f23e1550-eadd-443b-a8b6-4976b51d7853_169

Dear Mr President

“Kita berjuang demi mereka! Bukan tentang kau atau aku. Tapi ini tentang anak-anak yang akan lahir dan dunia yang akan mereka tinggali!” –Mc Leod

***

Pak Presiden,

Percayalah atas apa yang ditulis dalam surat ini adalah sebuah keresahan seorang masyarakat biasa. Keresahan atas situasi politik belakangan ini: Intoleransi yang kian tak masuk akal, penembakan terhadap demonstran, perampasan lahan petani, hingga kemelut atas persoalan hak asai manusia. Lima tahun kedepan anda telah  ditetapkan menjadi nahkoda di negeri yang sedang pincang ini.

Pak Presiden,

Hari ini perbedaan menjadi suatu musibah. Tidak hanya perbedaan pilihan pemimpin namun perbedaan agama, suku dan budaya kian mengkhawatirkan. Mereka yang minoritas semestinya dilindungi bukan justru dihakimi. Pertahankan keragaman, perbedaan dan biarkan suku-suku di negeri ini berkespresi menurut adatnya sendiri. Kami ingin mempertahankan Indonesia yang kaya suku, bahasa dan berbagai agama. Kami bangga karena perbedaan bukan karena sama. Jangan sampai hidup tak lagi menghormati martabat kemanusiaan, tapi melacurkan diri pada kekejaman dan kedunguan.

Pak Presiden,

Persoalan hukum di negeri ini kian memprihatinkan. Ketika ruang demokrasi  hadir memberikan kemajuan dalam hal berpikir maupun bertindak justru kali ini pelan-pelan mengalami kemunduran: kemunduran yang sialnya diilhami oleh mekanisme hukum sendiri. Produk hukum pesanan investor kian laris berbanding terbalik dengan apa yang diinginkan rakyat hari ini. Kami mau hukum itu adil. Nanti kalau pak Presiden memilih Menteri hukum, pilihlah yang pemberani: berani menghukum dan berani mundur kalau tidak bisa adil. Jika keadilan kita tegak kami bangga menjadi rakyatmu.

Jangan pilih Menteri yang gak suka tersenyum, jangan memilih Menteri yang sulit menangis saat melihat penderitaan rakyat. Jangan memilih Menteri yang banyak bicara namun sedikit bekerja kalau bisa pilihlah Menteri yang sudah punya karya dan rakyat mengenalnya lama.

Pak Presiden,

Kita ingin sekolah itu menyenangkan, membuat kita gembira dalam menerima pelajaran dan membuat kita bisa rindu untuk tetap di kelas. Kalau memilih Menteri Pendidikan jangan yang suka merubah-rubah kebijakan kemudian jangan bedakan sekolah negeri dan swasta. Jangan buat sekolah favorit dan tak favorit. Kami ini semua ingin belajar dimana saja dan bersumber pada apa saja. Seperti kata Pak Ki Hajar Dewantara “Semua guru dan semua tempat adalah sekolah”.

Pak Presiden,

Masalah ekonomi memang selalu menjadi sorotan belakangan ini. Agenda neo liberal kian nyata dihadapan kita semua. Pak Presiden tentu sudah tahu kalau rakyat ingin harga pangan itu murah. Jangan bebani rakyat dengan harga bahan pokok yang berubah-ubah. Biarkan sawah tetap sawah jangan ubah jadi pabrik. Kami lihat tanda-tanda kesejahteraan justru sebuah tanda ketergantungan dan kemiskinan. Makmurkan petani, buruh dan orang miskin ya pak Presiden.

Pak Presiden,

Tentang lingkungan hidup tak kalah penting dengan persmasalahan yang ada di negeri ini. Anda pasti tahu Greta Thunberg, remaja pemberani yang mengecam pemimpin negara yang tak peduli pada soal lingkungan. Pak Presiden mesti banyak belajar dengan gadis ini sebab ia memiliki pikiran besar yang didasarkan oleh keprihatinan mendalam terhadap lingkungan sekitar. Pak Presiden saya sarankan bertemu dengan orang orang yang memiliki pikiran besar sehingga ucapan dan tindakan yang dilakukan bisa memberi pengaruh mendalam. Kalau pak Presiden bertemu politisi melulu yang memiliki pola pikir oportunis maka saya khawatir pikiran bapak akan seperti itu pula dalam mengelola negara kita ini.

Pak Presiden,

Jangan mau ditekan oleh hutang luar negeri. Tunjukkan jika anda berbeda dengan Presiden sebelumnya dalam membangun ekonomi mandiri.  Kami ingin negeri ini menjadi tuan rumah negara Asia dan kami ingin negeri ini menjadi pembela negeri yang masih terjajah. Ayo tunjukkan kalau anda bukan hanya Presiden kami, tapi pemimpin dunia juga.

Pak Presiden,

Terakhir saya ingin berpesan: dengarknlah suara mereka yang menyerukan keadilan dan kesejahteran. Bicaralah dengan mereka yang haknya dirampas, keadilannya tak diperoleh dan tak kunjung sejahtera hingga saat ini. Saya yakin jika hal itu dilakukan maka tak banyak soal yang diributkan hingga demo berulang-ulang.

Ini adalah surat, harapan, pesan-pesan kami untuk bapak Presiden kedepan.

Dear Mr President

Oleh Muhammad Fakhrurrozi

“Kira berjuang demi mereka! Bukan tentang kau atau aku. Tapi ini tentang anak-anak yang akan lahir dan dunia yang akan mereka tinggali!” –Mc Leod

***

Pak Presiden,

Percayalah atas apa yang ditulis dalam surat ini adalah sebuah keresahan seorang masyarakat biasa. Keresahan atas situasi politik belakangan ini: Intoleransi yang kian tak masuk akal, penembakan terhadap demonstran, perampasan lahan petani, hingga kemelut atas persolan hak asai manusia. Lima tahun kedepan anda telah  ditetapkan menjadi nahkoda di negeri yang sedang pincang ini.

Pak Presiden,

Hari ini perbedaan menjadi suatu musibah. Tidak hanya perbedaan pilihan pemimpin namun perbedaan agama, suku dan budaya kian mengkhawatirkan. Mereka yang minoritas semestinya dilindungi bukan justru dihakimi. Pertahankan keragaman, perbedaan dan biarkan suku-suku di negeri ini berkespresi menurut adatnya sendiri. Kami ingin mempertahankan Indonesia yang kaya suku, bahasa dan berbagai agama. Kami bangga karena perbedaan bukan karena sama. Jangan sampai hidup tak lagi menghormati martabat kemanusiaan, tapi melacurkan diri pada kekejaman dan kedunguan.

Pak Presiden,

Persoalan hukum di negeri ini kian memprihatinkan. Ketika ruang demokrasi  hadir memberikan kemajuan dalam hal berpikir maupun bertindak justru kali ini pelan-pelan mengalami kemunduran: kemunduran yang sialnya diilhami oleh mekanisme hukum sendiri. Produk hukum pesanan investor kian laris berbanding terbalik dengan apa yang diinginkan rakyat hari ini. Kami mau hukum itu adil. Nanti kalau pak Presiden memilih Menteri hukum, pilihlah yang pemberani: berani menghukum dan berani mundur kalau tidak bisa adil. Jika keadilan kita tegak kami bangga menjadi rakyatmu.

Jangan pilih Menteri yang gak suka tersenyum, jangan memilih Menteri yang sulit menangis saat melihat penderitaan rakyat. Jangan memilih Menteri yang banyak bicara namun sedikit bekerja kalau bisa pilihlah Menteri yang sudah punya karya dan rakyat mengenalnya lama.

Pak Presiden,

Kita ingin sekolah itu menyenangkan, membuat kita gembira dalam menerima pelajaran dan membuat kita bisa rindu untuk tetap di kelas. Kalau memilih Menteri Pendidikan jangan yang suka merubah-rubah kebijakan kemudian jangan bedakan sekolah negeri dan swasta. Jangan buat sekolah favorit dan tak favorit. Kami ini semua ingin belajar dimana saja dan bersumber pada apa saja. Seperti kata Pak Ki Hajar Dewantara “Semua guru dan semua tempat adalah sekolah”.

Pak Presiden,

Masalah ekonomi memang selalu menjadi sorotan belakangan ini. Agenda neo liberal kian nyata dihadapan kita semua. Pak Presiden tentu sudah tahu kalau rakyat ingin harga pangan itu murah. Jangan bebani rakyat dengan harga bahan pokok yang berubah-ubah. Biarkan sawah tetap sawah jangan ubah jadi pabrik. Kami lihat tanda-tanda kesejahteraan justru sebuah tanda ketergantungan dan kemiskinan. Makmurkan petani, buruh dan orang miskin ya pak Presiden.

Pak Presiden,

Tentang lingkungan hidup tak kalah penting dengan persmasalahan yang ada di negeri ini. Anda pasti tahu Greta Thunberg, remaja pemberani yang mengecam pemimpin negara yang tak peduli pada soal lingkungan. Pak Presiden mesti banyak belajar dengan gadis ini sebab ia memiliki pikiran besar yang didasarkan oleh keprihatinan mendalam terhadap lingkungan sekitar. Pak Presiden saya sarankan bertemu dengan orang orang yang memiliki pikiran besar sehingga ucapan dan tindakan yang dilakukan bisa memberi pengaruh mendalam. Kalau pak Presiden bertemu politisi melulu yang memiliki pola pikir oportunis maka saya khawatir pikiran bapak akan seperti itu pula dalam mengelola negara kita ini.

Pak Presiden,

Jangan mau ditekan oleh hutang luar negeri. Tunjukkan jika anda berbeda dengan Presiden sebelumnya dalam membangun ekonomi mandiri.  Kami ingin negeri ini menjadi tuan rumah negara Asia dan kami ingin negeri ini menjadi pembela negeri yang masih terjajah. Ayo tunjukkan kalau anda bukan hanya Presiden kami, tapi pemimpin dunia juga.

Pak Presiden,

Terakhir saya ingin berpesan: dengarknlah suara mereka yang menyerukan keadilan dan kesejahteran. Bicaralah dengan mereka yang haknya dirampas, keadilannya tak diperoleh dan tak kunjung sejahtera hingga saat ini. Saya yakin jika hal itu dilakukan maka tak banyak soal yang diributkan hingga demo berulang-ulang.

Ini adalah surat, harapan, pesan-pesan kami untuk bapak Presiden kedepan. (Muhammad Fakhrurrozi)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika