Suluh Pergerakan

Barracoon, Kisah Nelangsa Budak Afrika di Amerika

The Others – [Manusia penuh ratapan]

***

Setelah 80 tahun berlalu, sebuah artefak berisi wawancara bersama satu-satunya manusia terakhir yang menjadi saksi sejarah perbudakan orang-orang Afrika di Amerika Serikat Akhirnya diterbitkan

Butuh puluhan tahun bagi Zora Neale Hurston, salah seorang penulis dan antropolog paling berpengaruh dalam sejarah literasi Afrika-Amerika, menerbitkan buku berisi wawancaranya bersama Cudjo Lewis.

Puluhan tahun yang barang tentu baik Zora maupun Cudjo tak sempat melihat ‘buah tekad’ itu diedarkan ke seluruh dunia.

Wawancara utuh Zora bersama Cudjo Lewis mengangkat kisah pendiri serikat buruh Africatown itu kala dirinya diculik dan menjalani kerja paksa di AS.

Cudjo merupakan saksi sejarah yang tersisa dari kapal pengangkut budak yang membawa dirinya bersama ratusan orang Afrika menuju AS.

Sementara ketika Cudjo diculik dan dipekerjakan tanpa peri kemanusiaan tahun 1859, perdagangan budak dilarang secara resmi oleh dewan AS jauh 50 tahun sebelumnya.

Kesaksian Cudjo Lewis

Tahun 1927 merupakan cikal bakal pertemuan Cudjo Lewis dengan Zora Neale Hurston.

Mereka bertemu tak jauh dari rumah tinggal ‘perserikatan buruh Afrika di Amerika’ bentukan Cudjo, Africatown.

Di hadapan Zora, dalam lamat ingatannya, Cudjo merekonstruksi semua yang ia alami.

Cudjo menceritakan pada Zora saat kali pertama dirinya diculik di rumahnya di Afrika Barat.

Ia bersama ratusan anak muda lainnya digelandang ke sebuah barak penampungan para budak bernama Barracoon.

Belakangan, nama Barracoon mengilhami buku yang kelak terkubur nyaris 90 tahun.

Hingga suatu hari, ia bersama budak-budak lainnya digiring ke dalam kapal pengangkut budak, Clotilda.

Lautan mereka arungi, tanpa sekalipun tahu kejelasan nasib setelahnya.

“Ngeri mengingat kami terpisah satu dan lainnya. Tujuh puluh hari menyeberangi lautan dari Afrika, sesampainya di Amerika mereka memisahkan kami,” kenang Cudjo pada Zora.

Getir dan haru tak kuasa ia simpan. Cudjo mengingat betapa sulit masa-masa itu.

“Tangis tak sanggup kami elakkan. Bahkan untuk  sekadar berdiri, bergetar kaki kami. Saya berpikir apakah saya akan mati ketika terjaga dari tidur. Kala itu, di atas kapal pengangkut budak, saya begitu merindukan ibu,” kenang Cudjo dinukil dalam wawancara.

Cudjo bersama ratusan budak yang diculik dari Afrika menetap di tempat yang benar-benar baru tanpa mengerti sama sekali bahasa di lokasi penyanderaan mereka.

Setahun sebelum perang sipil meletus, tahun 1860 di Mobile, Alabama, Cudjo mulai menjalani hari-harinya sebagai budak hingga perang sipil berakhir.

Kisahnya lantas mengilhami banyak sejarawan dan antropolog untuk menyisir sejarah perbudakan orang Afrika di Amerika.

Termasuk salah satunya, Zora Neale Hurston yang berhasil mendokumentasikan kesaksian Cudjo.

Bahkan berbekal wawancara dengan Cudjo dan risetnya tentang perbudakan orang-orang Afrika di Amerika, Zora berhasil menetaskan sebuah novel yang dianggap sebagai salah satu kanon sastra Afrika-Amerika, Their Eyes Were Watching God.

Meski demikian, Zora bersikeras ingin membukukan wawancara utuh bersama Cudjo.

Sial, wawancara utuh itu harus terkubur nyaris 90 tahun.

Apa pasal? Zora kukuh ingin dialek asli Cudjo dipertahankan dalam wawancara utuh mereka.

Banyak penerbit menolaknya dengan alasan dialek Cudjo sulit dimengerti pembaca Amerika yang pangsa pasarnya mayoritas kulit putih.

Kesepakatan buntu, Zora akhirnya memilih menyimpan naskah wawancara itu.

Hingga akhirnya, selasa 8 Mei 2018 naskah berjudul Barracoon: The Story of the Last ‘Black Cargo’ diterbitkan oleh Amistad, salah satu unit penerbitan Harper Collins.

Dan untuk pertama kalinya, dunia akan mendengar kesaksian langsung seorang manusia yang sanggup bertahan hidup dari kengerian zaman perbudakan Afrika-Amerika.(*)

Artikel ini sudah pernah tayang di Sumbu Botol dengan judul Barracoon, Artefak Perbudakan Orang Kulit Hitam di Amerika yang Terkubur Nyaris Satu Abad