Suluh Pergerakan

Bang Said: Kesaksian Seorang Murid

oleh Eko Prasetyo

Wahai anakku sungguh, dunia itu laksana samudera luas. Telah banyak orang yang tenggelam di dalamnya. Maka, jadikanlah perahumu di dalamnya adalah ketakwaan kepada Allah, isinya adalah iman, layarnya adalah tawakkal kepada Allah. Semoga engkau selamat. Aku khawatir kamu tidak selamat (Petuah Luqman)

Lebih baik mati di atas kaki sendiri sebagai jiwa merdeka daripada hidup berlutut sebagai hamba! (Emilio Zapata)

Jangan mencemaskan hal-hal yang bisa dibeli dengan uang. Cemaskanlah hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang (Paulo Coelhoe)

Rumah itu halamannya tak berubah ubah. Kecil dan rapi. Ada masjid di dekatnya. Itulah Pondok Pesantren Mahasiswa Budi Mulia. Di sanalah saya pertama kali berjumpa dengan beliau yang namanya dipanggil dengan rasa hormat, SAID TUHULELEY.

Bang Said selalu ramah dan suka senyum. Tiap orang disapanya dengan sopan. Menyampaikan diskusi dengan bahasa sederhana. Sesekali ada bahan canda tapi itu tak membuat kita tergelak. Kemahirannya khas dengan membuat seluruh soal dalam rincian yang terstruktur. Tak hanya itu paparannya selalu merujuk pada sebuah posisi. Posisi untuk selalu membela dan melindungi yang lemah. Itu sebabnya bang Said tak bisa memahami organisasi yang menjalankan kegiatan tanpa didasarkan atas nilai keberpihakan. Nilai buat bang Said seperti roh dalam tubuh. Bukan hanya memberikan nyawa tapi juga memberi arah. Itu sebabnya saya selalu kagum dengan ketangguhannya dalam berorganisasi. Saat di MPM: Bang Said buat rapat seminggu beberapa kali. Tak hanya itu juga rutin gelar diskusi. Semua narasumber dari berbagai sektor diundang. MPM seperti rumah bagi kaum gerakan. Bukan hanya untuk Muhammadiyah, juga tak hanya urusan rutin, melainkan melompat bicara berbagai hal. Selama ada derita MPM selalu bertindak dan bicara.

Mungkin itu sebabnya tampak di luar bang Said keras dan kaku. Pendapatnya sulit dibantah tapi bisa didebat. Walau keras dalam pendirian tapi sikapnya bersahaja pada siapa saja. Tak ada keraguan dalam sikapnya jika itu bersangkut paut dengan urusan ummat. Keprihatinannya luas dan menyentuh segala hal: kemiskinan hingga terorisme. Perhatiannya pada aktivis Islam tinggi dan besar. Itu sebabnya bang Said kuatir dengan penanganan terorisme yang sasarannya aktivis muslim. baginya, terorisme tak bisa dipahami seperti perbuatan kriminal. Yang dihadapi dengan borgol dan peluru. Pendekatan yang bisa disalah-gunakan dan dapat membawa ancaman bagi nilai-nilai kemanusiaan. Meski tak pernah setuju dengan gerakan kiri tapi ide-ide progresifnya banyak mengandung unsur perlawanan atas akumulasi modal. Sikap yang paling terang dan nyata adalah kemudahannya dalam meringankan beban siapa saja. Bang Said tak pernah menolak jika dimintai bantuan dan gampang memberikan sedekah. Bahkan tanpa diminta dirinya dengan cekatan memberi apa yang bisa diberikan. Pemurah itu julukan yang tepat untuknya. Hidupnya berlimpah dengan bantuan, pengurbanan dan pelayanan. Itu sebabnya bang Said benci dengan sikap pelit dan munafik.

alm Said Tuhuleley

Jika tak setuju bang Said akan mengatakan dengan terang-terangan. Setidaknya saya selalu merasa bang Said cemas pada tiga hal: Islam yang disalah-gunakan, pengetahuan yang didedikasikan untuk pemerasan dan akumulasi modal yang menggunakan jaringan gerakan. Itu sebabnya bang Said selalu marah jika Islam hanya jadi praktek pengumpulan suara apalagi ajaranya digunakan untuk menipu kenyataan.

Tatkala melihat kemiskinan adalah bodoh jika mengatakannya sebagai takdir. Maka itu yang membuat bang Said mendorong agar petani, buruh hingga tukang becak harus didampingi. Didampingi dalam arti yang luas: dibela jika dilanggar haknya, dilindungi jika ditekan oleh institusi apa saja dan dilatih untuk bisa berdaulat dan mandiri. Maka kredonya galak dan menyengat: tak ada kata istirahat selama rakyat masih menderita. Hidupnya sendiri seperti tanpa istirahat: terlibat dalam banyak diskusi kemanusiaan, mengorganisir lapisan petani hingga mengembangkan ide Islam sebagai sebuah gerakan.

Saya selalu merasa bang Said sendirian. Gagasannya tumbuh dalam jangkauan yang melintasi waktu. Itu sebabnya kekagumannya pada Moh Natsir sangat beralasan. Politisi Islam yang sederhana dalam hidup tapi kaya dalam gagasan. Gagasan itu diwarisi bang Said dalam banyak aspek:

sebagai dosen bang Said selalu disiplin dan mengajarkan pada mahasiswa apa yang tak ada dalam buku, sebagai aktivis dirinya tak mudah untuk terpesona dengan tahta kuasa, dan sebagai pengurus Muhammadiyah bang Said mengajarkan pengorbanan.

Buat bang Said seorang aktivis itu bukan diukur dari popularitas dan jabatan tapi kesediaan untuk menemani yang muda, bersolidaritas pada yang lemah dan ringan tangan dalam urusan apa saja. Maka saya sering terharu pada kisah beberapa kawan yang urusan nikahnya hingga sekolahnya dibantu oleh bang Said. Bahkan saya mengalami sendiri: Social Movement Institute, kantor yang mula-mula saya dirikan, setiap bulan dibantu berasnya oleh bang Said. Saat terbaring di rumah sakit menjelang akhir hidupnya, bang Said sempat tanya: apa beras untuk SMI sudah dikirim? Perhatiannya yang besar pada orang muda dan kaum lemah telah jadi legenda.

Itu sebabnya bang Said selalu berjarak dengan kekuasaan. Baginya kekuasaan itu menyimpan dua paras yang penuh dilema: melayani tapi juga bisa memanipulasi bahkan tiran. Hampir semua sahabatnya paham kalau bang Said sukar digoyahkan: pendapatnya tentang nilai kejujuran sulit dikompromikan, pandangannya tentang amanah sukar dimanipulasi dan kedekatannya pada mereka yang ditindas bukan basa-basi. Mungkin itu sebabnya bang Said masih bertahan di Jogja: pada saat yang sama banyak kawannya terbang ke Ibu Kota. Mungkin itu yang menyebabkan bang Said masih mau menemani diskusi mahasiswa yang kecil dan sedikit: pada saat yang sama banyak kawannya berhitung pada jumlah dan hitungan massa. Mungkin karena itu bang Said tak mudah untuk takluk pada proyek donor: walaupun pada saat yang sama banyak mahasiswa dan anak didiknya sangat gemar mengirim proposal dan bertekuk lutut pada proyek palsu demokrasi. Ibarat Star Wars: bang Said seperti ksatria Jedi. Teguh, gigih dan punya integritas.

Maka hidupnya seperti sebuah badai: dibesarkan oleh HMI, setia pada Muhammadiyah dan gigih melindungi mereka yang teraniaya. Sungguh tak mudah hidup dengan energi yang penuh kebaikan. Sebab tak semua memahami kegelisahannya dan tak semua mengerti mimpinya. Siapa yang masih bisa hidup dengan semangat berjarak di saat mana setiap pintu kesempatan dan peluang terhadap harta kekuasaan terbuka? Kesempatannya sangat menjanjikan saat Soeharto jatuh dan siapa saja punya kesempatan untuk duduk di tahta. Seangkatan bang Said terutama yang berada di garis HMI dan Muhammadiyah memadati semua jabatan publik. Ibarat pendekar bang Said yang berjasa dalam melawan kediktatoran Soeharto memilih untuk tidak menikmati ‘kemenangan’. Ditemani sedan putih yang sedikit bulukan bang Said mendatangi dua kantor yang sederhana: kampus tempatnya mengajar dan kantor MPM. Tak ada ajudan, tak punya asisten dan selalu membawa barang sendiri. Bang Said seperti enggan memanggul kemapanan.

Bukan kekuasaan yang diburu tapi kesempatan untuk mendidik yang dibutuhkan. Saat saya bersamanya, bang Said selalu bersemangat untuk mendirikan sekolah politik. Kecemasanya pada politisi muslim yang miskin adab dan visi amat mengganggunya. Kemarahannya dan kesedihanya selalu bersangkut paut dengan dikhianatinya prinsip-prinsip dasar perjuangan: malu dirinya menyaksikan politisi muslim yang korup dan hidupnya berlimpah. Itu sebabnya tak mudah memahami mimpi bang Said. Karena dambaannya pada figur politisi muslim yang lurus, teguh dan sederhana selalu terbentur pada kenyataan yang membuatnya kecewa. Itu yang membuat bang Said selalu malu jika dilayani berlebihan: saat terakhir kami ditempatkan pada hotel mewah di Surabaya-ketika usai mengisi sebuah seminar- bang Said seperti merasa bersalah. Belakangan saya tahu, semua honor yang diterima dari panitia dia berikan kepada seorang pemuda aktifis Muhammadiyah di Sorong, Papua. Hidupnya selalu berkaca pada mereka yang lemah dan tak ada kenikmatan tertinggi kecuali hidup serupa dengan mereka.

alm Said Tuhuleley

Kini pendekar itu pergi setelah banyak murid dibesarkan melalui tangannya. Tangan itu secara terampil telah melatih banyak jurus yang punya kemujaraban: sikap asketik bisa menanam kepribadian yang tangguh dan tahan goda. Sikap ini jadi modal utama untuk jadi apa saja. Sedangkan kedisiplinan seperti mesin tangguh yang mampu menggerakan organisasi apapun. Tapi mesin organisasi itu bisa melakukan terobosan karena inisiatif, kreativitas dan imaginasi. Kesukaanya pada alat elektronik yang seperti desakan akan keingintahuan dan keinginan untuk berpetualang. Meski tak kenal dengan Robert Noyce-penemu mesin transistor yang kelak berpengaruh pada mesin komputer-tapi kekuatan inspirasinya sama: bang Said dan Noyce penyuka petualangan, penikmat musik riang, dan lebih persisnya tak setuju dengan birokrasi yang hierarkis. Di tangan sosok seperti itulah sebuah organisasi bukan himpunan orang yang punya langkah seragam tapi lompatan ide yang selalu buat terobosan.

Maka bang Said seperti sebuah buku perjalanan. Kelokan hidupnya kaya dan indah: mengenal banyak tokoh yang nanti memberinya teladan, mempunyai banyak kawan yang selalu memberinya inspirasi dan bergelut dalam organisasi sosial yang dituntut memecahkan soal kemanusiaan. Itu sebabnya bang Said dekat dengan anak muda: lapisan yang baginya menyimpan energi, keberanian dan inisiatif. Penyesalannya selalu sama: tak semua anak muda konsisten berada di jalannya. Sikap yang kadang membuatnya marah tapi juga membuatnya kian mengerti: jalan perjuangan itu tak bisa ditularkan dengan mudah.

Tiap kali saya bersamanya, saya selalu kuatir atas kesehatanya, jalannya yang kepayahan, batuk yang kadang menyerbu hingga makanan yang harus dikontrol. Maka saat dirinya terbaring menahan sakit, saya bukan melihat sosok yang kalah, tapi pribadi yang ingin berpamitan. Berpamitan pada dunia gerakan yang kian mapan, sulit untuk bersikap konsisten dan cenderung pragmatis. Seluruh dedikasi hidupnya memang telah jadi monumen: bisa kita kenang tapi memang sulit untuk dicontoh.

Hari ini, 5 tahun yang lalu (9 Juni 2015), Bang Said berpulang. Kepergiannya seperti martir. Di HMI tak ada yang berani membantahnya. Hidupnya seperti apa yang diajarkan di pengkaderan. Di Muhammadiyah sedikit yang bisa menyamainya. Kredonya yang membuat kata istirahat dan derita jadi berlawanan seperti sebuah teks yang bertenaga. Di kampus saya rasa sulit menemukan intelektual organik sepertinya. Menulis, bicara dan dekat dengan mahasiswa. Maka ketika bang Said pergi meninggalkan kita, bukan rasa kehilangan yang menyentuh, tapi sebuah pertanyaan: mampukah kita membuat bangga bang Said seperti bang Said telah membuat kita bangga?! Disana, bang Said menunggu kita untuk menjawabnya. Salam hormat kami, bang. Semoga kami bisa meneruskan jejakmu. Aamiin.