Suluh Pergerakan

Ilustrasi | Common Sense Canadian

Asal Usul Rusaknya Lingkungan Hidup Kita

Oleh Ari Wijayanto – [Pegiat Social Movement Institute]

***

Persoalan bagaimana mengetahui dampak dari sisa-sisa revolusi hijau beserta genealoginya mungkin dapat kita temui di lembar-lembar kajian ilmiah dengan berbagai macam metode khusus untuk menyelidiki dan menyidiki bahwa kondisi lingkungan  hari ini sedang menuju kerusakan dalam tingkat yang katastropik. para demos menyebutnya nekropolis.

Belum lama kita mendengar selorohan gubernur dari Kalimantan timur bahwa banyaknya kematian anak-anak yang menjadi korban dari danau-danau buatan yang ditimbulkan karena aktivitas pertambangan batubara karena  dicurigari adanya hantu sebagai penyebab kematian anak-anak tersebut.

Bumi kita, yang berkomponen biotik dan abiotik terus dibinasakan oleh aktivitas segelintir manusia. Kita sebut saja neoliberalis.. jika Derrida populer dengan proposisi there is nothing outside the text, maka, kita ganti kata terakhir Derrida  menjadi  there is nothing outside the profit.  Inilah AD/ART para neoliberalis dari hulu hingga hilir di permukaan bumi ini.

Lingkungan hidup tempat dimana yang terkategorikan sebagai makhluk hidup mulai menapaki hidup hingga berakhir menjadi serpihan tanah tampaknya dipandang oleh segelintir orang hanya sebatas ruang reproduksi kapital. Meningkatnya pemanasan global, mencairnya es di kutub utara, menipisnyanya lapisan ozon di strarosfer ditanggapi dengan pembangunan berkelanjutan, teknologi ramah lingkungan, penggunaan biofuel.  Perlu dicatat, alternatif yang menjadi acuan justru menemukan masalahnya tersendiri kita bisa ambil salah satu contoh Biofuel yang ditelurkan dari perkebunan sawit membawa masalah sendiri bagi penduduk dimana tumbuhan itu sendiri berada, kekeringan air, menurunnya kualitas udara dikala pembukaan lahan dilakukan.

Pada kesempatan ini kita akan mewicarakan Buku yang ditulis oleh John Bellamy Foster dan Fredd Magdoff pada tahun 2011 dan baru dialihbahasakan pada tahun 2018 .disini akan diurai dalam empat bagian untuk melihat: pertama ketertautan aktivitas kapitalisme dan degradasi lingkungan,, kedua refleksi dan tindakan yang diperlukan..

Aktivitas kapitalisme dan degradasi lingkungan

Topik atau diskursus mengenai kapitalisme terdengar begitu membosankan bagi kita yang hanya berkutat pada tumpukan kertas ataupun lembaran digital, namun yang perlu dipahami bahwa aktivitas pencarian laba yang tak henti ini perlu direnungkan secara seksama, memang pada awalnya dampak kapitalisme mempertontonkan capaian-capaian yang tak diduga  oleh peradaban manusia sebelumnya, ditemukannya mesin uap, hukum bernouli pada penemuan pesawat oleh wright bersaudara, yang tak disadari ialah berkurangnya kualitas kehidupan bumi kita, hilangnya mata pencaharian bagi masyarakat adat diberbagai macam penjuru dunia, perubahan sikap kita yang sering ngedumel  akibat kemacetan  Tentu kita tidak mempersoalkan teknologi sebagai kausa prima  dari kerusakan alam namun yang dipersoalkan ialah bagaimana penemuan teknologi yang harusnya mempermudah kehidupan manusia tidak membawa kita pada rusaknya ekosistem kita. Inilah sebab kita tidak boleh bosan atas segala diskursus mengenai kapitalisme. Tentu yang kita perlukan ialah alternatif dari sistem ini namun dari sebagian orang justru masih menaruh harapan bahwa dengan tetap dengan postulat sistem ini akan menemukan alternatife tanpa mengubah sistem ini sama sekali. Inilah sebab utama Fredd Magdoff dan John bellamy Foster menulis buku yang bersifat pengantar ini

John Bellamy Foster dan Fredd Magdoff berujar “yang perlu diketahui oleh setiap pemerhati lingkungan tentu saja adalah bahwa kapitalisme itu bukanlah solusi, tetapi sumber persoalan”(P.3)

Apa yang disampaiakan oleh JBF dan FM menyindir secara tegas bahwa tindakan-tindakan voluntaris sekadar gerakan membersihkan sampah, penggunaan mobil hybrida atau pula menanam pohon atau yang akhir-akhir ini terjadi seorang menteri menyerukan untuk tidak menggunakan botol air plastik ketika rapat adalah tindakan yang terdengar peduli atas lingkungan namun mengalihkan kita pada akar dari persoalan utama kita yakni sistem produksi ekonomi yang berbasis laba.

JBF dan FM mengamati  bagaiamana korporasi tunduk dalam konsepsi yang disusun oleh Hobbes(P.79) “Homo Homini Lupus”.  benak para korporat penuh pada tujuan tunggal yakni maksimalisasi profit dalam tempo yang singkat, setelahnya meninggalkan kerusakan lingkungan. Pengamatan seperti ini dapat kita saksikan didaerah sepert tumpang pitu, Kalimantan timur dan lain sebagainya bagaimana lubang-lubang yang hampir menyerupai danau akibat industri ekstratif mengubah ekosistem setempat menjadi kubangan maut.

Lain dari pada itu, kita disajikan berbagai macam penanda degradasi lingkungan. Di samudera pasifik sikat gigi, tutup botol, bola lampu dan segala yang berbahan plastik bertebaran hingga membentuk layaknya daratan yang jika diukur sama  dengan dua kali Texas. Atau yang terjadi di bumi bagian utara dimana peluruhan cepat gunung-gunung es akibat memanasnya bumi. Sementara pada sejak 1875 permukaan air laut hanya naik rata-rata 1.7 mm/tahun, namun meningkat sejak tahun 1993 menjadi 3 mm/tahun .Selain itu, makanan yang di dalam benak kita guna memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi berdasarkan pengujian yang dilakukan oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat ternyata terkontaminasi zat-zat kimia seperti fungisida, insektisida, herbisida dll.(P.21). dari berbagai macam penanda dari degradasi ruang hidup kita apa yang disampaikan oleh Stephen Hawking bahwa kita harus pindah dari bumi tentu ada benarnya, namun dengan mode of production manusia yang masih konstan tampaknya kita perlu menilik tulisan Albert Einsten “Why Socialism” agar ruang hidup yang akan ditinggalkan paska bumi tak bernasib sama.

Refleksi dan Tindakan

Tentu jika ingin merefleksikan secara utuh perlu kiranya membaca buku ini hingga tuntas, namun kepingan-kepingan dari tulisan diatas memberikan kita pemahaman secuil bahwa pola konsumsi dan produksi dalam sistem ekonomi kita bermasalah terhadap lingkungan hidup kita. Perlu kita pertanyakan kepada insitusi-institusi ekonomi yang mereproduksi gagasan dan diskursus tentang dunia impian yang menjunjung tinggi kebebasan ekonomi tepat tidaknya sistem yang mengada saat ini. Seperti yang disampaikan oleh Karl Polanyi kebebasan yang mengada saat ini ialah the freedom to exploit one’s fellows, or the freedom to make inordinate gains without commensurable service to the community. (David Harvey, “ A Brief History of Neoliberalism “, Hal.36, 2005, Oxford University Press)

JBF dan FM menganjurkan tindakan yang perlu dilakukan yakni dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dari berbagai macam tindakan pendek yang sangat mendesak untuk dilakukan seperti penghapusan privatisasi air, penghapusan praktik industry pertanian yang merusak lingkungan,menyetop pembangkit listrik berbasis batubara, tindakan jangka panjang yang harus dilakukan ialah revolusi ekologis. Revolusi yang dicanangkan disini tentu perombakan yang utama ialah mode produksi yang terlampau menganggu ke-ekuilibriuman tata lingkungan kita, disini JBF dan FM mengacu pada tindakan-tindakan revolusioner yang dilakukan oleh pemerintah Venezuela bagaimana pengelolaan ekonomi dan lingkungan dilakukan oleh swadaya masyarakat, serta mendesentralisasi keputusan kebijakan public mengenai infrasturuktur kepada sepuluh ribu dean komunitas.