pertunjukan-monolog-_190407134527-113

Monolog: JAREK

            Jangan nyalakan lampu terlalu terang!

            Karena keremangan akan membuka segala kemungkinan. Dan aku merasa nyaman dalam hening kegelapan. Bukankah semua  berawal dari kegelapan? Bukankah hal-hal baik yang mampu mengubah dunia berawal dari meja kegelapan? Kita berada dalam kegelapan. Jaman gulita yang dipenuhi binatang-binatang liar yang siap menerkam siapapun. Jaman gulita yang dihuni rencana-rencana menyesatkan.

            Apakah kita boleh berencana?

            Apakah kita boleh merencanakan hidup lebih baik?

            Ini jaman penjagalan rencana-rencana baik. Jagal itu ada dimana-mana. Di sekolah-sekolah. Di kampus-kampus. Di kantor-kantor pengusaha berambut klimis. Bahkan di gedung pemerintahan dan kantor polisi. Mereka siap menjagal apapun yang menghalangi kepentingan nafsu purbawinya. Reformasi? Hanyalah ajang merapatkan barisan para jagal. Apakah reformasi adalah revolusi? Negeri ini semakin tunduk pada jagal keadilan atas nama kemanusiaan. Padahal tanpa sadar, kita sedang digadaikan demi rencana-rencana tidak waras itu.

            Aku punya cerita tentang aksi-aksi progresif penjagalan itu. Bahkan, aku terlibat dan tersikut dalam aksi para begundal progresif. Ini negeri vandal! Aku hanya katakan; semua yang menjejakkan kaki di negeri ini, lahir di sini, menghidup udara, bahkan berak dan kencing di negeri ini, memiliki hak hidup.

            Malam itu, bulan selesai purnama penuh. Mendung hitam menggelayut terseret angin ke arah utara. Aku duduk bersama seorang lelaki paruh baya yang istrinya baru saja meninggal tadi siang. Mestinya masih suasana berkabung. Tetapi tak kulihat guratan lesu di wajah remang lelaki itu. Bahkan dia mengajakku menenggak kopi dicampur arak dua sloki.

            “Kematian adalah pesta!” kata lelaki itu. Dia bernama Darsa.

            “Kau gila! Mungkin aku perlu belajar banyak dari kamu, Darsa?” ucapku.

            Darsa tersenyum.

             “Tuhan telah memberikan satu pesta kecil kepada manusia, berupa kematian. Semestinya kita rayakan bukan ratap kesedihan. Dunia telah lama diselimuti kesedihan. Tangis di sepanjang jalan. Anak-anak terlantar di perempatan. Perempuan-perempuan menggadaikan kehormatan demi dapat bertahan. Para lelaki dikebiri nasib baiknya. Dan kematian adalah nyala lampu dalam lorong kebahagiaan,” Darsa menceritakan semua itu sambil menenggal kopi araknya. Kopi Arak-bica!

            “Kau melihat dunia begitu kelam.”

            “Tanpa harapan! Dan kematian istriku adalah cermin betapa dia telah diterkam kegelapan itu.”

            Aku menjadi penasaran.

            “Darsa, meski kita baru saling kenal, bisa kau ceritakan bagaimana terkaman kegelapan itu?”

            “Istriku lahir dari keluarga biasa. Kedua orang tuanya selalu membiasakan perilaku jujur dan memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk menjalani pilihan hidupnya, termasuk istriku. Istriku bukan orang hebat! Tetapi dia perempuan pemberani. Aku bangga. Dia kerja di pabrik milik Cina yang entah tinggal dimana. Dua hari sebelum meninggal, dia sempat mengajakku ke rumah teman-temannya. Berkumpul di sana beberapa teman sepabriknya.”

            “Dalam pertemuan itu, istriku bilang dengan sangat lantang; Kita harus perjuangkan nasib kita. Kita ini tuan di negeri sendiri. Kerja di pabrik hanyalah urusan perut dan bukan urusan sikap hidup. Siapapun yang bekerja apapun, tujuannya cuma satu; cari makan! Semua yang ada di ruangan itu bersorak. Aku duduk di belakang istriku sambil terus mendengarkan ucapannya.”

            Darsa menceritakan semua itu, seolah istrinya masih berada di sampingnya.

            “Kita harus melawan cara-cara tak waras majikan kita. Mereka makan dari keringat kita. Hidup di negeri kita. Tapi apakah kita akan menggadaikan diri kita sendiri demi aturan mereka yang sangat komunis?”

            Aku tersedak ketika Darsa mengatakan; komunis.

            “Orang-orang kaya yang punya pabrik telah menghisap keringat kita. Memotong upah dengan banyak alasan. Dan kini kita diminta tanda tangan agar setuju dengan aturan baru yang menyengsarakan. Harusnya mereka yang berterimakasih kepada kita karena negeri ini memberi kesempatan mereka berusaha. Mendirikan pabrik dengan untung besar. Tapi yang terjadi malah menghisap seluruh nasib baik kita. Kita cari makan! Hanya cari makan!”

            Darsa mengatakan baru sekali itu melihat istrinya selincah dan seberingas itu. Perempuan, jika sudah menyinggung urusan perut, apapun  bisa terjadi. Aku mulai terpancing. Benar! Ini negeri telah lama merdeka. Tetapi setelah era perang kemerdekaan usai, kini kita berada di era penggadaian massal. Apapun kita gadaikan!

            Sawah-sawah kita gadaikan!

            Sekolah-sekolah kita gadaikan!

            Obat-obatan kita gadaikan!

            Keadilan kita gadaikan!

            Negara memang menguasai hajat hidup orang banyak demi digadaikan untuk kepuasa segelintir rakyat.

            “Kau setuju dengan istriku?”

            Darsa merangkul pundakku. Aku mungkin salah orang tidak waras yang menghuni negeri tanpa akal sehat ini. Negeri ini telah lama kehilangan konsep sebagai jamrud di tengah khatulistiwa. Gemah ripah loh jinawi. Namun tidak sedikit rakyatnya yang hidup di kolong jembatan, di bantaran kali, ditipu petugas-petugas pemerintah, diakali polisi hingga kurus seperti mayat berdiri.

            Ini bukan jaman komunis. Dimana Durno dan Sengkuni bekerjasama mengakali cara-cara Gorky. Tetapi jaman ini lebih kejam daripada sejarah itu. Televisi penuh dengan wajah-wajah suram politisi. Mereka siap mengkudeta atas nama keadilan. Korupsi adalah tuhan baru yang dielu-elukan. Negeri ini impoten menghadapi mereka. Istrimu adalah ancaman bagi para sengkuni yang menakhkodai negeri ini. Hari ini mungkin istrimu dan bisa jadi besok atau kapapun adalah orang lain yang membela kejujuran harga dirinya; sebagai tuan di negeri sendiri.

            Malam itu, aku dan Darsa menghabiskan bergelas-gelas kopi hingga terkapar. Mendung semakin tebal tetapi tidak turun hujan.

            Pertemuanku dengan Darsa seolah membuka jalan baru dalam pikiranku. Jalan keberanian untuk mengajak siapapun; jangan terlalu lama kalian menggadaikan negeri ini kepada orang asing! Tanah dan Air ini adalah milik kita. Apakah kalian akan menuruti para badut di ibukota untuk menjual diri kepada komprador dari seberang lautan? Yang memanfaatkan kebodohan kita demi segunung keuntungan? Kita memang sengaja dibodohkan. Rakyat sengaja tidak boleh pintar. Sekolah hanya dicekoki sejarah yang melo-dramatis tipis makna. Bagaimana kita mampu membangun negeri besar ini jika para pemimpin melempem dan impoten? Tak sanggup membuat rakyatnya militan untuk membela keadilan?

            Jalan reformasi kita telah dikhianati! Jalan reformasi yang kita harapkan mulus ternyata kita lubangi sendiri. Kita pun mati perlahan. Aku katakan ini kepada kalian, karena bosan dengan tingkah kamuflase para petinggi negeri yang sok suci. Reformasi adalah penjebolan, pendobrakan, penghancuran apapun yang menghalangi laju tumbuhnya keadilan. Tapi belum selesai, penumpang gelap komprador rambut hitam bekerjasama dengan orang asing memporakporandakan jalan reformasi kita? Apa yang bisa kita lakukan?

            Kau lihat perempuan yang menangis di pinggir jembatan layang itu? Kakinya borokan, dibalut kain bekas serbet. Menggandeng anak kecil, lima tahun, rambutnya kumal, kaosnya  sobek di lengan kiri. Ini di ibu kota! Kota yang seharusnya menyediakan keindahan dan kebahagiaan.

            Aku hampiri perempuan itu.

            “Di kampung rumah kami diserobot para makelar untuk membangun proyek pemerintah. Harga murah dengan banyak alasan. Duit habis rumah baru tidak segera didapat. Akhirnya, tinggal di kolong jembatan. Dan suamiku meninggal karena sakit. Panas tinggi.. menggigil. Hingga pagi hari, diam dalam pelukan si kecil. “Mak, Bapak tidak diam saja,” Aku ciumi wajah lusuh suamiku yang tidak bernyawa lagi.”

            Ini negeri macam apa? Serapahku!

            “Akhirnya, aku dan anakku ke kota dan tidak tahu harus melakukan apa. Kami capek. Lapar. Dan mungkin tidak bisa bertahan lebih lama.”

            Aku pegang tangan ibu itu cukup erat. Perempuan-perempuan negeri ini menangis. Kebahagiaanya telah dijagal oleh kaum bermodal. Birokrat berotak bebal yang bersekongkol dengan kapitalis mulut manis. Lihatlah ibu ini! Anak-anak ini! Mereka adalah pewaris sah negeri ini. Bukan kalian, para penumpang gelap. Jangan biarkan JAREK (Jalan Reformasi Kita) dikhianati!

            Jika aku katakan kebenaran ini; akankah berakhir di balik jeruji?

            Redupkan lampunya….redupkan….

            (bernyanyi / bersenandung)

            “Genjer-genjer…ini negeri genjer-genjer.”

            “Genjer-genjer…ini negeri genjer-genjer.”

            “Genjer-genjer…ini negeri genjer-genjer.”

            (lampu pun mati)


Cucuk Espe, Pimpinan Teater Kopi Hitam Indonesia (TKHI)

Cp. cucukespe@gmail.com / twitter: @cucukespe

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika