Dahnil Anzar dalam acara tabligh di Jawa Tengah | Twitter/Dahnilanzar

Belajar Politik dari Lompatan Karier Dahnil Anzar

“Orang yang lebih banyak berkeringat saat latihan lebih sedikit berdarah dalam peperangan” -Prajurit Sparta

“Anda perlu mempelajari peraturan seperti seorang profesional agar Anda dapat melanggarnya seperti seorang seniman” -Picasso

Di antara sejumlah anggota tim sukses Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak yang paling berbeda. Latar belakangnya bukan dari partai politik. Jabatannya sebagai ketua pemuda Muhammadiyah telah mengangkat citranya. Dandanannya sangat khas: kopyah dengan kaca mata tebal mirip seorang ilmuwan yang menulis banyak buku. Jika bicara, kalimatnya selalu ditata setenang dan sesantai mungkin.

Saya pernah satu forum dengannya. Saya menjadi moderator untuk sebuah acara yang seru. Diskusi tentang terorisme yang kala itu Dahnil menjadi pembela untuk kematian seorang warga yang dituduh teroris. Bicaranya kala itu berani dan meyakinkan. Terus terang, kala itu saya kagum pada keberaniannya. Tapi saya maklum, sebab jabatannya adalah Ketua Pemuda Ormas Islam paling besar. Pasti berani untuk bicara hal yang orang awam takut mengatakannya.

Duduk sebagai juru bicara tim kemenangan Prabowo-Sandi, Dahnil makin percaya diri. Bahkan setelah Prabowo yakin tetap menang, Dahnil juga sama yakinnya. Mungkin malah keyakinannya melebihi yang lain. Panggung media telah memberikan tempat banyak baginya untuk mementaskan komentar apapun. Lantang dikritiknya Polisi bahkan diremehkan pula mahasiswa. Di video yang viral, Dahnil memuja emak-emak.

Baginya, pemilu curang lalu aparat ikut bermain telah jadi tesis tetapnya. Bahkan saat politisi mulai mencari perahu untuk merapat, Dahnil tetap setia bersama keyakinan Prabowo. Memang pernah diusut oleh Polisi untuk perkara korupsi, tapi tampaknya prosesnya sedang ‘istirahat’ dan bisa jadi akan dimulai lagi. Mengapa membicarakan Dahnil menjadi menarik?

Itulah anak muda yang mempertaruhkan karir politiknya melalui jalur cepat. Tidak melalui pintu partai politik yang pasti akan panjang barisannya. Dahnil bukan putera ketua partai, tidak keturunan jutawan, dan tak punya ikatan kekerabatan dengan pejabat. Dirinya adalah anak muda yang lahir dari rahim organisasi Muhammadiyah.

Dengung peryataannya bergema ketika ormas yang dipimpinnya lantang menyuarakan pelanggaran HAM. Media kemudian mempopulerkan namanya. Sebagai ketua ormas pemuda, dirinya selalu datang pada setiap peristiwa politik yang penting. Tak tahu gagasannya apa, tapi media selalu menampilkan dirinya yang berperawakan khas itu.

Menjadi juru bicara kian mengangkat namanya. Komentarnya selalu dimuat, pandangannya selalu didengar, dan perannya selalu bersama mereka yang ada di seputar kekuasaan. Dahnil bukan Rocky Gerung yang sejak tahun 90-an sudah punya pandangan berani, kritis, dan lama hidup dalam dunia kampus. Bahkan dirinya beda dengan Adian Napitupulu yang memang ada di partai politik dengan jejak pengalaman lapangan yang radikal.

Dahnil adalah fenomena istimewa dari politisi milenial dalam zaman revolusi 4.0. Muncul dengan gagasan sederhananya yakni menangkan Prabowo. Diangkat sebagai juru bicara dengan keyakinan simpel: siapa tahu dirinya bisa menjangkau suara milenial. Walau semua harapan itu runtuh, tapi Dahnil tetap berusaha mencari pijakan politik yang membuat dirinya bisa berperan. Ke mana?

Partai Gerindra mungkin, tapi itu tergantung pada Prabowo sendiri. Sejauh mana Dahnil dianggap bisa ‘menguntungkan’ popularitas partai. Mungkin PAN akan menampungnya jika dirinya cukup punya basis yang bisa menambah kekuatan partai. Bahkan PKS sekalipun bisa saja menampungnya kalau dirinya dianggap ‘tokoh’ yang bisa meraup suara.

Tapi itu semua bisa dilakukan oleh Dahnil dengan memerankan dirinya agar ‘kelihatan’ di mata politisi. Ajang unjuk muka itu modalnya bisa dipupuk dengan cara apa saja: mengiyakan semua pandangan politisi yang kita mencari hidup darinya, mengutip komentar politisi yang kita mau menyembahnya, atau mengutuk pandangan politisi lain yang jadi seteru politisi ‘majikan’-nya.

Jalan untuk menjadi politisi memang bisa melalui cara takdir: orang tuanya memang tokoh terkenal, orang tuanya pengusaha yang bisa membayari proses politik apa saja, atau dirinya adalah keturunan orang tua yang kebetulan jadi pengurus teras partai. Tapi juga bisa dengan cara amatiran seperti ini. Bergaul, berada, dan tinggal di sekeliling mereka.

Dahnil telah membuktikan itu semua. Karir di organisasi kepemudaan telah meroketkan posisinya. Ia yang dulu hanya jadi ketua organisasi agama, kini menjadi orang penting di antara para ketua partai. Pilihan itu bukan ditempuh oleh ujian yang panjang, tapi kesempatan yang datang. Politisi milenial memang musti bersiap-siap dengan ‘kesempatan’ itu.

Kesempatan yang mudah adalah pertarungan menuju tahta. Itulah saat panggung diberikan untuk siapa saja yang bisa unjuk kesetiaan. Terhadap calon apapun dengan kualitas apa saja. Praktek politik yang dimainkan memang hanya sebatas perang pernyataan, perang opini, dan perang pengaruh. Kecakapan yang tak butuh pikiran mendalam dan hanya memerlukan taktik serta siasat.

Kini pentas itu usai. Jika kandidat menang, maka tim sukses akan menuai imbalan. Posisi tertentu atau peran penting lainnya. Dahnil berada dalam posisi yang kalah. Mahfud MD dulu pernah mengalami situasi seperti dirinya. Tapi Mahfud MD tahu kapan secepatnya turun dan memastikan dirinya tidak terseret dalam kekalahan yang berlarut-larut.

Dahnil berjuang hingga ujung sidang MK. Panggung telah digulung dan saya tak tahu bagaimana perasaannya hari ini. Mungkin menyesal, mungkin bangga, atau mungkin bingung. Tapi Dahnil tahu menjadi politisi bukan seperti pemain bola saat bakat dan kemampuan yang diasah, melainkan lobby, jaringan, dan kedekatan yang penting. 

Mungkin tak penting pertanyaan ke mana Dahnil nantinya, karena yang penting apa politik di Indonesia akan berlangsung seperti ini terus-terusan. Seseorang muncul dari balik ormas dengan latar belakang posisi kepengurusan, kemudian menempuh karir bukan dengan ide politik alternatif, tapi ikut dalam sekoci oligarki yang sebenarnya beda jauh dengan keyakinan idealis yang dulu diyakininya.

Politik bagi anak muda hari ini tak ditentukan oleh ide, tetapi kesempatan, peluang, kecerdikan, dan yang penting nasib!(*)



Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika