Suluh Pergerakan

AE PRIYONO: Akhir Jalan Sang Pembuat Peta

Oleh Eko Prasetyo (alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia)

Dalam kaitan ini, kesadaran dan gerakan kelas, menjadi sah secara teologis jika dilakukan dalam kerangka normatif demi terciptanya struktur yang adil, bukan untuk penghancuran kelas lain (AE Priyono, prolog buku Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi)

Bahwa perjalanan politik demokratisasi Indonesia pasca-Orde Baru telah mengalami distorsi dan disorientasi. Karena itu sebuah ajakan untuk memikirkan kembali reorientasinya menjadi penting untuk ditawarkan (AE Priyono, Demokratisasi Indonesia dan Paradoks-paradoks Reformasi)

***

Diantara kebanggaan saya menjadi alumni UII karena ada bang AE Priyono. Pria yang singgah beberapa saat dalam kehidupan saya. Saya pernah bekerja untuknya, sering diberi kesempatan olehnya dan banyak sekali dipengaruhi oleh pikiranya. Bagi saya bang AE bukan hanya pemikir tapi petualang yang hidupnya tak pernah mapan. Memang saya tak punya keakraban hubungan sebagaimana kawan-kawan lainnya: tapi saya punya masa lalu yang diperkaya oleh gagasanya.

Sumber photo Facebook AE Priyono

Itulah saat pertama kali saya menapak UII. Tahun 90-an adalah periode tumbuh suburnya gagasan tentang Islam dan perubahan sosial. Ketika itu saya baru datang dari Pesantren. Berjumpa dengan lingkungan kampus yang kala itu sedang gemetar oleh gagasan politik Islam. Terutama saat masalah Palestina jadi kampanye luar biasa. Rasanya ingin sekali menjadi anggota PLO yang kala itu pimpinanya sempat bertandang ke UII. Yasser Arafat seperti madu yang tumpah menggenangi harapan Islam akan kejayaan.

Di sisi lain Cak Nur tampil dengan elegan. Alumni HMI yang piawai itu datang dengan gagasan pembaharuanya. Tulisanya mengguncang keyakinan saya yang masih puritan. Rasanya agama bukan lagi berisi larangan atau petuah tapi sambutan hangat pada kemajuan. Titik kontroversi gagasanya mengenai sekulerisme memicu debat dimana-mana. Saya selalu datang pada tiap diskusi yang mengangkat topik itu dan terperangah dengan kemampuan cak Nur menangkis semua bantahan.

Hingga datanglah sebuah buku yang luar biasa: Paradigma Islam karya pak Kuntowijoyo. Di sampul buku itu ada pengantar editor yang membikin saya membaca buku itu berulang kali. Itulah tulisan bang AE yang mendalam, sistematis dan menyengat. Hingga hari ini saya sering kagum bagaimana mungkin tulisan itu mampu menyihir saya dan mempengaruhi pandangan Islam saya di masa-masa berikutnya. Saya lebih terkejut ketika membaca biografi bang AE Priyono: lulusan FH UII.

Sejak itulah saya menjadi curiga dengan kuliah yang saya jalani. Mustahil menjadi penulis piawai kalau hidupnya hanya dipusatkan membaca buku diktak yang tak puitis sama sekali. Hal yang sejak dulu saya ingin bertanya tapi urung saya sampaikan: bagaimana mungkin bang AE mendengar kuliah dari dosen hukum yang kebenaranya ada dalam kitab undang-undang yang selalu diawali dari kata ’barangsiapa’. Malah pelajaran Islamnya tak ubahnya seperti dasar-dasar TPA: cara sholat, bagaimana berwudhu hingga doa masuk rumah. Kuliah bagi saya lebih mirip siksaan ketimbang mendapat pengetahuan.

Hingga sekarang kampus hukum belum bergeser lokasi. Sejak bang AE hingga saya tempat itu tak indah sama sekali: sempit, padat dan pasti panas. Tapi lingkungan seperti itu mampu melahirkan penulis yang gaya tulisanya hangat sekaligus detail. Baru saya ketahui nanti kalau bang AE aktif di pers mahasiswa. Tempat itulah yang kelak akan menjadi rumah utama saya ketika jadi mahasiswa FH UII. Tempat itulah yang layak saya katakan sebagai tempat belajar yang sesungguhnya. Disana saya memimpin pers mahasiwa sama dengan karir bang AE.

Tapak kaki bang AE saya coba ikuti: aktif di pers mahasiswa, menjadi jurnalis hingga kerja di penerbitan. Hingga saya kemudian bertemu dengannya waktu ICMI dibentuk pertama kalinya. Terus terang ketika itu saya sudah tertawan oleh ide kiri. Hanya karena Soeharto memburu habis para aktivisnya maka sangkar yang tepat untuk sembunyi adalah gerakan Islam. Bang AE mengajak saya untuk aktif di Masika ICMI. Bersama Supraja dan Budi Irawanto-kelak keduanya jadi dosen UGM-saya dilibatkan dalam berbagai program diskusi.

Disana saya kemudian bertemu banyak dengan gagasan Islam yang dirumuskan pada pengantar buku pak Kunto. Bang AE mengajak saya untuk menerbitkan sejumlah karya jurnalistik dan kumpulan gagasan mengenai  Demokrasi dalam Islam. Masih ingat waktu itu saya bertemu denganya di Republika bersama Eep Saefullah Fattah. Saya merasa saat itu dirinya meyakini Islam musti berperan dalam transformasi menuju demokrasi. Hari itu memang masa sulit: Soeharto bersama Orba sedang bangun kekuatan. Baginya dibutuhkan panduan gagasan perubahan yang meyakinkan.

Hingga Soeharto roboh bang AE datang membawa tawaran kerjaan. Sama bang Suparman Marzuki diminta untuk mendirikan kantor. Tugasnya unik: membaca semua berita di koran lalu melakukan analisis yang dikirimkan tiap hari. Bang AE meminta kita membaca berita politik, ekonomi dan sosial budaya. Kantor itu berjalan tak lama tapi saya belajar menulis situasi dengan singkat, padat dan berisi. Kelak itulah pupuk terbaik saya dalam menulis berbagai buku provokasi. Saya merasa dibimbing dari jauh olehnya.

Bang AE tak pernah mengkritik apa yang saya tulis. Kalau ada masukan dirinya hanya memberi sejumlah poin untuk ditambahkan. Saya merasa bang AE lebih banyak memberi tantangan. Bahkan ketika dirinya tiba-tiba datang dengan jabatan barunya: Deputi Menkuh HAM. Kali ini dirinya meminta kami untuk merintis kantor Pusat Studi HAM. Kala itu ada beberapa alumni yang berada di dalamnya termasuk pak Mahfud.

Pak Mahfud dengan bang AE pernah bersama. Di majalah Muhibbah ketika itu. Saya tak punya cerita mengenai masa-masa itu. Hanya desas desus bilang mereka tak cocok. Saya paham karena memang keduanya beda. Gaya berfikirnya, gaya tulisanya hingga cara hidupnya. Bang AE tetap unik bagi saya: ia memilih untuk menjadi pemikir sembari berusaha memberi kerangka atas semua praktek perubahan sosial yang dilakukan oleh banyak kawan.

Mungkin itulah yang membuat saya antusias berada di Pusham ketika itu. Mendirikan kantor itu sembari mencoba berbagai langkah untuk meluaskan ide HAM ke sejumlah kalangan. Bang AE nanti berada di Demos dan disana meminta saya menulis pengalaman bekerja dalam isu HAM. Bagi saya itulah permintaan terakhir darinya karena sesudah itu saya lebih banyak membaca berbagai kata pengantar yang ditulisnya.

Cemerlang dalam membuat sajian tulisan membuat bang AE mampu merajut berbagai gagasan yang berserak. Saya selalu kagum membaca pengantarnya: memilah tiap gagasan, merakitnya dengan rapi dan kemudian memberinya diskripsi yang utuh. Kita bukan hanya melihat etalase tapi meyakinkan pada yang membaca kalau tiap ide itu punya kekuatan. Saya seperti diberi peta tiap kali membaca pengantarnya. Saya seperti menemukan kemudi tiap bersua dengan tulisan bang AE.

Mungkin itulah yang hilang dari barisan ilmuwan sosial hari ini. Kemahiran membuat peta sehingga kita jadi paham berada dimana dan seberapa jauh jalan yang sudah dilintasi. Kecakapanya itu memaksa para aktivis itu merefleksi apa yang selama ini telah dilakukan dan mengapa kita masih jauh dari harapan. Bang AE bukan begawan tapi ilmuwan yang tulisanya santun sekaligus meyentuh. Kita seperti bukan dikritik tapi disentuh. Sayang memang bang AE bukan pribadi yang suka berdiam di satu titik. Perantaunya ke mana-mana membuat saya kadangkala kehilangan jejak darinya. Hingga sebuah berita datang tiba-tiba: bang AE wafat.

Saya diberi tulisan Islam yang ditulisnya tahun 2019. Diterbitkan oleh badan wakaf UII. Saya seperti menyaksikan lagi sang pengantar Kuntowijoyo itu berlaga lagi. Masuk dalam wacana gerakan Islam yang kini sedang riuh. Bang AE masih sama seperti dulu: memberi kerangka teori atas apa yang ditulisnya, merefleksi pada apa yang terjadi di hari ini dan meyakinkan kalau Islam itu punya peran besar dalam menanam ide demokrasi. Semangatnya masih menyala hanya tak lagi energik dan meledak sebagaimana waktu muda. Saya melihat tulisan itu mirip renungan bukan tantangan.

Yang mengaggumkan bagi saya adalah badan wakaf UII yang menerbitkannya. Rumah yang dulu membesarkan banyak orang dan telah meniupkan berbagai tantangan. Ketika saya dikenalkan puteranya yang juga anak UII saya seperti menjumpai bang AE kembali. Pria yang berkaca mata itu seperti percaya kalau pendidikan tinggi memang bukan segalanya tapi itulah persinggahan yang bisa mengubah hidup banyak anak muda. Saya menjadi penulis, menyukai topik Islam hingga tak pernah memakai gelar karena saya mengaggumi dan merasa bang AE Priyono yang mengajarinya.

Rasanya saya tak ingin mengucapkan selamat jalan tapi selamat datang pada dunia gerakan yang kehilangan sosok yang piawai membuat peta. Terimakasih bang AE atas segala yang telah engkau toreh, tiupkan dan terus hidupkan bersama kami. Pada Tuhan saya titip semoga bang AE mendapat tempat terbaik di peta kediaman barunya. Terima kakasih ya bang.