Salah satu potret intoleransi di Yogyakarta | Merdeka.com

Jogja Kok Tidak Nyaman Lagi

Semua warga dunia maya dikejutkan oleh aturan kampung di Yogyakarta yang diterbitkan oleh perangkat Dukuh. Isinya garang sekali: melarang warga non-muslim untuk tinggal menetap di kampung. Meski akhirnya aturan itu dicabut dan seniman lukis yang sempat ditolak itu dibolehkan tinggal, tapi soal ini terlanjur meluap ke mana-mana. Anggapan Yogyakarta sebagai kota intoleran terus berdengung ditambah dengan perkara ini.

Belum usai soal aturan kampung muncul berita yang mengejutkan lagi. 8 nisan salib di pemakaman Bethesda Yogyakarta dirusak oleh orang. Pesannya jelas bahwa ini soal SARA yang dikemas dengan cara brutal. Tentu kita masih ingat peristiwa yang terjadi di Purbayan Kotagede dimana nisan salib di makam Albertus Suwardi Sugihardi dipotong bagian atasnya. Katanya pemotongan itu sudah ada kesepakatan warga lebih dulu. Sederhananya, pemotongan nisan itu bisa dimaklumi karena warga sepakat.

Walau Sultan membantah bila Yogyakarta itu intoleran, tapi diakui bahwa semua itu karena viralnya berita yang cepat menyebar. Fakta apa saja tak lagi bisa disembunyikan. Media sosial sudah diketahui telah menjadi kekuatan opini yang efektif. Tak hanya kecepatan tayang, melainkan juga kemampuannya untuk mempengaruhi pandangan. Seolah menjadi warga minoritas di Yogyakarta itu selalu dalam keadaan terancam, bahkan saat mati pun dipersekusi. Kesimpulan yang muncul itu bukan berdasar hasil riset, tapi berita yang menyebar begitu cepat.

Soalnya tak sekedar intoleran, tapi perangai apa yang memudahkan orang untuk berlaku sewenang-wenang. Tidak saja mengabaikan nilai-nilai konstitusi, tapi juga meremehkan adab sebagai orang yang mengaku beragama. Bahkan sebuah aturan yang mengatasnamakan masyarakat, muatannya menginjak-injak norma kemasyarakatan. Paradoks, ironis, dan tragis. Situasi sosial apa yang membentuk kedunguan semacam ini, atau paling tidak merasa benar dengan tindakan yang sesungguhnya keliru. Lebih jauh lagi apa yang sebenarnya menjadi kiblat perangai masyarakat Yogyakarta hari-hari ini?

Ditilik dari julukan sebagai kota pelajar tentu kota ini mustinya memiliki aset orang pintar dan gudang pengetahuan. Tak ada yang meragukan julukan itu jika ditilik dari jumlah sekolah, kampus, hingga acara seminar apa saja. Hanya pertanyaannya, apakah memang lingkungan sekolah mempertahankan budaya pengetahuan? Budaya yang landasannya adalah kesadaran kritis, mengembangkan keragaman, dan mempertahankan dialog sebagai alat tukar menukar pengetahuan?

Ketika sekolah berbudaya pengetahuan pasti perpustakaan selalu padat dengan peserta didik, pastilah mereka akan protes jika ada persekusi, pastilah mereka akan menjerit saat ada aturan yang menghina martabat kemanusiaan. Sebab kian orang punya pengetahuan pasti dirinya akan benci melihat ketidakadilan. Pengetahuan itu mencerminkan kebenaran, dan kebenaran di mana pun dan kapan pun akan selalu sama. Orang yang berpengetahuan tak membiarkan kedunguan yang berakibat tindakan sadis dibiarkan saja.

Jika itu tesisnya, berarti memang ada yang keliru dalam proses pembelajaran. Pembelajaran tak lagi mencerminkan pemenuhan pengetahuan yang membuat siapa pun yang belajar punya rasa percaya diri. Tak untuk memamerkan apa yang diketahui, tapi untuk melawan segala bentuk kebodohan yang bertudung apa saja. Kutiplah kisah Galileo Galilei hingga Charles Darwin yang dengan berani mengemukakan tesisnya. Walau itu melawan keyakinan publik kala itu. Mereka teguh, berani, dan nekat.

Datangilah sekolah mana saja. Lihatlah apa yang terjadi dan bagaimana pembelajaran dilakukan. Yang kita banyak saksikan adalah kepatuhan, metode menghapal, dan murid yang tak beragam. Pusat-pusat pendidikan yang bertaburan ini pernah dimuat di mingguan Tempo, dihinggapi oleh budaya intoleran begitu rupa. Murid yang mudah didoktrin dan tak banyak diajarkan melatih logika, kesadaran kritis, bahkan kesangsian.

Kadang perlu untuk melihat lomba-lomba yang melibatkan sejumlah sekolah. Lebih banyak kompetisi dalam adu ketangkasan pengetahuan ketimbang meluaskan sifat-sifat keterpelajaran dalam kehidupan luas masyarakat. Malah ada lomba yang sepenuhnya adalah hapalan. Sulit bagi kita mengajak para pelajar risau dengan hancurnya nilai kebersamaan dan perlindungan pada minoritas karena memang itu jarang sekali diterapkan. Sekolah bisa menghancurkan budaya kritis jika menuntut siswa dengan kepatuhan buta.

Efeknya luar biasa karena pelajar bukan lagi sosok yang terbuka, kritis, dan independen, tapi anggota dari rombongan yang kerap kali melakukan persekusi. Sejumlah persekusi atas diskusi maupun film dilakukan oleh anak-anak muda yang relatif berposisi sebagai pelajar. Mengherankan sekali milisi sipil yang tumbuh tidak diwaspadai sebagai ancaman bagi budaya pengetahuan, dan terkadang dimanfaatkan untuk mengatasi soal keamanan. Mustahil kita akan menjadi kota pelajar selama kegiatan pengetahuan tidak didasarkan atas prinsip kebebasan untuk memperagakan ide serta keterbukaan pada gagasan apa saja.

Jika budaya pengetahuan itu terkikis, muncul budaya seterunya yakni budaya konsumtif. Tak hanya giat mengkonsumsi barang, tapi juga melahap doktrin apa saja yang dirasa benar. Pada budaya konsumtif nalar kritis dan kesangsian tak boleh jadi pertimbangan. Semua yang disajikan itu wajib dipercaya dan semua yang diinstruksikan wajib dipatuhi. Suasana itu tampak dari meluasnya kegiatan doktriner yang difasilitasi serta diikuti oleh banyak lapisan kelas sosial.

Kehidupan sosial kita ada dalam tahapan kepercayaan semu bahwa kita ini yang unggul. Keunggulan itu bukan pada tindakan sosial, tapi kepuasan dan kepercayaan diri sendiri. Rasanya diri ini lebih mulia, lebih punya kebajikan, dan menganggap yang lain itu pendosa. Klaim itu kerap kali muncul dalam baliho yang mengatasnamakan organisasi tertentu yang mandatnya melawan apa yang saja yang dinamai sesat.

Hantaman yang paling puncak adalah perkembangan tata kota menuju metropolitan. Banyaknya hotel, maraknya perumahan elit, hingga dibangunnya bandara Internasional yang menciptakan Yogyakarta sebagai kawasan layak jual. Tata sosial masyarakat lokal yang mulai kuatir, terancam, dan resah timbul dalam bentuk curiga pada apa saja yang muncul dari luar. Masih banyak keluhan dari etnis tertentu yang sulit cari kost hingga merasa dicurigai.

Rembesan yang kini dirasakan langsung adalah kesenjangan sosial. Laju perubahan kota tak bisa diiringi dengan proteksi bagi warga lokal dalam mengakses kemajuan. Setidaknya tanyalah di sekolah atau kampus yang tenar, berapa banyak warga Yogyakarta yang tertampung dan bisa sekolah di sana. Walau upaya kebijakan terus ditempuh, tapi arus kemajuan pembangunan yang pesat tak mudah diikuti oleh semua warga. Riak sekecil apa pun akan membawa sentimen, emosi, hingga kemarahan yang sulit diduga.

Lebih mudah kita mengetahui dengan gampang arus lalu lintas. Liburan bisa jadi menyiksa bagi warga Yogyakarta sendiri karena kemacetan di sana-sini. Tak hanya itu, akhir pekan, jam berangkat sekolah, hingga jam kantor kota dipadati arus yang sulit diurai. Meski aturan lalu lintas diubah sana-sini tetap tak bisa menjawab kebutuhan rasa nyaman berkendara. Tiba-tiba, warga Yogyakarta bisa merasa asing dengan lingkunganya sendiri karena tak bisa menikmati dengan menyenangkan kota yang menjuluki dirinya dengan atribut nyaman.

Stres itu bisa terjadi kapan dan di mana saja. Tapi jika penyebabnya tersulut begitu rupa, kita akan menghadapi ancaman laten di mana-mana: kuburan dipersekusi, warga disuruh keluar, hingga tokoh agamawan diserang. Saya tidak mampu menyampaikan solusi, tapi hanya meyakinkan pada semua pembaca bahwa Yogyakarta waktunya dibenahi bersama. Kota inilah yang kerap dijuluki miniaturnya Indonesia. Jika kita tak segera mengatasi, bahkan mengidentifikasi potensi sejak dini, itu sama artinya kita tengah menanam bom waktu.

Bom itu kini meletus sporadis, memakan korban beberapa orang, dan diatasi dengan cara apa saja. Tapi kita tahu jika bom itu masih punya daya ledak tinggi karena kita belum bisa melumpuhkan detektornya. Sudah waktunya kita sadar jika Yogyakarta sedang ditawan oleh keinginan untuk maju, berkembang, dan tumbuh di tengah kesadaran sosial yang berbahaya, semu, dan bisa mengundang bencana. Kita semua bisa mengatasinya andaikan kita mau belajar, tahu, dan mengenal sebabnya.

Sekian. (*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika