Soekarno-Hatta | Arsip Nasional

74 Tahun Indonesia Merdeka, Sebenarnya Negeri Ini Milik Siapa?

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri” -Soekarno

“Kalau hidup sekedar hidup, babi hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja” -Buya Hamka

Kita katanya sudah merdeka. Dari penjajahan asing serta tekanan asing. Kita katanya sudah merdeka. Dari pikiran asing maupun pengaruh asing. Kita katanya sudah merdeka. Dari berbagai bentuk penindasan yang berjalan begitu keji dan lama.

Kita dijajah Belanda ratusan tahun. Bangsa ini diperbudak dengan cara apa saja: tenaganya diperas untuk kepentingan kolonial dan sumber daya alamnya dicuri untuk laba perusahaan milik mereka. Disusul oleh Jepang yang memaksa rakyat menjadi romusha. Tahun-tahun gelap itu dikenang dengan haru.

Maka upacara kemerdekaan selalu berisi kenangan atas itu dan diakhiri pembacaan proklamasi. Teks singkat yang padat, indah, dan bergelora, serta diiringi lagu Indonesia Raya yang haru dan mempesona. Proklamasi itu bukan lembar tulisan, tapi guratan tekad kalau bangsa ini tak ingin dijajah lagi. Lagu itu bukan lagu cinta, tapi pengharapan atas kemuliaan sebuah bangsa.

Sekarang sudah 74 tahun masa itu berlalu. 17 Agustus 1945, itulah masa saat Soekarno dan Hatta belum terlampau tua tapi juga tidak lagi muda. Gambar keduanya masih ada dan patung keduanya masih terpasang. Soekarno yang dikenal piawai berpidato berpasangan dengan Hatta yang disiplin dan pintar.

Sejak muda, keduanya hidup malang melintang bahaya. Dipenjara, dibuang, hingga dilarang bicara. Tak ada kekayaan yang dimilikinya meski jadi Presiden di negeri yang berlimpah kekayaan alamnya. Semangat keduanya pada kemerdekaan akan mengantarkan bangsa ini menuju keadilan dan keharuman.

Kini, sepantasnya kita bertanya apa benar bangsa ini sudah merdeka dari segalanya? Penjajahan asing, penindasan asing, dan pencurian asing. Bahkan apa benar bangsa ini sudah merdeka dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan. Pantasnya di usia 74 tahun ini kita meletuskan pertanyaan itu untuk memahami pengorbanan pahlawan yang selalu kita sebut-sebut dalam tiap upacara kemerdekaan.

Pertama soal penjajahan, apa benar negeri ini berdaulat dalam hal segalanya? Ekonomi kita tak satupun tergantung pada asing atau politik yang tidak mencerminkan kepentingan asing sama sekali? Apa kita bangga dengan budaya kita sendiri atau kita hanya mengekor dengan budaya asing? Jika kita jujur menjawabnya, pasti kita akan menjawab ‘kita belum merdeka’.

Kedua soal penindasan, apa benar negeri ini rakyatnya terbebas dari penjajahan sehingga tak pernah kita menyaksikan rakyat ditindas kepentingannya atau kebutuhannya? Bahkan makin sedikit rakyat yang kesulitan untuk hidup, bekerja, dan menyatakan pendapatnya. Apa benar kita bebas dari penindasan itu semua? Bebas dari tindakan sewenang-wenang aparat atau bebas untuk mendapat pengadilan yang adil dan jujur?

Ketiga yang paling penting, apa rakyat negeri ini telah merdeka? Merdeka dari kemiskinan, ketimpangan, dan kebodohan? Tak ada rakyat yang takut bicara tentang keadilan sama halnya tak ada warga dihukum hanya gara-gara mempertahankan hak miliknya? Andai saja kita jujur menjawabnya, pasti masih banyak rakyat yang ‘belum merdeka’.

Jangan tanya mengapa karena kita semua sudah tahu jawabanya. Lebih baik bicara siapa yang sebenarnya berkuasa di negeri ini: yang mengusai ekonomi apakah koperasi atau korporasi? Yang memiliki segalanya itu negara atau swasta? Yang diuntungkan oleh aturan selama ini rakyat atau yang punya kuasa?

Jangan mengatakan kita butuh data kalau pertanyaan ini kamu dapat menjawabnya: siapa yang beruntung dengan sistem ekonomi hari ini? Rakyat pada umumnya atau segelintir pengusaha? Siapa yang mudah mendapat apa saja di negeri ini? Mendapatkan kekuasaan, kenyamanan, pendidikan, hingga kekayaan? Rakyat Indonesia atau lapisan sosial tertentu saja?

Biarkan aku meletuskan pertanyaan di hari kemerdekaan ini: siapa yang paling banyak merampok uang rakyat di negeri ini sehingga korupsi tak bisa lenyap? Siapa yang sudah diadili atas kejahatan kemanusiaan yang terjadi sejak 1965 hingga sekarang? Tunjukkan bukti kalau hukum di negeri ini tajam ke atas maupun ke bawah! 

Kalau kita merayakan kemerdekaan di usia 74 tahun ini, pertanyaan berikutnya: siapa yang merasakan kemerdekaan hari ini? Merdeka untuk menyatakan pandangan, menyelenggarakan peribadatan, hingga menumpuk-numpuk kekayaan? Apakah yang berkedudukan minoritas dilindungi dan yang mayoritas tak sewenang-wenang?

Kalau sekarang negara ini berusia 74 tahun, apa prestasi yang bisa dibanggakannya? Mampu memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya, atau mampu memberi kesejahteraan pada rakyatnya sehingga ekonominya lebih makmur dibanding negara lainnya?

Coba kita ingat-ingat lagi.

74 tahun yang lalu Soekarno, Hatta, Moh. Natsir, hingga Tan Malaka serta banyak lainnya percaya kemerdekaan adalah pintu mencapai apa yang dinamai dengan keadilan, kesejahteraan, kemakmuran, dan ketertiban. Keyakinan itu dipahat begitu rupa sehingga mereka berkurban apa saja.

Kemerdekaan mereka dikurbankan hingga pemerintah kolonial membuang dan memenjarakannya. Kekayaan dikurbankan sehingga Hatta bahkan tak mampu bayar listrik segala dan Natsir hanya punya baju seadanya. Rasa-rasanya mereka yakin semua itu adalah ongkos untuk harga kemerdekaan.

Kemerdekaan itu dipertaruhkan hingga mereka berdebat satu sama lain: Soekarno-Hatta dibawa ke Rengasdengklok oleh anak-anak muda. Mereka yang meyakini kalau kemerdekaan itu bukan berunding dan menunggu, tapi berinisiatif dengan berani dan percaya diri. 

Kini 74 tahun telah berlalu. Rumah tahanan Soekarno telah jadi wisata sejarah. Tan Malaka namanya harum di buku. Hatta disebut selalu dalam upacara kemerdekaan. Dan banyak pahlawan lainnya dikenang dengan seremoni luar biasa. Tapi sebenarnya, apa yang kita perbuat sebagai cerminan pewaris semangat mereka?

Soekarno mengutuk kapitalisme begitu rupa dan menginginkan diterapkannya keadilan sosial di manapun tempatnya. Hatta menyalakan semangat koperasi sehingga ekonomi tak dikuasai sekelompok orang tertentu saja. Bahkan Tan Malaka menginginkan 100% merdeka. Di antara para pahlawan itu, mana yang ajarannya coba kita tegakkan?

Waktunya kita untuk tidak merayakan kemerdekaan dengan upacara hingar-bingar, tapi renungan yang penuh penyesalan. Nyatanya kita masih jauh dari gagasan para pendiri negeri ini. Bahkan kita tak malu untuk ‘meniru’ para penjajah: merampas kekayaan alamnya, mencuri uang rakyatnya sendiri, dan hidup bangga dengan kemewahan yang tak banyak rakyat merasakannya.

Kita naikkan bendera merah putih itu dengan upacara yang khidmad dan megah. Kita sampai lupa makna simbol bendera itu: merah itu adalah darah pengorbanan rakyat yang selalu mengalir dalam tiap peristiwa dan putih itu adalah simbol kebersihan tekad waktu bangsa ini masih berusia muda. Sudahkah kita hormati rakyat yang menjadi pahlawan dari masa ke masa dan masihkah kita punya tekad suci seperti dulu kala?

Pada pembukaan UUD 45 terpampang mimpi itu: “…mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur…” Apa benar kita sudah mengantarkan Rakyat Indonesia seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 45?

74 tahun ini waktunya kita bertanya pada diri sendiri. Siapa sebenarnya kita ini? Rakyat yang merdeka atau bangsa terjajah? Penguasa kolonial atau pemegang amanah? Penjahat kemanusiaan atau pahlawan keadilan? 

Hari ini mari kita jujur pada diri sendiri apa memang kita masih layak memperingati HARI KEMERDEKAAN ini?!(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika