Trotsky | Sreda Production Company

16 Alasan Mengapa Kita Baca Buku Kiri

“Allah tidak mewajibkan mereka yang bodoh untuk belajar sebelum ia mengharuskan yang pandai mengajar” -Ali bin Abi Thalib ra

“Tuhan telah melarang mereka yang menggunakan kata-kata kotor dan kasar untuk memasuki Surga-Nya” -Imam Al Kazim

Waktunya kita memberitahu mereka yang anti-buku kiri. Saatnya kita menyatakan pada mereka yang bangga karena bisa meringkus buku-buku kiri. Dan waktunya kita memberi jawaban pada peringatan mereka untuk tidak membaca buku kiri. Setidaknya, jawaban itu bisa membuat kita terhindar dari kekonyolan dan bahan tertawaan anak cucu di masa depan.

Alasan ini disusun tidak dengan bantuan senjata apalagi konstitusi. Terbitnya alasan ini semata-mata argumen iman dan akal. Iman yang bisa membuat kita tahu apa beda dusta dan kebenaran. Sedang akal menuntun kita untuk menyampaikan argumen yang logis sehingga dipahami oleh nalar paling sederhana sekalipun. Baiklah akan kusampaikan alasannya.

Pertama kita membaca buku kiri supaya tak mudah dibohongi. Dibohongi tentang sejarah yang diselewengkan oleh Orde Baru berulang kali. Dibohongi mengenai peristiwa 65 tanpa diberitahu mengenai dampak peristiwa itu. Dibohongi tentang kata kiri yang selalu dianggap bertentangan dengan Pancasila dan agama. Dibohongi berkali-kali mengenai apa itu kata pemberontakan dan pembasmian sehingga kita memaklumi saja jika ada penganiayaan pada setiap anak muda.

Kedua, kita membaca buku kiri untuk bisa lebih mengerti. Terutama tentang perkara yang hampir mustahil kita bisa tangani: pelanggaran kemanusiaan yang terjadi berkali-kali maupun ketimpangan sosial yang masih ada di negeri ini. Soal korupsi yang terus terjadi hingga berkuasanya Oligarki pada kekuasaan di level mana saja. Buku kiri memberi jawaban pada itu semua.

Ketiga, kita membaca buku kiri untuk bisa lebih empati. Terutama pada petani yang sawahnya disita, juga pada buruh yang gampang sekali di PHK, terutama pada orang miskin yang susah cari kerja dan khususnya pada korban kejahatan HAM yang tak diperhatikan sama sekali. Buku kiri membuat perasaan kita jadi lebih mudah simpati pada semua korban ketidakadilan.

Keempat, kita membaca buku kiri untuk bisa lebih berani. Berani mempertahankan hak kita sebagai rakyat merdeka. Berani menentang ketidakadilan yang menimpa sekitar kita. Berani untuk menyatakan yang benar meski itu berbahaya. Dan lebih tepat lagi, berani melawan kesewenang-wenangan yang seringkali berdalih dengan aturan. Buku kiri bisa memenuhi itu semua.

Kelima, kita membaca buku kiri untuk lebih bisa memahami. Terutama kait-mengkait antara kebodohan dan kekerasan. Terutama hubungan antara penindasan dan kesenjangan. Khususnya, hubungan antara kekuasaan dan eksploitasi sumber daya alam. Bahkan lebih jauh lagi, buku kiri memberi tahu tentang kaitan antara organisasi penyuka kekerasan dan serdadu yang memiliki alat kekerasan. 

Keenam, kita membaca buku kiri supaya terhindar dari kesombongan. Rasa sombong untuk merasa diri lebih tahu tentang masa lalu dan sikap sombong merasa diri lebih berwenang ketimbang yang lainnya. Bahkan, kesombongan untuk mempercayai kebenaran tindakannya sendiri dan kesombongan untuk merasa yakin kalau tindakannya itu yang paling benar sendiri.

Ketujuh, kita membaca buku kiri untuk belajar tentang kebenaran. Terutama kebenaran atas masa lalu dan lebih jauh lagi kebenaran akan keberadaan korban. Paling tidak, buku kiri memberitahu mengenai kebenaran peristiwa holocaust yang pernah terjadi di sini dan tak adanya tanggung jawab hingga hari ini. Minimal, buku kiri meyakinkan pada kita kalau kebenaran itu bukan perkara mudah ditegakkan di negeri ini.

Kedelapan, kita membaca buku kiri supaya terhindar dari bencana di masa depan. Biar di masa mendatang negeri ini tak berbalut kekerasan lagi, tidak membiarkan ketidakadilan meraja lela, tidak membiarkan penggusuran gampang terjadi, dan tidak menciptakan kesenjangan jadi perkara yang terus-menerus dialami. Buku kiri membuat kita lebih tahu cara terhindar dari bencana kemanusiaan.

Kesembilan, kita membaca buku kiri untuk membantu penguasa. Terutama dalam menghadapi kebodohan yang kian meningkat tajam. Khususnya untuk meningkatkan budaya literasi yang tak pernah mengalami kenaikan. Lebih persisnya, memperluas budaya pengetahuan pada rakyat dan aparatnya yang ada di mana-mana. Buku kiri membantu tugas pokok pemerintah dalam meningkatkan peradaban dan memberantas kebodohan.

Kesepuluh, kita membaca buku kiri untuk mematuhi aturan. Terutama aturan tentang demokrasi yang mensyaratkan kebebasan untuk menyatakan pandangan dan khususnya aturan agama yang melarang kita untuk bersikap masa bodoh apalagi tak peduli. Buku kiri bukan hanya membuat kita jadi warga negara yang berguna, tapi mampu menyempurnakan iman kita.

Kesebelas, kita membaca buku kiri untuk memelihara akal dan hati. Biar akal kita tak hanya dijejali propaganda dan dihasut oleh kebohongan yang dikatakan berulang kali. Juga biar hati kita hidup oleh kebaikan, bukan kebencian, apalagi merasa yakin akan pendapatnya sendiri. Bahkan hati kita biar lebih terbuka pada pandangan berbeda dan akal kita bisa diasah dengan lebih banyak membaca.

Kedua belas, kita membaca buku kiri untuk meyakini kita ini manusia bukan serigala. Yang mudah tersentuh oleh ketidak-adilan, yang gampang disentuh oleh kebenaran, dan mudah empati pada yang mengalami ketidakadilan. Yang membuat kita berani menyatakan kebenaran bahkan yang membuat kita selalu sadar kalau kita ini punya akal dan nurani. 

Ketiga belas, kita membaca buku kiri untuk melindungi anak-anak di masa depan. Supaya mereka tidak lagi dijejali berita bohong yang bisa membuat mereka berbuat bodoh, konyol, dan tolol. Supaya mereka tumbuh menjadi anak-anak muda yang punya iman yang berlandas kecerdasan dan hati yang berkalung kepedulian. Biar mereka tumbuh dengan keberanian untuk berkorban pada sesama rakyat yang sedang menderita.

Keempat belas, kita membaca buku kiri biar hidup lebih berarti. Bahwa dalam hidup, kita pernah membela perkara keadilan dan ketika hidup kita tak mudah jadi korban kebohongan. Saat hidup kita tak pernah mau tunduk pada keculasan dan saat menjalani hidup kita tidak bersama mereka yang suka melakukan kekejian.

Kelima belas, kita membaca buku kiri untuk bisa membuat hidup bisa lebih baik. Lebih baik kita bisa belajar yang terbaik di masa lalu dan lebih baik lagi kita mampu menarik hikmah peristiwa masa lalu. Lebih baiknya lagi, kita tidak tertawan oleh kebodohan yang terus-terusan dan kita bisa menjadi bangsa yang percaya diri berdiri tegak bersama bangsa-bangsa lainya. Bukan karena kemajuan ekonomi, tapi penghormatan bangsa kita pada nilai-nilai kemanusiaaan.

Terakhir, kita membaca buku kiri karena memang itulah perintah Allah yang pertama kali: Bacalah! Itu bisa membaca apa saja dan itu dapat dengan cara apa saja. Asalkan Membaca. Sehingga, jika Anda semua melakukan tindakan meringkus, menangkap, bahkan melarang orang untuk membaca, itu bukan hanya menghina akal tapi juga membangkang pada perintah Allah. Apalagi meringkus buku kiri seringkali pakai nama Allah segala!

Sungguh kami takut, kuatir pada azab Allah pada orang yang berbuat dosa tapi menganggap dirinya melakukan perbuatan mulia. Nauzubillah min zalik. Kami berlindung dengan Allah SWT dari perkara (buruk) tersebut.

Ya Allah, semoga Allah ampuni dosa mereka, semoga Allah beri petunjuk pada mereka, dan semoga Allah memberi hidayah pada hati mereka untuk memahami betapa berartinya perintahMu untuk membaca. Allah Maha Tahu dan Allah Maha Pemurah. Amin.(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika