2f4e3150-2046-4960-ad98-46b9a6241d5c

CERITA DUA SAHABAT

Oleh: Melki AS – [Pegiat Social Movement Institute]

‘Cemburu adalah sentimen yang dangkal, tapi normal. Kita hanya perlu memahaminya, dan tidak kaget saat itu terbakar’

‘Aku lebih tahu dari kebanykan orang bahwa penyakit sesungguhnya adalah kematian itu sendiri , bukan moment disaat semuanya berhenti. Apa itu kematian? Hari-hari yang panjang, malam insomnia yang tak berkesudahan, saat rasa sakit meninggalkan tanda pada tubuhmu sampai kau kehilangan kesadaran’

***

Sahabat, mungkin kata ini tidak asing lagi di telinga kita. Ia bisa berarti kawan, karib atau teman yang dekat dengan kita. Sahabat bisa jadi tempat kita berbagi banyak hal. Sahabat sendiri bisa ditafsirkan dalam banyak locus berbeda.

Tahar Ben Jelloun, seorang penulis Maroko, salah satunya yang mencoba mengingatkan kita tentang arti sahabat. Melalui novel ‘Sahabat Terakhir’, ia seakan ingin membawa kita pada pencarian makna sahabat sebagai ikatan. Melalui kisah Ali dan Mamed, Tahar mencoba memetakan setiap persoalan yang mempengaruhi atau berpengaruh satu sama lainnya. Novel ini memberi inspirasi tentang perjalanan kehidupan kita yang kadang bingung memandang banyak hal, terutama ketika hal tersebut bertentangan dengan diri kita sendiri.

Pada dasarnya buku ini menceritakan dua orang tokoh utama, yaitu Ali dan Mamed. Meskipun pada selingannya, ada beberapa tokoh lain yang ikut diselipkan untuk menguatkan pemahaman. Alih-alih memberi klimak pada akhir cerita. Alurnya pun sangat mengalir. Mulai dari masa muda yang penuh gejolak sampai masa tua yang tidak terlalu banyak ambisi dan kemudian berakhir dengan kematian.

Ali, seperti dalam kisah, adalah seorang keturunan Fez yang berimigrasi ke Tangier Maroko, sebuah kota international. Oleh karena itu ia sering dibilang sebagai Yahudi. Tapi keberuntungannya ialah karena ia Islam. Sedangkan Mamed sendiri adalah keturunan Tangier. Ali dan Mamed menjalin persahabatn semenjak masih muda. Mereka konyol, nakal dan terobsesi pada seks dan fantasinya. Akan tetapi hal tersebut tidak mengurungkan minat mereka pada diskursus modern, sekuler bahkan pada politik dan ideologi yang sedang berkembang dengan memperbandingkan kehidupan yang mereka jalani di Tangier. Mamed, yang nama aslinya Muhammad, suka membaca Marx dan Lenin sedangkan Ali lebih senang akan sastra. Mereka sering berdiskusi dan bicara panjang lebar tentang banyak hal. Hal inilah yang nantinya membawa mereka pada satu kejadian yang sulit untuk dilupakan.

Maroko, sebagaimana tahun 1950-an, merupakan negara monarki yang dipimpin oleh Raja Hasan II. Sistem pemerintahannya pun dijalankan dengan tangan besi. Bahkan melakukan perdebatan pun bisa di jebloskan dalam penjara dan bisa berakhir dengan pembuangan ke kamp kerja paksa. Menentang Raja berarti siap menjalani kehidupan yang susah dan tiada berkesudahan. Para tentara dan mata-mata menyebar kemana-mana dan mengamati setiap pergerakan manusia yang ada. Sehingga diskusi pun bisa menjadi masalah besar. Apalagi diskusi yang arahnya penentangan terhadap raja atau sistem yang berlaku. Ali dan Mamed adalah dua diantaranya yang ikut dijebloskan ke kamp kerja paksa oleh pemerintahan Maroko.

Ali dan Mamed adalah dua tokoh yang secara cerdas dipilih penulis untuk mewakili sisi kehidupan masyarakat saat itu. Ali dan Mamed dengan konyol digambarkan seperti layaknya anak muda biasanya; penuh khayalan, harapan dan fantasi. Di usia yang masih muda belia, kedua sahabat ini saling berbagi dan melakukan hal secara bersama-sama. Termasuk dalam fantasinya. Pikiran mereka akan perempuan, cinta dan seks menjadi sajian pendahuluan yang digambarkan penulis. Fantasi bercinta dengan pacar bahkan dengan pelacur menjadi kudapan di bab-bab awal buku ini.

Beranjak dewasa kedua sahabat ini akhirnya harus terpisah. Mamed yang suka dengan politik harus kuliah di Prancis. Lalu kemudian ia masuk dalam Partai Komunis Prancis. Sedangkan Ali mendalami seni dan film yang disenanginya sedari kecil. Walaupun akhirnya ia pindah ke jurusan geografi dan lalu menjadi guru. Sementara Mamed kemudian berhasil menjadi dokter. Tapi meskipun terpisah, kedua sahabat ini tetap saling berkirim surat dan berkomunikasi. Kalau sedang di Maroko, mereka biasa berdiskusi di Kafe de Paris dan Kafe Hafa. Ini tempat yang sedari dulu menjadi langganan mereka untuk bertemu, berdiskusi atau membicarakan pengalaman-pengalaman seks dan fantasi percintaan mereka dengan banyak perempuan.

Tapi sementara kedua sahabat ini menjalani pendidikannya, mereka pernah menjadi tahanan pemerintahan Maroko. Mereka dianggap ikut terlibat pembangkangan kepada sistem pemerintahan yang ada karena suka mendiskusikan kehidupan sosial yang ada. Jadilah kedua sahabat ini menjalani masa penahanan dan pembuangan ke kamp kerja paksa. Delapan belas bulan mereka berada di tahanan berkedok wajib militer tersebut, tidak mengendorkan persahabatan yang telah dibangunnya selama ini. Bahkan persahabatan itu semakin mengikatnya satu sama lain. Penderitaan membuat mereka saling mengerti arti persahabatan satu sama lainnya. Selain penderitaan karena diharuskan wajib militer tersebut membuat mereka lebih serius, lebih fokus dan lebih matang. Tapi yang namanya tahanan tetaplah tahanan. Kondisi di tahanan tidak sebaik sewaktu mereka masih bebas. Makanan yang ada selama di tahanan sangatlah tidak manusiawi. Sehingga suatu hari Ali pernah hampir mati karena tersedak makanan yang diberikan. Beruntung ada Mamed yang menolong. Melihat kondisi Ali yang mengenaskan, dengan mukanya yang sudah membiru dan nafas yang hampir berhenti, Mamed berusaha meminta bantuan sambil memberikan pertolongan dengan memukul-mukul punggungnya. Sampai akhirnya para tentara percaya kalau Ali memang sakit dan butuh penanganan dokter secepatnya. Di suatu waktu yang berbeda, giliran Mamed yang jatuh sakit. Perutnya keram dengan begitu hebatnya. Saking hebatnya sampai ia terseungkur dan memuntahkan cairan kehijauan. Saat itu tak ada obat ataupun air minum. Juga saat itu kejadiannya berlangsung tengah malam yang artinya tak ada bantuan yang bisa diharapkan. Mamed demam tinggi dan sekujur badannya menggigil. Sedih melihat sahabatnya, Ali hanya bisa memijat perutnya sampai pagi menjelang. Sementara dipijat, Mamed tertidur. Barulah setelah pagi, bantuan datang dan Mamed dibawa ke ruang pengobatan dan kemudian dilarikan ke rumah sakit. Seminggu Mamed dirawat di rumah sakit. Dan setelah itu ia kembali dengan muka yang masih pucat dan badan yang kurus.

Kejadian-kejadian selama di tahanan inilah yang membuat persahabatan mereka menjadi ikatan yang semakin erat. Persahabatan mereka terhubung dalam hidup dan mati dan tidak ada apapun dan siapapun yang bisa merusaknya.

Setelah bebas dari tahanan dan dari kamp kerja paksa ala militer, mereka akhirnya bisa bernafas lega. Keduanya berniat melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda. Bahkan sebelum melanjutkan pendidikannya, Mamed menyunting Ghita, yang masih merupakan kerabat dari Ali. Ali pun kemudian menikahi Soraya. Cuma nasib Ali kurang beruntung karena Soraya tidak bisa mempunyai anak. Sementara Mamed punya beberapa anak-anak yang manis dan lucu. Ali dan Soraya pun akhirnya mengadopsi anak. Selama berumah tangga, persahabatan anatara Ali dan Mamed tidak pernah mengendur. Keduanya saling berkirim surat walau hanya untuk mendengar gosip yang sedang berkembang di Maroko. Karena saat itu Mamed sudah menjadi dokter dan bekerja di Stockholm, Swedia. Tapi Mamed selalu merindukan kehidupan Tangier Maroko. Termasuk tentang debu-debu nya.

Kecemburuan pernah juga hinggap di keluarga mereka. Terutama pada istri-istrinya yang merasa terkucilkan melihat persahabatan Ali dan Mamed yang begitu kental. Tapi hal ini tidak terlalu mengkhawatirkan. Justru kekhawatiran yang timbul adalah, Mamed saat itu sebenarnya sudah menderita sakit paru-paru yang parah. Hal ini karena kebiasaan merokok yang terlalu banyak. Hal itu tentu saja ia sembunyikan dari Ali. Karena Mamed sendiri tidak mau Ali mengkhawatirkannya. Meskipun sebenarnya Ali sangat merindukan dan mengkhawatirkan sahabatanya tersebut. Sampai akhirnya Mamed berniat kembali ke Tangier Maroko. Ia tidak ingin kembali untuk mengenang kenakalan-kenakalan mereka saat remaja. Tapi ia ingin kembali ke dalam dekapan bumi Tangier, bumi Maroko yang menjadi pertanda awal hidupnya.

Sadar bahwa hidupnya hanya tinggal sementara, Mamed berusaha menjauhi Ali. Hal ini dimaksudkannya agar Ali tidak terbawa pada kehidupan yang sama dengan dirinya. Mamed berusaha agar Ali tetap hidup dengan tidak membawa beban tentang sahabatnya yang dalam hitungan hari, jam, menit dan detik yang akan ditinggalkannya. Walaupun Ali sangat khawatir. Berkali-kali Ali mengirim surat dan menelpon untuk berkunjung, tapi selalu di tolak oleh Mamed. Sampai akhirnya Mamed menghembuskan nafas terakhirnya. Ia terbaring di rumah tuanya di Tangier, Maroko. Ali hanya bisa bersedih melihat kenyataan tersebut. Seorang sahabat telah pulang. Seorang yang dengannya seluruh kehidupan mereka saling berbagi. Terkahir sebelum meninggal Mamed memberkan sepucuk surat yang dititipkan ke temannya yang bernama Ramon. Surat tersebut merupakan penjelasan mengapa Mamed selalu menolak dan bertingkah aneh sebelum ajal menjemputnya. ‘…..Orang mengira kita sepakat dalam segala hal. Sebenarnya, yang memberi kedalaman pada hubungan kita justru sebaliknya;  perbedaan perspektif, perbedaan pendapat, yang bebas diekspresikan, tapi tanpa ada pertentangan pribadi antara kita….. Sekarang, kuberikan apa yang menjadi milikmu. Persahabatan kita adalah perjalanan yang indah dan hebat. Ini tidak berakhir dengan kematianku,. Ini akan menjadi bagian hidupmu yang akan terus kau jalani’ begitu isi surat Mamed yang terkahir untuk Ali.

***

Membaca novel ‘Sahabat Terakhir’ Tahar Ben Jelloun ini benar-benar membuat kita menyesal atas apa yang pernah kita lakukan pada sahabat, pada teman ataupun pada orang yang kita kenal. Karena dari novel ini kita jadi paham, bahwa cinta sekalipun tidak akan bisa menggantikan persahabatan. Atau dalam bahasa Oscar Wilde, persahabatan jauh lebih tragis daripada cinta. Kehilangan sahabat adalah kerugian yang tidak bisa kita ganti dengan apapun. Dan Tahar Ben Jelloun dengan novel ini telah menelanjangi kita tentang arti sahabat sekaligus membuka mata kita tentang pentingnya seorang sahabat.

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini