Suluh Pergerakan

Ide Denmark Dapat Membantu Dunia Menghindari Depresi Ekonomi

We are Freezing Economy

Ketika Gedung Putih dan perancang kebijakan disibukkan dengan persyaratan paket stabilisasi ekonomi darurat, Denmark dengan sangat cekatan menanggulangi pandemik “Virus Corona”.

Minggu ini, pemerintah Denmark berujar kepada perusahaan swasta yang terkena dampak pandemik corona, bahwa mereka akan membayar 75 persen dari gaji karyawan untuk menghindari PHK massal. Rencana ini membuat pemerintah  menghabiskan sebanyak 13 persen dari jumlah PDB/APBN per tahun dalam jangka waktu tiga bulan ke depan. Jumlah itu  setara dengan rencana stimulus sebesar $ 2,5 triliun di Amerika Serikat yang dikeluarkan hanya dalam jangka 13 minggu. Seperti yang saya katakan: sangat, sangat besar.

Respons ini mungkin mengejutkan bagi sebagian orang dan tentu mendapat reaksi yang berlebihan. Bagi Denmark reaksi yang sedemikian rupa bisa saja terjadi. Tetapi kita berada pada momen yang begitu rapuh sebagaimana yang pernah terjadi dalam sejarah Amerika Serikat. Amerika Serikat mengalami kemunduran ekonomi paling drastis  semenjak seabad lalu. Dari statistik yang tampaknya pesimistis dalam satu momen   kemudian berubah menjadi momen yang memberi harapan dalam  beberapa jam kemudian. Dalam beberapa minggu — bahkan berhari-hari — respon agresif Denmark bisa menjadi contoh dunia untuk  menghindari Depresi Hebat (great depressions).

Untuk mengetahui lebih lanjut, saya mewawancarai  Flemming Larsen, Profesor di Pusat Penelitian Pasar Tenaga Kerja(Center for Labor Market Research), Universitas Aalborg Denmark, selama dua hari melalui surel dan satu jam melalui Skype. Wawancara berikut memadukan percakapan panjang yang telah disunting agar poin-poin penting bisa tersampaikan kepada khalayak.

Derek Thompson: Bisakah Anda memberi saya penjelasan terlebih dahulu tentang apa yang terjadi di Denmark? Beserta kondisi riil di lapangan.

Flemming Larsen: Di Denmark hampir sepenuhnya menutup ruang publik seperti kampus, sekolah, perkantoran, restoran, museum, bioskop. Tidak boleh ada lebih dari 10 orang yang berkumpul. Perbatasan juga ditutup.

Thompson: Pemerintah Denmark telah mengumumkan rencana yang sangat agresif untuk membantu pekerja dalam beberapa bulan ke depan. Prof Larsen bisa berbagi cerita tentang apa saja yang dilakukan oleh pemerintah Denmark.

Larsen: Pemerintah Denmark menyetujui untuk menanggung upah pekerja di perusahaan swasta selama perusahaan itu tidak memecat pekerjanya. Jika sebuah perusahaan membuat pemberitahuan yang mengatakan bahwa mereka harus menghentikan 30 persen dari total jumlah pekerja atau memecat sedikitnya 50 orang, negara telah setuju untuk membiayai 75 persen dari gaji pekerja, hingga $3.288 per bulan. (Harapannya ini akan menyelamatkan semua pekerja yang berpenghasilan hingga $ 52.400 per tahun.)

Filosofi di sini adalah pemerintah ingin perusahaan menjaga hubungan baik antara mereka dengan pekerjanya. Akan sangat menguras waktu untuk memulihkan kondisi ekonomi apabila perusahaan justru menghabiskan waktunya untuk merekrut pekerja yang telah ia berhentikan. Rencananya akan berlangsung selama tiga bulan, setelah itu mereka berharap semuanya kembali normal.

Thompson: Jadi, pemerintah menawarkan untuk menanggung biaya hidup pekerja yang perusahaannya terancam mengalami kebangkrutan. Bukankah perusahaan dengan mudah menipu pemerintah dalam memperoleh bantuan?

Larsen: Mungkin saja, tetapi pekerja yang diberi kompensasi tidak diizinkan untuk bekerja dalam masa tersebut. Pekerja yang tetap bekerja di perusahaan tidak menerima kompensasi 75 persen dari total upah perbulan.

Thompson: Beberapa ekonom Amerika  mengatakan AS harus mencontoh sharing economy ala Jerman, “Kurzarbeit”, dimana jam pekerja dikurangi dan negara turut andil dalam menggaji para pekerja. Apakah rencana Denmark seperti itu?

Larsen: Tidak juga. Dalam model ekonomi ala Jerman, pemerintah dan pengusaha berbagi biaya membayar upah. Dalam hal ini, negara membayar perusahaan untuk pekerja yang pulang dan tidak perlu bekerja. Para pekerja ini digaji untuk tidak melakukan apa pun. Pemerintah mengatakan: Banyak orang tiba-tiba dalam keadaan rentan dipecat. Tetapi jika kita harus memecatnya, akan sangat sulit untuk beradaptasi lagi. Dengan cara ini, perusahaan melindungi pekerja mereka di bawah krisis dan orang-orang tetap memperoleh gaji mereka. Anda memberi kompensasi kepada orang-orang meskipun mereka harus pulang.

Thompson: Saya menangkap apa yang anda sampaikan, dan saya akan mencoba untuk meringkas, tetapi katakan jika ringkasan ini salah: Denmark membekukan perekonomian mereka selama tiga bulan. Anda mengatakan: Kami tahu bahwa semua orang tidak akan dapat bekerja selama beberapa bulan ke depan. Itu tidak bisa dihindari. Daripada melakukan pemecatan bergantian yang diikuti dengan perekrutan ulang, yang berakibat penundaan pemulihan, mari kita bekukan perekonomian. Ketika virusnya mereda kita bisa mencairkannya dan hampir semua orang akan tetap bersama perusahaan tempat mereka bekerja dari bulan Januari.

Larsen: Tepat seperti itu. Kami membekukan ekonomi. Karena jika tidak, pemerintah takut akan dampak kerusakan jangka panjang yang akan terjadi pada seluruh sistem. Harapannya, pandemik ini akan berakhir dalam tiga atau empat bulan, dan kemudian kita bisa memulai lagi dari awal.

Thompson: Lalu, apa saja tawaran dari pemerintah Denmark selain hal di atas?”

Larsen: Ada beberapa upaya yang dilakukan oleh Pemerintah. Untuk mencegah sektor finansial bangkrut, negara akan menjamin 70 persen pinjaman bank baru kepada perusahaan. Hal ini akan mendorong lebih banyak pinjaman bahkan dalam kondisi kebangkrutan.

Orang-orang yang menerima tunjangan pengangguran juga ditunda. Biasanya, orang harus pergi ke pertemuan di pusat-pusat pekerjaan dan membuat sejumlah lamaran pekerjaan untuk menerima tunjangan pengangguran. Ada banyak aturan. Tetapi aturan itu ditangguhkan untuk saat ini. Tidak ada persyaratan. Bagian lain dari kebijakan ini adalah bahwa anda hanya bisa mendapatkan tunjangan pengangguran minimal dengan syarat telah menganggur selama dua tahun di Denmark, ketika melewati ambang itu akan menerima tunjangan. Sekali lagi, kami membekukan segalanya.

Selain itu, negara setuju untuk memberikan kompensasi kepada perusahaan atas ongkos produksi mereka, seperti sewa dan obligasi, dan ini tergantung pada tingkat potensi kehilangan pendapatan mereka. Jika mereka biasanya menjual obligasi mereka seharga $ 1 juta dalam satu periode, tetapi sekarang mereka hanya bisa menjual $ 100.000, mereka kehilangan 90 persen dari pendapatan mereka. Kondisi tersebut memenuhi syarat untuk menerima bantuan pemerintah guna menutupi ongkos produksi.

Tagihan pajak musim semi untuk perusahaan juga telah ditunda hingga musim gugur, dan semua pegawai negeri akan mendapatkan gaji ketika mereka dikirim pulang.

Thompson: Ini terdengar sangat berani dan sangat mahal. Berapa biaya yang akan dikeluarkan pemerintah dalam menanggulangi masalah ini?

Larsen: Total anggaran yang dikeluarkan sebesar 287 miliar DKK (Mata Uang Denmark). [Via surel, kami mengetahui bahwa jumlah itu setara dengan 13 persen PDB Denmark. Apabila Amerika Serikat melakukan hal yang sama seperti Denmark itu setara dengan $ 2,5 triliun ].

Thompson: Bagaimana tanggapan anda jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan Denmark selama krisis keuangan global pada 2008?

Larsen: Kembali ke 2008, skalanya sama sekali berbeda dengan apa yang terjadi saat ini. Pada waktu itu, tidak ada pengeluaran dalam jumlah yang sangat besar. Pemerintah mengkhawatirkan utang negara. Ada perdebatan sengit dan panjang tentang apakah Denmark harus menghabiskan banyak uang. Dan Denmark tercatat pernah melalui momen tingkat pengangguran tertinggi ketika krisis terakhir terjadi.

Tetapi hari ini, Fundamen ekonomi Denmark sangat kuat. Kami memiliki surplus yang positif. Kami memiliki tingkat bunga negatif. Ada banyak cadangan anggaran. Jadi, ada banyak hal dapat dilakukan sekarang. Terlebih, Situasi politik telah berubah. Kami telah mencoba meningkatkan investasi publik yang tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Thompson: Kedengarannya seperti 10 tahun yang lalu, ada perdebatan tentang stimulus. Tetapi, hari ini semua orang setuju bahwa Anda hanya perlu menyelamatkan ekonomi.

Larsen: Ya. Mereka hanya ingin menyelamatkan ekonomi. Filosofinya adalah, jika kita tidak melakukannya sekarang, akan ada anggaran yang lebih mahal untuk dipertaruhkan. Kami telah melihat apa dampak virus di Italia dan di Spanyol pada tahun 1918. Jadi saya pikir orang-orang sangat peduli. Kami menghadapi krisis yang sangat besar.

Thompson: Saya harus mengakui agak mengejutkan ketika mendengar negara mampu membuat keputusan sebesar ini dalam hitungan hari. Pemerintah Anda bisa menghabiskan lebih dari 10 persen dari PDB/APBN sebelum Juli. Sementara itu, kami di Amerika Serikat masih memperdebatkan besaran pengeluaran  yang harus ditandatangani pemerintah yang mungkin tidak diterima warga selama beberapa bulan. Ada perbedaan besar dalam ketanggapan respon dari pemerintah-pemerintah.

Larsen: Saya harus mengatakan bahwa proses pengambilan keputusan di Denmark sangat luar biasa. Kami memiliki 10 partai di Parlemen. Dari sayap kiri sampai sayap kanan. Dan mereka semua setuju. Nyaris 100 persen semua pihak menyepakati ini. Dan itu sungguh menakjubkan. Orang-orang yakin bahwa hal ini adalah keputusan yang bijaksana untuk melakukan ini sesegera mungkin.

Banyak kebijakan dibuat melalui perjanjian tripartit antara serikat pekerja, asosiasi pengusaha, dan negara. Hal tersebut karena, di Denmark, sebagian besar peraturan pasar tenaga kerja dimotori oleh banyak serikat pekerja dan sejumlah asosiasi pengusaha. Mereka(serikat pekerja) berperan besar dalam mengatur pasar tenaga kerja terutama melalui perjanjian kolektif . Untuk memungkinkan semua ini, Anda membutuhkan serikat pekerja dan asosiasi pengusaha untuk menjadi bagian dari perjanjian ini. Tentu sangat sulit. Tetapi, mereka berhasil dengan cepat. Dalam beberapa hari, ini adalah perjanjian yang ditandatangani.

Thompson: Apakah menurut Anda itu ide yang bagus?

Larsen: Saya tidak tahu. Tidak ada yang tahu pasti. Ini adalah wilayah yang tidak diketahui. Saya pikir ini upaya yang bagus. Jika Anda merusak kehidupan pribadi dan perusahaan mengalami kebangkrutan, perlu waktu bertahun-tahun untuk membangunnya kembali. Jadi saya pikir hal ini adalah keputusan yang bijak.

Penulis: Derek Thompson

Alih Bahasa: Ari Wijayanto

Penyunting: Luthfian Haekal

Teks asli: https://www.theatlantic.com/ideas/archive/2020/03/denmark-freezing-its-economy-should-us/608533/