Burmese Days | Montase dari Flavorwire & Carousell

Burmese Days, Novel Orwell tentang Negeri Kolonial

Saya selalu suka membaca George Orwell karena tiga hal: sinisme pada kekuasaan, ironi pada orang idealis, dan mulusnya persekongkolan. Tiap kali saya membaca Orwell saya selalu tertegun: kemampuanya untuk mencium fakta sosial sulit untuk tidak membuat kita terkejut. Ia seperti dukun yang mahir meramal masa depan. Dan karyanya ini membuat saya musti mengakui kecanggihannya membongkar nafsu manusia.

Ia yang pernah bertugas di Burma sebagai prajurit kolonial menyimpan pengalaman keji. Terutama pada kehidupan kaum pribumi dan orang kulit putih yang selalu merasa unggul. Dalam novel Burmese Days, melalui perantara tokoh bernama Flory, dilukiskanlah nasib seorang pria yang suka baca, kritis pada orang kulit putih, menganggungkan warga pribumi, tapi punya masa lalu yang kelam. Pria itu seperti terlempar dalam desa miskin Burma yang sedang bergolak. Desa yang berada di bawah jajahan Inggris.

Desa miskin itu dihuni oleh beberapa orang asing yang sok: mereka suka berkumpul di klub, merasa diri sebagai orang paling berharga sambil menghina warga pribumi. Flory yang kesepian bersahabat karib dengan Dokter Veraswami, seorang pria India yang memuja begitu rupa keunggulan orang kulit putih. Mirip dengan orang terpelajar yang selalu memandang Barat dengan kekaguman penuh.

Tapi persahabatan itu menimbulkan iri seorang bawahan pribumi yang bermental bandit. U Pyo Kin, seorang kepala distrik yang badanya seperti ambisinya: gempal, rakus, dan selalu ingin berdiri sejajar dengan kaum kolonial. Ia yang dulunya hidup di antara kemiskinan mahir meniti karir dengan modal sederhana: menjilat atasan, menyuap siapa saja, dan berusaha tampil sebagai pahlawan. Persis dengan politisi curang yang tampil menawan.

Di tengah itu semua, muncul dua gadis yang berbeda etnis tapi punya kesamaan sikap: Ma Hla May, gadis pribumi yang hidupnya kecanduan pada apa saja dan rela menjadi gundik Flory biar dipandang terhormat oleh orang sekitarnya. Lalu Elizabeth si cantik, tapi suka sekali bicara remeh temeh dan selalu mengagungkan apa saja yang menimbulkan pesona maskulin. Berdua, mereka menjadi bidak catur ambisi laki-laki.

Gejolak membara ketika desa itu diguncang tuntutan: keadilan yang disuarakan rakyat kecil tapi dipandu untuk kepentingan kaum penguasa. Di sisi lain, keinginan warga pribumi untuk bisa diperlakukan setara dengan masuk klub. Keinginan yang memang bisa memberi kekebalan pada yang mempunyainya. Tapi ambisi itu berburu dengan keinginan najis dari pejabat busuk semacam U Pyo Kin.

Orwell merawat cerita dengan cermat: suasana penaklukkan tidak dengan senjata, tapi penghambaan luar bisa kaum pribumi dan cetusan berontak selalu bisa dimanfaatkan oleh politisi durjana. Praktek politik selamanya tak bisa dikendalikan oleh orang kecil karena semua saluran resmi kepentingan dikuasai oleh politisi kolonial. Itulah mungkin yang membawa penjajahan itu berlangsung abadi.

Dilukiskan dengan cara satire bagaima orang pribumi musti berhamba total pada orang bule. Sungguh menyakitkan membaca gaya cerita Orwell ketika kaum pribumi membuat dirinya sejajar dengan seekor binatang agar perbuatannya tak mengecewakan. Lalu dengan cara sinis, kaum kolonial melihat pribumi seperti seekor serangga yang bisa diinjak kapan saja.

Flory ingin jadi pria yang tangguh dan jujur. Kebenciannya pada sesamanya tidak muncul karena pemerasan yang dilakukan, tapi masa lampaunya yang gelap. Ia membenci bangsanya sendiri dan memilih untuk hidup bersama kaum pribumi. Tapi jiwanya sesungguhnya kesepian karena terbelah antara mengakui keunggulan pribumi tapi tak ingin diremehkan oleh bangsanya sendiri.

Flory seperti seorang pejuang muda yang kehendaknya jelas tapi takut menyatakannya. Ia mencintai tapi takut mengatakan, ia protes tapi bingung mengungkapkan, dan ia benci pada masa lalunya. Kepribadiannya seperti mengembara dalam hutan yang tak jelas arahnya dan selalu dirudung kecemasan. Serupa dengan kaum aktivis yang selalu pesimis melihat kenyataan dan selalu kecewa pada apa saja. Hidupnya kehilangan rasa optimis.

Mungkin karena itu U Pyo Kin jadi berjaya: hidup dengan naluri menipu, dibesarkan oleh kerakusan dan percaya kalau apa saja bisa dibeli. Termasuk masa depannya di alam baka. Lukisan yang getir dan secara telanjang ingin memberi profil sadis pada birokrat yang mengelabui rakyat. Istrinya yang digambarkan sebagai perempuan baik juga hanyut oleh ambisinya sendiri.

Kisah ini dirawat dengan cara Orwell: tiap tokoh muncul dengan karakternya yang serba-serbi, konflik mencuat oleh ambisi yang saling bergesekan dan latar situasi alam yang khas dunia berkembang. Panas, lembab, dan religius. Tapi Orwell selalu berpihak pada yang tak berdaya: takdir memang selalu pahit, tapi kejahatan berbuah imbalan yang menyakitkan.

Saya membaca novel ini seperti melihat masa kini: politisi ambisius yang membentengi dirinya, birokrat culas yang bersekongkol untuk meloloskan ambisi, dan rakyat lemah yang terus disalahgunakan mandatnya. Selamanya kepentingan kekuasaan tak pernah sejajar dengan kebutuhan rakyat. Pada alam kolonial situasi ini selalu ekstrem.

Jangan bertanya apa manfaat baca novel ini dan jangan pula dibandingkan dengan karya Pidi Baiq yakni Dilan. Ini novel tangguh yang bukan berisi kisah indah berbalut bualan kata kata cinta, tapi kisah muram tentang manusia baik yang selalu kalah dan kaum cecunguk yang akhirnya dihukum oleh takdir. Ironis tapi indah.

Mungkin tak ada produser yang akan menjadikannya film, tapi novel ini bisa meyentuh perasaan terdalam kita. Itu juga kalau masih ada dan kita mau mempedulikannya. Jika saya boleh anjurkan, inilah novel yang baik untuk dibaca jika Anda bosan melihat acara debat! Ha ha ha ha. . . .(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika