Suluh Pergerakan

FILM LAUNDROMAT: MEMAHAMI CARA KERJA PANAMA PAPERS

Jika anda tergolong kaya raya tontonlah film ini. Jika anda ingin tahu bagaimana uang dilipat-gandakan dengan gampang maka nikmati film ini. Bahkan jika anda ingin mengerti bagaimana menyembunyikan kekayaan maka film ini memberi jawaban. Tidak pada jalan ceritanya tapi bagaimana panduan untuk memahaminya. Sederhana tapi juga agak rumit.

Kisahnya diawali dari babak yang tragis. Dua pasang suami istri yang sedang piknik. Ellen Martin dan Joe, yang lagi menikmati suasana danau di New York. Malang nasib keduanya: tiba-tiba kapalnya disapu ombak. Tenggelam dengan menewaskan banyak penumpang. Termasuk Joe. Ellen sedih tapi juga ingin memastikan ganti rugi.

Ternyata perusahaan Asuransinya agak kacau. Perusahaan itu berada di bawah perusahaan lain. Perusahaan lain itu sedang diinvestigasi. Perusahaan lain itu hanya fiktif. Kumpulan korporasi yang beralamat di pulau yang kecil tapi dengan pajak ringan. Ellen berusaha memahami peta kekuatan modal itu dengan melakukan investigasi mandiri.

Ellen menemukan kunci. Perusahaan Asuransi itu hanya cangkang dari perusahaan sejenis yang memang hanya ada di atas kertas. Bahkan apartemen yang sudah diberi uang muka oleh Ellen musti diserahkan pada kaum jutawan yang uangnya tak bernomer seri. Mereka para manager yang menjalankan uang haram yang hendak ditanam dimana-mana. Harta karun mereka sengaja disembunyikan.

Babak kisah ini dipandu oleh dua orang yang menjadi guide. Jurgen Mossack dan Romen Fonsesca yang punya kantor firma hukum-dalam kasus Panama Papers-berperan sebagai pencerita: sejarah uang, bagaimana menumpuk uang dan mengelolanya dengan mahir sekaligus menyembunyikanya dari intaian pajak.

Steven Sodbergh-yang tenar melalui serial Ocean Eleven-membalut drama kapitalisme ini dengan sinisme, hiperbolik dan menyindir siapa saja. Bahkan dirinya sendiri. Yang dikatakan juga punya perusahaan di Panama. Kantor firma hukum yang mengangkat siapa saja dengan mudah untuk menjadi pemilik perusahaan fiktif.

Bukan hanya memiliki 3 atau 5 perusahaan tapi puluhan hingga ratusan perusahaan. Tiap perusahaan itu hanya nama yang bisa dipanggil apa saja. Bukti kepemilikan cukup dengan lembaran kertas saja. Pada adegan babak lainya disebut seorang jutawan yang selingkuh dengan teman anaknya, lalu ketahuan, lalu berusaha menyogok sang anak dengan lembar kepemilikan saham. Semuanya padahal saham bodong.

Pemerintah disini tak kuasa melakukan apapun. Polisi China yang bobrok, suka melakukan bisnis organ tubuh hingga mampu menjebak petinggi partai Komunis. Seolah aparat negara juga berebut untuk memperoleh untung dengan ikut bisnis haram. Jurnalis pun setelah mendapat laporan Ellen hanya mampu takjub, bingung dan enggan memberitakan.

Panama Paper sendiri merujuk pada upaya sebuah kantor Firma Hukum di Panama yang kosentrasi pada pengamanan asset, penghindaran pajak dan penciptaan unit usaha yang fiktif. Dibongkarnya skandal ini telah berhasil menyeret 5 kepala negara sekaligus lebih dari 40 pejabat yang ikut terlibat. Para penguasa hingga politisi itu bukan hanya menyembunyikan kekayaan tapi mengubah asset haram jadi asset halal. Lewat perusahaan yang hanya ada diatas kertas.

Steven Sodbergh meluncurkan pertanyaan: kapan orang miskin diangkat martabatnya? Hidup dengan lebih baik dengan bisa membawa diri secara lebih layak. Macam apa hidup yang berkubang kemiskinan tanpa bisa melawan junta kaum jutawan. Disana film itu menyelipkan kisah gereja yang melahirkan teologi pembebasan. Tapi sang pendeta berakhir ngeri: dibunuh saat khutbah.

Tapi benarkah agama tak bisa melawannya? Sebab sutradara tak menyorot gerakan kiri sama sekali. Hanya ada gereja. Dan itulah yang membawa Ellen untuk duduk di dalamnya. Tuhan musti membela mereka yang dilemahkan. Duo pemandu: Jurgen dan Rommen tak yakin doa itu dikabulkan. Ellen hanya punya satu cara yang mustahil dilakukanya: menyuap politisi untuk membuat aturan yang adil. Mustahil!

Tapi Tuhan tak mudah diprediksi. Tuhan tak diam. Film itu tayangkan adegan bocornya Panama Papers. Terbongkarlah asset para jutawan yang sengaja disembunyikan. Dibocorkan oleh orang yang entah punya motif apa. Jurnalis melakukan investigasi. Semuanya terbuka dan kecurangan tampil di panggung. Kita seperti menikmati akhir yang bahagia.

Hanya orang dungu yang percaya kelicikan musnah hanya oleh penangkapan. Orang -orang kaya akan selalu ada dan punya cara. Uang itu mengalirkan berbagai taktik dan praktik curang. Panama Papers benar telah membuka selubung harta karun tapi juga menunjukkan betapa mudahnya kekuasaan hingga hukum diperdaya.

Disini situasinya juga sama: Global Wealth Report 2018 menyebutkan, satu persen orang terkaya Indonesia menguasai 46,6% kekayaan nasional, meningkat dari 45,4% pada 2017. Sementara 10 persen orang terkaya menguasai 75,3% kekayaan nasional. Indonesia terburuk kelima di dunia setelah: Thailand, Rusia, Turki dan India. Dan sekitar dua pertiga kekayaan orang terkaya Indonesia berasal dari sektor kroni. (Kompas 13/1/2020)

Berita ini biasa tapi film ini menggandakan akibatnya. Saat orang kaya menumpuk harta sesuka hati maka orang miskinlah korbanya. Puluhan perusahaan yang bisa berimbas pada kehidupan orang miskin. Persis seperti yang kita saksikan dalam tragedi Jiwasraya: perusahaan asuransi yang tampaknya membukukan keuntungan tapi ternyata rugi besar. Nasabah

Film ini bukan menjelaskan siasat orang kaya tapi penipuan apa saja yang dilakukan orang kaya. Ellen yang tampil adalah suara moral yang selalu akan bergema menuntut terpenuhinya keadilan. Steven Sodbergh kali ini memihak tapi tak dengan yakin.