gbr-google.com

Film ‘INTO THE WILD’: Kisah Inspiratif dan Tragis Sang Petualang

Oleh; Melki AS – [Pegiat Social Movement Institute]

Aku tak butuh uang. Uang membuat orang selalu khawatir.

Lebih dari cinta, uang, keyakinan, ketenaran dan keadilan, berikan aku kebenaran.

.…. Dan aku juga tahu betapa penting dalam hidup bukan untuk menjadi kuat tapi untuk merasa kuat, untuk mengukur kemampuan dirimu setidaknya sekali saja, untuk tahu rasanya berada dalam hal paling purba dari sejarah manusia, menghadapi kebutaan dan ketulian sendiri tanpa apapun yang membantumu kecuali tanganmu dan kepalamu sendiri.

***

Into The Wild, sebuah film drama biograpi yang sangat ciamik yang menceritakan tentang pencarian jati diri seorang pemuda. Ia melakukan petualangan yang mungkin sulit untuk diikuti oleh pemuda lainnya atau petualang-petualang lainnya. Ia menamakannya dengan sebutan Supertramp (Petualang Super), yang menjadi nama belakang dari namanya yang berubah dari Christoper MacCandless menjadi Alexander Supertramp. Alex, begitu kemudian ia banyak disebut, menuju petualangannya yang ekstrim menuju Alaska.

Film ini sendiri dibagi dalam empat (4) bagian. Dimulai dari masa awal kisah hidupnya sampai ia lulus dari Emory University dan hendak melanjutkan kuliah di jurusan hukum di Harvard. Lalu pada bagian berikutnya, ketika ia mulai beranjak remaja, maka dimulailah petualangannya tersebut. Ia meninggalkan semuanya; keluarganya yang kaya, hidupnya yang nyaman, keinginannya untuk kuliah, bahkan seluruh uangnya ia habiskan dengan mendonasikannya dalam gelaran amal. Kemudian cerita beranjak lagi dimana ia kemudian menemukan sebuah mobil yang tidak terpakai lagi di dalam hutan Alaska. Dan disanalah ia tinggal melewati pergantian musim sampai ia meninggal. Dan terakhir ialah bagian dimana ia menemukan kearifan dari berbagai petualangan yang dilakukannya.

Menonton film ini kita diajak untuk merasakan emosional yang terjadi. Hal ini mungkin karena Into The Wild diangkat dari kisah nyata dari buku yang berjudul sama. Kisah tragis seorang pemuda idealis, yang berpikiran bahwa semua yang ada hari ini tidaklah begitu penting lagi. Yang terpenting baginya ialah kembali ke alam, menyatu dengan alam yang ada. Uang, gelar, dan lain-lain bukanlah suatu ukuran kebahagiaan lagi. Tapi kembali ke alam adalah kebahagian sesungguhnya, apapun yang terjadi. Dan Chris atau Alex melepaskan semua yang ada pada dirinya dan lalu mengejar kebenaran yang diyakininya.

Film ini diangkat dengan narasi dari sudut pandang keluarganya sendiri, yaitu Carine, adik dari Christopher. Tetapi tetap mengacu pada buku yang mengisahkan hidupnya. Diceritakan bahwa setelah lulus dari Universitas Emory, Chris hendak melanjutkan kuliah. Akan tetapi hal tersebut berubah. Perubahan ini seiring kekecewaannya pada hidup yang dijalaninya. Ia muak dengan segala yang ada. Termasuk kasih sayang dari orangtuanya selama ini. Ia menganggap semua itu tak lain sebagai kebohongan. Apalagi ia sendiri menyaksikan bahwa orangtuanya tersebut bukanlah orang yang akur meski berasal dari kalangan orang yang jenius, mewah dan terkenal. Makanya kemudian ia tidak jadi melanjutkan kuliahnya di Harvard dan memilih untuk pergi meninggalkan kehidupan yang dijalaninya hari ini. Awalnya hal tersebut tidak diketahui sama sekali oleh keluarganya, termasuk adik perempuannya. Sampai akhirnya mereka berencanan untuk datang ke apartemen dimana Chris tinggal. Akan tetapi yang ditemukan ialah bahwa apartemen tersebut sudah ditinggalkan dan disewakan untuk orang lain. Pengelola apartemen mengatakan bahwa Chris sudah dua bulan pergi meninggalkan tempat tersebut dan tidak tahu kemana ia pergi.

Lalu pada suatu saat didapatlah kabar bahwa mobil yang selama ini dipakai Chris diketemukan di sebuah gurun. Dan sudah ditinggalkan pemiliknya. Tidak tampak ada kekerasan dan semacamnya yang akhirnya disimpulkan bahwa Chris sengaja meninggalkan mobilnya tersebut dan tidak untuk kembali lagi. Chris benar-benar ingin menghilang dari kehidupannya selama ini. Sehingga diyakini memang ia tidak ingin ditemukan. Chris meninggalkan mobil tersebut karena suatu hari ia tertidur dan tiba-tiba terbangun karena datang banjir yang akhirnya menyeret mobil tersebut ke gurun dimana mobil tersebut ditinggalkannya dan ditemukan oleh polisi yang bertugas.

Selama dalam perjalanannya menuju Alaska, Chris bertemu banyak orang. Dan dari orang-orang yang ditemuinya tersebut ia melihat banyak karakter yang berbeda. Ia bertemu dengan Jan dan Rainey, yang juga merupakan petualang. Jan dan Rainey adalah sepasang hippies petualang yang mengembara ke banyak tempat dengan kendaraannya. Jan adalah seorang perempuan yang punya anak seumuran Chris dan juga pergi mengembara tidak tahu kemana. Jan ditinggalkan oleh suaminya sebelum akhirnya ia bertemu Rainey dan merasa nyaman bersamanya. Dengan adanya Chris, Jan seperti teringat kembali masa lalunya dan kenangan akan anaknya. Ini adalah hal yang tidak pernah digubris sama sekali selama beberapa tahun menurut Rainey. Dan semenjak bertemu Chris, kesedihan Jan dan kenangan akan anaknya kembali mengingatkannya. Sebelum Chris meninggalkan pasangan ini untuk melanjutkan perjalanannya ke Alaska, Jan berjanji suatu saat saat mereka bertemu kembali, ia akan memberikan sebuah topi untuk Chris.

Diperjalanan lainnya Chris sempat bekerja di pertanian gandum. Disini ia bertemu dengan Wayne dan kawan-kawannya yang lain. Wayne dan kawan-kawannya sangat ramah dan hangat. Mereka senang bisa bertemu dengan Chris. Begitupun dengan Chris. Disini Chris belajar cara memanen gandum dan menjalankan tractornya. Malamnya mereka pergi ke kafe untuk sekedar bercanda dan atau minum-minum. Sampai akhirnya polisi datang untuk menangkap Wayne yang ternyata adalah seorang buronan.

Setelah Wayne ditangkap polisi, Chris melanjutkan kembali perjalannya. Dan perjalanan kali ini benar-benar ekstrem. Dimana ia juga dikerjar oleh polisi dan petugas keamanan lainnya. Itu karena ia melintas dan menelusuri sungai yang arus sungainya sangatlah deras dengan menggunakan kayak sendirian. Dan tanpa ada perijinan ataupun peralatan pelindung. Ia menjelajahi arung jeram sungai yang sangat ganas dan deras itu dengan penuh resiko. Dan untungnya tidak terjadi sesuatu yang terlalu mengkhawatirkan. Sampai ia mampu melewati sungai tersebut. Sementara dalam perjalanan menggunakan kayak tersebut ia bertemu sepasang kekasih yang memberitahukannya bahwa bila ia terus menelusuri sungai tersebut ia akan sampai ke Meksiko. Sialnya, saat ia melanjutkan perjalanan, ia ternyata masih dikejar petugas yang tadi mencarinya. Tapi untunglah ia bisa menghindarinya. Dan akhirnya berhasil sampai ke Meksiko.

Chris benar-benar menikmati perjalanan dan petualangannya. Dan di perjalanan ini ia bertemu kembali dengan pasangan Jan dan Rainey. Ia sempat tinggal sementara waktu di rumah mobil mereka. Disini ia tidak hanya bertemu pasangan hippies ini saja, melainkan juga sekelompok orang yang sama. Termasuk Tracy, anak dari teman Jan dan Rainey. Chris dan Tracy kemudian menjadi cukup dekat. Tapi Chris tidak bisa tinggal berlama-lama. Ia harus segera melanjutkan perjalanannya.  Dan  diperjalanan berikutnya Chris bertemu dengan seorang kakek Ron Franz. Ron adalah veteran tantara yang keluarganya dibunuh oleh para penjahat. Ron pertama kali bertemu dengan Chris saat ia mengantar Chris ke tendanya. Dan kemudian mereka menjadi akrab. Tapi lagi-lagi Chris tidak bisa tinggal berlama-lama. Sekira sudah cukup bekal yang ada, Chris melanjutkan kembali perjalanannya menuju Alaska. Ron pun membantu mempersiapkan beberapa perlengkapan yang bisa di bawa. Dan terakhir Ron menawarkan Chris untuk menjadi cucunya. Tapi lagi-lagi Chris tidak bisa memenuhi keinginan tersebut. Karena ia harus melanjutkan perjalanannya menuju hutan liar Alaska. Tapi Chris berjanji kelak setelah kembali ia akan membicarakannya.

Tahun 1992, Chris akhirnya sampai ke Alaska. Saat itu hutan Alaska masih diselimuti oleh salju. Chris sampai di Alaska setelah ia melewati berbagai macam halangan dan rintangan, melewati hutan, sungai dan lain-lain. Di dalam hutan Alaska, Chris menemukan sebuah rongsokan bus tua. Ia menamakannya Magic Bus. Dan di Magic Bus inilah ia akhirnya tinggal. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya ia berburu hewan-hewan yang ada. Ia juga memakan makanan yang tumbuh disana. Sampai alam pun berganti musim menjadi musim semi. Chris benar-benar bahagia bisa menyatu dengan alam. Keinginannya sudah tercapai. Ia tidak membutuhkan uang, jabatan, gelar, kartu kredit dan lain-lain. Ia hanya ingin kembali ke alam, tinggal di alam dan makan dari apa yang ada di alam.

Tapi disini Chris lupa bahwa ketersediaan alam terhadap makanan sangat terbatas. Alam tidak bisa mengawetkan makanan, terutama daging hewan yang sudah diburunya. Karena lambat laun hal tersebut akan membusuk dan tidak bisa dimakan lagi. Dan lambat laun juga ketersediaan itu makin habis. Disini Chris mulai merasakan kerasnya alam liar. Ia boleh saja tidak takut dengan pergantian musim, ancaman hewan buas dan lain-lain. Akan tetapi ketika sumber makanan sudah tidak ada, maka ia terpaksa harus menanggung derita kelaparan. Sampai ketika tidak ada lagi hewan yang bisa di burunya, ia akhirnya terpaksa harus makan apa yang masih tersisa. Ia mulai memakan tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar. Dengan berbekal buku tentang tanaman yang dibawanya, ia mengira semua tumbuhan tersebut bisa di makan. Dan akhirnya ia sadar bahwa tubuhnya semakin lemas dan tidak bertenaga. Ia baru sadar bahwa tumbuhan yang dimakannya belakangan ini mengandung racun yang mematikan. Semakin hari kondisi tubuhnya menjadi semakin lemas. Dan ia hanya bisa terbaring di ranjang kumal di dalam magic bus tersebut. Di hutan Alaska tidak ada rumah sakit atau semacamnya, dan untuk kembali menemui kawan-kawannya yang ia temui di sepanjang perjalanan sangatlah tidak mungkin dengan kondisi seperti itu. Chris akhirnya harus menanggungkan derita racun yang sudah menyebar keseluruh tubuhnya. Sampai akhirnya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir di dalam Magic Bus tersebut. Meninggalnya Chris di Alaska menjadi akhir cerita dari serangkaian petualangannya dalam mencari jati diri. Akan tetapi sebelum ia menyerah dengan kuasa takdir, Chris masih bisa berbangga karena bisa hidup seperti apa yang diinginkannya. Ia sangat merasa senang dan puas bisa hidup dan menyatu dengan alam. Meskipun pada akhirnya ia harus terkapar sendirian menemui ajalnya. Bersama alam.

Tapi apakah Chris benar-benar berbahagia? Apakah dengan meninggalkan semuanya; peradaban, keluarga, teman-teman dan lain-lain, ia menjadi orang yang sangat terbebas? Untuk sebagian besar narasi hidupnya mungkin iya. Tapi tidak semuanya. Karena dalam catatan yang dibuatnya selama perjalanan, tampak ada sedikit raut kekesalan atau kekecewaan dari apa yang dilakukannya. Disini Chris memasuki fase bagaimana secara alamiah bahwa manusia tidak bisa lepas dari hubungan dengan manusia lainnya. Dan Chris mulai merasakan itu di menit-menit akhir hidupnya. “Kebahagiaan Hanya Akan Nyata Bila Dibagi”, begitu Chris mencatatkannya dalam buku yang ia bawa selama ini. Tapi sayang hal tersebut sudah terlambat. Ia akhirnya harus menghadapi kenyataan yang sesungguhnya tragis dan mengenaskan, yaitu mati dalam kesendirian. Tapi dalam babak terakhir dan paling akhir dalam hidupnya, Chris tetap berbahagia dengan apapun yang terjadi. Karena keinginannya sudah tercapai. “I Have Had A Happy Life And Thank The Lord. Goodbye And May God Bless Us All.

Dua tahun bertualang dari tahun 1990, pada bulan April 1992 jasad Chris akhirnya ditemukan dua minggu setelah ia meninggal. Dan dari dalam kamera yang dibawanya, yang ditemukan dilokasi, tampak ia pernah berfoto sambal tersenyum bahagia. Ia berfoto sambil bersandar di Magic Bus yang menjadi tempat tinggalnya yang terakhir kali. Ini salah satu dokumentasinya yang terpenting, selain catatan yang ditinggalkannya, yang kemudian dicetak menjadi sebuah buku dengan judul yang sama.

Menonton film ini, meskipun terbilang film lama (rilis 2007), tetaplah tidak membosankan. Karena sepanjang film ini diputar, banyak makna yang bisa dipetik dari perjalanan panjang Christopher MacCandless atau Supertramp dalam menemukan jati dirinya. Tapi tidak semua cerita dalam film ini bisa dibenarkan. Karena Chris sendiri merasakan kekeliruan pandangannya terhadap beberapa hal. Termasuk tentang keluarga. Akan tetapi beberapa bagian bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk  belajar mengerti diri sendiri, tidak mudah tunduk dengan sistem yang ada. Kisah Chris ini bisa juga dikatakan sebagai antitesa dari kebiasaan yang selama ini biasa kita lakukan. Dan Chris mencontohkannya bahwa hidup tidak harus seperti itu terus. Hidup dengan petualangan itu bahkan bisa menjadi sangat penting dibandingkan hidup secara datar-datar saja. Sekarang Chris sudah tidak ada. Tapi pesannya sangat penting untuk kita tangkap dan ambil sebagai pembelajaran. Terutama tentang kegigihan dan tekad yang harus terus dijaga. Karena hanya dengan tekad dan kegigihan tersebut itulah kita bisa mencapai tujuan yang diinginkan. Apapun dan kapanpun.

***

Dan setelah mengetahui kabar kematian Chris, adiknya Carine kemudian membawa abu Chris kembali ke tanah kelahirannya di Virginia.

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika