Ilustrasi | Sputnik International

Andai Kiamat Datang Sebelum Coblosan Pemilu

“Barang siapa menginginkan surga Firdaus dan kenikmatan abadi, janganlah ia memakai umurnya dalam kerusakan dunia” Rasulullah SAW

“Tiga penyebab kerusakan orang-orang sebelum kalian ada tiga: Terlalu Banyak Bicara, Terlalu Banyak Makan, dan Terlalu Banyak Tidur” -Ibrahim al-Nakha’I r.a (Mutiara Nasihat: Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani)

Adegan hari Kiamat banyak orang mengetahuinya. Bahkan anak-anak kecil bisa mementaskannya. Terompet malaikat yang bunyinya membuat bumi gemetar dengan hebat. Gunung bisa terbang dan tanah seperti karpet yang digulung. Manusia tak mungkin menyelamatkan diri karena itulah aksi pembasmian yang hebat, besar, dan mengerikan.

Kalau saja Kiamat itu tiba sebelum hari pencoblosan: politisi akan kecewa karena semua yang dilakukanya tak ada guna, para calon akan kehilangan semua karena hidup berujung pada pertanggungjawaban pribadi dan tim sukses bisa kacau balau karena semua yang direncanakan bubar begitu saja. Kiamat menghabiskan semua harapan politisi hingga panitia Pemilu.

Karena adegan setelah Kiamat bukan permintaan maaf. Mustahil malaikat peniup terompet minta maaf karena menhganggu jalanya Pemilu. Mustahil lembaga survei menuntut panitia akherat karena merusak semua prediksi besaran suara. Dan sudah barang tentu ulama pendukung para calon tidak akan marah pada Tuhan karena mengubah hari-harinya.

Sesudah Kiamat, manusia dikumpulkan semua. Tak ada bendera partai yang boleh didirikan. Baliho para calon juga tak bisa berdiri seenaknya. Bahkan kerumunan yang terjadi tak bisa dinamai dengan sekenanya. Di situ ulama, tim sukses, presiden hingga, calon presiden kehilangan kekuasaannya. Hari itu Pemilu tinggal cerita dan kartu suara hanya menjadi kenangan yang sudah tak bisa diingat.

Di hari Kiamat manusia tak bisa mengulangi tindakannya di dunia. Jokowi tak lagi berkuasa sebagai Presiden di alam baka. Prabowo juga mustahil mencalonkan diri jadi pemimpin akherat. Dan partai politik tak dapat hidup lagi, serta media sosial hingga televisi sudah terhenti siaranya. Kiamat hanya menciptakan adegan bernama pengadilan dan pertanggungjawaban.

Manusia bertemu dalam suasana yang mengejutkan: Soeharto yang sudah meninggal akan berjumpa dengan Sukarno yang dulu dikudetanya. Kemudian Jokowi akan berjumpa kembali dengan Prabowo dalam suasana yang tidak ada perdebatan. Masing-masing tim sukses terkejut karena bertemu tanpa persiapan: Ahmad Dhani akan berjumpa dengan Ahok yang dihinanya, Dahnil Azhar bisa ketemu dengan Grace Natalie dalam situasi yang mencekam. Mereka sudah tak bisa lagi berdebat.

Hari itu manusia tak lagi bicara soal nama baik dan keberhasilan. Tiap orang sedang diusut tingkah lakunya. Para pengacara tak diberi kesempatan membuka praktek, dan polisi sudah kehilangan seragamnya. Tak lagi ada kantor polisi, apalagi pengadilan dan kejaksaan. Semua musnah! Satu-satunya peran yang tersisa hanya Malaikat yang tak menggunakan Twitter, Facebookm bahkan tak bisa disanggah oleh kitab hukum apa pun.

Pertanyaan hari itu tak bisa dijawab dengan mudah: Jokowi pasti akan ditanya apa yang sudah dilakukannya sebagai pribadi, presiden, hingga kepala keluarga. Jawabanya tak bisa dibantu oleh tim sukses, apalagi didebat oleh lawan politiknya. Sebaliknya ketua partai akan ditanya apa yang telah mereka lakukan selama hidupnya di dunia yang sebenarnya singkat.

Pada kitab suci dituturkan, hari itu manusia semua menyesal. Saya bayangkan saya sendiri akan menyesal: mengapa tak bisa menyeret pelanggar HAM untuk diadili, tidak bisa mencegah gosip dan fitnah yang beredar begitu rupa, serta tak mampu mengatasi kemiskinan yang berjangkit di mana-mana. Saya pasti menyesal tak mampu melawan kebodohan dan fanatisme yang meraja lela.

Tapi penyesalan saya yang besar tak sebesar politisi yang pasti juga diadili. Bayangan saya, para malaikat akan menggedor dengan pertanyaan yang tak bisa dijawab dengan gampang. Pertanyaan Malaikat bukan dalam acara Mata Najwa atau Indonesia Lawyer Club (ILC) yang penuh canda, saling serang dengan dikelilingi iklan. Malaikat akan membuat pertanyaan jadi jelas, lugas, dan terang. Tanpa basa-basi dan tanpa iklan!

Apa saja yang kaulakukan dalam hidupmu ketika jadi politisi? Bicara jujur terus terang atau mengelabui rakyat dengan berani tanpa takut sama sekali? Ketika memutuskan jadi politisi apa yang kau perjuangkan untuk rakyat yang memilihmu dan sesuai kah itu dengan gaji serta wewenangmu? Jika boleh diurut dalam tindakanmu sebagai manusia ciptaan Tuhan yang terbaik, apa yang bisa dibanggakan?

Dalam kitab suci dikisahkan: hari pengadilan itu tak hanya memuat pertanyaan, tapi siaran langsung tindakan manusia yang serinci-rincinya: saat dengan percaya diri menebar janji, ketika dengan angkuh merasa benar sendiri, atau berapi-api menyebut nama Tuhan untuk menyerang siapa yang dianggap lawan. Hari itu semua perbuatan manusia digelar dalam tontonan akbar dan manusia tak bisa membela diri sama sekali.

Bahkan dimuat dalam kitab suci manusia akan saling lempar-melempar kesalahan: yang berdosa akan marah terhadap yang mengajaknya berbuat dosa; kemudian yang berdusta menganggap tindakannya karena diajak untuk ikut serta. Hari itu manusia kebingungan saling lempar tanggung jawab ketika terbuka kedok kesalahannya. Saya bisa bayangkan politisi, tim sukses, dan partai politik pasti ‘seru’ debatnya.

Saya bayangkan hari itu penyesalan akan menghantui siapa pun: perlombaan untuk menduduki tahta hanya jadi kisah yang tak bisa dibanggakan sama sekali, keinginan untuk menjatuhkan orang lain jadi perbuatan yang disesali terus-menerus, dan upaya menyeret nama Tuhan kelak akan dijatuhi keputusan yang mungkin juga disesali begitu rupa. Manusia hari itu tak bisa berbangga dengan perbuatannya.

Hari itu kebenaran akan tersingkap dengan cara menakjubkan: yang dihina bisa jadi dapat mengembalikan nama baiknya, yang merasa bangga bisa jadi akan terjatuh dengan menyakitkan, dan yang meyakini kemampuan tipuannya hari itu tak bisa melakukan tindakan biasanya. Manusia akan mendapati dirinya lemah, rendah, dan tak berdaya. Kiamat membuat perkara dunia yang diributkan jadi tak ada artinya.

Yang saya tak bisa menduga adalah mereka yang kerap mengatasnamakan Tuhan dalam tindakannya. Saat membawa nama Tuhan ketika menyuruh orang memilih dalam Pemilu atau Pilkada; mengikutsertakan nama Tuhan ketika mengecam seseorang, atau berjanji atas nama Tuhan ketika menjatuhkan pilihan politik. Apakah Tuhan akan bangga dengan orang semacam ini atau Tuhan malah menghukum orang yang menyalahgunakan nama-Nya?

Tapi persisnya hari itu kita akan menyesali perbuatan hari ini. Sibuk menebar fitnah ke mana-mana, memprovokasi dengan informasi yang tak benar, hingga menciptakan stigma negatif pada orang maupun sekelompok kaum. Di hari akbar itu kita pasti malu karena berbuat kebusukan dengan rasa bangga, bahkan bertindak sadis mengatasnamakan agama.

Kiamat membangunkan kekurangan kita akan sifat baik: mengapa kita tak mudah memaafkan, mengapa kita tak mudah mencari persamaan, dan mengapa kita sulit untuk bersama? Kiamat menumbuhkan rasa  kerinduan yang tiba-tiba pada solidaritas, kepekaan, kepedulian, dan perlindungan pada yang lemah. Hari itu kita semua menyesali mengapa berbuat seperti di hari ini.

KPU mungkin menyesali mengapa membuat Pemilu jadi seperti jalan buntu untuk akal sehat, kepedulian, dan kebersamaan. Kalau itu bisa disebut sebuah pesta, maka Kiamat membuat kita sadar kalau pesta itu telah memakan korban luar biasa banyaknya. Di antaranya adalah kemampuan untuk tersentuh, peduli, dan empati untuk sesama.

Tapi mungkin pertanyaan terakhirnya: apa memang benar Kiamat datang selekas itu? Atau yang lebih jelas sebenarnya adalah: apa kita musti menunggu hari Kiamat untuk tahu kalau perbuatan yang kita lakukan itu salah, bodoh, dan berbahaya?

Anda dan saya pasti tahu jawabanya!(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini