Anang tutup mulut dan hidung | Jawa Pos

Buat Mas Anang, ‘Kami adalah Musik yang Bergentayangan’

Nalar Naluri (Pegiat Social Movement Institute)

 ***

Kita melantunkan dawai diam
yang senar-senarnya dikendurkan
yang birama nadanya telah dinodai
yang konser-konsernya ditaburi kemenyan
ditutupi keranda jiwa yang berjelaga

Kita memetik suara di kebun gersang
yang setiap oktafnya dijangkiti hama
yang lengkingan liukannya menuju jurang
yang mengodekan kepulangan mayat
dibunuh dengan kepala berkarat

Kita menabuh genderang dari kulit angin
yang bertalu mengibas penat
yang ketipak-ketipungnya adalah jeratan
yang dentumannya menyayat-nyayat
mengiringi perjalanan irama ke alam baqa

Kau serulingkan kebiadapan ini
menjadi sangkakala menari-nari
pada tiupan yang membentuk taufan

Kami orkestrasi kiamat yang tak pernah tamat
bergentayangan sejak nada pada jerit janin
hingga menghantu abadi di setiap zaman

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika