Suluh Pergerakan

Kepada “SEPTEMBER”

Oleh Melki AS

Sep, aku ingin cerita satu peristiwa padamu, Sebelum semuanya tenggelam pada kurun yang melahirkan generasi amnesia akut, Yang lupa bahkan pada aliran darahnya sendiri

Sesungguhnya cerita ini sangat naHas dan tragis, Dan sepertinya tak ada kesialan yang bisa diukur lagi layaknya kubik-kubik pada sebuah muatan, Memori nasib yang paling hitam, Ingatan yang paling kelam dari sebuah malam.

Prediksi rupanya terlalu berbahaya, Tak ada lagi anak-anak, remaja, pemuda, mahasiswa dan siapa saja, laki dan perempuan. Semua habis digasak perkiraan dan demam jago, Komparador cum eksekutor, Gema-gema, teriakan, tak ada lagi keyakinan yang biasa singgah, Hidup terlanjur digoreng dalam kuali panas kebiadaban, Yang musykil bagi kita mengharapkan bunga itu tumbuh kembali, Apalagi menjadi tunas, berbunga, lalu berbuah. Sebab sudah tak ada lagi tanah yang menerima sebagai tempatnya tumbuh, Tak ada lagi air yang biasa menghidupinya, Semuanya sudah merangas, kering, dan mati sia-sia, Dan kita terjebak dalam satu bangsa yang tlah berubah menjadi danau air mata darah anaknya sendiri.

***

Sep, kita hidup pada bangsa yang sungsang, Bangsa yang punya sejarah yang pincang, Generasi yang biadab sejak dalam pikiran. Makanya aku tak heran;
Mereka yang tak suka diskusi pastilah suka mengeksekusi,
Mereka yang tak pernah bertani pastilah hobi merampas hidup dan tanah petani,
Mereka yang tak suka membaca buku pastilah merasa yang paling tahu.

Ngeri, ngeri sekali, Sep. Bahkan sampai hari ini generasi itu terus beranak pinak, Kekerasaan diwariskan dalam peradaban yang kaku, Brutal, Banal, yang dibungkus sekian penampilan yang, ach aku muak sekali melihatnya, Mereka yang lahir serupa namamu setelah malam itu dan berikutnya.

***

Sep, bila di bulan ini kau berulang lahir dalam tahunnya, Aku hanya bisa berucap ‘selamat’, semoga kau tak menjadi bagian dari september yang kini tak hitam saja, september yang tak kelam saja, Tapi september yang memang sudah bergelimang dusta, berdarah-darah, Bahkan sejak awal mulanya.

Jogja, September 2020

Ilustrator: Hisam