Poster Film Gundala | Instagram/gundalaofficial

Kita Tak Butuh Senjata, Tapi Gundala

“Jika suatu masyarakat tidak dapat menolong begitu banyak orang miskin, maka masyarakat itu tidak berhak untuk melindungi segelintir orang-orangnya yang kaya” -John F. Kennedy

Untung ada Djoko Anwar. Sutradara yang membuat kita bangga melihat film Indonesia. Terutama film superhero yang tergolong langka. Di antara jepitan komplotan Marvel dan DC, kita seperti tak punya alasan untuk menciptakan superhero. Namun kita tahu superhero Marvel muncul untuk melawan musuh yang luar biasa saktinya. Sedang Gundala memulai dari sesuatu yang dekat dan kita alami sehari-hari.

Babaknya dimulai dari ketidakadilan yang melanda pabrik. Buruh demonstrasi menuntut keadilan. Masalahnya tak terlalu jelas, tapi kita akrab dengan suasana itu. Kawanan buruh yang dihadang oleh lapisan aparat. Bentrok terjadi lalu pengkhianatan menyusul. Sancaka kecil -tokoh Gundala- menyaksikan drama itu. Bapaknya yang bertarung, bapaknya yang dikhianati, dan bapaknya yang mendidiknya untuk tidak bersikap egois.

Karena Gundala tumbuh di lingkungan yang rusak: wakil rakyatnya dikuasai oleh mafia dan orang miskin mudah untuk bertarung satu sama lain. Sancaka memilih untuk menjadi penjaga pabrik dan sesekali jadi teknisi mesin. Hidupnya sebagaimana superhero lainnya: dikelilingi oleh masalah. Pasar yang dikuasai preman hingga parlemen yang bekerja untuk preman. Satu-satunya keunggulan yang dimilikinya adalah keinginannya untuk selalu menolong orang lain.

Namun Gundala bukan berhadapan dengan musuh yang punya niat jahat sejak awal. Pengkor adalah pria brengsek yang jadi jahat karena lingkungan. Pilihan hidupnya adalah membeli apa saja, terutama kekuasaan. Baginya kekuasaan itu tak bisa hanya melayani rakyatnya, tapi musti tunduk pada kekuasaannya. Tampilan Pengkor yang mukanya terbakar separo menyiratkan kejahatan itu tumbuh tak alamiah. Lingkungan yang membentuknya.

Sepanjang film, kita menyaksikan kontradiksi. Kelas sosial atas yang hidup dengan mewah berhadapan dengan mayoritas lapisan kecil yang hidup susah dan terjepit di mana-mana. Mudah sekali kelas sosial atas itu memancing keributan sehingga menimbulkan kepanikan. Lingkungan tempat Gundala tumbuh seperti kota tua yang sedang sekarat: kriminalitas meraja lela dan wakil rakyat tak kuasa untuk mengatasinya. Kejahatan telah meyentuh semua orang yang berada dalam kekuasaan.

Gundala tampil dengan kesadaran yang tak disengaja: ia suka menolong, gampang trenyuh, tapi juga punya kenangan suram. Keunggulan yang dimilikinya dengan bantuan petir telah menciptakan sosok yang berani, bertenaga, dan punya kekuatan yang berlipat ganda. Mengalahkan preman hingga anak asuh Pengkor yang punya kekuatan komplit. Jika ada kelemahan sedikit dari film ini, adalah adegan laga yang kurang indah dan seru.

Susunan adegan laga kurang mencapai klimaks. Padahal anak buah Pengkor yang punya banyak kelebihan bisa menciptakan adegan tarung yang megah. Mungkin biaya, mungkin editing, atau mungkin cara bertarung atau mungkin pula kamera. Adeganya seperti orang sedang latihan silat ketimbang bertarung nyawa. Saya sadar sejak awal Gundala bukan Avangers apalagi John Wick. Secara keseluruhan Gundala membuktikan pada penonton bahwa kita bisa melahirkan superhero lokal yang berangkat dari cerita sehari-hari.

Cerita mengenai kekuasaan yang mudah sekali dikadali oleh kepentingan mafia. Secara berani Djoko Anwar menguliti taktik mafia yang membakar pasar hingga meracuni beras. Kekuasaan yang melata ke mana-mana, dan memang itulah diri kita hari ini. Sayang tak banyak cerita mengenai aparat keamanan yang dalam film super hero lainnya selalu kedodoran.

Aparat keamanan hanya jadi penjaga gerbang pabrik. Namun mungkin adegan ini mewakili apa yang terjadi. Aparat menjadi kaki tangan para pemodal. Gambaran kritis yang memuaskan penonton dan saya rasa itu sudah cukup. Di sisi penokohan Gundala tampil dingin, tenang, dan serius. Di sekelilingnya ada banyak orang biasa yang berharap Gundala mampu memenuhi harapannya.

Dialog yang segar, hangat, dan lucu jadi bumbu yang sedap. Kita bukan lagi menyaksikan superhero yang bisa segalanya, tapi seorang yang memang tak mau diperlakukan seenaknya. Melihat film ini seperti pemuas rasa rindu kita pada keadilan yang tak bisa ditangani dengan segera. Gundala memang yang kita butuhkan bukan Garuda yang selalu jadi alasan untuk menertibkan segalanya.

Waktu saya menonton film ini penonton bertepuk tangan, ada bayi yang menangis, dan banyak yang pulang dengan tersenyum. Saya kira mereka seperti saya perasaannya: senang karena kita diberi harapan tentang seorang patriot bernama Gundala. Ia tak seperti Iron Man yang kaya raya atau Thor anak seorang penguasa di planet yang saya lupa namanya. Gundala anak seorang buruh yang dibunuh oleh sistem yang keji.

Gundala adalah anak muda yang seperti kebanyakan anak muda lainya: miskin, tak punya koneksi siapa-siapa, tapi hidupnya dikelilingi masalah di mana-mana. Gundala datang tak sekedar menghibur, tapi membawa harapan untuk kita semuanya.(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika