Suluh Pergerakan

Deradikalisasi Sufi

Oleh: Nalar Naluri

Setidadknya, harta karun berupa; sastra, kezuhudan moral, asketisme, kosmopolitan dan dunia esoterik para sufi telah berhasil mempersembahkan peradaban sublim pada dunia. Akan tetapi, ada satu kisah dari dirinya yang kini seolah disenyapkan dari perhatian kita: pembangkangan.

Islam mengajarkan agama cinta dan perlawanan. Dua warisan ini masih lestari hingga kini, sekaligus tak henti untuk diperdebatkan. Dua poros golongan, baik yang meyakini Islam sebagai agama perdamaian maupun agama perlawanan, masing-masing kekeuh mempertahankan penafsirannya akan Islam. Lengkap dengan hadits dan dalil-dalil yang mereka imani.

Mencari yang paling kafah di antara keduanya adalah usaha kesia-siaan belaka. Tapi bukan mustahil jika kedua tradisi tersebut bisa dikawinkan alih-alih dipergunjingkan. Tasawuf menjadi ilmu yang sangat universal dicercap bagi mereka para sufi meski tujuan utamanya ialah Tuhan. Sehingga, urusan dunia yang seolah menjadi barang kotor di hadapan para sufi, juga ditanggapi berbeda-beda oleh para Auliya.

Kesewenang-wenangan, kedzaliman dan penindasan di dalam ajaran Islam pun dengan sangat jelas-jelas ditolak dan tak boleh diberikan ruang. Lantas, apakah karena hal tersebut masuk dalam ketegori keduniawian, para sufi bijak dengan kelembutan hati serta cinta, dekat dengan Ilahi―tak bisa ambil bagian dalam sebuah perlawanan?

Seorang intelektual dan politikus termuka dari Irak, Ali A Allawi dalam bukunya, Krisis Peradaban Islam: Antara Kebangkitan dan Keruntuhan Total menjelaskan, pada awal abad ke-20, otoritas kolonial telah berhasil, dalam berbagai kesempatan, menghancurkan perlawanan tradisional tarekat sufi. Pemerintah-pemerintah kolonial menganjurkan tarekat sufi untuk memusatkan perhatian mereka hanya pada spiritualitas. Hal ini kerap dilakukan melalui para syaikh yang tergabung dalam tarekat-tarekat itu sendiri yang bersedia bekerja sama atau setidaknya menoleransi kehadiran kekuatan kolonial. Kemudian menetralisasi tarekat sebagai tempat potensial bagi pemusatan suara kritis atau perlawanan.

Di Nusantara, mereka para kekasih itu menyebarkan Islam dengan metode akulturasi, toleransi, dan inklusivitas. Namun, ketika Dunia Islam sedang diguncang oleh kekuatan-kekuatan Eropa baik melalui kolonialisme, imperealisme dan juga paling sering adalah dengan monopoli perusahaan-perusahaan komersil seperti English East India Company yang dididirikan 1602, atau Dutch Untited East Indies Company (VOC), telah mengakibatkan konsolidasi diri kekuatan Dunia Islam.

Azyumardi Azra menyebutkan, di Jawa, pemberontakan sufi karismatik Syaikh Yusuf al Makassari, putera bangsawan Sulawesi Sultan Alaudin, raja Gowa ke-14, yang juga merupakan sahabat dari Sultan Ageng Tirtayasa Banten, melakukan perlawanan sengit terhadap monopoli kongsi dagang antara VOC dan saudara Sultan Ageng, Sultan Haji.

Pada kesempatan pengutipan yang sama di majalah Tempo Liputan Khusus Wali Nusantara, Paturungi Parawansa Karaeng Tobo mengatakan, pada tahun 1682, perang yang dilakukan Syaikh Yusuf, yang juga merupakan mantu dari Sultan Ageng itu, berhasil mengambil 5.000 prajurit baik yang berasal dari Banten maupun Makassar. Namun pasukan Sultan Haji dan Belanda berhasil menundukkan Syaikh Yusuf dengan menyandera puterinya.

Hingga pada tahun 1683, di usia 68 tahun, pemberontakan Yusuf dipadamkan. Membuatnya diasingkan ke koloni Cape Town Afrika Selatan yang juga dikuasai oleh VOC. Sebelumnya Syaikh Yusuf dibuang ke Sri Lanka. Karena di sana pengaruhnya dikhawatirkan semakin meluas, Belanda memindahkannya ke Cape pada tahun 1694. Beliau meninggal 1699, meninggalkan jejak Islam di Afrika Selatan. Dan Islam berkembang pesat di sana.

Pemberontakan sufi tak hanya meletup di Nusantara. Di Afrika Utara, ketika penetrasi Prancis mencekram benua hitam itu dengan menaklukan wilayah besarta Waliyullahnya. Kita akan mengenang Amirul Mukminin sejati dari Aljazair. Abd el-Qadir. Imam tampan yang disegani. Seorang mistikus yang namanya harum hingga kini. Pada tahun 1830, sang Imam bersama masyarakat lokal berperang alot selama beberapa dekade melawan Prancis.

Bukan hanya modal kesohoran yang membuat sufi dapat memobilasi perlawan suci. Seorang sufi telah dibekali kemampuan politik, organisasi dan militer. Kombinasi itulah yang dimiliki Abd el-Qadir dan Syaikh Yusuf.

Pemberontakan besar neo-Mahdi, Muhammad Ahmad di Sudan 1881, melawan penjajahan Anglo-Mesir, sebagai contoh lain menegaskan bagaimana seorang sufi memiliki strategi dan pengetahuan kombinasi militer, politik dan organisasi.

Kehadiran “Imam Mahdi” dalam doktrin Islam dikenal sebagai “Sang Penebus.” Adalah penyelamat umat Islam zaman akhir, di tengah situasi terpuruknya moral tatanan dunia dan pengingkaran terhadap ajaran Tuhan. Inilah sosok “fiksi” yang diimani sekaligus menjadi potensi besar dimiliki Islam untuk membuat mereka saling bekerjasama.

Imajinasi dalam tradisi Islam ini barangkali bisa dijelaskan sedikit terang melaui pendekatan ilmu sosial. Sebagaimana militeris-mesianis dalam agama Yahudi dan Kristen. Dogma juru selamat maupun datangnya “Imam Mahdi” atau dalam domestifikasi nusantara lainnya disebut dengan “Ratu Adil” terdapat sebuah kemiripian. Kesemuanya adalah hasil pencangkokan antara okultuisme dan pembangkangan. Lahir dari kondisi “supra kesadaran” yang menggemakan protes sosial.

Kepercayaan atas Imam Mahdi maupun militer-mesianis, bukan sekadar perkara ghaib yang dianggap sebagai ideologi irasional. Melainkan dibangun oleh sebuah analisis dan perhitungan yang amat cermat dari pelbagai iklim sosial. Menurut Marvin Haris dalam bukunya Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir, mesianisme militer menyatukan yang miskin dan yang terampas. Hal itu memberi mereka suatu perasaan akan misi kolektif, jarak sosial yang menyusut, membuat mereka merasa seperti “saudara-saudari.” Rakyat di seluruh wilayah termobilisasi olehnya, energi mereka terfokus pada waktu dan tempat tertentu, berujung pada pertempuran yang tak terelakkan antara massa yang miskin papa dengan orang-orang dari puncak piramida sosial.

Tapi sufi juga kerap dianggap sebagai bid’ah. Sebagaimana sihir, mistisisme dan kaum pecambuk. Oleh karena itu mereka bukan hanya menyandang sebagai kaum pembangkang, tapi juga dicap sesat oleh kekuasaan maupun sesama kaum Muslim. Sang Pembaharu Ibnu Taimiyah misalnya, menyerang praktik-praktik kaum sufi, seperti peringatan maulid yang mendendangkan musik, menyalakan lilin dan menerangi obor atas perayaan mengenang lahirnya Muhammad Saw. Nabi pembela kaum miskin. Sang Pembaharu menganggapnya sebagai kekeliruan karena tidak sesuai dengan teologi Islam. 

Di Indonesia saat ini, transformasi para sufi disorot terutama di panggung politik. Peran mereka digelanggang politik diakomodir dan terhitung penting oleh pemerintah. Sufi dianggap sebagai penetralisir intoleransi umat beragama, terutama saat Pilpres-2019 yang mengobarkan politik identitas. Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, yang juga merupakan Rais Aam Jamiiyah Ahli Thoriqoh al-Mutabarah al-Nahdliyyah (JATMAN), kemudian terpilih sebagai pemimpin Forum Sufi Dunia. Saat ini beliau menjabat posisi sebagai Watimpres periode 2019-2024.

Keberadaan Habib Luthfi bin Yahya di lingkaran kekuasaan memunculkan dua harapan dari umat Islam dan segenap bangsa. Pertama, beliau diharapkan mampu sebagai Auliya menjadi pusat berpikir serta menerapkan agama cinta, perdamaian, toleransi dan inklusivitas beragama. Sebagaimana manifestasi Tuhan itu sendiri dalam ajaran Tasawuf. Kedua, sebagai kekasih Allah, beliau bisa menasehati para penguasa kala abai dan dzalim terhadap kaum lemah.

Tentu pekerjaan tersebut tidaklah mudah. Di tengah-tengah lautan oligarki, mendung tebal dan terkadang badai, Sang Habib berlayar pada perahu kecil dengan hempasan gelombang ombak-ombak kepentingan penguasa.

Paling tidak, kini sufi tak lagi menjadi apolitis: fokus dengan Ilahi―abai terhadap duniawi. Bertolak dari akar historisnya, jika merujuk sejarah keberadaan para sufi kurun awal di nusantara, banyak di antara mereka bukan hanya dekat dengan penguasa tapi juga dilabeli sebagai pembangkang.

Para ulama-ulama sekaligus penganut tarekat tarekat kala itu, tidak hanya mampu mengawinkan tradisi lokal nusantara dengan Islam. Mereka, para ulama, juga berperan mencangkokkan ajaran Islam sebagai agama perlawanan.

Berderet nama-nama sufi seperti Syekh Abdurrauf al Singkli dari Aceh, Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan, Syekh Yusuf al Makassari dari Sulawesi, Guru Falak dari Bogor, bahkan Pangeran Diponegoro, yang juga sama-sama pengikut tarekat Syatariah, kesemuanya adalah pemberontak, melakukan perlawanan terhadap kapitalisme VOC dan kolonialisme Belanda.

Tarekat mereka bukan hanya digunakan sebagai tradisi pendisplinan doa, laku dan sikap yang diwariskan oleh para sufi. Lebih dari itu, tarekat digunakan sebagai wadah kegelisahan orang-orang yang dipinggirkan.

Lihat saja, sepanjang abad ke-19, perlawanan anti-Belanda di Aceh didukung secara aktif oleh Tarekat Naqsabandiyah. Begitupun di Turkestan Timur yang melawan pemerintahan Mancu. Di Kaukasus, dua pemberontakan besar melawan Rusia dilakukan oleh Imam Mansur dan Imam Syamil pada 1785-1791. Semuanya dipimpin oleh para syaikh Naqsabandiyah.

Hingga akhirnya datanglah zaman revivalis. Pada abad ke-18 yang tadinya mencoba menyongsong “zaman keemaasan” Islam alih-alih menjerumuskan mereka sendiri dalam kekalahan. Sebagian besar ulama-ulama sufi dan tarekat-tarekat mereka di periode tersebut mengalami peningkatan signifikan dalam gerakan reformasi dan kebangkitan Islam.

Upaya pemurnian berbagai doktrin serta praktik tarekat mereka lebih condong bergeser ke paham ortodoks. Bukan tanpa alasan, para ulama-ulama tersebut khawatir akan melonggarnya standar agama dan praktik-praktik menyerupai kemusyrikan.

Akan tetapi, signifikansi para revivalis ini pada akhirnya kalah dengan gerakan monoteisme tanpa kompromi dan bersifat literal yang dinisbahkan kepada seorang Hanbali, Muhammad ibn Abdul Wahhab (1703). Yang selanjutnya dikenal dengan gerakan Wahhabi.

Kemunculan politik identitas di Indonesia akhir-akhir ini memunculkan maraknya majelis-majelis berjamuran. Kegelisahan individu-individu itu tak terlepas dari situasi sosial yang sedang bergolak. Banyak di antaranya memilih jalan hijrah sebagai persinggahan paling presisi di tengah lautan krisis. Setidaknya, kaum Salafy yang poros teologisnya konon mengacu pada kebudayaan Islam kurun awal, yang secara hirarki patuh terhadap para syaikh-syaikh dari Jazirah Arab, boleh percaya diri karena telah meraup cukup banyak migrasi jamaah “mengambang” masuk dalam mazhabnya. Konsekuensinya, keberislaman yang kaku diterapkan di tengah-tengah keberagaman akar tradisional nusantara.

Tapi ternyata itu juga tidak sepenuhnya benar. Kini, baik di desa, kampung maupun kota-kota di Indonesia, tarekat-tarekat sufi juga berkembang pesat. Seolah menampik keberislaman yang ahistori, kebangkitan Islam tradisionalis pun mulai digemari. Bukan hanya diisi oleh kalangan orang tua, mereka-mereka yang muda juga sudah banyak memenuhi setiap majelis-majelis.

Di Turki, perhatian terhadap karangan-karangan para sufi semakin meningkat di kalangan mahasiswa pada tahun-tahun setelah revolusi Turki.

Tarekat adalah sebuah tradisi pendisiplinan diri para kaum sufi sebagai upaya melatih doa yang bukan tekun secara kuantitaif, melainkan seberapa berkualitas hubungan vertikalnya dengan kekasihnya.

Supra kesadaran. Inilah modal penting yang dimiliki para Sufi. Tak sekedar menjadikan mereka panutan banyak orang, jejak-jejaknya diikuti, bisa dipercaya sebagai juru selamat, kekasih para pecinta dan orang yang memiliki keberimanan perlawanan.

Pembangkangan sufi tak terlepas dari kesadaaran akan kemanusiaan (dhawq). Menjadi manusia berarti menginginkan upaya mentransendensikan kemananusiaan. Tapi bukan berarti terpusatkan hanya pada kemanusiaan saja. Itu hanyalah tahap dasar. Sebagaimana tasawuf itu sendiri, secara hakiki memiliki unsur-unsur penting.

Sayyed Hossein Nasr, seorang guru besar, imuwan muslim sekaligus sufi, menguraikan unsur-unsur penting di dalam tasawuf. Dari yang tertinggi ialah kodrat Tuhan, kodrat manusia, dan kebijakan rohani. Adapun tujuan akhir tasawuf adalah Tuhan.

Sebagaimana tukang sihir yang digali oleh antropolog matrealisme, Marvin Haris. Sufi menempati posisi penting mengakomodasi umat. Mudah mengkonsolidasi untuk sebuah cita-cita. Potensial meletupkan percikan-percikan protes. Inilah jalan dasar tasawuf yang merambah kodrat manusia, sebelum menuju tingkatan yang lebih tinggi: kodrat Tuhan.

Dari beberapa catatan penelitian dan jurnal-jurnal ilmiah, gaung radikalisme islam itu kini banyak diisi oleh mazhab Salafy Jihadi. Kemudian berkembang dengan bermacam-macam nama, bendera dan organisasi. Yang berhasil menjaring peminat, kombatan, simpatisan dalam jumlah besar dan masih menyala hingga saat ini ialah ISIS.

Sebaliknya, kaum sufi kita masih bersembunyi di dalam goa suci pertapaan yang begitu lama. Telah diremuk redamkan sejak era kolonialisme. Namun, apakah benih perlawanan kaum sufi itu benar-benar telah sirna bersamaan dengan pendisiplinan kolonialis, yang dibantu ulama-ulama kontra dengan memusatkan perhatian hanya untuk spiritualitas semata?

Sebagaimana Abdul Qadir el-Jailani yang telah menandatangani perjanjian perdamaian dengan Prancis, mengakhiri masa perlawanannya. Sang Syaikh mengkalkulasinya dengan penuh perhitungan realistis. Bahwa konflik, tidak dapat, pada akhirnya menguntungkan orang-orang Muslim. Selain persediaan persenjataan, kemajuan teknologi, Syaikh juga melihat telah banyak pengkhianatan dan persengkokolan di dalam tubuh umat Muslim. Kisah yang sama terjadi pada para sufi pembangkang seperti Syaikh Yusuf maupun Pangeran Diponegoro.

Baik Abdul Qadir, Syaikh Yusuf, Pangeran Diponegoro maupun para sufi yang telah melawan dan akhirnya ditaklukan, kiranya telah mengakhiri jihad fisik. Namun, ruh mereka seolah menyodorkan tongkat estafet jihad selanjutnya.

Di luar maupun di dalam, ada upaya memplesetkan Islam adalah agama pedang dan perang. Pemikiran demikian sudah pasti keliru. Akan tetapi, humanisme ditakar dalam kedamaian tanpa kekerasan atau sebaliknya, adalah sebuah tetesan absurditas yang menetes bagai kaki hujan tiada henti.

Bukti bahwa tarekat dan kaum sufi, hanya sibuk mementingkan hubungan transendensi secara vertikal, abai terhadap kesenjangan sosial, juga merupakan kekeliruan hakiki.