasi bungkus yang masih menempel di sudut kiri bibir sang istri. Kemudian mengusap bekas sambel balado di pipi sang istri yang seolah berpola bentangan bendera merah-hitam. Ragi mengusapnya dengan baret laskarnya yang putih penuh serabut-serabut halus itu.

Sampah bungkusan nasi itu kemudian diremas-remasnya membentuk bola. Bunyi kertas yang digulung itu seperti bunyi sedang meremas kepala remuk yang menyayat ngilu. Dia menatap-natap bola itu seperti bentuk bumi yang sekarang ia tinggali. Ia timang-timang, seperti menimang keseimbangan alam―kehidupan―semesta.

Ketawa Ragi tak bersuara, cekikan kecil meletup sekali-kali. Helaan napasnya pun berembus malu-malu. Suasana itu membawanya berlayar mengarungi kenangan dirinya dahulu―hingga merubahnya bisa menjadi laskar seperti sekarang.

Ia kembali mengingatnya. Bermula dikala azan kedua siang yang kering menuntun langkah Ragi sedikit berlari kencang. Khutbah Jumat saat itu telah usai, dan menjadi bagian paling membosankan di setiap perhelatannya. Ragi adalah satu dari banyak lelaki di negeri ini yang menganggap salat Jumat adalah ritual penting, namun dengan menaruh minat sedikit pada isi khutbahnya.

Salat Jumat bahkan lebih penting dari salat wajib 5 waktu bagi banyak pria di negeri ini. Sehingga mereka tak merasa berdosa jika meninggalkan beberapa dari salat 5 waktu, atau bahkan seluruhnya, ketimbang meninggalkan salat Jumat. Apalagi meninggalkan salat Jumat hingga 3 kali secara beruntun. Mereka percaya atas ganjaran di belakangnya: neraka jahanam.

Begitulah, salat Jumat yang ajek: singkat. Sajadah bergambar Ka’bah berwarna merah terang ia baringkan di atas rumput hijau, di bawah pohon jati tua yang menjulang tinggi. Kemudian ia duduk dengan nikmat menyelonjorkan kedua kaki lurusnya berotot, dan tubuhnya bersandar di batang pohon yang penuh ukiran nama-nama dan kata-kata entah milik siapa. Hari itu sangat berkesan, menjadi titik baliknya kemudian.

Sengaja ia mengambil tempat yang jauh dari kebisingan dan memilih teduh pohon yang sunyi. Bukan usaha untuk menjauhkan diri dari hiruk-pikuk sosial, melainkan usaha menemukan tempat yang tepat, sekadar menuntaskan ibadah yang paling penting siang itu: menikmati nasi bungkus sedekah, pemberian seorang penderma seusai salat Jumat.

Rasa nikmat itu dilahapnya, berkesan bukan saja ada pada isi lauk dan nasinya (ayam balado), melainkan sebuah satu kesatuan: bungkusan nasi yang disana berjejer berita gembira dari sobekan pamflet. Isinya adalah lowongan kerja di sebuah perusahan jasa milik seorang pengusaha muslim terkenal, Haji Gengis Ismet.

Hati Ragi membuncah. Maklum, sudah dua bulan lamanya, Ragi sarapan gerutu dari sang istri. Sebelum pandemi ada, istrinya selalu menyuguhkan mekar senyum tanpa kenal waktu. Kondisi seperti ini lumrah menghantam banyak orang-orang miskin di negeri ini, hari ini. Mereka banyak kehilangan pekerjaan, dan bonus menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh cekcok. Apabila masih ada yang belum dipecat, maka mereka juga harus bertaruh nyawa, bukan karena soal kerja dalam tekanan laju produksi, melainkan intaian korona, karena pemerintah tak pernah menggratiskan swab test yang harganya sebesar separuh upah minimum regional.

Setelah membaca pamflet lowongan pekerjaan itu, Ragi menggulung sajadahnya, dia bergegas pulang untuk memberitahu kabar gembira ini pada sang istri. Dia berharap sang istri ikut gembira mendengarnya.

Setibanya di rumah, Ragi menyampaikan berita gembira itu kepada istrinya, Sinar.

“Sayang, ini kesempatan berikutnya, yang tak boleh aku sia-siakan. Aku akan melamar pekerjaan menjadi kurir, di perusahaan Haji Gengis, yang syaratnya sepertinya mampu aku lakukan: Seorang Muslim, tak pernah bolong shalat wajib 5 waktu, dan bersedia puasa Senin-Kamis. Tapi, ada satu syarat yang begitu menguras pikiranku, disarankan untuk memiliki kendaraan roda dua yang layak.”

Istrinya melebarkan senyum dan menghampiri Ragi. Memeluk erat, dan coba menangkan suaminya.

“Jangan khawatir, semuanya sudah aku siapkan menjadi satu dalam satu map merah di atas lemari rias hitam. Soal motor, kita akan menyicil motor bekas, uang mukanya dari hasil penjualan kalung emas dan cincin emas maskawin. Tak perlu risau, nanti juga akan kembali setelah kau menabung gaji.”

Seru istrinya. Kemudian mengambil map merah itu dan coba meneliti kembali berkas-berkas lamaran pekerjaan milik sang suami, yang berisi: pas photo 3×4 berwarna 6 lembar, foto copy ijazah SMA, riwayat hidup, surat keterangan catatan kepolisian, dan surat lamaran pekerjaan yang ditulis dengan tangan.

Esoknya, sebelum fajar bertandang terangi bumi, Ragi sudah terlihat mengenakan kemeja putih dan celana kain berwarna hitam. Dia duduk di ruang tamu, menikmati secangkir teh tanpa gula. Ya, garam, MSg, minyak goreng dan gula sangat dibatasi penggunaanya dalam kondisi seperti sekarang ini.

Setelah tegukkan teh tawar terakhir, Ragi pun pamit.

“Jangan tunggu aku sayang bila waktu makan siang sudah tiba. Jika aku belum pulang, makanlah. Jangan khawatir dengan keadaanku, aku akan baik-baik saja, berbaik sangkalah pada pencipta. Doa tulusmu sudah cukup. Karena itu sperti minyak pelumas, yang melicinkan segala usaha.”

Ragi mengedipkan mata sebelah, kemudian meluncur dengan map merahnya dengan penuh keyakinan.

Siang di hari itu juga, di layar telepon genggam Sinar, sebuah pesan masuk mengetuk kejutan.

“Alhamdulillah, aku diterima sebagai karyawan Haji Gengis.”

Sinar, yang merupakan alumnus salahsatu pondok tradisional di Desa Tjoekir, yang diasuh langsung oleh seorang Kiai generasi ke 3 keturunan Hadratus Syaik Hasyim Asyhari itu tak pernah absen menunaikan tahajud. Zikirnya tak pernah putus. Puasa Senin-Kamisnya tak pernah bolong. Dan segala amalan dan ijazah pemberian Kiainya pasti diamalkan. Dia selalu mendoakan suaminya agar segera mendapatkan pekerjaan.

Ikhtiar batin di atas tertib ia lakukan. Tetapi masih saja tak merubah kondisi sandang papan mereka yang, ah, sungguh prihatin. Untuk membeli gas melon pun mereka tak mampu. Untuk memasak nasi dan lauk suaminya Ragi bahkan harus memungut rongsokan limbah kayu di tempat-tempat proyek pembangunan gedung, sebagai bahan bakar kompor, demi penghematan pengeluaran.

Program bantuan sosial dari pemerintah yang berisi paket sembako: mie instan 10 bungkus, sarden 3 kaleng, gula 1 kilo, beras 5 kilo dan uang tunai 300 ribu (yang sudah dipotong melalui tahapan panjang) betul-betul mereka gunakan seirit mungkin.

Sinar pun memandang ke ikhtiar lahir. Semenjak pandemi korona mengantam, suaminya tak bekerja lagi sebagai tukang tagih yang dipimpin oleh Umar Ambon. Kini dia bersyukur, karena suaminya diterima bekerja di perusahan jasa milik Haji Gengis. Tapi itu tak cukup untuk menyelamatkan mereka dari teror kehidupan ekonomi di depan mata. Sinar pun harus mencari pekerjaan. Dan kini ia telah bekerja sebagai buruh pabrik milik pengusaha asal Korea.

Bekerja di perusahaan Haji Gengis, Ragi begitu bersemangat. Terutama antusiasmenya mendalami Islam. Salat Jumat berjamaah yang diisi oleh para jamaah yang juga para pekerja Haji Gengis itu membuat solidaritas di antara mereka begitu kuat. Tak hanya itu, isi khutbah di setiap gelaranya kini tak pernah membosankan. Isinya membuat bulu kuduk Ragi selalu berdiri bak tentara pengawal. Dia ingat, pertama kali memutuskan untuk menjadi seorang laskar karena sebuah isi khutbah. Khutbah yang menceritakan kisah Salahuddin al Ayyubi merebut tanah perjanjian. Kisah itu kemudian diibaratkan sedang terjadi di tanah air Indonesia hari ini. Tanah yang dijanjikan (dianugerahi) atas kekayaan alam, tapi dikuasai dan diekploitasi oleh segelintir pengusaha sekaligus penguasa. Isi khutbah itu membekaskan jiwanya, menggugah hatinya, merubah cara pandangnya, dan kemudian memantapkan dirinya untuk menjadi bagian dari laskar.  

Begitulah sepotong kisah perjalanan perjuangan sepasang suami-isteri mencari kerja di tengah tekanan pandemi. Namun ini belum belum berakhir.

Siang di depan Senayan, saat sepasang suami-istri itu sedang menikmati makan siang di tengah ribuan demonstran, tiba-tiba kekacauan terjadi begitu besar. Demonstran dan aparat keamanan saling dorong, hingga barisan demonstran diserbu gas air mata, pentungan, dan aksi kekerasan lainya.

Sinar masih ingat, kayu sebesar betis orang dewasa, yang berwarna cokelat tua, yang aroma serbuk kayunya seperti baru saja dipotong itu, melayang ke arah kepala suaminya. Namun yang mendaratkan tongkat itu bukanlah dari aparat keamanan, melainkan warga sipil. Sinar merasa heran. Tapi, darah mengucur di pelipis mata suaminya bak air mancur di akuarium membuat Sinar tak berpikir panjang, dia segera bangkit untuk melindungi suaminya dari amukan membabi buta.

Beruntung, mereka berhasil lolos dari amukan itu. Sambil berlari tergopoh-gopoh, Sinar dan suaminya mencari tempat aman untuk berlindung. Mereka mendapatkan sekelompok polisi bertameng, dan coba meminta perlindungan dari polisi-polisi tersebut, namun naas, perlindungan itu disambut dengan hujaman bogem ke sekejur tubuh suaminya.

Suaminya kemudian diseret dan dibuang bagaikan sampah ke dalam bak truk Sabhara, yang pengap, penuh manusia-manusia dengan beragam luka dan tangisan.

Suaminya pun mendekam di sel semalaman. Esoknya, Sinar menjemput suaminya di depan gerbang kantor kepolisian.

Setelah peristiwa itu, Ragi banyak terlihat merenung. Dia ingin selalu ada dalam dekapan istrinya, sebagaimana orang-orang tajir yang banyak meluangkan waktu bersama keluarganya. Namun, dia sadar, kalau tak bekerja mereka mau makan apa? Untuk menenangkan kondisi itu, Ragi pun memanggil istrinya, mereka mencari taman kota. Di bawah pohon-pohon rindang taman itulah Ragi membuka ceritanya yang selama ini tak diketahui oleh istrinya.

“Kau telah lihat wajah orang yang mengayunkan tongkat kayu itu di kepalaku? Dia bagian dari aparat itu.” Ucap Ragi.

“Maksudnya, dia Polisi berbaju sipil?” Ujar Sinar penuh penasaran.

“Bukan. Dia orang sipil yang bekerja bersama polisi. Tapi yang aku kucemaskan ialah, ia melakukannya bukan karena terganggu isi tuntutan aksi massa. Melainkan perkara di antara kami dahulu yang patut kita waspadai. Hal itu bisa mengancam nyawa kita. Dia terlihat ingin membunuhku. Bukan ingin memberi efek jera.”

Lambaian daun-daun bunga kamboja di samping mereka seakan menari anggun. Sinar menghela nafas panjang, mengerutkan dahinya yang kuning. Ragi pun melanjutkan.

“Saat aku masih bekerja bersama Umar Ambon, kelompok kami pernah terlibat perkelahian sengit dengan kelompok Jawara Abah Nom. Yang kini, juga mengurusi perusahaan pelatihan tenaga kerja yang ada di perusahaan pabrik tempat kau bekerja. Persoalanya sangat lucu.”

Ragi melengkungkang kendis di dua pipinya yang ranum.

“Sufyan, putra bungsu Umar Ambon, mengajak kawin lari Umi, puteri sulung Abah Nom. Hal itu membuat perseteruan yang tak berkesudahan antara dua kelompok ini hingga hari ini. Saat itu, aku ikut menyerbu salah satu markas Jawara yang berdekatan dengan pabrik tempat kau bekerja. Selain mengelola perusahaan pelatihan tenaga kerja, kelompok Jawara juga bisa dipakai oleh siapa saja yang bisa membayar mereka untuk jasa pengamanan.”

Ragi membelai rambut sang istri yang helainya menutupi sebelah mata kanan Sinar. Ia merapihkanya. Sambil berdehem, Ragi mengakhiri cerita itu.

“Yang lebih miris, kini Sufyan telah bercerai dengan Umi. Dan kini, Sufyan menikahi Kalsum. Parasnya cantik. Anak perempuan satu-satunya keturunan Tionghoa. Yang ayahnya tak lain dan tak bukan, Haji Genghis. Bos tempatku bekerja, pemilik perusahaan, dan pemimpin laskar.”

Hari itu, pohon dan tanaman yang ada di taman kota bergetar. Mata sinar seolah tak mau berhenti berkedut. Ragi menggenggam tangan Sinar. Kemudian mendekapnya. Memeluknya dengan erat. Derap langkah orang-orang yang berseliweran di sekitar mereka bagaikan alunan pembuka musik kolosal, seperti musik gubahan Kitaro. Yang serulingnya bagai pisau mengiris kalbu, tabuhan gendangnya detak jantung Ragi dan Sinar yang berkecamuk. Kecapinya tangisan di dalam hati mereka yang terkadang sekali-kali keluar berbunyi lengking.     


Ilustrasi oleh Hisam