Suluh Pergerakan

Bacurau | Brasil Wire

Ingin Menghukum Politisi Brengsek? Tontonlah Film Bacurau

“Film ringan, fiksi ilmiah yang membongkar kebobrokan masa kini, dan visi persatuan lokal yang menawarkan pedoman imaginatif untuk melawan” -New Yorker

Pembuka adegan film ini sudah menggetarkan. Perempuan bernama Teresa pulang untuk pemakaman neneknya yang usianya sudah 94 tahun lebih. Di Bacurau, desa kecil yang penghuninya orang miskin, sederhana tapi bersahaja. Kepulangannya disambut dengan tabrakan truk pengangkut peti mayat.

Peti mayat jadi adegan penutup dan pembuka. Sebuah penegasan muram kalau kematian itu jadi bagian utama kisah. Film bergaya surrealis yang getir, penuh pesona dengan tayangan gambar yang mirip dokumenter. Bacurau desa yang tiba-tiba didatangi seorang walikota yang wajahnya bersih, tampan, tapi diacuhkan oleh warga.

Adegan yang saya sukai ketika politisi itu datang adalah ketika tak satupun warga keluar. Banyak yang bilang itulah kritik provokatif tentang kemarahan orang pada situasi politik Brazil. Politisi tak mutu dengan jeratan oligarkhi. Sang politisi mengambil anak perempuan desa sambil diprotes oleh ibu tua yang mengancam dengan gila. Kalau anak itu tak selamat, politisi itu akan diremukkan ‘burungnya’.

Alunan hidup desa itu terganggu saat peta lokasi desa hilang. Tak lama kemudian ada kematian. Kematian satu demi satu. Kematian yang sadis, mengejutkan, sekaligus membawa teror. Muncul pula drone yang bentuknya piring terbang. Kombinasi fiksi yang keji yang membawa penonton pada dugaan bahwa malapetaka sedang mencium Bacurau.

Sekelompok warga kulit putih ternyata sedang menguji coba senjata. Kaum Amerika yang makmur itu hendak memerankan diri jadi iblis penjagal nyawa. Tak ada diskusi, tak ada pembicaraan serius, hanya obrolan tentang apa saja yang tujuannya pemusnahan warga desa Bacurau. Lukisan penjahat yang sok, ambisius, sekaligus arogan. Lebih persisnya mereka tentara bayaran.

Di bawah sutradara Kleber Mendoca Filho dan Julainno Doorneless, film ini bisa berarti bus malam terakhir atau ‘burung hantu malam’. Sajian gambar yang membawa penonton ke altar dusun sebelah timur Brazil yang kering, sunyi, tapi punya kehidupan yang bertaut rasa gembira. Sentuhan indah ketika film ini menayangkan warga berkumpul di malam hari, menari, lalu bercengkarama.

Namun, politisi, ambisi, dan laba ingin merusak ketentraman desa itu. Dusun itu hendak dimusnahkan. Harapanya hanya bersatu dan menampilkan diri melawan bersama. Kekuatan film ini bukan pada dialog, tapi pada wajah lugu, berani, dan ketangguhan warga desa. Nenek tua yang suka berkomentar pedas, anak muda yang memang tak percaya pada aparat, dan anak-anak kecil yang menguji keberanian.

Menyaksikan film ini kita diajari kekuatan orang lemah. Bukan pada argumentasi, tidak pada kenekatan, tapi persatuan. Mereka disatukan karena bencana, yang disatukan karena korban, dan yang disatukan karena ingin bertahan. Pupuknya bukan ideologi, tetapi kepercayaan satu sama lain. Mereka ingin mempertahankan desa tempat mereka tinggal.

Rasanya relevan film jika ditonton. Persis ketika adegan politisi Tony membawa makanan dan obat-obatan yang ternyata kadaluarsa. Suap itu ditampilkan brutal, bukan uang dalam koper atau amplop, tapi buku dalam truk plus makanan serta obat. Politisi itu kurang ajar karena bawa truk bergambar dirinya, bawa pengawal yang kekar, dan muka yang licin seperti habis dirias.

Memuakkan, begitulah pesan besar pada penonton. Reaksi ini terutama ditujukan pada politik yang curang, yang diperankan oleh politisi yang mengutamakan kepentingan diri, dan dijaga oleh para pembawa senapan. Ujung film itu punya pesan radikal: politisi itu musti dihukum bukan oleh pengadilan modern, tapi penduduk desa yang menjatuhkan sanksi. Bos tentara bayaran itu juga dihujani hukuman dengan cara orang desa.

Saya menyukai film ini karena tiga unsur yang menjadi pupuk cerita. Yang utama pada film ini meletakkan kehidupan warga desa sebagai pusat kisah. Desa fiktif yang dirawat dengan kepercayaan, kebersamaan, dan tumbuh melalui perasaan saling memiliki. Yang kedua, film ini memperkuat keyakinan kalau politisi brengsek bukan hanya merusak akal sehat tapi menghancurkan peradaban. Yang ketiga, film ini memberi petunjuk tentang kekuatan orang lemah yang tak gampang ditaklukkan apalagi dimusnahkan.

Sebaiknya anda segera menontonnya!(*)