Suluh Pergerakan

DARI KRISTEN UNTUK PALESTINA (Sebuah ingatan tentang Nakba dan Paskah)

Jehan Bseiso tidak pernah menyangka kalau dia berbagi hari ulang tahun yang sama dengan seorang penyair masyur Palestina. Sastrawan kelahiran Los Angeles ini baru menyadarinya pada umur 9 tahun. Dia hanya tahu bahwa setiap hari ulang tahunnya, perpustakaan di Gaza dan Tepi Barat selalu memutar film hitam putih tentang kisah hidup seorang pria pendiam berkumis. Laki-laki yang belakangan dia tahu merupakan sosok penting dalam gerakan pembebasan Palestina, Ghassan Kanafani!

Kebetulan itu telah melahirkan ikatan bathin yang tidak biasa. Ghassan lantas menjadi teman korespondensi imajiner bagi Jehan. Dalam sebuah surat terbuka, Jehan berkisah bagaimana orang-orang Palestina harus lahir dan mati dalam diaspora. Terserak di seluruh penjuru bumi sebagai manusia tanpa negara. Juga tentang kamp pengungsi Palestina yang dipenuhi orang Iraq dan Suriah, serta hal-hal menyesakkan seperti pemukiman-pemukiman di Palestina yang harus mengganti nama ke dalam Bahasa Ibrani. Semua hal getir itu adalah buah dari sebuah peristiwa laknat di tahun 1948. Satu hari yang diucapkan dengan bibir bergetar oleh setiap rakyat Palestina: hari NAKBA, sengkala malapetaka.

15 Mei 1948 menandai sebuah kelahiran dan kematian sekaligus. Lahirnya negara bernama Israel dan lantaknya bangsa Palestina. Pada hari itu 600 lebih desa di Palestina dimusnahkan paramiliter Zionist dalam suatu Gerakan pembersihan etnis. Mereka menyerang warga sipil Palestina, membunuh, mengusir sisanya kemudian merebut tanahnya untuk mendirikan sebuah negara Yahudi di timur tengah. Sejak saat itu, 15 Mei diperingati secara berbeda di satu tempat yang sama. Israel bersuka cita merayakan hari kemerdekaan (yang ditandai dengan berakhirnya pemerintahan Inggris) sementara Palestina meratapinya sebagai hari bencana.

Tahun ini, peringatan Nakba (yang berurutan dengan peringatan Paskah), terasa pilu karena rentetan beberapa peristiwa tragis. Diawali dengan penyerbuan masjid Aqsa selama Ramadhan, diikuti insiden di Jenin yang disusul dengan tewasnya Shireen Abu Aqla. Kamis kemarin, Mahmoud Abbas, presiden otoritas Palestina meletakkan karangan bunga ke atas peti mati Shireen Abu Aqla dengan tangan bergetar. Usai melakukan penghormatan negara atas kematian Shireen, Abbas menyerukan perlawanan habis-habisan atas agresi Israel. Shireen Abu Aqla, jurnalis al Jazeera tewas saat meliput penyerangan Israel atas pemukim Palestina di Jenin. Kristen Amerika kelahiran Ramallah tersebut meninggal dalam usia 51 tahun. Sebutir peluru IDF menembus kepalanya. Tubuhnya yang berbalut rompi bertuliskan PRESS rubuh di samping rekan jurnalisnya Shatha Hanaysheh.

Setelah menjalani upacara penghormatan negara, jenazah Shireen diarak di jalan Ramallah sebelum dimakamkan pada Jumat waktu setempat. Ribuan rakyat Palestina turun ke jalan untuk memberikan penghormatan terakhir. Jenazahnya ditaruh di atas tandu dengan berselimutkan bendera Palestina. Orang-orang berdesakan dan berebut mencium jasadnya yang diusung beberapa anggota Brigade Martir Al Aqsa. Isak dan jerit tangis ibu-ibu di sepanjang jalan bersahutan dengan teriakan “terima kasih Shireen!” serta pekikan takbir yang tiada henti. Arak-arakan itu berakhir di Gereja Kota Tua, tempat jenazah Shireen disemayamkan sebelum dimakamkan di kota suci Yerusalem. Umat Kristen Palestina menyerukan agar dunia tidak tinggal diam dan melawan misinformasi atas perjuangan Shireen.

Media barat yang kebanyakan Pro Israel sering menganggap kematian pejuang-pejuang seperti Shireen sebagai hal yang tak penting hanya karena ia “Kristen”. Shireen bukanlah korban pertama dari piciknya media dan publik barat dalam menilai perjuangan Kristen Palestina. Jauh sebelumnya, hal yang sama pernah menimpa George Habbash, pemimpin kharismatik PFLP. Kematian Habbash disambut dengan sebuah obituary jahat oleh The New York Times dengan judul yang tendensius: “George Habbash, Gembong teroris Palestina Mati di Usia 82 Tahun”. Media barat tidak pernah sungkan menunjukkan kebencian kepada para pejuang Palestina.

Kebencian terhadap pejuang Kristen tidak hanya ditunjukkan oleh media massa semata. Seorang tahanan Kristen dari Palestina bercerita bagaimana sipir penjara Israel menyiksa para tahanan Kristen dengan lebih kejam karena dianggap bertentangan dengan kebiasaan Kristen yang menurut Israel tidak ada hubungannya dengan tanah air Palestina.

Kampanye kebencian terus didengungkan sehingga muncul anggapan bahwa perlawanan Palestina adalah monopoli kelompok Arab Islam saja. Identitas perjuangan Kristen selalu dijauhkan dari liputan media. Publik lantas diajak supaya lupa bahwa Palestina adalah tempat kelahiran ajaran Kristen. Perjuangan Palestina yang sejatinya adalah perlawanan terhadap imperialisme direduksi menjadi sekedar “perang agama” antara Islam dan Yahudi. Dunia tidak pernah diberitahu kebenaran tentang bagaimana umat Kristen Palestina dilecehkan dan dihinakan oleh aggressor Israel. Cerita tentang penistaan itu tak pernah berhenti hingga hari ini. Penganutnya diserang dan mengalami kekerasan dan dijauhkan dari perlakuan manusiawi. Gerejanya tak luput dari perusakan dan vandalisme oleh gerombolan ekstrimis Yahudi. Umat Kristen dan Islam di Palestina sejatinya memikul penindasan yang sama.

Sudah saatnya dunia tahu tentang kontribusi umat Kristen dalam perjuangan pembebasan Palestina. Perbincangan tentang Palestina harus mengemuka sebagai perjuangan kelas, perlawanan rakyat melawan penindasan dan imperialisme modern yang dilakukan penjajah Israel. Kisah Palestina bukanlah perang agama antara Islam dan Yahudi, melainkan perang antara Zionisme Israel melawan umat Islam, Kristen, dan seluruh elemen rakyat Palestina dengan aneka keyakinannya.

Kematian Shireen telah menggenapi lusinan pejuang Nasrani yang berjuang untuk Palestina merdeka. Mulai dari Kemal Nasser, seorang penyair sekaligus pemimpin politik dari masa perang Arab-Israel, kemudian George Habbash, ideolog dan pendiri organisasi komunis Popular Front for the Liberation of Palestine. Habbash seorang dokter yang mendedikasikan hidupnya untuk tanah air Palestina. Sebagai tenaga medis, Habash banyak berinteraksi dengan para pengungsi di kamp-kamp Yordania setelah perang Arab-Israel, sekaligus mempertebal ide-ide gerakan nasionalisme Arab.

Berikutnya adalah Wadie Haddad aka Abu Hani yang menjadi otak dibalik perekrutan lusinan anak muda progresif untuk kemerdekaan Palestina. Tangan Abu Hani memintal jaringan solidaritas yang lebar, mulai dari RAF di Jerman, pasukan merah Nihon Segikun di Jepang, hingga Carlos the Jackal. Hani merekrut para militan kiri seluruh dunia untuk berperang melawan Israel. Patrick Arguello, Yasuyuki Yasuda, dan Tsuyoshi Ukodaira adalah deretan martir yang menyambut panggilan Abu Hani untuk memerdekakan Palestina. Dari golongan anak muda, adalah Chris Bandak, tentara dari Tanzim Fatah dan tokoh penting dalam Brigade Martir al-Aqsa. Selain nama-nama di atas, rakyat Palestina juga memiliki pejuang Kristen lain seperti Uskup Atallah Hanna dari kota suci Jerusalem, Khalil Al Shakakini, Emil Ghuri, Raymonda Tawil, serta banyak nama lagi. Mereka semua adalah anugerah terindah Kristen untuk Palestina.

Semua bertarung demi satu tanah air merdeka. Kematian sebagian dari mereka tidak akan pernah menyurutkan semangat untuk terus berjuang. Jasadnya akan menjadi kekuatan baru yang bangkit serupa legenda burung Phoenix yang hidup kembali dari abunya. Maka demikianlah yang terjadi, kematian selalu memberi kekuatan baru kepada perjuangan. Seperti bunyi sebuah grafiti di tembok sudut kota Ramallah: “Palestine will rise stronger from the ashes of Israel’s Terror!”
*

1 komentar untuk “DARI KRISTEN UNTUK PALESTINA (Sebuah ingatan tentang Nakba dan Paskah)”

  1. Ping-kembali: 2infinitesimal

Komentar ditutup.