Prabowo | Suara

Andai Gugatan Prabowo Dimenangkan

“Anda dapat lebih cepat mempengaruhi seribu orang dengan menarik dan memperkuat prasangka mereka daripada satu orang dengan menggunakan logika” -Robert A Heinlein

Bayangkan! Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) memenuhi semua tuntutan Prabowo. Pasangan Jakowi-Ma’ruf didiskualifikasi, kemudian Prabowo-Sandi ditetapkan sebagai Presiden. Saya sudah bayangkan pidato Prabowo nantinya, “Keadilan telah ditegakkan kembali dan Indonesia tegak di atas Keadilan.” Jubir pasangan Prabowo-Sandi pasti akan tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada hakim MK.

Pak Amien Rais juga tidak lagi menyebut People Power. Pastilah pujian diberikan pada hakim MK yang telah memenuhi semua tuntutannya. Saya tak bisa bayangkan bagaimana Tim Sukses Prabowo-Sandi yang pastinya akan bangga atas kerja mereka dan ucapkan terimakasih pada siapa saja, bahkan pada pasangan Jokowi-Ma’ruf yang -berjanji akan- menerima semua keputusan MK.

Disusul kemudian dengan pendukung Prabowo-Sandi yang  masih berada dalam tahanan. Baik karena kasus hoax maupun ancaman akan bunuh Jokowi. Mereka akan meyakini bahwa apa yang dilakukannya itu memang untuk pemenuhan keadilan. Imbalan penjara bukan karena kesalahan, tapi perjuangan meneguhkan keadilan. Bahkan, mungkin saja, Ahmad Dhani akan menciptakan lagu khusus untuk kemenangan ini.

Lalu hakim MK akan mengatakan bahwa putusan apapun musti diterima. Komentator pasti terbelah antara menerima dan menolak. Mungkin ada yang meragukan keputusan, bisa jadi menyalahkan keputusan, atau malah mendukung keputusan. Singkatnya l, MK dengan meyakinkan akan menyatakan kalau mereka memang tak bisa diintervensi.

Bayangkan, yang terjadi di acara televisi pasti sangat gaduh. Mereka pikir MK menolak semua gugatan atau mereka menduga Jokowi sebagai Presiden mustahil dikalahkan. Kini, MK terbukti berani melawan semua opini yang meragukannya. Saya pasti akan melihat debat seru lagi antar pendukung yang sangat terkejut dengan hasil keputusan.

Tapi saya percaya rakyat menerima biasa saja. Mungkin mula-mula kaget, tapi kian hari akan normal lagi. Sebab, semua kejutan di negeri ini sudah pernah dirasakan oleh rakyat, mulai dari punya dua calon presiden hingga dua presiden yang saling percaya akan kemenangannya. Rakyat dengan tabah akan menerima semua bentuk keanehan peristiwa politik semacam ini.

Aneh, karena jauh sebelum Pemilu berjalan sudah ada tuduhan kecurangan. Menganggap KPU tidak netral hingga mempercayai aparat bertindak tidak adil. Sterotipe itu ditebalkan oleh elite yang dulu sebenarnya pernah berada dalam perahu yang sama. Apa saja dilakukan oleh elite jika itu akan menguntung posisi dan kedudukannya. Rakyat memahami itu.

Sebab, rakyat tahu kalau Pemilu tak semata-mata untuk pemenuhan kedaulatan. Pemilu adalah waktu saat rotasi kekuasaan dijalankan dan jatah kekuasaan dibagi-bagi di antara partai politik. Bayangkan saja pemenang belum jelas sudah ada ketua partai minta jatah menteri. Pakai menyebut jumlah pula. Rakyat sadar bagaimana disaksikannya sendiri praktek jual beli suara. Tak mungkin membeli suara kalau tidak untuk kepentingan diri sendiri. Semua itu disaksikan oleh rakyat hampir tiap Pemilu.

Rakyat telah memilih dan tak hendak ribut dengan hasil itu semua. Yang diinginkan rakyat selama ini bukan keadilan di MK semata, tapi KEADILAN bagi mereka. Keadilan ekonomi sehingga tak lagi ada kesenjangan, keadilan hukum sehingga tak ada beda antara rakyat kecil dengan penguasa, hingga keadilan akses sehingga tiap orang punya kesempatan yang sama untuk memperbaiki taraf hidupnya. Keadilan ini telah jadi janji dan tercantum dalam pembukaan UUD.

Kalau PNS punya gaji ke-13 lalu apa yang pantas diberikan pada rakyat? Yakni BLT ke-13 atau gratiskan layanan listrik untuk mereka yang miskin. Rakyat paham mereka hanya bisa gantungkan nasib pada Tuhan dan diri sendiri. Paling hanya uang pelumas waktu Pemilu atau Pilkada yang disebut elite sebagai money politik. Padahal itulah bayaran paling murah elite politik pada rakyatnya yang sudah melakukan apa saja.

Maka, apapun putusan MK tak lagi mengejutkan bagi rakyat. Sebab rakyat memang sudah terbiasa hidup dengan irama politik yang mengejutkan dan sudah sering mengalami ketidakpastian. Bagi rakyat, hidup di bawah payung demokrasi dengan sistem ekonomi liberal telah membuat mereka terlatih untuk hidup dengan menanggung resiko apa saja.

Itu sebabnya, siapapun pemenangnya di MK sebenarnya tak banyak mengubah hidup rakyat kecil di manapun tinggalnya. Baik yang ada di Rembang tetap berjuang untuk pertahankan lingkungannya dari ancaman pabrik Semen, yang ada di sekitar usaha tambang akan terus berusaha untuk menyelamatkan lingkungan sekitarnya, dan yang anak maupun suaminya yang hilang karena kerusuhan tetap berjuang menuntut keadilan HAM. Menjalankan Aksi Kamisan di depan Istana, siapapun pemenang Pilpresnya.

Rakyat kecil hidup untuk memperjuangkan hidupnya apapun keputusan MK nantinya. Jadi andaikata pasangan Prabowo-Sandi dimenangkan gugatannya itu, tak berarti keadilan untuk rakyat, sama halnya kalau kemudian Jakowi-Ma’ruf Amin dimenangkan itu bukan berarti keadilan telah datang.

Singkatnya, rakyat akan hidup sebagaimana biasanya walau MK akan memutus perkara dengan hasil yang bisa diduga atau tak terduga sekalipun. Percayalah!(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika