Kantor KPU | IDN Times

Aku Ingin Bertanya Padamu, KPU!

“Kapal di pelabuhan memang aman, tetapi bukan itu kegunaan kapal” -John A Sed

Kalau Pemilu adalah pesta, maka KPU panitia utamanya. Jika Pemilu adalah kompetisi, maka KPU jurinya. Jika Pemilu diibaratkan pertarungan, maka KPU adalah wasitnya. Singkatnya, KPU itu bukan hanya sutradara, tapi juga produser bagi terselenggaranya Pemilu. Karena, kebijakan mereka, -mustinya- Pemilu tak bisa dicurangi, dimanipulasi, dan dikendalikan. Pemilu adalah kompetisi yang semustinya jujur, terbuka, dan fair. Setidaknya melalui Pemilu, kita akan mendapatkan wakil sekaligus presiden yang diharapkan oleh rakyat.

Karena Pemilu bukan sekedar panggung saat yang muncul dan menang hanya orang itu-itu lagi. Pemilu juga bukan tempat bagi orang yang dulu memiliki posisi lalu kemudian duduk menjabat lagi. Terlebih kalau orang itu dulunya bermasalah, pernah diadili, bahkan terbukti korupsi. Pemilu sarana satu-satunya untuk mengganti mereka yang bermasalah dengan prosedur yang damai, aman dan, konstitusional. Tapi, apakah memang sampai sekarang Pemilu mampu memenuhi harapan semacam itu?

KPU pantas untuk menjawab pertanyaan utama ini. Pertama-tama, KPU sebaiknya bisa memberi tahu kepada kita mengapa orang yang bermasalah, keluarga yang jelas-jelas cacat secara politik, dan punya masalah pelanggaran HAM di masa lalu bisa mendirikan Partai dan boleh ikut Pemilu? Tidak adakah kekuatiran kalau mereka akan mengulang perbuatan orang tuanya dulu yang telah merusak nilai Demokrasi bahkan membunuhnya dengan cara keji?

Angggota KPU bukan lahir ketika Soeharto tumbang. Mereka pernah merasakan bagaimana kejinya kekuasaan Soeharto. Kita tak tahu bagaimana mereka -anggota KPU- hidup di masa itu: menikmati, ikut melawan, atau diam saja. Tapi mereka sebaiknya tahu bahwa posisi yang didudukinya ini bukan karena kemampuan yang dimiliki atau jaringan yang dipunyai. Mereka jadi anggota KPU karena badan ini didirikan oleh tuntutan berdarah banyak anak muda. Terutama dalam menentang Soeharto.

Bayangkan Orde Baru yang terang-terangan merusak nilai Demokrasi, mengabaikan nilai-nilai HAM, dan merampas harta rakyat dengan cara korupsi. Mereka yang melakukan itu semua masih bertahan, masuk jadi pengurus partai, bahkan memimpinnya lagi. Berikan alasan moral yang mengabsahkan itu semuanya: orang yang sama, keturunan dari bapak yang kita kutuk sama-sama, dan yang bahaya duduk di posisi serupa. Kenapa KPU mengizinkan mereka untuk berlaga pada Pemilu yang kita katakan demokratis itu?

Sulit memang untuk menjawabnya, tapi penting untuk jadi bahan renungan bersama. Tidakkah kita jadi bahan tertawaan sejarah karena dengan gampang membiarkan keluarga Cendana duduk sejajar dengan calon penguasa berikutnya? Betapa menyenangkan jadi orang seperti mereka: bapaknya mencuri, anak-anaknya menikmati, dan kini mereka ingin berkuasa kembali. Pelajaran apa yang kita berikan untuk anak cucu melihat kawanan perampok yang dengan gampang berkuasa berulang kali tanpa hukuman sama sekali?

Kriteria baik dan buruk jadi padam karena tiap orang bisa mencalonkan diri jadi penguasa selanjutnya. Hanya kriteria administrasi membuat partai yang dulu mengangkat Soeharto berulang-ulang bisa tampil berlaga kembali. Tidakkah kalian merasa kalau sirkuit politik semacam ini membuat kita bukan hanya memberi kesempatan berkali-kali pada orang jahat, tapi juga menutup pintu orang baik untuk tampil? Bahkan orang baik bisa terpaksa bersekutu dengan orang jahat. Efeknya jadi tak karu-karuan karena Politik jadi kegiatan najis dan membawa dosa.

KPU, ingin kubertanya pada kalian, apa yang jadi kriteria calon wakil rakyat kalau kebanyakan di antara mereka -ketika duduk di sana- saja korupsi? Bagaimana mungkin orang yang dulu jadi penjahat kemanusiaan kemudian bisa mencalonkan diri lagi? Tidak bisakah kalian membuat kriteria bahwa wakil rakyat hingga calon presiden tak boleh punya hubungan dengan Rezim Orba yang sangat bermasalah dan tak pernah diadili sama sekali?

Bayangkan pemilu ini juga menyita akal sehat dan merebus budaya untuk saling menghormati satu sama lain. Tiap calon wakil rakyat atau calon pimpinan musti keluarkan biaya yang tak seimbang dengan gajinya. Dari mana calon-calon itu membiayai kampanye yang berupa baliho, pertemuan sana sini, hingga memastikan para saksi? Uang beredar dengan deras dan tiba-tiba kita memaklumi begitu saja. KPU mengapa demokrasi berbiaya mahal dan orang yang punya pikiran baik serta jejak masa lalu pemberani tak bisa mencalonkan diri?

Permainan ini lima tahun sekali tapi membahayakan sendi dasar kepercayaan rakyat pada nilai kejujuran, ketulusan, bahkan kepercayaan. Kalau yang akan dipilih harus membayar dan yang memilih musti dibayar, apa jadinya bangsa ini di masa depan? Himpunan serigala yang saling memangsa hanya untuk mencapai kedudukan tertinggi? Tak hanya kita menjauh dari keinginan menegakkan keadilan, tapi meluncur menjadi bangsa bar-bar yang mudah sekali berkelahi satu dengan yang lain.

KPU, mampukah dirimu mencegah itu semua tak terjadi?

Kini sejarah akan ditentukan oleh permainan yang dirimu jadi wasitnya. Bisa jadi negara ini makin meyakini demokrasi atau terjatuh lagi seperti pada masa Orde Baru: penganiayaan luar biasa, ketimpangan makin menjadi-jadi, dan kebebasan diringkus. Atau menjadi negara yang rakyatnya bangga karena punya politisi yang budiman, menghargai keragaman, dan mengutamakan kepentingan warga yang lemah dan tak punya apa-apa. Sebuah negara yang dulu jadi mimpi Soekarno-Hatta saat mengucapkan proklamasi.

Maka cara apa yang bisa kautawarkan sehingga rakyat tak memilih karung yang isinya iblis? Makhluk terkutuk yang pekerjaannya hanya mengadu domba, menciptakan janji palsu, dan mengancam mereka yang punya pikiran berbeda? Bagaimana mungkin sebuah negara yang terdiri atas keragaman punya kesempatan untuk jatuh pada komplotan yang menginginkan keseragaman dalam pandangan, keyakinan bahkan, pilihan? Partai yang mendukung gagasan semacam ini hanya mengingatkan kita akan hantu Soeharto yang bisa bangkit mencekik kembali kebebasan yang sudah kita raih.

KPU, pantasnya dirimu bertanya mekanisme seperti apa yang bisa membuat pemimpin brengsek bisa kelihatan celanya dan pemimpin baik dapat diidentifikasi dengan mudahnya.

Soal debat, semua percaya KPU harus memperbaiki lagi prosesnya: jangan lagi pertanyaan diberikan lebih dulu, jangan terlampau formal dalam mengatur pertanyaan, jangan biarkan pendukung berada di panggung calon, hingga jangan sampai jawaban jargon muncul seperti sebuah lagu lama.

Bahkan kalau perlu dalam isu apa saja sertakan korban di dalamnya. Soal lingkungan, sebaiknya KPU bukan mendatangkan presenter atau pakar, tapi para petani yang teraniaya atau aktivis lingkungan yang di penjara. Biarkan calon pemimpin melihat langsung bagaimana korban bicara, menuntut, dan memastikan hak-haknya dipenuhi. Debat bukan pameran tebar pesona dan janji, tapi pertarungan keyakinan di hadapan rakyat yang memang punya kepentingan.

KPU bukan lembaga yang memuaskan kepentingan para calon petarung. Sehingga tiap usulan, ide, bahkan keberatan diterima dengan mudahnya. Kalau setiap petarung mengusulkan apa saja dan diakomodasi semua keberatanya, lalu untuk apa kami memilih kalian? Yang kami anggap lebih mengutamakan rakyat ketimbang kandidat. Untuk apa kami gaji kalian kalau kesetiaannya pada para petarung ketimbang konstitusi yang menginginkan adanya Pemilu yang adil, jujur, dan demokratis? Jagalah kewibawaan kalian sehingga berani berdiri tegak mengambil keputusan yang benar.

KPU, waktunya dirimu berani menyatakan posisi. Tidak mengatakan berulang-ulang dengan kata netral melulu, karena pertarungan menuju kekuasaan itu adalah jaminan kehidupan selama lima tahun mendatang. Salah kita memilih penguasa, akan dijebak bangsa ini dalam siklus keji selama lima tahun berikutnya. Kita bukan menciptakan harapan menjadi negeri yang lebih baik tapi terjerumus dalam kabut hari depan yang kelam. Tidakkah kalian menyaksikan kompetisi ini makin mengkuatirkan?

Tanggung jawabmu hari ini adalah menampilkan, mempromosikan, dan menegaskan kepada rakyat siapa yang pantas untuk dipilih. Tidak promosi sebagaimana Parpol pendukung, tapi membuat mekanisme yang mendorong munculnya pimpinan terbaik. Lihatlah setelah Soeharto tumbang kita menghadapi masalah beruntun: korupsi, kemiskinan, hutang luar negeri, dan ketinggalan dalam pendidikan. Semua itu muaranya -salah satu dan utamanya- tidak tampilnya pemimpin alternatif yang bisa membaca masa depan dan mampu membawa rakyat untuk berjalan menuju hari depan dengan percaya diri.

Maka pertanyaan berikutnya: indikator apa yang menunjukkan tanggung jawab KPU itu berhasil ditunaikan? Jumlah pemilih yang banyak? Pemilu yang aman? Atau kepemimpinan dan politisi yang mampu mengubah harapan jadi kenyataan? Lihatlah dirimu hari ini: mengatakan apa saja pasti diliput oleh media, melahirkan kebijakan apapun pasti disaksikan oleh rakyat, dan menyatakan sikap pasti jadi pilihan yang utama. Beranilah membuat terobosan karena kesempatannya hari ini dan saat ini: kala pertarungan politik sudah menuju pada babak yang mengkuatirkan dan masa depan demokrasi sedang dipertaruhkan.

Ingat-ingatlah perubahan politik di negeri ini memang tak pernah melalui prosedur terencana dengan kepatuhan pada aturan yang tersedia: Soekarno tumbang oleh kudeta perlahan yang dimotori aksi massa yang terus-terusan, begitu pula Soeharto jatuh setelah badai krisis ekonomi dan keberanian maksimal gerakan massa. Kita tak mungkin lagi mengulang apa yang sudah dilakukan di masa lalu, tapi marilah kita berusaha untuk membuka ruang kesempatan yang disediakan oleh undang-undang yang ada. KPU adalah pelaku utama yang bisa membuat Pemilu jadi menarik untuk diikuti dan memastikan hasilnya memang sesuai dengan harapan.

Bagi sebuah perubahan tak ada kata terlambat. Waktu yang tersisa memang tak banyak, tapi peluang yang disediakan masih ada.

Akhirnya, kuingin bertanya yang terakhir kalinya: KPU, bisakah kalian menjadikan Pemilu ini menjadi harapan rakyat akan perubahan? Rakyat yang selama ini menderita oleh janji palsu, oleh penggusuran, oleh belenggu kebebasan, oleh politisi culas, oleh beban ekonomi yang berat, dan oleh kerinduan bahaya akan ‘Orde Baru’?

KPU, kalian adalah anggota yang dipilih karena cakap. Pendidikan kalian bukan diperoleh dari lembaga sembarangan. Pasti pengalaman kalian juga banyak dan kaya. Ibaratnya kalian menjadi anggota KPU karena memang pilihan yang terbaik dari banyak orang yang ingin mendaftar untuk menjadi seperti kalian. Kecakapan itu harus dibuktikan dengan keputusan berani dalam menyelenggarakan Pemilu. Berikan rakyat gambaran tentang partai yang brengsek dan partai yang mengusung harapan.

Kalian telah terlanjur lancung karena mementaskan partai-partai Orbais untuk kembali ke panggung. Saatnya untuk memastikan bahwa rakyat tak lagi ditipu, dikelabui, dan dibohongi lagi.

KPU, sebaiknya gaji kalian yang tinggi, posisi kalian yang istimewa, dan peran kalian yang penting tak lagi disalahgunakan. Buatlah aturan permainan yang membuat pembohong tidak tampak sebagai kawanan yang jujur, dan mereka yang berjuang muncul sebagai pahlawan. Siapa itu pasti kalian yang lebih tahu dan lebih mengerti. Bukan karena kalian telah lama hidup menjadi rakyat di negeri ini, tapi kurasa kalian juga ingin membuat kehidupan politik di negeri ini menjadi lebih baik.

Akhirnya, aku bertanya terakhir kalinya: Beranikah kalian dicatat oleh sejarah sebagai pencetak perubahan ketimbang dilupakan oleh sejarah karena melakukan kegiatan yang mengulang-ulang kebiasaan? Kalian lah yang bisa menjawabnya. Sekali lagi ini hanya tulisan bukan ujian untuk menguji kualitas kalian.(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini